
"Gimana? enak gak?"tanya Wulan pada Aryan yang sedang makan bakso.
"Lumayan, kamu jago ya meraciknya" puji Aryan. " ayo habiskan, kalau kurang kamu boleh tambah" kata Wulan.
"Tapi kamu yang teraktir ya"kata Aryan.
"Emang gak malu di bayarin sama cewek?"tanya Wulan.
"Kalau sama orang lain mungkin iya tapi kalau sama kamu gak"balas Aryan.
"Kok gitu?"
"Karena kamu calon istri aku" Wulan tersenyum hambar mendengarnya.
"Ayo cepat habiskan makanannya, ini udah larut banget!"seru Wulan.
Mereka pun diam, dan menikmati makananya. Sesekali Aryan melihat kearah Wulan. Dia tersenyum melihat cara makan Wulan yang sedikit berantakan. Tapi itu sangat lucu di matanya.
Setelah selesai makan, Aryan dan Wulan melanjutkan perjalanannya menuju apartemen Wulan.
"Turunlah, aku..." Aryan menoleh ke samping, dan mendapati Wulang yang sedang terlelap.
"Pantes aja, gak ada suara... "Aryan pun keluar dari mobil.
Aryan menggendong Wulan dan membawanya apartemen. Untung saja, tadi Aryan sempat melihat Wulan menekan sandi apartemen iti, jadi dia bisa membukanya tanpa harus membangunkan Wulan.
Setelah sampai di dalam apart Aryan sedikit ragu untuk meletakkan Wulan di kamar atau ruang tamu. Aryan takut kalau nanti Wulan berfikir yang gak - gak terhadap dirinya karena terlalu lancang masuk kedalam kamarnya.
"Bodoh amatlah, resikonya dipikirin nanti aja" Aryan masuk kedalam kamar dan meletakkan Wulan dengan perlahan.
"Cantik" pujinya ketik mlihat Wulan yang sedang tidur.
Setelah menyelimuti Wulan dan memastikan kalau gadis itu aman dan nyaman. Aryan kembali ke mobilnya untuk mengangkut barang belanjaan mereka yang sangat banyak itu.
"Huft..." Arya menghela nafas, dia benar - benar di buat capek oleh Wulan hari ini.
Sebelum pulang Aryan menyempatkan diri untuk melihat Wulan di kamar untuk berpamitan.
"aku pulang" ucapnya, memperbaiki letak selimut, kemudian berlalu pergi.
πππ
"Selamat pagi semuanya," sapa Wulan pada receptionis. Wulan berjalan menghampiri karyawan di sana.
"Seger bener, Lan" kata Wina.
"Harus dong kak, hari ini aku lagi seneng banget"
"seneng kenapa tu, kalau boleh tahu?"tanya Wina lagi.
"Itu... Hmmm... Rahasia" ucapnya lalu berlalu pergi meninggalkan Wina yang menggerutu kesal.
"Wulan berjalan menuju ke ruangannya, disan sudah terlihat Bian yang sedang asik dengan komputernya.
__ADS_1
"Pagi kak Bian...." sapa Wulan.
"Iya, pagi" balasBian tanpa menoleh pada Wulan.
"Kakak lagi ngerjain apa? Tumben pagi - pagi udah sibuk"Wulan mendekati Bian.
"Ini, mantan kamu itu berulah lagi. Tadi pagi - pagi sekali dia menanyakan laporan mingguan"
"Lah, itu bukannya setiap hari kamis ya kak?"tanya Wulan.
"Itulah yang aku pusingkan, sudah aku jelaskan padanya tapi dia tetap kekeh minta laporan itu... Ayo dari pada kau melihatku begitu, lebih baik kamu ambil ini dan kerjakan!" Bian memberikan setumpuk file pada Wulan.
Wulan cemberut, " kak aku belum sarapan lo ini, tapi udah kakak kasih tugas banyak gini" keluh Wulan.
Bian menatap Wulan, " baiklah kalau gitu ayo kita sarapan aku juga belum sarapan" Bian mematikan laptopnya dan membawa Wulan untuk ke kantin perusahaan.
Sepanjang jalan menuju ke kantin Wulan dan Bian tidak berhenti tertawa, karena ada aja bahan cerita yang membuat mereka tertawa.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedang menatap mereka sinis.
"Kenapa mereka terlihat sangat akrab gitu?"
πππ
"Mbak, kapan Wulan pindah?"tanya Aukia pada Marni.
"Baru kemaren non"jawab Marni yang sedang menghidangkan makanan.
"Gak non.."
"Kenapa? Terus siapa yang bantu dia?"
"Itu... Den... Siapa ya lupa non.... O iya itu tunangannya nona Wulan"
Aulia tertegun mendengar Aryan yang mengantar Wulan ke apartemen.
' apa yang di inginkan Aryan sebenarnya? Kenapa dia seperti benar - benar ingin bersama dengan Wulan..' pikir Aulia. Dia benar - benar takut kalau Wulan akan di sakiti oleh Aryan nantinya.
"Silahkan di makan non, nanti makanan nya keburu dingin!"seru Mbak Marni.
"Iya mbak makasih" Marni pun pamit untuk kembali ke belakang.
"Huft... Rasanya sangat hampa jika makan sendirian seperti ini" gumam Aulia menatap makanan yang terhidang di depannya.
πππ
"Bian, apa kau sudah memeriksa ini dengan benar?"tanya Aldi yang menatap serius pada lapornag yang pegangnya.
"Iya tuan, saya sudah mengeceknya beberapa kali. Kenapa, apa ada yang salah?"tanya Bian.
"Kemarilah!" Aldi menyuruh Bian untuk mendekat. Dengan cepat Bian pun mendekat dan melihat kertas yang di pegang Aldi.
"Apa kau tidak melihat jika , angkanya tidak relevan seperti ini?"tanya Aldi. Bian melihat laporan itu dengan teliti.
__ADS_1
"Bagaimana ini bisa terjado, bukannya ini tadi sudah ku cek dan aku juga sudah meastikan tidak ada kesalahan sedikitp pun" ujar Bian.
"Lalu ini? Kau mau bilang kalau aku hanya mengada - ngada?" Aldi menutup file itu dan memberikannya pada Bian.
"Tapi..."
"Bian apa kau ingin aku melempar file itu ke wajahmu, baru bisa kau mengerti"kata Aldi.
"Baik tuan" Bian keluar dari ruangan Aldi, dan menatap Wulan lesuh.
"Kenapa kak?"tanya Wulan
"Aku bingung Wulan... Tadi bukannya kita sudah mengecek semuanya dengan teliti?"tanya Bian dan di angguki oleh Wulan.
"Lalu ini kenapa ya, kok bisa sih ada ke salahan yang sangat fatal seperti ini terjadi"kata Bian memberikan laporan itu pada Wulan.
"Ini gak mungkin kak, tadi aku sudah melakukan nya dengan baik dan aku juga sudah mastikan semuannya"kata Wulan.
"Entalah, sekarang kepala ku sangat pusing. Kamu kerjakanlah!"urjar Bian. Wulan langsung mengerucutkan bibirnya.
"Menyebalkan"geruru Wulan.
Semetara Aldi tersenyum karena dia berhasil menyerjai Bian dan Wulan.
"Maafkan aku Wulan, tapi aku benar - benar kesal melihat kau dekat dengan Bian." gumam Aldi.
Kali ini Wulan memastikan kalau dia tidak akan melakukan hal yang salah
"kak, ini" Wulan menyerahkan berkas itu pada Bian.
"Apa kau sudah memeriksa nya dengan teliti?"tanya Bian.
"sudah kak, kali ini aku pastikan tidak akan ada lagi yang namanya kesalahan."kata Wulan dengan yakin.
"Baiklah, kalau gitu aku akan membawanya kepada Aldi" Bian berdiri dan kembali masuk kedalam ruangan Aldi.
Di dalam ruan Aldi, Bian melihat pria itu seperti memang sedang menunggunya.
"Apa sudah siap?"tanya Aldi.
"Sudah dan kali ini. Aku pastikan tidak akan ada kesalahan lagi" kata Bian yakin.
"Benarkah, awas ku kalau sempat ada kesalahan lagi" Aldi memeriksa berkas itu dan tersenyum.
"Baiklah, ini sempurna" Aldi pun membumbui berkas itu dengan tanda tangan nya.
Bian bernafas lega melihatnya.
...πΊπ»πΊ...
Hai semuanya, aku ucapkan terima kasih ya udah mau membaca karya aku. Maaf jika ada kesalah baik itu typo atau pun salah kataπ
Jangan bosan - bosan ya mengikuti cerita akuπ€
__ADS_1