Will You Marry Me Teacher?

Will You Marry Me Teacher?
WYMMT? Eps. 5


__ADS_3

Jadi, malam ini Risa di kenalkan oleh Lita pada teman nya yang bernama Beni, ekspresi pertama Risa saat melihat laki-laki itu adalah terkejut. benar terkejut, bagaimana tidak? Penampilan laki-laki yang bernama Beni itu tampak berlebihan, Beni berpakaian dengan sangat tertutup dengan menggunakan mantel yang besar, penutup leher serta topi, yang membuat Risa aneh melihat nya, please deh! Ini tuh Indonesia bukan negara-negara orang lain yang ada musim salju nya jadi jangan pakai pakaian yang ribet kaya gini, ini sangat memalukan! Fikir Clarissa


Tetapi walau bagaimanapun Risa tetap mencoba menghargai laki-laki yang sedang duduk di depan nya itu, sebenarnya ia sangat ingin berkata soal pakaian yang di kenakan oleh beni namun tetap Risa tahan karena ia tidak mau menyinggung perasaan nya. Namun rupanya beni seperti mengerti dengan tatapan aneh Risa ia pun menjelaskan alasan kenapa ia mengenakan pakaian seperti ini. Rupanya beni tidak kuat dengan udara dingin di malam hari, namun itu terlalu parah!


Sekuat tenaga Risa Manahan rasa malunya disaat orang-orang disana menatap aneh kepadanya, mungkin orang-orang fikir bahwa laki-laki yang saat ini duduk berhadapan dengan itu adalah pacarnya, padahal mah bukan! Di saat beni meminta izin untuk pergi ke toilet, Risa pun memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur dari lelaki itu. Akan tetapi rupanya kelegaan Risa tidak berlangsung lama karena setelah berhasil lolos kabur dari beni, ia di hampiri oleh seorang lelaki yang memberikan pertanyaan konyol kepadanya


"Mba nya ini bukan penculik anak yang lagi di buron sama polisi kan?" Itulah pertanyaan konyol yang di lontarkan oleh seorang laki-laki yang kini tengah berdiri di depan Risa membuat Risa terkejut. Ayolah! Yang benar saja dirinya di sebut sebagai penculik anak? Apa wajahnya ini terlihat seperti penjahat yang suka menculik anak? Dasar laki-laki aneh!


"Apa?" Risa tidak memperhatikan wajah laki-laki itu


Lelaki itu tampak mengedip-ngedipkan matanya seolah sedang memastikan sesuatu bahwa ia tidak salah lihat dengan apa yang berada di depan nya "Bu Risa? Bener kan ini Bu Risa?" Rizal menangkup kedua pipi Risa


Risa yang terkejut pipinya di pegang oleh pria asing baginya, langsung menghempaskan tangan Rizal dengan kasar, kemudian ia mendongakan kepalanya ke atas "Rizal?" Pekik Risa "kamu ngapain disini Rizal?" Tanya Bu Risa menatap tak percaya


"Duduk lah dulu Bu, engga enak juga bicara sambil berdiri kaya gini" Rizal menunjuk pada sepasang kursi yang berada tak jauh dari tempat dimana mereka berdiri


"Oke, ayo" tanpa sadar Risa menerima ajakan muridnya itu, setelah ia melihat senyuman lebar paling manis yang terpasang di wajah Rizal, cute banget! Membuat Risa terasa adem melihatnya


"Silahkan Bu Risa pesan dulu, mau makanan Sama minum apa?" Rizal menawarkan namun Risa tidak menjawab. Ia masih asik memandang wajah Rizal


Rizal melambai-lambaikan tangannya ke depan wajah Risa guna menyadarkan lamunan nya. Risa menggelengkan kepalanya setelah tersadar dari lamunannya, ia menepuk jidat berkali-kali. Sadar Risa! Sadar! Dia murid kamu! Dan dia juga kamu harus ingat kalau dia anak nakal! Jangan sampe kamu luluh sama dia!


"Engga usah, saya udah minum kok tadi sebelum kabur" tolak Risa dengan nada suara yang di buat ketus


"berarti tadi Bu Risa nengok ke belakang terus itu beneran lagi di kejar? Di kejar sama siapa bu?" Tanya Rizal


"Ah itu bukan urusan kamu. Sekarang saya mau tanya sama kamu kenapa kamu bisa ada di klub malem kaya gini?" Tanya bu Risa sedikit galak

__ADS_1


"Oh itu Bu.. ini bisa saya jelaskan"


"Saya benar-benar tidak percaya anak murid saya dan juga adik dari sahabat lama saya ternyata bisa senakal ini, selain kamu yang bandel di sekolah ternyata kamu juga seorang laki-laki yang tidak ada bedanya dengan mereka yang suka pergi ke tempat hina ini?!" Bu Risa berkata dengan penuh penegasan


Siapa sangka perkataan Bu Risa barusan membuat Rizal naik pitam, ia nyaris berteriak membentak dan menggebrakkan meja jika saja ia tidak istighfar dan tidak ingat dengan seseorang yang sedang duduk di depan nya itu adalah yang tak lain gurunya. Walau bagaimanapun Rizal masih bisa menghargai gurunya, ia tidak punya keberanian sebanyak itu untuk bertindak lebih jauh. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mengontrol emosi nya


"Bu Risa, kali ini saya mohon sama ibu, tolong beri saya kesempatan untuk membela diri disaat saya tidak merasa bersalah" kata Rizal serius


"Oke" jawab Risa lagi-lagi dengan tanpa sadar karena melihat wajah Rizal yang nampak terlihat serius itu menimbulkan aura kedewasaan terpancar disana Yang membuat Risa luluh


"Gini Bu, jadi saya memang benar suka pergi ke tempat ini. Akan tetapi tujuan saya berbeda, saya datang kesini cuma untuk mencari hiburan, makan Snack sama minum minuman bersoda dengan di temani alunan musik beserta keramaian orang disini, saya tidak senakal yang Bu Risa fikirkan. Saya tidak sama seperti mereka, mereka, mereka" Rizal menunjuk kepada para pria yang tengah mabuk dan menggoda perempuan itu satu persatu "jadi, saya minta. Tolong Bu Risa jangan suka berasumsi sendiri tentang perilaku saya"


Risa terdiam cukup lama mencerna satu persatu kata demi kata yang terlontar dari mulut Rizal, ada sedikit perasaan bersalah menyelimuti hatinya, ia berfikir apakah yang ia lakukan pada Rizal sudah keterlaluan? Ia juga menyadari bahwa dirinya tidak sebaik itu untuk menghakimi Rizal, ia tidak ingat saja bahwa bagi Risa klub malam sudah tidak asing lagi karena ia juga sudah sangat sering datang ke klub malam dengan alasan yang sama seperti Rizal yaitu untuk mencari hiburan saja


"Maafkan saya Rizal, saya tidak bermaksud unt--" perkataan Risa terpotong


"Sudah cukup Bu, engga masalah. Lupakan aja, toh tujuan saya datang kesini kan untuk mencari hiburan bukan untuk berdebat seperti ini, ini bukan tempatnya" Rizal meneguk minuman bersoda dalam botol yang berada di depan nya "jadi, tadi Bu Risa lagi di kejar sama siapa?"


Rizal terkekeh "Oke kak Risa"


Dan Risa pun mulai menceritakan alasan ia berjalan dengan sembari terus menengok ke arah belakang dan juga ia menceritakan jika ia meninggalkan pasangan kencan buta nya yang tengah izin pergi ke toilet


"Jadi sekarang yang punya tujuan ke klub buat cari jodoh, bukan cuma aku?" Tawa Rizal pecah


"Kamu juga lagi cari jodoh, zal?" Tanya Bu Risa


"Engga kak, bukan gitu." Sanggah Rizal "itu cuma akal-akalan teman aku aja yang sekarang entah ada dimana, ngilang sendiri dari tadi"

__ADS_1


"Ternyata nasib kita sama" Risa Terkekeh


"Sama apa ni kak?" Tanya Rizal


"Sama-sama ditinggal temen lah" Jawab Risa,


kemudian mereka berdua pun terus berbincang dengan berbagai topik dimulai dari Rizal yang menceritakan cerita lucu bersama teman nya dan juga Risa yang menceritakan tentang kehidupan nya selama ia melanjutkan pendidikan di Spanyol. Di luar dugaan ternyata sifat Rizal tidak seperti yang ada pada fikiran Risa. Risa merasa sangat nyaman mengobrol dengan Rizal, dia juga sangat menyukai candaan dan gombalan yang di lontarkan oleh Rizal untuknya, ia bahkan tidak sadar dan tidak mengingat bahwa Rizal ini adalah muridnya sampai-sampai Risa mengandaikan jika saja pasangan kencan buta nya itu adalah seorang Rizal mungkin tidak akan ada acara kabur-kaburan seperti ini


"Kak, pesen minum dong, yuk. Dari tadi ngobrol terus sampe kering nih tenggorokan ku" ajak Rizal pada Risa


"Boleh, kebetulan aku juga udah haus nih" Risa berdiri kemudian ia berjalan dengan mengekornya Rizal menuju meja pelayan dan mereka pun memesan dua gelas jus jeruk pada pelayan disana


"Langka banget nih ada cowok masuk ke klub tapi engga minum alkohol" kata Risa menggoda Rizal


"Iya dong, kan aku mah anti alkohol, paling juga pake alkohol buat ngobatin luka bukan di buat minuman" Rizal tertawa


"Beneran nih?" Risa menatap wajah Rizal penuh selidik "bukan lagi pencitraan kan?"


"Mana ada? Ya enggak gitu juga lah, asal kak Risa tau aku ini cowok baik-baik. Jadi engga butuh penciptaan" ujar Rizal membanggakan dirinya


"Tapi kalo menurut ku sih engga ada tuh cowok baik-baik main ke klub malem kaya gini" Risa memutarkan kedua bola matanya malas


"Nah kak Risa juga salah seharusnya engga cari jodoh di klub malem, mana ada disini cowok baik-baik yang pantes dijadikan imam kecuali aku" Rizal kembali berkata dengan bangga nya


"Rizal, kok kepalaku pusing gini ya?" Keluh Risa sembari memijat pelipisnya


"Kenapa?" Tanya Rizal khawatir "kak Risa mau pulang sekarang? Aku anterin ya"

__ADS_1


"Engga usah, aku tunggu Lita disini aja" tolak Risa, ia mengeluarkan ponselnya dari saku blazer yang ia kenakan kemudian ia mencoba menelfon Lita namun tidak ada jawaban alias tidak aktif! Saat ia hendak kembali menelfon nya rupanya ia sudah tidak kuat menahan pusingnya kemudian ia tertidur di atas meja


Rizal yang melihat itu menjadi semakin panik karena tiba-tiba saja dirinya juga sama halnya seperti Risa yang merasakan pusing serta matanya menjadi terasa sangat berat, sekuat tenaga ia mendelikkan matanya lebar-lebar menahan supaya tetap mau membuka, ia merogoh saku celananya bermaksud mengambil ponsel dan segera Menelfon Bayu namun dengan keadaan nya saat ini yang sudah semakin terasa pusing, ponselnya pun jatuh ke bawah disaat ia baru mengeluarkan nya dari saku, saat ia menunduk hendak mengambil ponsel di bawah tiba-tiba saja penglihatan nya menjadi hilang, gelap dan Kabur namun ia masih tidak mau menyerah, ia masih tetap menahan matanya dengan melihat ke arah Risa yang tengah tertidur di atas meja, perlahan tapi pasti tangan Rizal berjalan merambat mengenai tangan Risa. Setelah itupun ia pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi


__ADS_2