WULAN ( Lihat Aku Mama!!!)

WULAN ( Lihat Aku Mama!!!)
Menyakiti diri sendiri


__ADS_3

Pulang kerja Wulan memutuskan untuk mampir ke makam papanya. Rasanya sudah sangat lama dia tidak pergi mengunjungi makam papanya itu. Biasanya setipa akhir pekan Wulan pasti akan menyempatkan dirinya untuk pergi ziarah ke makam.


"Hai ganteng, gimana kabarnya?" Wulan duduk bersila di samping makam yang hijau di tumbuhi oleh rumput yang memang sengaja di tanam di sana.


"Udah lama banget ya aku gak ke sini, papa pasti kangen." Wulan mengusap batu nisan tuan Oberoi.


"Pah, papa tahu gak kalau sekarang Wukan lagi sedih banget... Wulan tertekan pah,... Wulan rasanya gak sanggup mengetahui fakta ini semua" Air matanya menetes membasahi pipinya.


"kenapa dulu papa gak kasihin aja Wulan ke mama kandung Wulan, pah... Mama Wulan pasti akan sangat menyayangi Wulan kan pah... Kaya mama Nilam menyayangi kakak... " Wulan menghentikan ucapannya, dia benar - benar gak bisa menahan isak tangisnya. Semua yang di pendamnya beberapa hari ini pun tumpah ruah di atas batu nisan berwarna hitam tersebut.


Sore makin menjelang, Wulan berusaha untuk menghentikan tangisnya.


"Papa tenang saja, Wulan gak benci kok sama mama. Ya walau pun mama sudah sangat keterlaluan pah, Wulan gak nyangka kalau mama melakukan ini semua hanya karena ingin membalaskan dendamnya pada mama kandung Wulan"


"Wulan...." wulan tak bisa melanjutkan ucapannya.


Sekitar setengah jam Wulan menghabiskan waktunya untuk curhat pada papanya.


"Pah Wulan pulang dulu yah... Gak sadar kalau udah gelap" Wulan mengusap batu nisan papanya, ia juga tidak lupa membacakan doa untuk papanya itu.


"Wulan pamit pah" Wulan berdiri dari duduknya dan membersihkan celananya yang sedikit kotor.


Sebelum pergi Wulan menghapus air matanya dan juga mengatur nada bicaranya. Ia tidak ingin ada yang mengetahui kalau dia habis menangis.


"Sesakit itukah yang kamu rasakan, Lan?"


πŸ€πŸ€πŸ€


Sesampainya di rumah Wulan tidak mendapati seorang pun di rumah, kecuali mbak Marni.


"Baru pulang, non..."


"Iya mbak... Mbak masak apa?" Wulan berjalan kearah mbak Marni yang sedang berdiri ambang pintu dapur.


"Hari ini mbak gak masak non, kan gak ada orang di rumah jadi mbak malas aja masak. Takut gak ada yang makan."jawab mbak Marni.


"Terus malam ini Wulan makan apa mbak? Wulan kan masih tinggal di rumah ini... Jahat banget sih mbak gak nganggep aku lagi" ujar Wulan dengan suara yang seolah ngambek.


"Bukan gitu non. Nona kan beda sama yang lain, kadang nona gak suka sama makanan yang sudah mbak masak, terus nanti nona lagi gak pengen makan, makanan yang mbak masak. Kan sayang gak kemakan. Makanya mbak nunggu requesan dari nona aja, biar gak kerja dua kali"balas Marni.


"Hehe iya juga ya mbak, "

__ADS_1


"Terus ini Nona mau makan apa, biar mbak masakin sekarang terus nanti saat nona turun makanannya sudah matang"kata Marni.


Wulan seolah sedang berpikir.


"Hmmm... Yaudah malam ini kita makan di luar aja, mau gak?"tanya Wulan pada Marni.


"Hayuk non, mbak juga udah lama gak keluar"


"Ok, aku mandi dulu ya. Mbak siap - siap lah!"


"Ok"


Wulan berlalu pergi ke kamarnya, dan Marni pun pergi ke kamarnya untuk bersiap.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Bagaimana mbak, apa makanannya enak?"tanya Wulan pada Marni yang sedang menikmati makanannya.


"enak banget non, mbak gak nyangka kalau nona tahu tempat makanan yang enak begini"kata Marni.


Wulan tersenyum, " Makan yang banyak ya mbak, setelah ini mbak harus bantuin aku packing barang" kata Wulan.


"Nona mau kemana?"


Marni menghentikan makannya, " Kenapa nona, kenapa nona keluar dari rumah? Apa nona sudah lupa dengan pesan tuan Oberoi sebelum beliau wafat?.."tanya Marni.


"Aku gak lupa mbak. Tapi aku hanya ingin menenangkan fikiran aku aja. Mbak tahu semuanya, jadi gak perlu lagi aku jelaskan alasannya kenapa" Wulan menyeruput jus jeruknya.


Marni diam, dia mengerti dan sangat prihatin dengan keadaan Wulan.


"Apa nona butuh teman? Mbak siap kok buat nemenin nona di sana"


"Gak perlu mbak, aku bisa sendiri kok. Lagian mama gak akan mau lepasin mbak buat ikut sama aku"kata Wulan.


"Nona benar" Marni tampak sedih. Ia tidak melanjutkan makannya, yang di lakukannya hanyalah mengaduk - aduk makanan.


"Jangan sedih dong mbak, kan aku masih akan sering main kerumah. Lagian kan di rumah masih ada kakak"


"Nona kayak gak tahu non Aulia aja, dia itu super sibuk Non" Wulan mengangguk - anggukkan kepalanya. Membenarkan apa yang di katakan mbak Marni.


"Udah ah sedih - sedihnya, mending sekang mbak cepat habiskan semua makanan ini. Setelah itu kita pulang dan beres - beres barang - barang aku"

__ADS_1


"Baiklah" jawab Marni


πŸ€πŸ€πŸ€


Di sebuah club malam yang terkenal di kota itu, terlihat seorang pria yang sedang duduk di depan meja bartender, sedang memegang gelas yang berisi minuman berwarna kuning.


Pria itu menatap gelasnya sambil menggoyang - goyangkan gelas yang ada di tangannya.


Dentuman musik yang sangat memekakkan telinga pun seakan tidak ada pengaruh baginya. Meski di tempat yang sangat bising , namun pria itu tetap merasa sangat kesepian.


"Apa yang sedang kau pikirkan?"tanya teman yang duduk di sebelahnya.


Pria itu hanya diam, tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan temannya itu.


"Tc... Aku seperti bicara dengan patung"ucapnya.


Tanpa menghiraukan sahabatnya yang sedang asik dengan pikiranya, ia pun turun menuju ke lantai dansa.


"dari pada di sini, kayak orang bego. Mending turun dan menikmati kenikmatan duniawi ini" ucapnya.


"Kau akan menyesal Wulan.... Kenapa kau melakukan ini padaku?"ucapnya dengan tatapan kosong kearah gelas yang sedang di pegangnya.


"Aku mencintaimu Wulan... Aku.. Aku gak akan melepaskanmu" tanpa pikir panjang. Pria itu meminum minuman yang di pegangnya sedari tadi hanya dengan sekali teguk.


"Tambah minumannya!"teriaknya.


"Tuan anda sudah minum terlalu banyak, sebaiknya anda minum minuman kaleng saja" ujar bartender itu.


"AKU BILANG TAMBAH YA TAMBAH!!! AKU MINUM BANYAK ATAU TIDAK APA URUSANMU!!" teriak Aldi yang sangat marah dengan pria yang ada di depannya itu.


Bian yang melihat Aldi yang sudah tidak terkendali, dengan cepat mengejar Aldi dan mulai membawa Aldi keluar dari club tersebut.


"Kenapa kau malah membawaku keluar? Aku masih mau minum" Aldi memberontak, ia berusaha untuk terlepas dari pegangan Bian.


"Sadar lah Al, kamu udah mabuk! Sekarang ayo kita pulang." Bian membawa Aldi berjalan ke arah mobilnya.


"aku masih mau minum, apa kau tidak dengar!!" bentak Aldi.


"sadar lah Al, kamu kayak gini hanya membuat dirimu sakit"kata Bian.


"aku gak peduli" Aldi berhasil terlepas dari pegangan Bian.

__ADS_1


"Hanya karena cewek kamu sampai kayak gini Al" ucap Bian memperhtikan Aldi yang berjalan menuju ke dalam club.


...🌺🌻🌺...


__ADS_2