
"inilah yang aku suka dari mu ram, aku akan bekerja dengan baik dan berusaha baik lagi"
guman zanli
"terimakasih bo..ah.. ram"
"Hem..."
seketika datang lah seseorang yang sudah ditunggu-tunggu....
Kriett...
Suara pintu terbuka dari luar, ya seseorang itu adalah Jony dengan nafas yang tidak beraturan dan keringat yang sudah membahasi wajahnya.
"Aduh hilang sudah tampan ku, pasti tampang dokterku menjadi tampang pemungut sampah buruk rupa" guman Jony memasuki apartemen ramesh dan merapikan rambut berantakan sambil mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya.
Zanli dan Jony bisa langsung buka pintu apartemen ramesh karena ramesh sendiri yang langsung kasih password agar mereka bisa langsung masuk saja demi lanlan.
"Hah..hah... Huuf... Ram... Kau sungguh kejam.! Dari rumah sakit ke apartemen mu ini kau kira dekat, ha!?" Helaan nafas yang masih tersengal-sengal akibat menempuh jalan jauh dengan kecepatan tinggi. Jika tidak sampai sesuai dengan perintah ramesh Jony bukan hanya di pecat tapi tidak akan di terima di manapun dia ingin bekerja.
"Hem... Apa tadi yang kau bilang, coba ulangi lagi" senyum sinis dengan tatapan tajam menatap Jony dengan intens ingin melahap siapa saja yang ingin dimakan oleh mata tajam ramesh.
"Ah... Tidak, kau ini cepat sekali marahnya, gimana cewek mau dekat sama mu dengan tatapan mata yang ingin menerkam mangsa. Baiklah siapa yang aku ingin periksa" gerutu Jony dengan ceramah nya
"Ini minumlah, pergilah ke kamar ku periksa dia jangan Sampai ada yang terlewat kan"
"Nah gitu dong, terimakasih." Meletakkan minuman yang diberi ramesh"aku pergi sekarang"
"Hem..."
Ramesh dan zanli pun mengikuti langkah Jony memasuki kamar besar ramesh.
"Suhu tubuhnya sudah mulai panas, ini akibat terlalu lama terkena air dingin."
Jony memberikan obat dan perlahan memasuki nya ke mulut lanlan.
"Aku sudah memberikan obat pereda panas dan memberikan vitamin tapi aku tidak yakin panas nya akan cepat turun. Berilah kain dingin di kening secara teratur."
"Apa kau yakin dia akan sembuh besok"
"Tidak yakin, sebaiknya Bawak saja ke rumah sakit"
"Dia tidak mau"
"Baiklah, saya akan menelpon seseorang untuk membawa infus ke sini. Dia perlu di infus"
"Lakukan sekarang, lakukan apapun untuk bisa membuat nya sembuh."
"Ya baik ram"
Zanli dan Jony pun pamit untuk pulang karena hari sudah malam, lanlan sudah di beri obat dan infus.
"Hem..."suara berat lanlan keluar namun masih tetap dengan mata tertutup, badan nya menggeliat masih dengan suara beratnya yang keluar "Hem.."
"Ada apa lan, dimana yang sakit" tanya ramesh di telinga lanlan.
Ramesh memegang dahi lanlan masih tetap sama panas, Ramesh telaten mengganti kain dan membasuh dengan air meletakkan ke dahi lanlan. Tidak berniat untuk beranjak dari kamar itu.
"Aku akan menjagamu, aku akan di samping mu. Jadi cepatlah sembuh" lirih Ramesh ke telinga lanlan.
Lanlan pun kembali tenang, tidak bersuara dan menggeliat lagi. Ramesh tersenyum suara nya didengar oleh lanlan.
Keesokan harinya
Lanlan perlahan-lahan mengerjapkan mata nya, namun masih tetap buram, lanlan menutup kembali dan perlahan membuka matanya sehingga pandangan nya menjadi jelas.
Sinar matahari pagi yang menembus ke jendela kamar ramesh berhasil membangun kan lanlan.
Lanlan pun melihat sekeliling memandang langit-langit disekitarnya yang terlihat asing.
"Hem... Dimana aku" suara parau lanlan yang berat.
__ADS_1
Seketika tatapan mata itu berhasil menemukan ramesh yang sedang terbaring duduk dengan kepala masih menempel di ujung tempat tidur lanlan.
"Kenapa bisa dia disini" guman lanlan.
Lanlan melihat di meja ada beberapa obat, dan mangkok besar berisikan air dan lap.
"Apakah dia yang merawat ku" guman lanlan lagi
Lanlan teringat jika pakaian ramesh masih sama dengan pakaian terakhir mereka bertemu.
"Dia sampai tidak mandi, ya ampun wajah nya sangat berantakan sekali"
Lanlan pun perlahan mengangkat tangan nya, memegang wajah ramesh dengan lembut.
Ramesh menggeliat merasakan sentuhan hangat dari tangan mungil lanlan.
"Kau sudah bangun, syukurlah..."
"Hem..., Kau yang merawat ku"
"Ya.. bisa dibilang begitu" jawab canggung ramesh.
"Terimakasih" ujar lanlan sambil tersenyum tulus dengan wajahnya yang sudah mulai normal tidak pucat lagi.
"Jika kau tersenyum begini, aku merasa tidak sia-sia merawat mu, karena aku menyukai senyuman mu" goda ramesh
"Bukannya kau tidak ingin melihatku, kenapa kau mau menolong dan merawat ku?"
"Ah... Bukan begitu"ramesh bingung harus menjawab apa.
"Tidak apa-apa jika kau tidak ingin cerita, dan tenang saja aku pun tidak akan menggangu mu jika kau tidak ingin diganggu."
"Bukan begitu, tap.."
"Ahk...!! ini baju ku siapa yang ganti, kau!! dasar mes..." teriak lanlan yang baru sadar jika pakaian nya sudah terganti bukan memakai baju nya.
"kenapa aku..! kau pikir aku tergoda dengan tubuh mu yang jelek itu, ha.!" potong ramesh yang sudah mengerti maksud perkataan lanlan
"Beruntunglah karena kau masih sakit jika tidak sudah ku cabik-cabik mulutmu yang beraninya menuduh ku tanpa bukti"guman ramesh menahan emosi nya.
"Itu bukan aku yang ganti ada bibi yang juga ku suruh menginap disini, dialah yang menggantikan bajumu, jadi kau tenan..."
"Gawat... !! Aku bermalam disini. Terus bagaimana dengan papa. Papa bisa-bisa mengamuk" teriak lanlan lagi yang memotong pembicaraan ramesh.
"Kalau itu kau tidak usah khawatir, aku sudah izin kan melalui teman akrab mu, Mita"
Lanlan merasa lega, karena lanlan sudah pernah menginap kerumah mita karena Mita tidak ada teman dirumah dan papa nya sudah memberi izinkan lanlan untuk menginap ke rumah mita untuk beberapa kali.
"Huhf... Syukurlah. Jika tidak aku tidak tau lagi apa yang akan terjadi jika sampai papa tau"
"Hem... Aku sudah memikirkan it..."
"Astaga... !! Ini sudah jam berapa aku harus bekerja" teriak lanlan dan memotong pembicaraan ramesh lagi.
"Gila ini anak telingaku mau pecah di buatnya, gadis biasanya anggun, suaranya lembut ini Seperti singa kepanasan saja teriak-teriak melulu dari tadi " gerutu Ramesh
"Kau ini baru juga bangun dari sakit, tapi suaramu bisa membangun kan singa yang tertidur manis Sakit tau telinga ku. Ini di apartemen ku bukan hutan.!!" kesel ramesh yang akhirnya tidak bisa menahan amarahnya lagi akibat telinga nya yang sudah sakit.
"Ah... Ya maaf... Aku reflek tadi" suara rendah lanlan dengan seyum kikuk nya.
"Sudahlah, lebih baik kau istirahat saja. Cepatlah sembuh agar kau bisa pulang ke rumah. Kau tidak ingin papa mu mengamuk bukan??, Jadi tunggu lah sebentar aku akan mandi dan menyuruh bibi masak bubur untuk mu"
"Tidak usah, aku tidak mau merepotkan mu"
"Kau sudah merepotkan ku mulai dari semalam bukan??, Jadi jika tidak ingin berlama merepotkan ku nurut lah"
"Si sucam ini perkataan dan makna dari katanya bertimbal balik, aku tidak bisa membedakan sifat baik dan jahat nya jika dia berkata begini" batin lanlan
"Ya.. ya.. baiklah cepat lah mandi agar aku cepat pergi dari sini, dan kau pun tak akan ku repotin lagi"
"...."
__ADS_1
Ramesh tidak menjawab lagi, dia pun melangkah kaki nya menuju kamar mandinya.
"Hei... Kau mau mandi dimana??" Teriak lanlan
lanlan mau bicara ini Manteman 😂😂
lanlan : hai Thor kenapa si kau buat aku selalu berteriak begini😤, habis lah nanti suara cantik ku😡.
author : haha... emang itu sifat mu sayang menjadi gadis galak, kejam dan dingin😂"
lanlan : aku gak mau Thor sungguh ini menyiksaku tauuu... 😒
author : terima kenyataan saja 😎🤪
lanlan : sungguh author kejam 🤧🤧
author : 🤣🤣🤭😉
kembali ke semula
"bisa tidak si kalau bicara itu tidak usah pakai teriak... Ya disinilah, emangnya kenapa lagi?"
"Kan aku ada disini, masa ya kau mandi disini si" gerutu lanlan tidak suka
"Ini apartemen ku, dan ini kamar ku. Jadi terserah di aku dong mau mandi dimana, oh... Apa jangan-jangan kau ingin kita mandi bersama" goda ramesh menatap lanlan penuh harap
"Ogah mandi sama pria sucam kayak kau, aku mending keluar saja, huuf."
Saat ingin menurunkan kaki nya dan ingin melangkah lanlan tiba-tiba berdiri tidak seimbang.
Dengan sigap ramesh berlari dan menangkap tubuh ramping lanlan kedalaman dekapannya.
"Kau ini ya, jika terjatuh lagi dan terluka kapan kau akan sembuh ha," ramesh memarahi lanlan dengan suara keras dengan dingin membuat seorang lanlan yang tidak penakut menjadi merinding ketakutan.
Ramesh menyadari diamnya dan tatapan takut lanlan pun akhirnya menetralkan wajah dan suaranya.
"Maaf... Aku hanya tidak ingin kau terluka lagi, ya sudah istirahat lah disini dengan baik. Dan tenang saja aku mandi akan bawa baju kok ke dalam."
"Hem..."
Di Perusahaan x1
"Sampai kapan aku terus disini si, aku sudah baik-baik saja kok. aku mau kembali ke resto"
"diamlah... kau disini saja sampai bener-bener pulih, jika waktunya sudah pulang kerja maka pulanglah"
"aku hanya ingin kau cepat sembuh, agar akupun tidak khawatir lagi. maaf mungkin caraku tidak kau sukai. tapi aku begini karena aku mungkin sudah mulai menyukai mu lan" guman ramesh lirih dihatinya.
"tapi aku bosan tau" kesel lanlan yang merasa sudah sangat bosan.
"aku sudah seperti tahanan saja di buat si sucam ini, menyebalkan.!!" batin lanlan sudah merasa jengkel tidak dibolehkan kemanapun oleh ramesh.
merekapun mulai terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
sebelumnya lanlan itu ingin hari ini masuk untuk bekerja, namun ramesh melarang nya dengan alasan kalau lanlan harus banyak istirahat agar tubuh nya bener-bener baik dan papa nya tidak curiga.
lanlan setuju jika demi papa nya,
namun selama di dalam ruangan ramesh sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja nya, sedangkan lanlan duduk manis di kursi tamu.
hal itu yang membuat lanlan merasa bosan, dan suntuk karena tidak melakukan apa-apa.
"ini pakailah laptop ku, agar kau tidak bosan"
ramesh pun memberikan laptop nya yang sangat jarang di gunakan untuk di pakai lanlan.
"wah... sini-sini... dari tadi kek kasih nya" riang lanlan menerima laptop yang diberi ramesh dengan cepat.
"ini saat nya membaca novel ku yang tertunda kemarin, novel kesayangan tunggu aku..." guman lanlan dengan senang nya.
"dasar cewek Novel" gerutu ramesh menggeleng kan kepala nya. melihat senyuman manis lanlan yang sangat seneng menerima laptop dari ramesh dan mendengar gumanan lanlan.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir 😘