
"Aku serius Wulan. Jika kamu nggak mau masuk juga! Maka aku terpaksa..." Aldi mendorong wulan dan menyudutkannya ke pintu mobil.
"Apa yang kamu lakukan? Minggir nggak!"Wulan berusaha melepaskan dirinya,
"Tidak, kalau kamu masih tidak nurut" Aldi mulai mendekatkan wajahnya.
"STOP!!! " teriak Wulan kemudian wulan pun bergegas masuk kedalam mobil Aldi dan dia juga menutup pintu mobil dengan kasar.
Aldi tersenyum melihat tingkah Wulan, yang terlihat menggemaskan di matanya.
"Bapak bawa aja sepedanya kerumah bapak, nanti saya jemput. Biar bapak nggak terlalu capek dan bapak boleh istirahat " kata Aldi sebelum dia masuk kedalam mobil. Walau bagaimana pun Aldi tidak lah sekejam itu menyuruh pak jono mengantarkan sepeda itu kerumah Wulan. Lagi pulan bukan kah dia juga belum tahu rumah Wulan di mana.
πππ
"Restoran? Ngapain kamu bawa aku kesini?"tanya Wuan heran. Bukankah mereka ingin ngobrol, lalu kenapa laki - laki di sebelahnya ini malah membawanya ke restoran bukannya ke cafe atau ke tempat yang agak lebih nyaman untuk ngobrol.
"Aku laper, kita ngomongnya sambil makan ya... Ayo" Aldi kelur dari mobilnya, dengan sedikit kesal Wulan pun mengikutinya.
"Kenapa nggak makan di Ampera saja?"tanya Wulan sambil berjalan beriringan .
"Tidak mau, aku sakit perut setelah makan kemaren"balas Aldi.
"Lemah..." cibir Wulan.
"Terserah lah, yang jelas aku sangat tersiksa kemaren" Aldi sebenarnya malu mengakui ini, tapi lebih baik jujur dari pada nanti dia di paksa untuk makan di ampera lagi oleh gadis itu.
Mereka duduk di salah satu meja yang ada di dekat jendela. Aldi memesan makanannya dan begitu juga dengan Wulan.
"Sekarang jelaskan! Kenapa kamu berbohong pada ku?"tanya Wulan.
"Nanti saja, kita makan dulu" jawab Aldi
"Tidak bisa, kamu kan bisa menjelaskannya sambil menunggu makanan datang"balas Wulan. Aldi hanya diam menatap Wulan dengan senyuman manisnya.
"Kenapa malah tersenyum?"tanya Wulan. " Baiklah kalau kamu tidak mau menjelaskannya... Mulai saat ini jangan temui aku lagi dan aku juga akn keluar dari perusahaanmu" kata Wulan berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Duduklah, aku akan menjelaskannya." Aldi menahan tangan Wulan. Wulan menepis tangannya dan kembali duduk.
"Pertama aku tidak pernah bohong apa pin padamu dan..."
"Jangan mengada - ngada, dasar pembohong...." potong Wulan yang tidak terima saat Aldi mengatakan dia tidak pernah membohonginya.
"Dengerin aku dulu... Jangan main potong aja, biar kamu nggak salah paham"ujar Aldi.
"Hmm" balas Wulan. Aldi pun kembali menjelaskannya dengan pelan dia tidak mau terjadi ke salah pahaman antara dia dan Wulan.
"Di saat kita pertama kali bertemu, apa aku pernah mengatakan kalau aku ini siapa dan sedang apa?"tanya Aldi, Wulan mencoba untuk mengingat kembali saat mereka pertama kali bertemu saat ia interview. Memang benar Aldi tidak mengatakan apa pun saat itu, hanya Wulan yang berbicara.
"Apa kamu sudah ingat, lalu di mana letak aku membohongimu?"tanya Aldi lagi.
"Di toko buku? Kenapa kamu bilang kamu kalau kamu bekerja di sana?"tanya Wulan.
"Itu aku lakukan karena aku tidak ingin kamu menjauh dariku. Aku takut kalau kamu tahu siapa aku sebenarnya, kamu jadi tidak mau bertemu denganku lagi"jawab Aldi menundukkan kepalanya.
"Kenapa memangnya kalau aku nggak mau bertemu dengan mu? Bukankah kita tidak terlalu kenal dan bahkan kita hanya sebatas orang asing yang beberapa kali bertemu dengan tanpa sengaja" kata Wulan.
"Apa maksud gelangan itu? Kenapa kamu malah menggeleng?"
"Sebenarnya sejak kita bertemu saat pertama kali, aku sudah jatuh hati padamu dan aku sengaja menyuruh beberapa orang untuk mengikutimu." jawab Aldi jujur, dia tidak mau ada kebohongan lagi.
"Apa?"Wulan menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Kamu mengikutiku? Apa jangan - jangan kau juga telah mencari tahunlatar belakang tentang aku?"tanya Wulan. Aldi ngenggukkan kepalanya.
"Sejauh mana kamu tahu tentang aku?"tanya Wulan lagi.
"Semuanya"jawab Aldi.
"Tc, apa kamu tahu tindakan seperti itu sangat tidak sopan dan kamu mengganggu privasi orang lain" kata Wulan.
"Tidak ada cara lain, kalau aku tidak melakukan itu semua. Aku tidak tahu kita akan bertemu lagi atau tidak. Aku ingin selalu dekat denganmu"balas Aldi meraih tangan Wulan.
__ADS_1
Untuk sesaat Wulan hanya diam, kemudian tiba - tiba dia mengingat wajah mamanya. Kalau mamanya sampai tahu kalau dia sedang dekat dengan seseorang, sudah di pastikan mamanya akan menghancurkan hubungan itu.
Itulah salah satu alasan kenapa wulan tidak memiliki teman atau pun kekasih. Nilam selalu membuat semua orang benci terhadapa Wulan. Hanya beberapa orang saja yang mau berteman dengan wulan dan itu pun mereka yang tidak terlalu memperdulikan ucapan Nilam.
Tapi walau pun begitu Wulan tidak pernah marah dia tetap tersenyum dan bersikap seperti biasa, walau pun terkadang hatinya sangat hancur.
"Tidak, kamu tidak boleh suka dengan aku. Tidak!"Wulan menepis tangan Aldi.
"Tapi kenapa? Apa kamu sudah memiliki kekasih?"tanya Aldi.
"Bukankah kamu sudah mencari tabu tentang diriku, kamu pasti tau jawabannya" jawab Wulan.
"Aku tidak perduli dengan itu semua, kamu tenang saja selagi kamu ada di dekatku. Aku pastikan tidak akan ada yang berani mengganggu atau pun menyakitimu" ucap Aldi yakin.
"Tidak, maaf" wulan beranjak dari duduknya dan hendak melangkah pergi, namun dengan cepat Aldi menahan tangan gadis itu dan menariknya kedalam pelukannya.
"Lepaskan aku, apa kamu nggak malu di lihat banyak orang?"tanya Wulan kaget. Ini pertama kalinya ada seseorang yang berani memeluknya.
"Tidak akan aku lepaskan, sebelum kamu mau menerima perasaanku"kata Aldi.
"Tapi..."
"Hust.... Bukankah sudah aku katakan, kamu tenang saja aku akan mengurus semuanya."kata Aldi.
"Baiklah, tapi tolong beri aku waktu" balas Wulan. Aldi mengangguk dan tersenyum sambil mempererat pelukannya. Dia sangat senang karena akhirnya dia bisa mengutarakan isi hatinya. Walau pun belum dapat jawaban, setidaknya dia sudah mengutarakan semuanya dan dia pastikan kalau Wulan akan mengatakan iya secepatnya.
Tidak jauh dari tempat Aldi dan Wulan berdiri, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka. Kepalan tangannya semakin kuat saat melihat Wulan yang terseyum bahagia dalam pelukan laki - laki itu.
"Kamu pikir aku akan dia saja dan membiarkan kamu bahagian Wulan! Jangan mimpi, karena itu semua tidak akan terjadi dan ayo kita lihat apa yang akan aku persiapkan untukmu" gumamnya.
Dengan kesal meninggalkan restoran itu, selera makannya jadi hilang saat melihat Wulan dan Aldi yang sedang berduaan.
"Dasar brengsek, ibu dan anak sama saja!" ucapnya sambil memukut stir mobilnya.
...πΊπ»πΊ...
__ADS_1