
"Gimana dok, keadaan anak saya?" Nilam menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Pasien masih dalam keadaan kritis, mohon di bantu dengan doa ya..."
"Kritis?... Bagaimana bisa, bukankah Eulan sudah mendonorkan darah buat Lia? Lalu kenapa anda bilang anak saya kritis?"tanya Nilam.
"Apa kalian tidak melakukan yang terbaik untuk anak saya?"
"Ibu yang sabar, kami selaku tim medis hanya bisa berusaha melakukan apa yang kami bisa. Dari pada ibu seperti ini, lebih baik ibu berdoa untuk kesembuhan nona Aulia."kata Dokter yang mengerti dengan keadaan Nilam.
"saya permisi dulu, "
"Apa saya boleh menjenguk anak saya?"tanya Nilam.
"Boleh, tapi ibu tidak boleh berisik. Pasien sangat membutuhkan ketenangan saat ini" pesan dokter tersebut.
πππ
Nilam merasa hancur saat melihat keadaan Aulia yang terbaring di atas brangkar dengan kondisi kepala di perban, wajah penuh dengan luka, tangan dan kaki yang juga di perban.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Lia?"
"Kenapa kamu bisa mengalami hal seperti ini?"
Nilam menutup mulutnya dengan tangan, manahan tangisnya yang hampir pecah.
"Ayo sayang bangun, jangan bikin mama takut.."
"Mama gak punya siapa - siapa lagi selain kamu, Lia" Nilam memegang tangan Aulia. Hatinya terasa begitu sesak.
"Lia sayang, ayo nak bangun. Mama kangen sama Lia, ayo" Nilam terus saja mengajak Aulia bicara, dia berharap dengan begitu putri nya itu akan sadar.
"Mama janji, kalau kamu bangun mama akan menuruti semua keinginan kamu... Apa pun itu"lanjutnya.
Alam bawa sadar Aulia
Sementara itu, di tempat lain Aulia sedang berjalan di tempat yang penuh dengan kegelapan, tidak ada cahaya sedikit pun di sana.
"Dimana aku ini? Kenapa semuanya gelap?" Aulia mleihat ke segala arah ia berusaha untuk mencari cahaya.
"Auli!..."
Aulia mendengar sebuah suara yang memanggil namanya.
"Siapa itu?" tanya Aulia.
"Auli!..."panggil suara itu lagi.
__ADS_1
"Papa? Ya itu pasti papa, karena hanya papa yang memanggilku seperti itu" gumam Aulia.
"Papa... Apa benar itu papa? Papa dimana?" Aulia terus mencari sumber suara yang di yakininya sebagai suara papanya.
"Auli, papa di belakang mu nak" Aulia berbalik dan melihat papanya sedang berdiri sambil tersenyum kepadanya.
"Papa..." Aulia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berlari ke pelukan papanya itu.
"Papa, Auli sangat kangen" ucapnya.
"Papa juga sayang"
"Papa kenapa bisa ada di sini? Ini dimana pah?" tanya Aulia pada papanya, papanya Aulia hanya tersenyum tidak menjawab.
"Bagaimana kabar kamu?"tanya tuan Oberoi.
"Aku baik pah...." Aulia pun menceritakan semua hal yang terjadi padanya, dia juga memberitahukan pada papanya itu kalau dia dan Wulan sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Tuan oberoi tersenyum mendengar cerita putrinya itu.
"Apa kamu bahagia dengan laki - laki itu?"Aulia mengangguk " Bagaimana dengan adikmu, apa dia juga bahagia?"tanya Tuan oberoi lagi.
"Kami sangat bahagia pah... Apa papa tahu, tunangannya Wulan itu sangat baik dan sangat mencintai Wulan."kata Aulia.
"Bagaimana dengan dia? Apa dia juga mencintai pria itu?"
Aulia terdiam, dia ragu untuk menjawab pertanyaan papanya itu. " Auli juga tidak tahu pah... Karena mereka tunangan karena di jodohkan sama mama dan apa paa tahu, Wulan itu gak pernah mau menolak keinginan mama. Selalu saja di turutinya walau pun itu hanya akan membuatnya sakit" ujar Aulia yang merasa prihatin dengan nasib adiknya itu yang selalu berada di bawah tekanan mamanya.
"Lia, ayo pulang nak! Lia!" Aulia mendengar suara mamanya memanggil namanya.
"Auli, mama kamu udah manggil. Pergilah..."
Aulia menggeleng, " aku gak mau pergi pah, aku masih kangen sama papah" Aulia memeluk papanya erat.
"Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi sayang, tapi tidak sekarang... Bantu papa untuk menjaga adik dan mama kamu ya dan maafkan papa.." Aulia menggeleng dan semakin memper erat pukannya.
Tiba - tiba saja Aulia merasa ada yang menariknya hingga terlepas dari papanya.
"Tidak!!!... Papa.."
End
Nilam duduk menatap wajah putri yang sangat di sayanginya itu, air matanya seakan tidak mau berhenti.
"Lia, ayo bangun nak" ucapnya terus.
Tit... Tit... Tit... Tit
Tiba - tiba alat yang ada di samping Aulia berbunyi, nilam sangat panik mendengarnya. Nilam sangat panik. "Lia, kamu kenapa nak"
__ADS_1
Dengan cepat Nilam memencet tombol Emergency , "Lia, kamu jangan bikin mama takut" Nilam sangat panik, ia sangat takut akan kehilang Aulia
Dokter dan perawat pun masuk, mereka menyuruh Nilan untuk keluar.
Nilam melihat dari luar kaca ruangan itu, mulutnya terus saja merampalkan doa untuk ke selamatan putrinya.
πππ
Setelah melakukan transfusi darah, Wulan pun jatuh pingsan. Tubuhnya seketika langsung ngedrop, karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
"Dasar gadis bodoh, demi menyelamatkan orang lain kau rela membahayakan nyawamu sendiri"kata Aryan. Dia masih gak habis pikir dengan pengorbanan Wulan, yang rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan sang kakak.
"Kenapa kamu melakukan ini Lan, padahal setelah ini tante Nilam juga gak akan peduli dengan kamu"
"Jangan kan mengucapkan terima kasih. Bahkan untum sekedar menjenguk pun tidak dia lakukan"
Aryan, menggenggam tangan Wulan, dia begitu simpati dengan nasib gadis itu.
"Pria itu pasti beruntung bisa dapatin cinta dari kamu, Lan..."
Aryan menghela nafas, " Sekuat apa pun aku memaksa kamu untuk mencintaiku, semuanya percuma Wulan. Karena aku tahu, hati kamu seutuhnya telah kau berikan untuk dia"
Aryan merasakan ada gerakan kecil di tangan Wulan, perlahan Wulan pun membuka matanya.
"Ngghhh..." erang wulan
"Kau sudah sadar?" Aryan tersenyum senang.
"Dimana aku?.."Wulan melihat ke sekeliling nya, dia memegang kepalanya. " kakak? Bagaimana keadaan kakak" tanya saat mengingat keadaan aulia.
Aryan menggeleng, " Aku tidak tahu, sedari tadi aku hanya duduk di sini menjagamu" jawab aryan.
"Ayo bawa aku melihat kakak" Wulan membuka selimutnya.
"Jangan gila Wulan, kamu itu belum sembuh betul. Nanti setelah semuanya membaik, baru kita akan melihatnya" kata Aryan menahan tangan Wulan.
"Tidak bisa Arya, aku harus melihat keadaan kakakku" Wulan menepis tanga Aryan dan turun dari ranjang. Aryan hanya bisa diam.
Saat akan melangkah, Wulan seketika jatuh kelantai. Tubuhnya terasa sangat lemas
"Sudah kubilang, kamu itu jangan mada kalau di bilangin" kata Aryan, membantu Wulan untuk berdiri dan kembali naik ke atas ranjang.
"Aku mau lihat kakak, Ar" rengek Wulan.
"Iya, nanti setelah kamu pulih" Aryan membantu Wulan berbaring.
Aryan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Wulan, dia sangat khawatir dengan keadaan gadis itu.
__ADS_1
...πΊπ»πΊ...