Will You Marry Me Teacher?

Will You Marry Me Teacher?
WYMMT? Eps. 3


__ADS_3

"Farah, gimana kuliah kamu?" Tanya pak Fadli ayah Rizal, saat mereka semua baru saja menyelesaikan makan malam nya. Karena keluarga Rizal tetap menjunjung tinggi etika makan yaitu tidak boleh berbicara


"Lancar ayah, lagi proses menyelesaikan bab selanjutnya" jawab kak Farah


Kak Farah memang pintar dalam bidang pelajaran nya tidak seperti Rizal


"Bagus" pak Fadli mengangguk kemudian pandangan nya berpindah ke arah Rizal yang tengah asik masih menggigit tulang ayam yang masih ada sedikit daging beserta tulang lunaknya


"Aku?" Rizal menunjuk dirinya sendiri


"Iya, ayah tanya sama kamu Fakhrizal, buang dulu tulang ayam itu dari Mulut kamu" perintah pak Fadli, ia sedikit memijat pelipisnya jengkel menghadapi anak laki-laki nomer dua nya ini


"Ya gitu deh yah, Alhamdulillah sejauh ini lancar engga ada gangguan apa-apa" jawab Rizal sekenanya, ia tidak berkata tentang masalah dirinya yang suka di hukum oleh guru termasuk tadi yang baru saja ia di hukum lagi oleh guru baru yang bernama Bu Risa, karena jika sampai ayahnya tau masalah itu maka bisa habislah Rizal dimarahi ayahnya


"Lancar apanya yah, kemarin bang Ijal engga bawa buku apa-apa tuh ke sekolah malah bawa tas kosong aja" kata Faris ikut menimbrung


Rizal langsung melotot ke arah Faris sembari menendang kakinya "diem Lu cil bocil!" sedangkan anak itu malah acuh saja pura-pura tidak melihat dan tidak mendengar


"Rizal!" Tegas pak Fadli


"Hehehe, maaf ayah lupa kalau tas nya belum Rizal isi" ucap Rizal sambil menyengir


"Ya sudah kali ini ayah maafkan, tapi lain kali jangan di ulangi!" Peringat pak Fadli pada putranya


"Eh iya pak, ternyata Risa temen Farah waktu SMP dulu, dia jadi guru matematika di sekolah Rizal loh yah" kata kak Farah mulai menceritakan


"Oh iya? Hebat dong, jadi guru muda. Setahu ayah, jaman sekarang ini banyak loh anak muda yang engga mau jadi guru" ujar pak Fadli


"Hebat apanya ayah? galak mah iya" timpal Rizal


"Tetep aja hebat, dia galak pasti ada alasan nya" kata pak Fadli tetap tidak mau kalah


"Iya deh iya ayah, hebat kok" jawab Rizal pasrah mengalah


...


Kali ini Rizal bangun lebih pagi dan berangkat ke sekolah juga lebih pagi tanpa kendala apapun, perjalanan dia menuju ke sekolah pun berjalan dengan mulus, saat ia sampai di sekolah. Keadaan sekolah itu masih ramai siswa yang berada di luar menandakan bahwa jam pelajaran sekolah belum di mulai

__ADS_1


Semua siswi yang berada disana langsung kegirangan senang saat melihat Rizal berjalan dari arah depan koridor sekolahnya, Rizal berjalan menuju kelas IPS dengan dagu yang sedikit di dongakan keatas dan kedua tangan nya di masukan kedalam saku celananya


"Pagi, kak Rizal" sapa salah seorang siswi yang cantik sembari memamerkan senyuman nya semanis mungkin.


"Halo nona, kalian cantik hari ini" Rizal mengedipkan salah satu matanya sambil tersenyum


Seorang siswi tadi langsung loncat-loncat senang dengan di ikuti oleh ketiga teman nya yang lain


Walaupun Rizal adalah seorang anak dari keturunan darah Sunda asli, namun wajahnya terlihat seperti keturunan orang luar negeri dengan hidung mancung yang menjulang dan Mata yang sedikit sipit


Rizal mengedarkan pandangan nya ke sekeliling kelas, ia melihat semua orang penghuni kelas itu berlarian kesana kemari seolah sedang ada keadaan yang genting. Dahi Rizal mengernyit heran mendapati semua siswa di kelasnya yang tengah menyalin catatan dari sebuah buku dengan terburu-buru


"Woy zal! Elo udah ngerjakan PR yang kemarin dari Bu Risa belum?" Tanya Leo teman nya


"PR matematika? Bu Risa?" Mata Rizal membulat sempurna. Ia mendadak panik dengan cepat ia membuka tas nya mengambil buku beserta alat tulis nya, lalu ia pun ikut menyalin PR matematika dari buku tanpa sampul yang entah milik siapa


Belum sempat Rizal menulis jawaban nomer satu hingga selesai, namun bel sekolah sudah berdering terlebih dahulu dengan lancang semua siswa di kelas itu langsung mempercepat gerakan tangan mereka untuk merampungkan tugasnya sebelum Bu Risa masuk ke dalam kelas


"Oi semua, Bu Risa semakin dekat!" Seru bayu memberikan peringatan, dengan cepat ia berlari menuju bangkunya dan duduk dengan rapih


Membuat siswa-siswi yang lain disana langsung segera ikut berlarian ke tempat duduk mereka masing-masing, tapi tidak dengan Rizal yang masih asik menyalin PR nya. Namun belum saja Bu Risa sampai ke dalam kelas, Leo langsung merebut buku yang catatan nya menjadi bahan contekan Rizal


"Lo nulisnya lambat salah Lo sendiri zal! Kalo sampe Bu Risa tau keberadaan buku ini, lebih baik gue amankan daripada kami semua satu kelas semua dapet hukuman darinya" Leo menggulung buku itu kemudian ia simpan di balik resleting tas nya yang tersembunyi


"Selamat pagi, semua" sapa Bu Risa yang baru masuk ke dalam kelas


"Selamat pagi, Bu" jawab para siswa


namun yang terdengar hanya suara siswa di barisan paling depan saja sedangkan siswa barisan paling belakang tidak ada yang bersuara, mereka disana ada yang tengah melamun dan ada juga yang asik bermain dengan ponselnya, Bu Risa tahu betul bahwa siswa itu sedang memainkan ponselnya jika dilihat dari matanya yang fokus melihat ke bawah, mereka pasti menyimpan ponselnya di bawah meja supaya tidak terlihat oleh Bu Risa, membuat Bu Risa menghela nafasnya kesal


Bu Risa mengambil penggaris panjang yang berada di pinggir papan tulis kemudian ia memukulkan penggaris tersebut ke meja hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras membuat para siswa siswi yang tengah asik sendiri spontan terperanjat kaget "anak-anak, silahkan kumpulkan PR kalian ke depan. Sekarang!"


Dengan gerakan cepat semua siswa dan siswi mengumpulkan buku PR mereka ke atas meja Bu Risa, sementara Rizal hanya celingukan kesana kemari, ia tidak mungkin mengumpulkan Buku PR yang masih tidak ada jawaban nya, soal nomer satu saja ia masih belum berhasil menemukan jawaban nya, Rizal pun memutuskan mengisi buku PR itu sekenanya saja, apa yang ada di fikiran nya itulah yang akan ia tulis kemudian segera ia kumpulkan buku PR itu ke Bu Risa


"Semuanya, apa sudah mengumpulkan? Tidak ada yang terlewat?" Tanya Bu Risa sembari mengecek buku siswa yang tertumpuk di mejanya


"Iya Bu, sudah" jawab beberapa siswa, dengan suara terdengar sedikit ragu

__ADS_1


"Bagus, kalau ini sudah semua, silahkan di buka buku paket kalian di halaman 56 kemudian kerjakan sekarang juga! Saya kasih waktu 30 menit untuk kalian mengerjakan soal itu, sementara saya akan mengecek PR kalian" Bu Risa kembali mendudukkan pantatnya di kursi sembari mengecek buku PR siswanya satu per satu


Otak Rizal berputar kesana kemari menandakan bahwa ia pusing melihat angka demi angka yang berjejer di buku paket matematika nya, ia tidak punya bakat dalam pelajaran hitung menghitung, itulah alasan nya ia masuk SMA mengambil jurusan IPS, dengan cara ini setidaknya ia tidak bertemu dengan pelajaran fisika dan kimia yang akan membuatnya bertambah pusing


Bu Risa menggelengkan kepalanya jengah, semua jawaban siswa dalam satu kelas hampir sama! Baik dalam segi cara maupun hasilnya, tibalah saatnya ia mengecek buku milik Rizal, tiba-tiba saja pipinya berkedut ngeri



Limit X \= Bu Risa Cantik + Bu Risa is the best


Hasilnya \= Bu Risa Will You Merry Me?



"FAKHRIZAAALL!!!" Teriak Bu Risa yang sudah mulai emosi


Bu Risa berjalan menghampiri meja Rizal, ia melotot marah sembari memegangi penggaris panjang senjatanya, walaupun Bu Risa baru mengajar 2 hari di sekolahan itu namun kegalakan nya sudah tersohor ke seluruh penjuru sekolahan, semua siswa kelas IPS disana langsung terdiam berpura-pura manjadi patung, mereka sudah hafal betul jika Bu Risa sudah berpose seperti itu makan akan terjadi perang dunia ketiga, lebih baik diam dari pada mereka sendiri yang ikut kena semprot nya


"Apa yang kamu tulis ini Rizal?! Kenapa kamu bikin jawaban seperti ini?" Bi Risa menggebrakkan meja Rizal sembari menunjuk pada buku yang tersimpan di atas meja tersebut


Rizal meringis sembari menggaruk belakang rambutnya "anu Bu.. karena saya pengen Bu guru jadi istri saya, bener yang ayah saya bilang semalam kalau Bu Risa emang hebat. udah cantik, pinter matematika pula. Idaman banget kan, kakak saya Kak Farah aja yang seumuran sama ibu kalah pinter nya, kakak Farah mah masih kuliah, Bu Risa mah udah jadi guru"


"Kamu pikir, pujian-pujian kamu itu bakal mempan terhadap saya?" Bu Risa menaikkan oktaf suaranya "sepulang sekolah nanti kami harus membersihkan toilet!"


"Yahh Bu, kok gitu sih Bu?" Protes Rizal tak terima


"jangan toilet lah Bu, saya akan lebih baik kalau Bu Risa menghukum saya dengan berdiri di depan tiang bendera selama 2 jam daripada harus membersihkan toilet" Rizal mencoba menawar hukuman nya


"Kenapaa kamu tidak mau membersihkan toilet, Rizal?" Tanya Bu Risa dengan mata yang kembali melotot tajam


"Saya jijik Bu sama toilet sekolah karena yang pada pakek toilet jorok banget sehabis buang air besar, biasanya mereka engga pernah nyiram toiletnya Bu, sampe ada yang timbul-timbul keluar" Rizal menutup mulutnya yang hampir ingin muntah


"Kalau ada yang timbul-timbul itu ya di siram dong, kan tujuan kamu juga membersihkan!" Tegas Bu Risa


"Sumpah deh Bu saya jijik kan yang timbul-timbul itu bukan milik saya tapi milik orang lain kok harus saya yang nyiram?"


".engga .ada .alasan!" Bu Risa berkata penuh penekanan pada tiap kata-katanya sambil memukulkan penggaris nya pada meja Rizal

__ADS_1


Sedangkan Rizal hanya bisa menghela nafasnya kecewa, sungguh ia paling tidak suka dengan bebauan yang menyengat seperti bau yang tercium dari arah toilet sekolahan jika ia lewat di depan sana, maka dari itu setiap ia kebelet ingin buang air kecil saat masih di sekolah, ia lebih memilih buang air kecil di parit belakang sekolahnya demi menghindari bau toilet yang membuat nya sangat ingin muntah


__ADS_2