
"Bagaimana keadaan anak saya dok, Lia gak kenapa - kenapa kan dok? Anak saya gak dalam bahayakan?" tanya Nilam yang sangat khawatir.
"Ibu tenang dulu ya... Pasien sudah melewati masa kritisnya dan kita tinggal menunggu kapan dia bangun."kata dokter.
"Alhamdulillah" ucap Nilam yang sangat senang mendengar perkembangan Aulia.
"Apa saya boleh masuk kedalam?"
"Boleh silahkan!"
Nilam masuk kedalam ruangan Aulia di rawat, berjalan mendekati putri kesaya.
"Lia," Nilam duduk di samping brangkar Aulia, memegang tangan anaknya.
"Mama tahu kamu pasti akan sembuh"
πππ
Wulan menatap Aryan, " Sekarang apa lagi, aku sudah merasa baikkan. Ayo bawa aku ke tepat kakak!" kata Wulan.
Aryan menghela nafas, " Baiklah, tapi kamu harus mau aku bawa pergi kalau tante Nilam berkata kasar padamu lagi!" seru Aryan
Wulan terdiam, " apa pun yang di katakan mama, semua itu hanyalah angin lalu bagiku. Aku tahu mama itu juga menyayangiku dan kamu gak boleh ikut campur dengan urusan keluargaku"tegas Wulan.
Bagaimanapun perlakuan Nilam padanya, Wulan tetap tidak tidak mmasukkannya kedalam hati baginya itu semua karena mama nya sedang kesal dan dia yakin suatu saat nanti mamanya akan membalas cinta kasih yang ia berikan.
"Ayo!" bersiap hendak turun
"Tunggu!" aAryan berdiri dan memegang tangan Wulan " kamu itu masih lemah dan tolong jangan sok kuat" kata Aryan
"kau ini cerewet sekali jadi laki - laki"kata Wulan yang akhirnya menurut apa kata Aryan.
"Ayo masuk!" ajak Aryan saat mereka sampai di depan ruangan Aulia.
"Nanti saja, aku tidak mau mengganggu mama, liht lah betapa sedihnya mama... Aku cukup liat dari sini saja" kata Wulan.
"Tadi katanya kamu mau jenguk..."
"Tidak harus masuk kedalam, liat dari jauh aja sudah cukup"balas Wulan yang melihat keadaan Aulia yang terbaring lemah.
"Kakak..." gumam Wulan, memegang kaca jendela seolah sedang memegang sang kakak.
"Kakak pasti bisa!" lanjutnya.
Aryan yang melihat Wulan menangis pun berinisiatif untuk mebawa Wulan ke dekapannya.
__ADS_1
Saat Aryan memeluk Wulan, dari kejauhan Aldi melihat mereka dengan tatapan pilu. Dia masih belum bisa menerima Wulan bersam orang lain.
"Kenapa takdir begitu kejam pada kita , Lan" gumamnya, berlalu pergi. Dia tidak mau semakin terluka melihat kemesraan Wulan dan Aryan.
Saat di lobi rumah sakit Aldi berselisih dengan kedua orang tuanya.
"Al, kamu mau kemana?"tanya Alam
"Ke kantor pa, ada rapat dadakan."jawab Aldi bohong
"Rapat? Jam segini?"tanya Alam bingung.
"Al pergi dulu ya pah, mah." Aldi berlalu begitu saja.
"Kenapa anak itu?"tanya Mika.
"Biarkan saja, ayo kita ke ruangan Aulia" Alam mengandeng tangan Mika, melanjutkan langkah mereka.
"Kenapa gak masuk aja?"tanya Mika saat melihat Wulan yang berdiri di depan pintu kamar Aulia.
Wulan dan Aryan pun menoleh.
"Mamah... Papah?" Wulan kaget saat melihat kedua orang tua Aldi.
"Ayo masuk, kenapa hanya ngintip gitu. Kamu mau lihat keadaan kakak kamu kan?"Mika membawa Wulan masuk.
"Kenapa? Apa kamu takut dimarahi oleh mama kamu?"Wulan tidak bisa menjawab pertanyaan Nilam yang tepat sasaran itu. Wulan menunduk.
"Dia gak mungkin bisa marah di depan kami"kata Mika, yang hendak menarik tangan Wulan.
"Tunggu tanb"sekarang Aryan yang mencegahnya.
"Kamu siapa?"tanya Mika yang melirik tidak suka, apa lagi saat dia melihat pria itu yang merangkul Wulan sedari tadi.
"Wulan baru saja baikan, dan dia belum bisa jalan sendiri"kata Aryan
"memannya dia kenapa?"tanya Mika
"Dia habis tranfusi darah 3 kantong sekaligus untuk kakaknya"kata Aryan yang berhasil membuat alam dan mika kaget.
"Wulan... Kenapa kamu melakukan itu nak, itusangat berbahaya"kata Mika yang sangat kaget dengan pengorbanan gadis itu.
Wulan hanya diam, dia menjawab pertanyaan Mika hanya dengan seutas senyuman. Seandainya tadi dia bisa mencegah Aryan agar tudak menceritakan pada kedua orang itu. Wulan tidak mau dianggap ria karena sudah membantu Aulia.
"Kenapa Nilam tega menyakiti malaikat yang sangat mulia seperti kamu, nak" Mika memeluk Wulan.
__ADS_1
"ayo, biar mama bantu kamu untuk masuk dan urusan mama kamu biar mama yang atasi"Mika membawa Wulan masuk.
"Assalamualaikum"ucap Mika
Nilam menoleh dan melihat sahabat dan calon besannya itu masuk kedalam ruangan.
Nilam pun berdiri dan hendak menghampiri mereka. Langkahnya berhenti saat melihat Mika yang berjalan sambil merangkul Wulan. Dia hanya diam melihat Wulan yang begitu pucat dan lemah itu.
"Kenapa diam Nilam, apa kamu tidak suka kamu datang?"tanya Alam
"Bukan begitu ayo masuk, ayo" Nilam menyuruh mereka untuk duduk sofa yang ada di ruangan rawat Aulia.
Alam dan Aryan sudah duduk di sofa itu sementara Mika, ia membawa Wulan untuk mendekati Aulia. Mika tahu kalau Aulia sangat menyayangi kakaknya itu.
"Kakak..." wulan tidak bisa menahan air matanya saat melihat Aulia.
"kenapa bisa sampai kayak gini sih kak?"gumam Wulan pelan.
Semua orang yang ada di ruangan itu jadi ikut sedih saat melihat Wulan yang sedang menangis.
Nilam yang melihat itu pun jadi tersentuh dan dengan perlahan dia mendekati Wulan.
Melihat hal itu, Aryan pun langsung berdiri bersiap untuk menolong Wulan jika Nilam menyakiti gadis itu. Alam tersenyum melihat Aryan yang sepertinya sabgat peduli debgan Wulan.
"Lan...."panggil Nilam.Wulan menoleh dan...
Nilam langsung menarik Wulan kedalam pelukannya, " maafin mama ya" ucapnya.
Deg!
Wulan saat kaget saat mendengar permintaan maaf daru mamanya itu.
"Mama... Mama sadar mama banyak salah sama kamu dan mama minta maaf" lanjutnya yang semakin mengeratkan pelukannya.
Wulan melihat kearah Mika, wanita itu tersenyum dan megangguk.
"Mama gak punya salah sama Wulan,jadi jangan minta maaf ya"
"Gak punya salah gimana, mama selalu saja jahat sama kamu padahal dari dulu kamu gak pernah ngebantah. Kamu selalu nurutin perintah , meski pun itu menyakiti diri kamu dan itu salah wulan... Salah" ucap Nilam, dia tidak menyangka kalau Wuan akan berucap seeprti itu padahal dia mengira Wulan akan sangat membencinya, setalah dengan apa yang telah dia lakukan pada gadis itu.
"Jangan seperti ini mamah... Mama tidak pernah bersalah sama Wulan dan wulan juga sudah memaafkan mama"
"kenapa kamu selalu baik sama mama Lan, padahal mama sudah sangat jahat sama kamu?"tanya Nilam menatap wajah pucat anaknya itu.
"Kerena aku sayang mama, aku tahu mama melakukan itu semua sama aku, biar aku bisa hidup mandirikan dan biar aku gak manja" kata Wulan yang semakin membuat Nilam merasa bersalah.
__ADS_1
"terbuat dari apa sih hati kmu Lan, kok bisa sebaik ini. Sampai kapan pun aku gak akan mau melepaskan kamu Lan" batin Aryan
...πΊπ»πΊ...