
"Mama..."
"Kamu sudah tahu kan kebenarannya, jadi jangan panggil saya mama lagi mulai sekarang!" seru Nilam.
"Mama!"
"Diam kamu Aulia, aku sudah capek selama ini harus menahan diri melihat anak haram ini!" Wulan tersentak saat Nilam mengatakan kalau dia adalah anak Haram.
"Kalau benar aku bukan anak mama, lalu siapa orang tua aku mah?"tanya Wulan memberanikan diri.
"Siska , kau tahu diakan?"tanya Nilam.
"Sekretaris alm papa?" Nilam mengangguk.
Wulan melirik kearah Aryan yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum. Aryan tahu Wukan sangat terpukul dengan perkataan Nilam. Aryan meraih tangan Wulan dan menggenggamnya erat, dia menyalurkan energi positif pada Wulan agar gadis itu tidak merasa sendirian.
Nilam yang melihat sikap Aryan pun tersenyum " Waw nak Aryan, sepertinya kamu sudah beneran suka ya sama dia, tapi jangan lupakan kalau mama kamu itu gak akan mau punya mantu dari orang yang gak jelas seperti dia" kata Nilam.
Aryan terdiam, kemudian tersenyum "Benar kah tante? Aku jadi takut"jawab Aryan santai.
Wulan menatap Aryan, " tenang aku ada di samping kamu"bisiknya, Wulan pun mengangguk.
"Ayo Wulan kita ke kamar kakak aja, gak usah di sini" Aulia menarik tangan Wulan dan membawanya pergi ke kamar.
"Lia kamu akan menyesal nantinya" teriak Nilam
Setibanya di kamar, mereka bertiga duduk di balkon kamar Aulia.
"Kakak..."
"Kakak nggak bisa jelasin apa pun, yang pasti kamu itu tetap adik kakak" potong Aulia.
Wulan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk Aulia.
"Aku takut kakak, aku takut akan kehilangan kakak.... Kalau gak ada kakak, aku gak tahu lagi harus gimana"Wulan menangis dalam pelukan Aulia.
"Bodoh, mana mungkin kakak akan meninggalkan kamu. Kakak akan selalu ada di sampaing kamu dan kakak pastikan kamu tidak akan pernah sendirian" ucap Aulia.
Wulan mengeratkan pelukannya, dia menumpahkan semua bebannya selama ini di dalam pelukan sang kakak.
Aryan yang melihat Wulan menangis pun berdiri dan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Saat di dapur dia bertemu dengan mbak Marni.
"Mau cari apa, Den ?"tanya Marni.
"gelas di mana ya mbak, aku mau ambil minum" Marni mengambilkan gelas untuk Aryan dan mengisinga dengan Air putih.
"Ini ,Den"
"makasih ya mbak"ucap Aryan mengambil gelas tersebut dari Marni.
__ADS_1
"Den, maaf kalau saya lancang. Bagaimana keadaan non Wulan?"tanya Marni saat Arya hendak melangkah pergi.
Arya kembali berbalik dan menghadap mbak Marni.
"Di sedang di kamar Aulia, dan seperti yang mbak lihat tadi, dia sangat stress saat ini"jawab Aryan.
Mbak Marni tertunduk. " Den, apa boleh mbak minta sesuatu?"tanya Marni, Aryan mengangguk menhiyakan.
"Tolong jagain non Wulan ya... Dia itu sedari kecil tidak pernah bahagia, dia selalu di siksa secara mental sama nyonya. Hanya nona Aulia yang sayang sama nona Wulan... Mbak harap Aden bisa membuat nona bahagia dan tersenyum setiap harinya"
Aryan tertegun mendengar perkataan mbak Marni, bagaimana bisa Nilam setega itu kepada Wulan. " mbak tenang aja, aku akan jagain dan bahagiain dia. Doain aja yang terbaik buat dia ya mbak"kata Aryan.
"Makasih ya , Den"
Aryan melanjutjan langkahnya menuju kamar Aulia, dia sangat kaget saat melihat Wulan tertawa senang dengan Aulia.
"bagaimana bisa dia merubah moodnya secepat ini"gumam Aryan.
Aryan berjalan menghampiri kedua gadis itu.
"Apa yang sedang kalian tertawakan?"tanya Aryan.
"Kami sedang menertawakan kalau besok kakakku ini yang akan bertunangan dan apa kau tahu pertemuannya dengan pria itu sangat unik"kata Wulan.
"Ketawa aja terus biar kamu puas!"dengus Aulia yang merasa malu.
Aryan ikut tersenyum melihat Wulan yang tertawa.
πππ
"Al mama mohon kali ini aja ya. Mama gak tega liat tante Nilam kayak kemaren" Mika memegang tangan Aldi.
"Seiring berjalannya waktu cinta itu pasti akan tumbuh kok nak" bujuk Mika.
"Tapi mah..."
"Papa juga setuju, mau bagaimana pun keadaan temen kamu itu. Itu bukan urusan kita"Saut Alam yang berdiri di depan pintu kamar Aldi.
"Mas!" Alam berjalan menghampiri istri dan anaknya.
"Buat apa menjalin hubungan dengan orang yang tidak kita suka. Mika, apa kamu ingin melihat anak mu tidak bahagia dengan hubungannya?"tanya Ala, Mika menggeleng.
"Tapi Mas, Nilam..."
"Jangan pikirkan dia, dia hanya mementingkan kebahagiaan anaknya saja. Bahkan dia dengan teganya mempermalukan wulan di depan kita. Apa kamu tahu bagaimana hancurnya perasaan gadis itu?"tanya Alam.
"Tapi mas, itu kan karena Nilam merasa sakit hati karena mamanya Wulan yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya"Bela Mika.
"Apa pantas kita menghukum orang yang tidak bersalah? Yang salah ibubya bukan anaknya"Balas Alam.
__ADS_1
"Terus ini bagaimana, acaranya besok lo mas. Aku harus bilang apa ke Nilam?" Mika mulai panik.
"Tidak usah bilang apa - apa, cukup bilang kalau pertunangannya kita batalkan"Tegas Alam.
"Makasih pah" Aldi berdiri dari duduknya dan langsung memeluk papanya.
"Perjuangin cinta kamu nak,"kata Alam, Aldi pun mengangguk.
Ting ~
Ponsel Aldi berbunyi, ada sebuah pesan masuk. Aldi mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Aldi membulatkan matanya saat ia membaca isi pesan itu.
"Mah, pah... Al pergi dulu ya Dahhh" Aldi langsung berlari keluar kamarnya.
"Dia kenapa?"tanya Mika yang kaget dengan reaksi anaknya.
"Sudah biarkan saja, ayo kita ke kamar!" Alam mengiring Mika untuk berjalan ke kamar mereka.
πππ
Aldi sampai di sebuah kafe tempatnya membuat janji dengn seseorang. Senyumnya mengembang saat melihat orang itu sudah duduk menunggunya.
"I miss you" Aldi langsung memeluk tubuh itu.
Gadis itu pun ikut membalas pelukan Aldi, ' Miss you too' ucapnya dalam hati.
"kamu kemana aja?"tanya Aldi melepaskan pelukannya.
"Ayo duduklah!" Wulan tidak menjawab pertanyaan Aldi, dia menyuruh Aldi duduk di kursi yang ada di depannya.
Wulan sedikit kaget saat melihat penampilan Aldi yang terlihat sangat kacau. Rambut acak - acakan, berewokan dan badan yang terlihat kurus.
"Aku tadi tidak sempat mandi, makanya kayak gini" ucap Aldi yang mengerti arah pandang Wulan. Sambil sedikit merapikan tatanan rambutnya.
"Kamu kemana aja?"tanya Aldi lagi.
"Tidak kemana - mana, aku asih disini kok"jawab Wulan.
"Kenapa kamu menjauh dariku? Kenapa kamu menghindariku?"tanya Aldi
Wulan menunduk, sebenarnya dia tidak mau membahas itu dengan Aldi.
"Mama sama papa, apa kabar?"tanya Wulan.
"Mereka baik. Kenapa gak jawab?" Aldi menatap wulan curiga.
"Kenapa kamu mau bertemu denganku?"tanya Aldi lagi.
"Aku ingin kamu menikah dengan kak Aulia"kata Wulan
__ADS_1
Deg!
...πΊπ»πΊ...