
"Saya sudah mengerti bos" senyum manis terukir indah diwajah mulus vloren
"Baiklah karena kamu sudah mengerti kamu bisa melanjutkan tugas kamu"
"Baiklah saya permisi bos"
"Kenapa kok kesannya aku di usir paksa ya, hem.... Ya sudahlah" batin pasrah vloren.
******
Setelah kepergian vloren, ramesh kembali melakukan tugasnya yang sudah menumpuk itu, seakan lupa bahwa dirinya bukan seorang diri di ruangan nya.
"Apa-apaan ini, dia mengabaikan ku disini" guman lanlan yang sudah menunggu ramesh selesai bicara dengan menager nya, malah di abaikan.
Ramesh masih tetap melakukan tugasnya, memeriksa berkas-berkas yang selalu berdatangan dari tadi pagi dan perlu tanda tangannya, sedangkan disisi lain lanlan semakin dibuat kesel. Bagaimana tidak... Masalah ciuman yang kemarin belum kelar di tambah lagi harus menemani nya makan dan di abaikan lagi.
"Maaf bos, jika anda belum mau makan saya akan membawa kembali makanan nya" ujar ketus lanlan yang akhirnya membuat ramesh terkejut.
Seketika tangan yang terus mengetik di laptopnya berhenti secara mendadak dan seakan sekrang sudah seperti batu tanpa bergerak namun berat.
"Gawat... bagaimana bisa aku melupakan nya disini"
"Duduk" perintah ramesh saat di lihat nya lanlan sudah selesai membereskan makanan yang hendak dibawa kembali pulang ke resto,
lanlan pun mengikuti perkataan ramesh.
Ramesh merapikan kertas-kertas penting dan membedakan tugas yang sudah selesai dan belum selesai di tanganinya.
Lalu berjalan menemui lanlan, duduk dan menatapnya lekat.
"Silahkan di makan bos" lanlan memberi kembali makanan itu ke ramesh
"Makanlah juga"
"Maaf bos saya sudah makan tadi bersama teman yang lain"
"Kalau saya bilang makan ya makan, kan saya bilang temani makan bukan temani melihat"
"Dasar si sucam ini bisanya maksa! mending tidak usah saja keluar dari rumah sakit betapa bahagia nya aku tidak ada yang menggangguku" guman lanlan yang semakin kesel.
"Tapi bos saya bener-bener sudah makan, jadi kalau saya makan lagi saya akan sakit perut karena kebanyakan makan. Jadi lebih baik bos makan saja saya disini akan mene...."
Hap...
"Emmm.... Kau ini"
"Kalau saya bilang makan ya makan tidak ada bantahan" ujar ramesh berhasil membekap mulut lanlan dengan daging yang sudah di potong kecil.
Lanlan yang secara tiba-tiba di suapin berhenti sejenak untuk berbicara. serasa saat ini mereka makan sebagai Sepasang kekasih membuat lanlan semakin kesel dan memilih untuk diam.
"Kenapa diam... Makan"
"Aku tidak mau"
"Kau mau aku mencium mu agar kau makan ya" goda ramesh yang memulai rencananya
"Tidak perlu bos!! bos makan tinggal makan lo kok ribet bener si" bentak lanlan
"panggil aku dengan namaku! saat ini kita hanya berdua lan"
"bos...!!" bentak lanlan tidak menyetujui perintah ramesh.
"Oh sudah berani kau membentak ku, ternyata kau memilih untuk ku cium ya..." seringai licik terukir jelas disudut bibir ramesh.
Ramesh pun sengaja mendekatkan dirinya ke arah lanlan, hanya ingin mengetahui yang mana yang ingin dipilih lanlan.
"kau ini ya, di panggil bos salah tidak di panggil bos juga salah. ya aku makan, dasar maksa"
Kruk... kruk....
"Dasar pembohong" balas ramesh tersenyum sinis kearah lanlan, namun seketika pula dia tersenyum tipis karena menatap wajah lanlan yang sudah mulai memerah.
"Sial ini perut tidak bisa di ajak kerjasama apa!!" batin lanlan malu. Diruangan ini mereka hanya berdua, dan memang lanlan berbohong jika dia sudah makan. Lanlan yakin bunyi tadi itu adalah miliknya yang ingin segera diisi makanan.
"Kenapa kau tidak mengunjungi ku lagi dirumah sakit?"
"Tidak kenapa-kenapa"
"Apa karena ciuman itu?"
"Ti...tidak kok, kau berpikir berlebihan"
"Apa ciuman ku itu virus bagimu"
"Maaf ram, karena kau sudah selesai makan maka aku harus kembali ke resto. Permisi"
"Kau tak akan bisa menghindari ku lagi lan" tekad ramesh setelah melihat lanlan sudah tidak terlihat lagi.
"Menyebalkan...!! bisa-bisanya membahas hal gila itu dengan entengnya denganku" gerutu lanlan meninggalkan ruangan ramesh.
zanli yang melihat kepergian lanlan dengan wajah kesel tersenyum lembut. zanli tau jika bos itu menyukai gadis yang lagi kesel itu.
karena selama ini zanli belum pernah melihat ramesh tersenyum dan marah secara tiba-tiba saat sudah mengenai nama gadis itu.
"semoga bisa mereka bersama, ram dan nona lanlan terlihat cocok dan sepertinya saling menyukai. semoga saja" guman zanli penuh harap
disisi lain
karena rasa penasaran menguasai dirinya, vloren akhirnya bertanya ke pegawai lain karena dirinya masih baru dan juga ingin tau.
pas pula saat itu yang dekat jaraknya dari dia adalah mita yang dia tau lanlan dekat dengan Mita.
"kebetulan dia mungkin tau" guman vloren mendekati mita
"mita..." panggil vloren
"ya kak ren, ada yang bisa saya bantu?"
"kamu temannya lanlan bukan?"
__ADS_1
"ya kak saya teman dekat kak lan, ada apa ya kak?"
"apa kamu tau kenapa lanlan yang mengantar makanan ke ruang ceo, tadi saya melihatnya mengantar makanan, tugas itu seharusnya bukan tugas lanlan bukan?"
"ya bener kak ren, tugas untuk mengantar makanan keruang CEO atau DIREKTUR seharusnya bukan lanlan, tapi ceo sendirilah yang membuat perintah jika ceo meminta makanan lanlan yang diminta untuk mengantar nya dan itu sudah di setujui oleh kak Tia kak" jelas mita dengan sopan.
"kenapa begitu?? apa bos kita punya hubungan lain dengan lanlan"
"kalau itu saya kurang tau kak, yang saya tau sampai sekarang lanlan biasa-biasa saja. dan bos kita juga terlihat biasa saja kak. mungkin memang bos ingin mengganti pemandangan saja. kan kak lanlan gadis yang cantik dan menggemaskan kak" gurau mita dengan jujur menjelaskan keadaannya.
"ya juga si lanlan itu cantik, tapi kan pasti lebih cantik akulah. apa iya karena kecantikan...?? baiklah aku akan berdandan lebih cantik lagi aku tidak akan biarkan lanlan merebut priaku..."
batin vloren tidak mau kalah.
"baiklah terimakasih mita, kembalilah bekerja"
"ya baik kak"
******
"Lan...!!" Panggil seseorang lantang dengan penuh nada kerinduan.
"Dartin..., ah...tidak mungkin" batin lanlan berjalan mendekat ke resto memastikan penglihatan nya.
"Lan, aku sungguh merindukanmu" seseorang itu pun bergegas berlari kecil dan memeluk lanlan. Untungnya saja tempat itu masih sepi karena jam istirahat sudah selesai.
"Tunggu main peluk-peluk aja, lepaskan!"suara dingin itu membuat seseorang itu pun mau tidak mau melepaskan pelukan nya karena suara dingin dari lanlan membuat nya terkejut.
"Oh dartin, beneran kamu ternyata. Maaf"
"Kau kejam lan, pria setampan ini kau tidak kenal lagi"
"Bukan begitu. Kau jangan marah dong"
"Jelas lah aku marah, aku merindukan mu kau tidak"
"Ya ya aku rindu, tapi jujur aku tidak suka dipeluk sembarangan orang, lagian ini masih diluar begini. Kalau ada yang lihat jadi salah paham dar"
"Baiklah, baiklah mana baiknya saja. Ayok ngobrol ajak mita juga aku ingin melepaskan rindu ku"
"Ajak juga lila dan lina boleh"
"Apa...!! Sejak kapan kau mau mengajak mereka wanita Mahator yang selalu kau sebut, hem..." teriak dartin terkejut musuh yang selalu menggangu lanlan disebut nya dengan tenang.
"suaramu itu dar, bisa pecah gendang telinga ku ini kau buat, Nanti aku jelaskan pun"
"Ya harus..."
Akhirnya mereka pun berkumpul, lanlan memberi pesan melalui ponselnya untuk segera bertemu di cafe terdekat dari kantor.
flashback on
Ya semenjak lina sudah pulih dan masuk bekerja memang awalnya dia enggan untuk menyapa, entah karena lina malu atau masih ragu akan kejadian kemarin. lila yang menyadari kelinglungan lina dan mulai menyapa lanlan demi lina sahabat nya bisa berbaikan.
"pagi kak lan"
"ya kak kami sengaja datang pagi" balas lila sambil menatap lina
"ya su... sudah kak" balas lina akhirnya berani
"baiklah kalian bekerjalah, mungkin sebentar lagi kita akan mulai kedatangan pelanggan. oh ya untuk kamu lina pergilah keruangan manager perkenalkan dirimu. saya yakin kamu pasti sudah tau kita kedatangan manager baru."
"ya kak lila yang kasitau saya, baiklah kak saya ke ruang manager sekarang" ujar lina masih gugup.
"ya baiklah"
percakapan-percakapan singkat dan cepat menjadi awal mulai pendekatan lanlan dan lina. walau memang awalnya lilalah yang selalu memulai mendekat kan, tiba dimana lina sudah yakin akan kesalahannya. lina mendatangi lanlan secara pribadi.
"ada apa kau ingin menemui lin?"
"maaf jika aku memanggil melalui lila, aku disini hanya ingin minta maaf atas semua yang aku lakuin ke kamu. maa...."
"lina aku tau kau begitu karena dartin bukan??" lanlan memotong penjelasan dari lina
"Bu..bukan karena itu"
"aku tau itu karena dartin lin, jujur aku tidak memiliki perasaan apa-apa ke dartin. aku hanya menganggap nya sebagai temanku saja...tidak lebih. walau memang pada kenyataannya tidak ada istilah wanita dan pria berteman. tapi sungguh aku tidak ingin memiliki perasaan apapun ke dartin."
"bagaimana kau bisa tau itu, dari lila??"
pffft...
lina yang mendengar suara tawa tertahan dari lanlan mengerut kan dahinya.
"kau salah, kau wanita aku pun wanita aku bisa merasakan rasa cemburumu itu lin, jika kau suka katakan saja ke dia kenapa harus diam-diam dan salah paham denganku?"
"aku takut aku ditolak"
"papaku pernah bilang, perbaiki diri agar dapat pria yang baik. entah itu teguran atau itu nasihat aku masih mengingat nya sampai sekarang"
"jadi... kau..."
"aku memaafkan mu lin, dan aku juga minta maaf jika terakhir kali itu Sepertinya aku berlebihan membuatmu tersiksa"
"oh tidak apa-apa lan, jika bukan begitu mungkin aku belum sadar dan mungkin saja aku masih dalam alam mimpiku"
"hahaha... ternyata kau bisa bercanda. bener kata lila"
"kan kau tau pasti dari lila aku menyukai dartin"
"tidak lan, lila hanya bilang kau itu sebenernya gadis yang baik. hanya saja ketika kau terobsesi kau akan lupa diri dan bertidak jahat tidak peduli siapa yang akan kau jadikan musuh. sebenernya itu tidak baik untuk dirimu dan kau pasti tau karma bukan??"
"....."
"boleh membalas sesuatu yang membuat ku sudah sesak tapi lihat setuasi, keadaan, dan kebenaran. jika memang dia bersalah dan sudah kelewatan batas kau beri pelajaran sisa nya kasitau pihak berwajib saja"
"tapi kau dari luar tampak lembut dan terkadang galak. sekali kau membalas tidak memberi ruang untuk beristirahat lan yang artinya kau sangatlah kejam"
"entahlah aku juga heran kenapa aku bisa begitu, aku seperti bukan diriku saat ingin membalas dendam"
__ADS_1
"kau mempunyai dua kepribadian ganda, haha"
"kau ini mengejekku ya..."
"emang... haha"
disinilah Mereke mulai membiasakan diri, dari musuh menjadi teman dan kemungkinan besok akan menjadi sahabat. perlahan mulai memahami dan mengerti satu dengan yang lain.
flashback off.
setelah 10 menit kemudian tibalah mereka di cafe terdekat setelah menerima pesan sms dari lanlan.
"hai lila lina sini duduk" ujar lanlan menyapa kedatangan lila dan lina
beda hal dengan lina dia masih canggung akan kedatangan seseorang yang sangat dirindukan nya, memang hari ini dia sudah mengetahui kedatangan dartin, namun karena terlalu lama tidak bertemu jadi enggan untuk menyapa.
"ceritakan lan mit kenapa bisa ada orang ketiga disini" suara datar dartin melirik sinis kearah lina dengan tatapan menyinggung yang amat jelas terlihat.
"bagaimana ini... selama ini dia tau aku berbuat jahat ke lanlan" rasa takut menghantui lina merasa gugup hingga gementar saat tatapan itu tertuju pada mata lina.
"orang ketiga apaan si dar,kita berlima bukan bertiga. kau jadi bodoh menghitung ya" ujar mita tidak suka dengan suara datar dartin mengacaukan suasana.
"tau ahk.. pokoknya jelaskan!!"
lanlan pun menceritakan kejadian-kejadian dimana saat lanlan terakhir kali membalas dendam, dan saat-saat mereka mulai dekat, mita pun membantu lanlan untuk menjelaskan ke dartin. saat itu raut wajah masam dan tak suka dartin perlahan mulai menjadi nyaman untuk dilihat tidak ada lagi rasa kesel terlihat diwajahnya.
"maaf... mungkin aku memang sudah keterlaluan terhadap lanlan disini, jika kau tidak ingin aku hadir dalam pertemanan kalian aku akan mundur dartin" ujar lemah lina ingin mencairkan suasana dengan memilih untuk mundur saja. karena lina tidak ingin jika karena dia persahabatan ketiga teman baru nya itu hancur.
"lanlan yang yang di jahatin lina saja memaafkan, masa ya aku tidak. tapi aku begini karena aku peduli sama lanlan aku tidak ingin lina menyakiti lanlan lagi" guman dartin terdiam mendengar ucapan lina yang ada rasa penyesalan.
"untuk saat ini aku belum bisa memaafkan mu, karena aku masih baru tau hari ini, kau bisa bergabung dengan kami tidak usah mundur jika kau memang tulus buktikan saja. aku tidak butuh hanya omongan saja."
"be..bener Dar... kau tidak marah denganku"ujar lina seakan dia merasa lega.
"ya untuk saat ini, tapi jika kau bertindak jahat lagi kau akan tau akibatnya Lin"
"baik...akan aku buktikan"
"baguslah semua sudah selesai, semoga kita bisa rukun setidaknya tidak ada penghianat diantara kita. karena aku tidak suka itu. sekarang kau... jelaskan kepergian mu itu yang secara mendadak pergi dan datang. seperti jelangkung saja hem..." ujar lanlan menyelidiki dartin dengan suara dingin dari seorang lanlan.
"ya lan biasa saja kalau mau nanyak aku Napa... suara mu itu terdengar seperti orang asing"
"kau juga begitu bukan tadi"
"ya ya kau ini lan tidak mau kalah"
"ya jelas dong, ayo ceritakan dar"
"kemarin itu kak tia memanggil ku keruangan nya, dia bilang untuk 2 Minggu ini aku akan dipindahkan sementara ke cabang kota M, karena resepsionis cabang resto kota M cuti melahirkan.
"kenapa harus kau yang di pindahkan ke sana, apa tidak bisa cari pekerja yang lain saja?" ujar mita
"sudah, aku sudah bilang begitu mit tapi kata kak tia pekerja disana sudah banyak jadi akan sulit nantinya jika mencari pekerja baru. karena ini masalah nya bukan resign tapi cuti melahirkan"
"jadi apa bedanya disini, disini pengganti kamu saja tidak ada jadi kadang kak lan yang ganti kadang kak tia, terus apa bedanya disana." ujar lila menyambung
"ya kenapa disana tidak ada yang bisa gantikan"
ujar Lina yang memberanikan diri untuk bertanya.
"kata kak tia, manager mereka pas pula saat itu lagi ada urusan keluar kota. hanya assisten dan pegawai lainnya yang ada. manager disana sulit percaya orang lain, jadi itulah dia menelepon kantor pusat kantor kita ini untuk membantu memberi solusi." ujar dartin menjelaskan
"jadi bisa dibilang kau pergi juga utusan dari perusahaan kita dong" ujar lanlan yang sudah mulai mengerti.
"ya mungkin...."
"jadi sekarang ini kau beneran kembali atau masih akan pergi lagi" ujar mita
"ya sudah kembali dong, kakak itu sudah sehat dan sudah kembali bekerja itu sebabnya aku ada disini"
"ohhhhh......." ujar serempak lina, lila, mita, dan lanlan sambil mengangguk paham.
"waah... kalau kompak gini kan seru, aku suka aku suka aku suka, hehe" gurau dartin menghangatkan suasana
"apaan si, gak lucu..." ujar lanlan
merekapun tertawa girang, sambil bercanda gurau.
disaat yang bersamaan mobil ramesh yang akan menuju keluar melewati cafe itu, diwaktu keluar dari perusahaan ramesh selalu melihat kearah jendela mobilnya berharap bisa melihat lanlan walau dari jarak jauh, namun tidak juga bertemu, tatapan nya masih setia melihat keluar jendela dan berhasil menangkap wajah orang yang di cintainya itu dengan lekat.
"lanlan..." guman ramesh memandang wajah itu memang milik lanlan. "pantas saja tidak ketemu ternyata dia disana" namun saat matanya menelusuri sekitar lanlan, betapa terkejutnya ramesh melihat wajah wanita yang selalu mencari masalah dengan lanlan, timbul rasa khawatir dan takut jika lanlan kenapa-kenapa, ada disitu dan lagi pria yang sengaja dikirim ramesh ke kota M sudah kembali.
"zanli..."
"ya bos"
"bagaimana bisa anak sialan itu kembali bukannya cuti pegawai kota M itu satu bulan?"
"oh pria yang bos maksud pak dartin, pak dartin bisa kembali bekerja disini lagi karena pegawai itu sudah masuk bos. yang saya tau wanita itu melahirkan anak kedua nya dengan normal. dan baginya waktu 2 Minggu sudah cukup bos." ujar dartin menjelaskan.
"terus kenapa bisa diantara teman lanlan ada wanita gila itu, jika lanlan kenapa-kenapa bagaimana ha!"
"bos tenang saja, selama saya menyelidiki wanita itu nona lina sudah tidak jahat lagi bos, dia mengakui kesalahannya. itulah sebabnya dia berteman dengan teman nona lanlan dan pastinya berteman dengan nona lanlan juga bos"
"kenapa kau tidak memberitahu ku zanli, kenapa harus ku tanya baru kau jelaskan"
"maaf bos, selama bos dirumah sakit waktu untuk saya memberitahu bos agak sulit. dimana waktu saya terbagi antara bos dan tuan besar. dan bukannya bos dalam pengawasan nyonya besar dirumah sakit jadi saya takut jika nyonya besar jadi curiga bos"
"ya masuk akal juga, bagus kau melakukan kerja yang bagus. hampir saja aku menghukum jika terjadi sesuatu terhadap lanlan, kau tau akibatnya"
"ya saya mengerti... terimakasih bos, sudah tugas saya"
"baiklah karena lanlan sudah tidak memiliki musuh untuk saat ini, jangan selidiki lagi dia. suruh pengawal mata-mata itu melakukan tugas yang lain"
"baik bos, saya akan laksanakan"
"walau kau menghindari ku, aku akan tetap diam-diam melindungi mu gadis galak. yang artinya kau tidak akan bisa lari dari genggaman ku" batin ramesh merasa lega dan seneng bisa melindungi gadisnya dengan baik.
terimakasih sudah mau mampir 😘
__ADS_1