
"Sekian dulu materi dari saya untuk hari ini, sampai jumpa lagi untuk besok, karena besok masih ada waktu pelajaran saya. Kita lanjutkan materi ini besok dan jangan lupa besok tugasnya harus sudah di kumpulkan semua, sekarang kalian sudah boleh istirahat. Selamat siang!" Ucap Bu Risa, sambil membereskan buku-buku beserta peralatan mengajar miliknya yang berserakan di meja
"Dan kamu Fakhrizal, hukuman kamu sudah selesai. Silahkan kamu juga boleh keluar untuk istirahat"
"Alhamdulillah, siap Bu makasih banyak" Rizal beranjak pergi keluar kelas menyusul para teman-temannya yang sudah lebih dulu meninggalkannya menuju kantin
"Tunggu.. Fakhri" panggil Bu Risa
"Nama panggilan saya Rizal, Bu" Rizal membalikkan tubuhnya membenarkan perkataan Bu Risa karena ia merasa tidak nyaman dengan panggilan Fakhri
"Oh iya Rizal, lain kali jika saya menjelaskan tolong di perhatikan, ya. Jangan banyak melamun!" Peringat Bu Risa
"Iya Bu, maafkan saya" Rizal membungkukkan badannya
"Ya, sudah silahkan kamu boleh keluar, ngapain kamu masih disini?" Kata Bu Risa sewot
Lah? Sewot Bu? Bukan nya tadi ibu sendiri yang manggil saya sekarang malah di usir, cewek mah bebass!!
"Woy! ***** banget Lo Lo pada! Gue temen kalian bukan? Seenaknya kalian tinggalin gue sama tuh guru killer" kesal Rizal
"Yaelah jadi cowok baperan amat zal! Gue kira kan Lo masih ada urusan sama Bu guru cantik itu, karena kita engga perlu tau makanya kita tinggalin Lo aja" Zidan menjelaskan
"Nih, kita udah pesenin makanan buat Lo" Leo menyodorkan seporsi bakso pada Rizal
Membuat Rizal yang sedari tadi memasang wajah kesal langsung cerah seketika "kalian emang temen-temen gue paling pengertian" ucap Rizal dengan sengiran khasnya
"Kampret Lo zal! Giliran soal makanan aja Lo langsung semangat, jangan lupa bayar sendiri noh belum gue bayarin" cibir Leo
"Gue lagi sial bro, berdiri selama dua jam lebih di depan papan tulis bener-bener ngebikin gue kelaparan" Rizal menyendok sesuap bakso dan memasukan kedalam mulutnya dengan lahap
"Bhahahahha mantap" ucap Zidan
"Guys, gimana kalo hari Sabtu kita ke klub yok lah, udah lama gue engga ngeklub" usul Bayu sambil mengaduk segelas es teh miliknya
"Setuju!!" jawab Rizal Leo dan Zidan, serempak dengan semangat
"Halo Rizal!"
Sebuah suara perempuan membuat keempat kawanan itu saling menatap, Rizal membalikkan badannya menoleh dan mendapati mantan pacarnya dari kelas IPA yang tengah berdiri dengan pakaian yang super ngetat melekat di tubuh rampingnya menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya dengan jelas, dengan tidak tahu malunya gadis itu duduk di kursi samping Rizal tanpa izin yang kebetulan kursi itu kosong.
"Ya Allah, Apa-apaan ini? Kok mau-maunya dulu aku pacaran sama dia yang sukanya obral daging gitu" batin Rizal menyesal
"Sama cowok-cowok terus ih zal!" Ledek Dinda
Rizal kembali menyuapkan sesendok bakso ke mulutnya "Lah, Anda stres? Liat tuh Lo juga sendirian, sesama jomblo jangan saling mengejek. Mari kita saling menghormati satu sama lain"
Bukan nya merasa terpojokkan, gadis berambut panjang nan pirang itu malah tertawa "betah banget sih ngejomblo, belum bisa move on ya?"
Rizal mengangkat sudut bibirnya "aduh percaya diri sekali dirimu! Tapi kalo emang gue belum bisa move on. Lo mau apa?"
"Ya gue senang lah, itu artinya Lo bener-bener cinta sama gue!" Ujar gadis yang bernama Dinda itu sambil mengibaskan rambut panjangnya
"Gue emang belum bisa move on dari Lo din, tapi bukan karena cinta melainkan karena kelakuan Lo!" Kata Rizal santai sembari menyeruput segelas es teh
Dinda tampak mengernyit "maksud Lo?"
__ADS_1
"Ya maksud gue gitu, masih kepikiran terus. Jadi takut kalo punya pacar nanti takut boros sama suka nuntut kaya Lo, gimana?" Sindir Rizal, diikuti dengan gelak tawa para teman-temannya
Wajah Dinda terlihat merah padam antara menahan malu dan marah "mulut Lo itu astaga! Minta di tabok ya zal?! Dasar pendendam. Kok gue baru tau ya ternyata Lo itu sukanya ngumbar aib orang lain"
"Santai Din, gue bercanda" Rizal terkekeh "lagian Lo juga sekarang pasti masih Deket sama banyak cowok kan? Gue cuma mau kasih tau aja. Kalo masih pacaran coba pahami kesibukan pasangan Lo, pasti deh Lo bakal dapet cowok yang beneran cinta sama Lo, terus udah pasti Lo bakal langsung di seret ke KUA deh, gue yakin itu!"
"Mulai, ceramah Mulu kerjaan elu! Sama aja kaya dulu" Dinda mencebikan bibirnya kemudian ia berdiri "yaudah deh gue duluan, have a nice day, Rizal! Jangan lupa cari cewek ya biar ada yang merhatiin"
Rizal tertawa sambil memandangi punggung Dinda yang berjalan semakin menjauh darinya, sok-sokan bilang nyuruh cari cewek biar ada yang merhatiin, padahal juga waktu pacaran sama Dinda, mana mau perempuan itu memerhatikan nya. Rizal pun berdiri mengajak teman-teman nya untuk kembali ke kelas melanjutkan pelajaran nya sampai jam pulang sekolah tiba
Tak terasa, waktu berjalan cepat dan sekarang sudah waktu nya para murid pulang sekolah, Rizal membereskan buku-bukunya ke dalam tas saat bel sekolah berbunyi, ia pulang sekolah dengan menaiki ojek, biasanya ia pulang pergi ke sekolah di antar oleh ayahnya namun entah kenapa kali ini ayahnya sangat sibuk sampai tidak sempat pulang
Setelah sampai di depan pagar rumahnya dan langsung membayar ongkos pada tukang ojek, Rizal langsung masuk ke dalam rumahnya lewat pintu samping, dia melihat kakak nya yaitu Farah ada disana bersama seorang perempuan yang kebetulan saat itu posisi duduk perempuan tersebut menghadap ke arah kak Farah, sehingga Rizal tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya
"Assalamu'alaikum" ucap Rizal setengah berteriak
"Wa'alaikumsalam" sahut kak Farah bersamaan dengan teman nya yang tanpa menoleh ke arah Rizal
"Wihh singa betina ternyata bisa pulang" Rizal duduk di kursi samping pintu sembari membuka tali sepatunya satu persatu
"Diem kamu curut, ku jitak kepalanya sini" kata kak Farah gemas
"Mana oleh-oleh nya kak" pinta Rizal menagih
"Inget aja kamu sama oleh-oleh, tadi udah kakak belikan makanan kesukaan kamu tuh ada di meja" kata kak Farah
Spontan saja Rizal langsung loncat berlari ke arah meja yang ditunjuk oleh kak Farah tanpa membereskan sepatunya ke atas rak dan membiarkan sepatu itu berantakan di lantai, tentu saja. Seorang Rizal tidak pernah mau terlewatkan masalah makanan!
"Oh iya dek, kenalin dulu ini sahabat kakak dari jaman nya SMP" ucap kak Farah di belakang Rizal yang tengah asik membongkar makanan tersebut satu persatu
Rizal menoleh ke arah perempuan tadi, posisi nya sekarang perempuan itu bisa terlihat oleh Rizal dari samping namun tetap saja Rizal belum bisa melihat wajah nya dengan jelas karena tertutup oleh rambut bagian sampingnya
"Bu Risa?"
"Fakhrizal?"
Rizal dan Bu Risa berteriak secara bersamaan, sedangkan kak Farah yang tengah berdiri di samping mereka nampak kebingungan melihat sahabat dan adiknya berteriak bahkan saling menunjuk
"Loh, apa kalian udah kenal?" Tanya kak Farah bingung
"Dia murid gue, far"
"Dia guru gal-, maksudku dia guru aku kak" Rizal menutup mulutnya saat ia hampir mengatakan guru galak "kak, kok dia bisa ada disini sih?"
"Maksud kamu siapa Rizal? Saya? Engga sopan ya kamu main tunjuk-tunjuk sama saya, saya itu guru kamu" omel Bu Risa
"Eh bukan, bukan gitu Bu. Maksud saya kok bisa ibu ada disini? Eh bukan, bukan juga" Rizal menepuk-nepuk mulutnya dengan sendirinya yang menurutnya kurang ajar itu "maksud saya silahkan Bu guru lanjut ngobrol lagi sama kakak saya ini, maaf kalo saya mengganggu"
Rizal melirik ke arah kakaknya memberikan isyarat supaya kakak nya kembali duduk di depan Bu Risa melanjutkan acara mengobral nya tadi "Sono kak, balik ke sono gih"
"Eh mau kemana, kamu?" Tegur kak Farah saat melihat Rizal beranjak dari duduknya
"Mau ke kamar, kemana lagi?"
"Engga usah, nanti aja ke kamarnya. Sini duduk dulu disini, temenin guru kamu ya. Kakak pengen mandi dulu" pinta kak Farah
__ADS_1
"Hah? Apa-apaan ini? Engga salah Aku disuruh nemenin guru killer ini?" Batin Rizal kesal
".Kak" Rizal berkata penuh penekanan
"Please, ya..." wajah Kak Farah memelas, kalau sudah seperti ini Rizal tidak akan tega melihatnya
"Tapi, si Faris kemana? Kenapa kakak engga minta tolong sama dia aja?" Rizal mencoba melihat ke arah lain
"Faris? Ikut Mama keluar, kayanya nemuin ayah di toko, mau yaa?" Ujar kak Farah masih belum menyerah soal permintaan bantuan nya
Rizal terlihat menarik nafasnya dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan guna menenangkan emosinya "okelah, cepetan mandinya" akhirnya dengan berat hati Rizal menyetujui
"Uuuu makasihh, dedek Ijal makin tambah ganteng deh. Kakak tinggal dulu ya" kak Farah mengacak rambut Rizal sembari berlari mengambil handuk
Sepeninggal kak Farah, Rizal bersama Bu Risa hanya duduk saja saling diam, namun Rizal mencoba berdehem untuk mencairkan suasana nya yang semakin terasa merinding. Bagaimana tidak merinding jika ia duduk berhadapan dengan guru killer nya dengan saling diam, dan jika dilihat-lihat wajah Bu Risa tampak datar tanpa ekspresi apapun
"Jadi, Bu Risa temen nya kak Farah ya?" Tanya Rizal namun tanpa melihat ke arah wajah Bu Risa
"Seperti yang sudah kakak kamu jelaskan tadi" jawabnya
"Oh iya Bu" Rizal tersenyum kaku
"Kakak kamu itu sebenarnya lagi mandi atau ternak lele sih? Sudah satu jam ini" kata Bu Risa sembari melihat ke arah jam tangan nya
"Kak Farah emang kebiasaan nya udah gitu kok bu, udah biasa mandi lebih dari 30 menit" jelas Rizal
"Kalau di luar sekolah manggilnya engga usah pakek embel-embel ibu, memang saya setua itu?" Bu Risa menaikkan salah satu alisnya
"Kan Bu Risa guru saya, ya wajarlah saya kalau saya panggil ibu"
"Tapi jam mengajar saya sudah berakhir"
"Terus saya harus panggil apa dong, Bu?" Rizal menggaruk belakang kepalanya yang tiba-tiba saja gatal
"Terserah, panggil Gue elo juga engga masalah kok, toh umur kita engga beda jauh" saran Bu Risa
"Kalau manggil baby boleh engga?" Rizal menaik turunkan alisnya menggoda Bu Risa
"Kamu jangan kurang ajar ya sama guru sendiri, mau saya hukum?!" Bentak Bu Risa kesal
"Yaelah Bu galak amat, engga di sekolah engga di rumah saya tetep aja galak, padahal saya mah cuma bercanda" Rizal menggerakkan bola matanya menatap Bu Risa "kan ibu sendiri yang nyuruh saya engga boleh manggil Bu Risa dengan panggilan ibu"
"Iya. Tapi manggilnya yang bener!"
"Wih guru sama murid lagi asik ngobrol nih, ikutan dong" tiba-tiba ada suara muncul dari arah belakang Rizal duduk ternyata itu kak Farah yang baru selesai mandi dengan handuk yang masih menempel di rambutnya, sepertinya ia baru selesai mandi keramas
Kak Farah langsung ikutan nimbrung dan duduk di samping Rizal
"Heh, lama banget sih elo mandinya, ternak lele dapet berapa ton ha?" Bu Risa berdiri dari duduknya dan langsung menyentil jidat kak Farah
"Sakit oi!" Kak Farah ikut berdiri membalas menyentil jidat Bu Risa sampai akhirnya terjadilah pertarungan sentil menyentil antara Bu Risa dan kak Farah tanpa menyadari bahwa disana ada seseorang yang tak di anggap ada keberadaannya
Rizal yang kesal karena merasa dikacangi pun langsung berdiri "Bu--, eh maksudku kak Risa, tugasku nemenin kak Risa udah selesai, aku masuk kamar dulu"
"Yaudah sana istirahat aja" jawab kak Farah
__ADS_1
"Jangan lupa, tugas sekolah yang tadi saya kasih juga dikerjakan!" Tambah Bu Risa
"Iya Bu iyaa" teriak Rizal yang sudah berada di depan pintu kamarnya