
"apa kata ayah? Jodoh?, Arrgh yang benar saja!." Risa mengerang sendiri di kamarnya sembari menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ini masih terlalu pagi namun entah kenapa kali ini Risa sudah siap dengan pakaian profesional nya dan sudah bersiap akan berangkat mengajar, padahal biasanya jam segini ia masih tidur
Bayang-bayang wajah bocah nakal sedang tertawa yang bernama Rizal itu terus berkeliling di fikiran nya, berjodoh dengan seorang bocah laki-laki itu tidak pernah masuk kedalam do'a nya yang selalu ia minta kepada Allah, tapi kenapa ini harus terjadi? Apa karena seorang Rizal sudah menjadi cerminan hidupnya? Dan seseorang yang sudah Allah takdirkan untuk berpasangan dengan nya?
Mengingat sikap anak laki-laki itu kemarin yang tampak santai menghadapi dan menerima tawaran dari ayahnya membuat Risa ingin menyerah karena sudah tidak ada harapan lagi untuk ia menolak atau pun di nego!
Risa langsung masuk ke dalam mobil nya untuk berangkat menuju sekolah tempat ia bekerja setelah tadi sebelumnya ia berpamitan pada orang tua nya, Risa pun menyalakan musik di mobil nya guna menghilangkan keheningan dan juga ingin menenangkan fikiran nya sejenak dengan mendengarkan musik
"Kenapa Allah mengabulkan do'aku secepat ini?" Risa berbicara sendiri "seharusnya waktu itu aku engga bilang sama Lita kalau aku lagi butuh suami, seandainya aku bisa menjaga perkataanku mungkin semua ini engga akan terjadi. Ah sial, aku sangat bodoh sekali!"
Kemarin setelah ia pulang dari kafe merah, sore harinya ayah Risa mendapat kabar bahwa orang tua Rizal setuju dan akan datang menemui orang tua Risa nanti malam untuk membahas masalah pernikahan mereka. Risa tak habis fikir dengan apa yang ada di fikiran orang tua Rizal, bagaimana bisa mereka semudah itu mengizinkan anaknya yang masih sekolah untuk menikah, bukankah seharusnya keluarga Rizal menentang keras usulan dari ayah Risa, tapi kenapa ini malah sebaliknya?
"Ya allahh, tolonglah aku engga mau nikah sama bocah apalagi sama murid sendiri" sesampainya di parkiran sekolah bukan nya langsung keluar, Risa malah diam di dalam mobil sembari merengek sendiri meracau tidak jelas, jika saja ada orang yang melihatnya pasti mereka akan menyangka bahwa Risa sedang tidak waras!
Setelah cukup lama ia berdiam di dalam mobilnya Akhirnya Risa pun keluar dengan menyelendangkan tas nya beserta ponsel yang tergenggam di tangan nya, ibu guru muda itu langsung berjalan menuju kelas tempat ia mengajar hari ini yaitu kelas IPS, karena berdasarkan hasil rapat guru pada hari Sabtu kemarin ia di putuskan untuk menjadi wali kelas IPS-G yang berarti mulai sekarang Risa tidak lagi hanya mengajar matematika saja melainkan juga ia mengajar beberapa mata pelajaran di kelas itu
Saat ia masuk ke dalam kelas para murid di sana langsung menatap Risa heran membuat Risa gelisah karena ia fikir murid-murid nya itu menatap heran karena mereka sudah tau tentang perempuan yang tidur bersama Rizal, namun kegelisahan nya itu tidak berlangsung lama saat ia tanpa sengaja mendengar bisik-bisik mereka yang protes karena dirinya sudah masuk kelas saat jam pelajaran belum di mulai, Risa pun bernafas lega
Risa membuka tas nya dan menyiapkan buku-buku sembari menunggu jam pelajaran di mulai, karena sekarang ia sudah menjadi wali kelas, ia bertekad akan menambahkan lagi tingkat kedisiplinan siswa di kelas ini, setelah jam menunjukkan tepat pukul tujuh dan bel sudah mulai berbunyi, Risa pun menutup pintu kelas tersebut dan langsung membuka kelasnya dengan salam dan memimpin do'a di dalam hati sesuai kepercayaan semua siswa nya masing-masing
"Baik anak-anak, apakah masih ada teman-temannya yang belum masuk kelas?"
"Ada, Bu"
"Oke, kita tunggu teman kalian sebentar sebelum ibu memulai pelajaran"
Tak lama kemudian terdengar lah suara pintu diketuk kemudian pintu itu terbuka dari luar, dan masuklah seseorang yang sangat ia kenali
"Rizal" gumam Risa sambil menatap calon suaminya yang berjalan santai tanpa merasa bersalah sedikitpun karena sudah terlambat namun tak lama kemudian wajah laki-laki itu nampak terkejut saat menyadari jika guru yang berada di depan nya saat ini adalah Bu Risa.
Bu Risa memejamkan matanya sejenak merutuki nasib sialnya kenapa ia harus mengajar seorang laki-laki yang selalu membuat nya pusing dan sekarang tambah sial sekali laki-laki itu sudah berstatus sebagai calon suaminya
"Rizal, silahkan kamu duduk di tempat duduk kamu" kata Bu Risa mempersilahkan, semua murid disana tercengang ketika melihat Bu Risa yang tiba-tiba saja bersikap baik dan lembut tidak seperti biasanya
"karena sekarang semua sudah lengkap, ibu akan memulai materinya, silahkan buku kalian di buka"
__ADS_1
"Bu, kok ibu ada disini? Sekarang kan bukan jadwal nya ibu"
Bu Risa menghentikan penjelasan nya saat ia mendengar suara yang terdengar sangat tidak asing di telinga nya ia mengarahkan tatapan tajam nya ke arah Rizal
"Iya Bu, bukan nya Bu Risa guru matematika? Tapi kenapa sekarang jadi ngajar pelajaran IPS?" Bayu menambahkan
Tatapan Bu Risa langsung beralih ke arah Bayu yang tengah duduk di samping Rizal, dengan susah payah ia memasang senyuman termanisnya
"Oh iya anak-anak, saya belum memberitahukan informasi ini pada kalian. Bahwa mulai sekarang saya akan menjadi wali kelas kalian jadi saya tidak cuma akan mengajar mata pelajaran matematika saja disini, melainkan beberapa pelajaran yang lain juga saya yang akan mengajar kalian" jelas Bu Risa
"Dan Masalah keterlambatan Rizal barusan, saya sudah menoleransi nya karena ini adalah hari pertama saya menjadi wali kelas disini. Karena setelah ini saya akan membuat peraturan baru yaitu yang pertama, saya tidak mau ada kata terlambat. Dan juga mulai sekarang saya akan hadir di kelas ini setiap lima menit sebelum bel berbunyi. Terus yang kedua, saya mau kalian mengumpulkan setiap tugas yang saya berikan tepat waktu, paham?!"
Tidak sedikit terdengar suara keluh kesah para murid yang tidak bisa menerima peraturan baru yang Bu Risa jelaskan barusan. Akan tetapi, mereka juga tidak terlalu mengambil pusing lagipula peraturan nya juga tidak terlalu berat asalkan mereka bisa disiplin, itu saja.
Rizal memperhatikan Bu Risa yang tengah menjelaskan materinya dengan seksama. Sampai saat ini Rizal masih belum percaya bahwa gurunya yang saat ini tengah mengajar di depan itu adalah calon istrinya. Entah kenapa kali ini wajah Bu Risa nampak terlihat lebih cantik berkali-kali lipat dari biasanya di mata Rizal. Lalu, tiba-tiba saja bayang-bayang Bu Risa yang menjadi istrinya terbayang di fikiran nya, perempuan itu memang masih terlihat sangat muda namun sikapnya yang terlihat keibuan membuat ia cocok dengan profesinya sebagai guru
"Zal!" Bayu yang duduk di samping Rizal menoel bahu Rizal menggunakan pulpen yang ia pegang
"Apaan bay?" Jawab Rizal setengah berbisik
Rizal mendelikkan matanya kaget "elu lihat gue bay?"
"Ya iya lah gue liat elo sama cewek waktu gue lagi joget-joget"
"Anj--" Rizal nyaris mengumpat namun masih ia tahan "ah, elu diem aja dulu, ngobrolnya nanti aja"
"Bener kan? Gue juga engga salah liat kok dia mirip banget sama Bu Risa" kata Bayu ngotot
Rizal berdecak kesal "iya, puas Lo? Sekarang hadap depan sono, nanti gue ceritain"
"Janji ya Lo? Gue tunggu di kantin nanti"
"Iya bawel, cowok kok bawel Lo kaya cewek. Nanti Bu Risa ngeliat sama kita" Rizal berbisik pada telinga Bayu sembari memutarkan wajah laki-laki itu ke depan supaya tidak lagi melihat ke arahnya
"Gimana udah belum ngobrolnya Rizal sama bayu?" Tegur Bu Risa
__ADS_1
Rizal menendang kaki Bayu saat Bu Risa menegurnya "maaf bu" jawab Rizal singkat karena ia sudah tidak mau lagi menambah masalah dengan calon istrinya
Setelah 2 jam berakhir, Bu Risa pun mengakhiri kelasnya yang membuat hampir semua siswa senang termasuk Rizal, laki-laki itu terlihat nampak bersemangat membereskan alat tulisnya ke dalam tas, lalu ia pun keluar mengikut Bu Risa
"Bu Risa" panggil Rizal
Bu Risa langsung menghentikan langkah kakinya saat mendengar namanya di panggil oleh suara yang tidak asing "iya Rizal, ada apa?"
"Bu saya minta toleransi keterlambatan nya lima menit aja ya Bu, please" Kata Rizal memohon
Bu Risa menyeringai "oh boleh, tentu saja boleh kalau kamu yang jadi kepala sekolah disini"
Setelah berkata demikian Bu Risa melengos pergi namun Rizal masih terus membuntuti nya membuat Bu Risa tidak nyaman akhirnya terpaksa ia harus kembali menghentikan langkah kakinya
"Bu Risa serius engga mau ngasih toleransi keterlambatan buat saya?" Tanya Rizal masih tak mau menyerah, perempuan itu menjawab dengan hanya menggelengkan kepalanya
"Lah Bu, saya juga kadang kalau dari subuh sampai pagi sebelum berangkat sekolah harus ngurusin edit foto model kerjaan saya Bu, tapi engga sering juga kok. Cuma buat jaga-jaga aja, ya Bu kasih saya toleransi? Boleh ya?" Rizal masih tetap memohon dengan semanis mungkin
Bu Risa menggidikan bahunya "ya mana saya peduli. Seharusnya kamu bisa membagi waktu antara sekolah dan pekerjaan, yang mana yang paling penting itulah yang harus di prioritaskan"
"Semuanya juga prioritas saya Bu, foto itu kan mata pencaharian saya dan sekolah juga tempat saya menimba ilmu, kalau kerjaan sama sekolah saya lancar kan Bu Risa juga tuh yang untung" Rizal tersenyum menggoda
"Loh kok bisa saya?"
"Ya kan Bu Risa juga calon istri saya. Kalau saya sebagai suami Bu Risa ini banyak uang kan yang senang juga Bu Risa, kan? Kalau ibu Mau apa-apa pasti bakal langsung saya turutin deh. Dan kalau saya udah lulus sekolah jadi saya bisa fokus sama kerjaan saya cari uang yang banyak buat Bu Risa nantinya" jelasnya tak lupa dengan cengengesan khas nya
"Walau gimanapun kamu harus ingat kalau posisi kamu sama saya di sekolah ini cuma sebatas guru sama murid bukan suami-istri" jawab Bu Risa ketus
"Ciee, ada yang udah mulai ikhlas nih" Rizal tersenyum senang "bagus itu Bu, kan tidak ada salahnya juga kalau kita menikah toh status kita juga sama-sama lajang dan umur kita tidak terpaut terlalu jauh"
"Ish apaan coba? Udah ah, saya engga mau bahas masalah ini di sekolah" kata Bu Risa dengan judes nya
Rizal tertawa "oke deh Bu, itu aja. Jangan lupa nanti malem keluarga saya bakal datang ke rumah Bu Risa, dandan yang cantik ya. Kalau misal masih ada perasaan ragu nikah sama saya, buat aja skenario drama nya sebagus mungkin di mulai dari sekarang, nanti pasti saya bakal ikutin drama nya. Tapi saya engga mau jamin kalau ini akan berhasil"
Setelah di rasa selesai bicara, laki-laki itu pun berlalu pergi menyusul teman-teman nya dan meninggalkan Bu Risa sendirian di sana.
__ADS_1