Will You Marry Me Teacher?

Will You Marry Me Teacher?
Eps. 16 ~After Marriage


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Risa sudah rapih dengan pakaian formal nya sudah siap untuk berangkat menuju sekolah sedangkan Rizal masih santai saja memakan sarapan nya dan masih belum mengenakan atribut sekolah dengan lengkap, bahkan kancing seragamnya pun belum ia tutup semua


"Rizal, buruan makan nya. Liat tuh istri kamu mah udah siap udah rapih udah cantik gitu" kata Bu Rina


Rizal melirik ke arah Risa "loh, kamu udah mau berangkat aja? Tunggu bentar ini dikit lagi habis"


"Eh, eh engga usah buru-buru. Aku berangkat duluan aja udah pesan ojek online juga ini kok" tolak Risa berbohong padahal sebenarnya ia tidak mau berangkat bareng Rizal adalah karena ia tidak mau sampai menjadi bahan omongan para penduduk di sekolah, namun ia tidak mau mengatakan yang sejujurnya di hadapan mertuanya


"Menurut ayah sebaiknya kalian berangkat bareng saja, bawa mobil ayah. Seperti biasa, ya" usul pak Fadli pada anak menantunya


Risa diam, tidak mengatakan iya maupun tidak, sedangkan Rizal dengan terburu-buru ia menghabiskan sisa makanan nya serta langsung merapikan seragamnya. Kedua pasutri itu pun menyalami tangan kedua orang tuanya berpamitan sebelum pergi


"Loh, kok diem? Ayo masuk ke mobil keburu telat, kamu kan harus udah ada di kelas sebelum jam pelajaran di mulai" kata Rizal saat mereka sudah sampai di garasi mobil nya


"Siapa juga yang mau berangkat bareng kamu? Jangan ngarep! Aku udah pesan ojek online juga bentar lagi sampe di gang sana" Risa berbicara dengan pandangan matanya jatuh pada cincin nikah yang tersemat di jari manis Rizal "itu? Kamu mau tetep pakai cincin itu ke sekolah, gimana kalau ada temen kamu yang nanyain?"


"Jangan coba ngelak apalagi ngalihkan pembicaraan kaya gini, ayo masuk. Nanti telat" suara Rizal terdengar tegas


"Jawab dulu ih itu cincinnya gimana? Baru aku mau masuk!"


"Ini mah gampang, tinggal pindahin aja ke jari tengah, udah kan mereka engga bakal curiga lagi. Ayo masuk" kata Rizal sambil memindahkan cincin itu dari satu jari ke jari yang lain nya


"Iya deh terserah kamu. Yang penting jangan sampe teman-teman kamu tau!" Peringat Risa


"Iya, iya. Ayo cepet masuk baby" Rizal membuka pintu mobilnya


"Sekali lagi aku mau masuk asal kamu mau turunin aku di depan kios mang Dayat" pinta Risa, kios mang Dayat yang Risa maksud adalah sebuah kios yang terletak tidak terlalu jauh di dekat sekolahan nya


"Ya udah nih, kamu aja yang ngendarai nya biar aku yang turun di kios sana" Rizal menyerahkan kunci mobil ke tangan Risa


...


Bu Risa menurunkan kacamata nya di tengah hidung mancungnya, matanya memicing curiga saat ia mengoreksi bagian buku PR Rizal, yang mana jawaban nya sama persis dengan jawaban yang sudah ia tulis di buku kunci jawaban miliknya, tidak ada yang beda sedikitpun. Ia pun berjalan menghampiri Rizal dengan wajah mode galaknya


Rizal mendongak "ada apa Bu? Jawaban di buku PR saya engga ngawur lagi kan? Saya udah ngerjakan semuanya loh Bu"

__ADS_1


Semua murid di kelas itu meneguk ludahnya. Mereka tahu bahwa seluruh toilet Siswa di sekolahan itu sangat kotor dan bau, semua nya penuh dengan sesuatu yang timbul dari lubang kloset nya karena ulah siswa yang jorok. Dengan tanpa perasaan teganya Mereka semua mendo'akan yang jelek untuk Rizal yaitu berharap semoga Bu Risa menghukum Rizal dengan membersihkan toilet supaya mereka kembali bisa menikmati toilet yang bersih


"Rizal, kenapa jawaban di buku PR kamu ini benar semua?" Mata Bu Risa mendelik tajam


"Benar semua Bu? Alhamdulillah dapet seratus dong" Rizal meringis senang


"Saya engga kasih nilai kamu seratus, karena saya engga percaya sama jawaban kamu yang tiba-tiba bisa masuk akal gini benar semua. Kalau kamu memang pengen dapet nilai seratus dari saya, saya minta kamu maju ke depan dan kerjakan soal nomer satu ini"


Ekspresi wajah Rizal yang awalnya berbinar kini langsung berubah cemberut kecewa seketika. Sedangkan teman-teman nya disana semua berharap semoga Rizal tidak bisa menjawab soal itu supaya dapet hukuman seperti yang mereka harapkan


Dengan ragu, Rizal mengambil spidol yang tergeletak di meja guru, namun bukan jawaban dari soal itu yang Rizal tulis melainkan dia malah menulis kata-kata yang membuat semua teman-teman nya tertawa


Satu titik


Dua koma


Bu Risa cantik


Rizal yang punya


"Rizaaall!!" Teriak Bu Risa menegur dan dengan spontan ia menjewer telinga Rizal dengan mata yang mendelik geram lebih menyeramkan dari biasanya


"Aduh duh Bu, sakit Bu" Rizal meringis kesakitan


"Sekarang kamu bilang sama saya, dapet darimana kamu semua jawaban ini? Dapet contekan dari siapa?" Tanya Bu Risa dengan tangan yang masih menarik telinga Rizal


"Saya engga bisa bilang Bu"


"Oke, kalau kamu engga mau bilang. Saya bakal narik telinga kamu lebih kencang dari ini" Bu Risa semakin menarik telinga Rizal bahkan sampai ke atas


"Eh eh, iya Bu iya" akhirnya Rizal menyerah pasrah daripada ia harus melihat telinga nya copot di tangan istrinya yang super bar-bar ini


"Ya udah cepet bilang, dari siapa? Sebelum saya narik telinga kamu lebih kenceng lagi"


Bukan nya menjawab, Rizal malah memainkan matanya memberikan isyarat pada Bu Risa bahwa ia harus berbicara di luar, untungnya Bu Risa langsung mengerti dengan bahasa isyarat yang di lakukan oleh Rizal dan ia pun mengajak Rizal keluar dari ruangan kelas itu dan mencari tempat yang nyaman untuk bicara berdua

__ADS_1


"Jadi gimana? Kamu dapet contekan dari siapa?" Tanya Bu Risa


"Dari buku kamu, baby" ungkap Rizal


"Hish Rizal! Kita masih di lingkungan sekolah. Jaga mulut kamu" tegur Bu Risa


"Iya Bu iyaaa" Rizal menunduk pasrah


"Cepet ceritain" perintah Bu Risa


"Mau diceritain apa Bu? Cerita horor, cerita Upin Ipin lulus TK, atau cerita de--"


"Ceritain tentang gimana kamu bisa nyuri buku milik saya?!" Potong Bu Risa geram "Gimana cara kamu kok bisa nyontek dari buku saya? Padahal buku itu sudah sangat di rahasiakan"


"Semalem kan saya ingat kalau saya lupa punya PR nah terus saya nyoba mau ngerjakan PR itu tapi ternyata engga bisa dan bikin saya bingung, terus saya engga sengaja liat buku punya Bu Risa itu disimpan di atas meja, jadi saya ambil deh bukunya terus salin kesini" cerita Rizal pada Bu Risa


Risa berdecak kesal "sebenarnya ini salah aku juga sih ceroboh. Seharusnya aku simpan buku itu ke dalem tas"


"Jangan hukum saya ya Bu, please." Rizal memohon


"Heh! Saya harus profesional. Di sekolah, kamu itu sebagai murid saya, bukan suami saya" Risa memelankan suaranya pada kata suami saya "bersihkan toilet sana"


"Toilet lagi" Rizal mendengkus kesal "oke Bu saya bakal Nerima hukuman dari ibu. Tapi, tolong jangan kaya gini hukuman nya. Hormat di depan tiang bendera aja, ya?" Rizal mencoba menawar


"Saya mau nya membersihkan toilet" kata Bu Risa santai


"Bu Risa!" Rizal mengacak rambutnya frustasi "sekarang toilet itu lebih kotor dari sebelumnya! Aku bisa kejang-kejang disana kalau maksain masuk, engga kuat bau nya"


Tidak seperti biasanya, entah kenapa kali ini Bu Risa merasa simpati saat melihat wajah Rizal yang terlihat memelas, ia jadi tidak tega melihatnya


"Kalau Bu Risa mau nerima tawaran saya, saya bakal belikan Bu Risa pizza yang mahal deh. Bu Risa suka pizza kan?"


"Ya udah sana berdiri di tiang bendera, saya Nerima tawaran kamu bukan karena pizza nya tapi saya ngerasa simpati aja sama kamu sebagai suami saya, berdiri di sana sampai jam istirahat" tegas Bu Risa kemudian ia melengos pergi


"Yess, berhasil." Rizal berlompat-lompat senang karena akhirnya ia terbebas dari hukuman yang paling ia benci, dasar emang istrinya itu. Giliran masalah makanan saja langsung gerak cepat tanpa fikir panjang, mana pakek gengsi segala lagi tidak mau ngaku. tidak ada bedanya dengan Rizal.

__ADS_1


__ADS_2