WULAN ( Lihat Aku Mama!!!)

WULAN ( Lihat Aku Mama!!!)
Khawatir


__ADS_3

Seperti yang sudah di janjikan, mbak Marni membantu Wulan untuk beres - beres.


"Kenapa sih non, packingnya harus malam - malam gini. Besok siang gak bisa ya?"tanya Marni sambil melipat baju Wulan yang akan di masukkan ke dalam koper.


"Mbak ku sayang, kenapa malam. Itu karena aku pindahnya pagi, sebelum ke kantor aku akan mampir ke apart dulu untuk nyimpan barang - barang"kata Wulan.


"Emang ini semua muat pake sepeda?"tanya Marni lagi


"Ya nggak lah mbak, besok aku akan bawa mobil"jawab Wulan.


Wulan dan Marni sedang asyik menyiapkan semua barang yang akan di bawa Wulan besok.


Tiba - tiba ponsel Wulan berdering.


Tringgg~ Tringgg~


"Non, ponselnya bunyi tuh" Marni berdiri dan mengambilkan ponsel Wulan yang berada di atas tempat tidur yang tidak jauh dari tempat duduk.


"Siapa mbak?" tanya Wulan. Marni mengulurkan ponsel itu pada Wulan.


"Kak Bian? Ngapain dia ngehubungi aku selarut ini?" Gumamnya.


"Angkat aja, non!"ujar mbak Marni.


Wulan pun menerima panggilan itu.


"Hallo kak, iya ada apa?"tanya Wulan to the poin saat menerima panggilan itu.


"...."


"APA?... Baiklah aku akan ke sana sekarang!"


Setelah mengatakan itu Wulan langsung bergegas bersiap dan langsung pergi meninggalkan Marni yang terlihat sedang ke bingungan.


πŸ€πŸ€πŸ€


Tidak butuh waktu lama bagi Wulan untuk sampai ke tempat Bian. Wulan masuk ke dalam club kemudian mencari keberadaan Bian.


"WULAN!" Wulan merasa ada yang memanggilnya namun dia tidak tahu siapa dan di mana. Wulan mengitari setiap sudut ruangan yang penuh dengan orang yang sedang menari dan minum dengan pencahayaan yang remang.- remang Wulan Akhirnya bisa menemukan keberadaan Bian.


Dia berjalan menghampiri Bian yang sedang duduk di sofa, yang ada di sudut ruangan.


"Kak Bian, dia kenapa?"tanya Wulan saat melihat keadaan Aldi yang terlihat tidak baik - baik saja


"Dia mabuk, terlalu banyak minum" kata Bian.


"Kenapa kalian minum sih? Terus ini harus gimana?"tanya Wulan.

__ADS_1


"Dari tadi dia memanggil nama mu dan dia tidak mau pulang jika bukan kamu yang jemput"jawab Bian.


Wulan menatap Aldi nanar, pria itu terlihat sangat kacau. Benar kata Bian, Aldi terus saja meracaukan namanya.


"Al..."Wulan menyentuh lengan Aldi. Aldi mendongak, melihat siapa yang memegang tangannya.


"Wulan?" Wulan mengangguk.


"Kita pulang ya.." kata Wulan.


"Wulan.." Aldi tersenyum " kamu datang juga, aku kangen" Aldi menarik tangan Wulan dan memeluknya.


"Al..." Wulan kaget dan berusaha untuk melepaskan pelukan itu saat dia sadar kalau Aldi adalah tunangan kakaknya.


"Al... Lepas" Wulan mendorong tubuh Aldi kuat, hingga pria itu terjungkal kebelakang.


"Tc... Kau selalu saja menolakku! Apa salahku Wulan, apa? Kenapa kamu menolakku?"racau Aldi.


"Kak Bian, ayo bantu aku bawa dia ke mobil!" Bian mengangguk.


Bian dan Wulan memapah tubuh Aldi dan membawanya keluar dari tempat terkutuk tersebut.


"Kakak tolong antar dia pulang ya.. Aku juga akan pulang" kata Wulan saat mereka berhadil memasukkan Aldi ke dalam mobil.


"Kamu pulang pake apa?"tanya Bian.


"Apa kau yakin? Ini sudah sangat larut Wulan, apa tidak sebaiknya kamu, aku antar aja?" kata Bian.


"Tidak usah kak, kakak urus saja dia. Aku aman kok" ucap Wulan meyakinkan Bian.


"Baiklah kalau itu maumu" Bian pun masuk ke dalam. Mobil dan mulai menjalankan mobil meninggalkan Wulan yang masih diam memperhatikannya.


"Please, Al. Jangan sakiti diri kamu seperti ini" gumamnya. Tanpa sadar air air matanya menetes, wulan sangat sedih melihat keadaan Aldi yang seperti itu.


πŸ€πŸ€πŸ€


Wulan sampai di rumah, dia langsung ke kamar. Di sana dudah terusun rapi barang - barang yang akan dibawanya besok.


"Mbak Marni emang paling bisa di handalkan"ucapnya tersenyum.


Wulan berjalan ke lemari dan mengambil baju tidurnya. Setelah berganti pakaian, Wulan berjalan menuju ranjang.


Baru saja Wulan hendak menutup matanya, sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Wulan sangat kaget saat membaca pesan tersebut.


"Oh sataga, kenapa lagi dia" tanpa berganti baju Wulan langsung berlari keluar dan dia juga tidak lupa mengambil kunci mobil yang selama ini di simpannya di dalam lemari.


Karena khawatir Wulan tidak bisa berfikir dengan jernih. Untung keadaan sudah lengang karena hari sudah larut. Jadi Wulan bisa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, wulan sudah sampai di apartemennya Bian. 10 menit waktu yang di butuhkan Wulan.


Bian sangat kaget saat membuka pintu,dia tidak menyangka kalau Wulan bisa datang secepat itu. Jarak rumah Wulan dari apartemen Bian lumayan jauh, kurang lebih 30 menit adalah waktu yang dibutuhkan.


"Wulan, bagaimana kamu bisa..."


"Kak dimana dia?"potong Wulan, dia mengabaikan pertanyaan Bian, dalam fikirannya hanya ada Aldi.


"Di dalam kamarku" Bian menuntun Wulan untuk ke kamarnya.


Setibanya di kamar, Wulan berjalan mendekati Aldi yang sedang terbaring di atas ranjang Bian.


"Kenapa nggak di anter pulang, kak?"tanya Wulan pada Bian.


"Itu tidak mungkin, bisa di gantung hidup - hidup dia sama tante Mika" jawab Bian, Wulan pun mengerti.


"Ya ampun badannya panas banget" kata Wulan saat mengecek suhu tubuhnya.


"Aku tidak tahu harus berbuat apa, dia gak mau di bawah kerumah sakit lagi"ujar Bian.


"Dapurnya di mana kak?"tanya Wulan


"Dari sini kamu belok kiri, lurus aja nanti kamu bisa lihat di sana ada dapur" jawab Bian.


"Baiklah. Selagi aku ambil air hangat. Kakak gantilah bajunya!"seru Wulan dan Bian pun mengangguk.


Wulan pergi ke dapur, di sana di memasak air untuk kompresan dan dia juga sekalian membutkan air lemon untuk Aldi.


"Untung kak Bian punya lemon, kalau gak salah air lemon bagus untuk orang mabuk" gumamnya


Setelah semua selesai, wulan pun kembali ke kamar Bian. Dia juga tidak lupa membawa kotak obat yang di lihatnya di samping kulkas.


Bian pun telah selesai mengganti pakaian Aldi.


"Apa ini Wulan?"


"Kompresan kak biar panasnya cepat turun. Aku juga buat air lemon yang katanya sih bagus buat orang yang sedang mabuk"jelas Wulan, Bian hanya mengangguk mengerti.


'Tidak salah aku memanggilmu Wulan, aku tahu kalau kamu itu masih mencintai Aldi' batin Bian. Dia pun meninggalkan Wulan yang sedang merawat aldi.


Wulan meletakkan handuk kecil yang sudah di basahinya dengan air hangat di atas kening Aldi. Dia juga mengalap tangan dan juga leher Aldi dengan handuk lainya.


"Al ayo bangun, minum obatnya dulu yuk"


Dengan pelan Aldi membuka matanya, dia kaget saat mendapati Wulan di depannya.


"Wulan, kamu... Ini beneran kamu Wulan? "tanya dengan rasa tak percaya, Wulan pun menggangguk.

__ADS_1


...🌺🌻🌺...


__ADS_2