
Rizal masuk ke dalam kantin seorang diri setelah ia selesai menjalankan hukuman istrinya, eh tidak! Kalau di sekolah itu adalah gurunya bukan istrinya, matanya mengedar ke sekeliling kantin yang nampak penuh, ia pun berjalan masuk mencari meja kosong, ia tercekat dan tubuhnya terasa membeku saat matanya menangkap sosok perempuan yang sangat ia kenali tengah duduk berdua dengan pak Ardi di kursi kantin di depan nya
"Anjer gelo siah" desis Rizal tanpa sadar
Tiba-tiba ada segerombolan siswa menghampiri mereka, membuat telinga Rizal terasa panas mendengar teman-teman nya dengan enteng menggoda si guru sok kegantengan itu yang tengah duduk di depan matanya dengan Bu Risa
"Pak Ardi berduaan aja sama bu Risa, ni.. ciye" kata salah seorang siswi teman sekelasnya
"Anak cowok-cowok ini pada suka sama Bu Risa ya?" Tanya pak Ardi sambil menunjuk pada anak laki-laki yang tengah berdiri di dekatnya termasuk Rizal "maaf banget ya, yang dapet duluan saya ni" goda nya dengan nada terdengar angkuh Membuat hati Rizal semakin panas
"Woy buaya kolot! Apa maksud situ udah dapetin dia? Gue suaminya bro! Jangan ngarep!" Batin Rizal ber Api-api
sebenarnya Rizal berani saja mengatakan itu kepada guru ganjen nya, akan tetapi ia tidak jadi mengatakan nya demi Risa istrinya. Jika ia berani bertindak sejauh itu maka karir istrinya dalam bahaya dan akan langsung hancur dalam sekejap saja
"Sialan tuh guru, engga tahu apa kalau Bu Risa itu udah punya suami" cibir Rizal kesal sembari duduk di salah satu kursi kantin itu yang masih kosong
Tak di sangka ternyata perkataan Rizal barusan terdengar jelas oleh salah satu siswi Disana yang kebetulan ia duduk tidak terlalu jauh dari tempat duduk Rizal
"Emang iya gitu? Bu Risa udah punya suami?" Tanya seorang siswi berambut keriting yang duduk di depan meja Rizal, siswi itu di ketahui bernama Lily
"Eh, iya? Kata siapa coba? Ngarang aja Lo zal! Bilang aja kalau Lo udah kalah start dari pak Ardi, ga usah ngarang cerita kaya gitu" timpal siswi cantik yang bernama Revi yang duduk di samping Lily
"Heh! Kalian perhatikan deh tuh ada cincin nikah di jari manis Bu Risa." Tunjuk Rizal ke arah Bu Risa yang masih duduk disana tak jauh darinya dan dengan masih bersama pak Ardi
Kedua siswi kepo itu langsung menoleh memastikan sembari menyipitkan matanya "eh iya juga tuh"
__ADS_1
"Ah engga, aku engga percaya. Paling juga itu cincin emas biasa yang dia beli bukan cincin kawin" kata Revi mengelak
Rizal hanya menggerutu tidak jelas dan tidak mau lagi menanggapi kedua siswi sok tau yang tengah duduk di depan nya itu. Kenapa teman-teman nya semua pada tidak percaya bahwa Bu Risa sudah menikah? Ataukah mereka hanya sengaja menggoda saja? Ah sudahlah itu tidak penting. Rizal menoleh ke arah pintu masuk kantin dengan mendapati kedua teman nya yaitu Bayu dan Leo, ia mengangkat tangan nya meminta mereka untuk bergabung dengan Rizal
"Ah Lo zal, sayang banget Lo kemarin Sabtu engga ikut muncak" kata Leo
"Ho'oh bro, keren banget asli. Gunung gede, pemandangan nya bukan main" Bayu ikut menimpali
"Elo kondangan kemana sih? Siapa yang ngundang Lo ke acara nikahan? Emang elo punya temen berapa?" Tanya Leo
Rizal menggaruk rambutnya bingung, sebenarnya dia tidak datang ke undangan manapun tetapi dia sendiri lah Yang mengadakan acara kondangan tersebut
"Gue? Datang ke acara nikahan Bu Risa" jawab Rizal. ia benar, kan? Tidak sepenuhnya bohong, karena ia sendiri lah yang menjadi mempelai pria nya disana
"Hah? Bu Risa nikah? Yang bener aja bro" Bayu menjitak kepala Rizal, ia menganggap perkataan Rizal ngawur saja
"Iya iya gue percaya, Nanti juga setalah kita ujian nasional bakal ngadain muncak lagi bareng anak-anak sekelas semua, tinggal kita diskusikan aja gunung mana yang mau kita pilih" kata Leo
"Nah iya Gue setuju. Kita cari gunung yang tinggi biar ada sensasi capeknya" imbuh Rizal
"Engga bisa gitu bro, kita kan bareng anak-anak kelas semuanya. Jadi engga bisa milih gunung tinggi seenak kita, apalagi banyak anak-anak cewek yang engga bakal kuat kakinya buat ngedaki di ketinggian" bayu menyanggah pendapat Rizal
"Oke, oke. Siapa gurunya yang bakal kita ajak buat ngawasi?" Tanya Rizal
"Pak Ardi lah siapa lagi, cuma dia yang bakal bisa. Gimana kalau kita ajak juga Bu Risa? Dia juga kan sebagai wali kelas kita dan lagipula dia masih muda, setahu gue denger-denger Bu Risa punya adik yang sekolah disini juga. Kita coba cari tau siapa adiknya terus kita tanya ke dia" usul Leo
__ADS_1
Rizal tertegun, ia tidak menyangka ternyata perkataan Bu Risa yang mengakui dirinya sebagai adik itu menjadi bahan gosip, tapi teman-teman nya tidak ada yang tahu bahwa yang di maksud adik jadi-jadian ini adalah dirinya sendiri yaitu Rizal
"Kok tanya sama adiknya? Tanya sama suaminya dong, masa nanya sama adiknya? Apa hubungan nya?" Omel Rizal, ia melamun sejenak berfikir. Mengajak Risa mendaki gunung pasti akan terasa sangat menyenangkan, tetapi itu jika hanya berdua saja. Kalau beramai-ramai seperti ini? Ya mana bisa di berduaan dengan Risa kecuali mereka semua udah tau bahwa Rizal adalah suami Bu Risa nah baru bebas. Akh! Efek nikah sembunyi-sembunyi gini nih jadi susah mau apa-apa engga bebas
"Tanya sama suaminya? Emang kita tahu siapa suami Bu Risa? Lebih baik kita cari tahu dulu siapa adiknya nah nanti suruh dia tanya ke Bu Risa bakal di bolehin engga sama suaminya?" Timpal Bayu
"Tapi, kalau entar suaminya juga mau ikut gimana?" Tanya bayu
"Ya gue pasti ikutlah!" Tukas Rizal riweh
"Yang nanya elo siapa? Gue nanya suami Bu Risa, bukan elo ****!" Lagi-lagi bayu menjitak kepala Rizal
Mereka menghentikan acara mengobrol nya saat seorang pelayan kantin datang membawa nampan berisi 3 mangkok mie ayam beserta 3 gelas es teh pesanan mereka tadi. Dengan khidmat nya ketiga kawanan lelaki itu menikmati mie ayam yang masih mengebul panas untuk mengganjal perut mereka yang sudah mulai keroncongan sejak tadi
Rizal yang paling cepat makan nya di sana, ia sudah menghabiskan semangkok penuh mie ayam sampai mangkoknya bersih tak tersisa sedikitpun sedangkan kedua teman nya baru memakan setengah mangkok saja, lelaki itu meneguk satu gelas penuh es teh miliknya hingga tandas. Tiba-tiba darah di tubuhnya terasa mendidih saat matanya tidak sengaja menangkap sosok guru menyebalkan yang tengah menyodorkan sesuap bakso pada mulut seorang perempuan yang tak lain ada Bu Risa istri Rizal
"******** brengsek" pekik Rizal
"Astaga, Lo nyebut, ada apaan bro sampe ngebikin elo ngumpat gini" tanya Leo, ia menepuk bahu Rizal
Spontan Rizal langsung memalingkan wajahnya ke arah lain sebelum Leo ikut melihat ke arah seseorang yang membuatnya marah, Rizal berdiri. "Gue cabut duluan" laki-laki itu menggendongkan tas sekolah nya "gue tebak Bu Risa engga bakal bisa ikut mendaki!"
Leo dan Bayu saling menatap satu sama lain heran dengan tingkah sahabatnya yang terlihat aneh
"Dada, dadaku sakit" gumam Rizal di kamar mandi milik umum yang bersih disana, ia menepuk-nepuk dada nya yang terasa sesak
__ADS_1
Melihat istrinya semakin akrab dengan pria lain membuat Rizal semakin kesal. Apa ia sedang cemburu? Mungkin saja! Bagaimana tidak? Dia suaminya bukankah itu suatu hal yang wajar jika suami cemburu pada istri sendiri? Akan tetapi jelas saja Rizal merasa tidak percaya dengan dirinya sendiri. Ia merasa tidak percaya diri pada pernikahan nya dengan Risa. Ia dan Risa menikah karena paksaan dan tidak ada rasa cinta di situ dan lebih parahnya lagi ia bukan laki-laki yang termasuk dalam kriteria suami idaman istrinya, berbeda jauh dengan guru yang bernama pak Ardi itu
Tentu saja Rizal tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan pak Ardi sang guru muda tampan nan mapan yang pasti dia juga lebih tua dan lebih dewasa dari dirinya maupun Risa. Sudah di pastikan bahwa pak Ardi ini masuk ke dalam kategori menantu idaman untuk ibunya Risa yang sangat terobsesi menginginkan menantu yang dewasa sebagai suami Risa bukan yang kekanakan seperti dirinya. Sudah di pastikan ini akan mengancam rumah tangga nya dengan Risa. Bisa saja Risa juga tertarik dengan pak Ardi dan memutuskan untuk menjalin hubungan dengan nya dan menggantikan posisi dirinya untuk Risa. Jika itu benar-benar terjadi, apa yang bisa Rizal lakukan untuk mempertahankan pernikahan mereka yang tanpa di landasi perasaan cinta, ini?! Rizal menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak mau kehilangan wanita itu, bagaimana pun Rizal harus bisa mempertahankan rumah tangga nya. ia juga salah, seharusnya ia jangan dulu berfikiran sampai sejauh itu. Seharusnya Ia percaya pada istrinya bahwa Risa tidak seburuk yang ia fikirkan dan tidak mungkin Risa mau mengkhianati dirinya beserta pernikahan nya. Sekarang ia harus belajar berfikir positif, harus!