You Are My BEST SUN

You Are My BEST SUN
Hukuman


__ADS_3

"Kau sungguh membuatku murka, namun karena kau menggemaskan saat menutup mata lihat saja apa yang akan aku lakukan karena telah membuat ku murka." guman geram ramesh yang masih teringat senyuman manis lanlan terhadap pria lain.


kriett....


zanli dengan cepat membukakan pintu dan menutup kembali pintu setelah ramesh sudah masuk ke ruangannya.


Ramesh berjalan masuk dan menurunkan lanlan dengan perlahan di kasurnya, namun mata nya tidak juga terbuka.


Ramesh yang melihat lanlan masih memejamkan matanya, perlahan mendekati wajah cantik lanlan ingin menghukum lanlan


"Sampai kapan kau akan menutup mata mu nona"? Ujar ramesh


Lanlan yang merasakan suara yang begitu dekat dan nafas yang bisa dirasakan lanlan hangat di wajahnya pun perlahan membuka matanya.


"Kau... Apa yang mau kau lakukan.!?" Teriak lanlan dengan tatapan geramnya. Saat ramesh dengan intens nya menatap dekat wajah lanlan.


Lanlan terkejut karena jarak wajah ramesh dan lanlan sangat dekat hingga nafas berat ramesh bisa di rasakan lanlan.


Namun ramesh semakin memajukan wajah nya, menatap mata lanlan lekat ke netra mata lanlan perlahan menurun ke hidung, dan berhenti ke bibir mungil Cherry yang begitu menggoda.


tanpa sadar ramesh mendekat kan bibirnya ke bibir lanlan dengan lembut, dan


CUP


Ramesh mencium bibir mungil lanlan, lanlan membulatkan mata nya saat bibir ramesh dengan lembut menyentuh bibirnya.


"hemm....Lepaskan!! Apa yang kau lakukan!." Lanlan mendorong dada bidang ramesh dengan kuat akhirnya ciuman itu pun terlepas.


"Itu masih belum seberapa" saat hendak ingin mencium lanlan kembali


PLAK...


satu tamparan mendarat di pipi mulus Ramesh, meninggal kan jejak tangan mungil lanlan, ramesh yang belum pernah di tampar oleh siapapun, bahkan orangtua nya tidak pernah menamparnya. akhirnya menatap tajam lanlan.


"Kau!!, Berani sekali kau menamparku!" Geram ramesh dengan tatapan membunuhnya menatap lanlan seperti ingin memakannya.


"Kenapa, kau yang mulai bertindak gila. Kau pikir aku gadis murahan seenaknya kau menciumiku. Kau pria brengsek, sucam, jelek hidup lagi. Sungguh menjijikkan.!" Teriak lanlan yang memang tidak ada takutnya di di tatap ramesh malah lanlan berusaha membela dirinya. Bahwa disini lanlan lah yang korban sedangkan Ramesh pelakunya.


Saat ramesh hendak ingin membalas ucapan lanlan,


Namun tiba-tiba


Tok...tok...tok...


"Maaf tuan muda saya Jony, bisakah saya masuk" ujar jony yang sudah berada di depan pintu ruangan ramesh tanpa zanli.


Karena zanli masih menyelidiki kasus yang disuruh ramesh.


"Sial !!"


"Masuk.!!" Ujar ramesh yang meninggal kan lanlan di ruangan privatenya.


"Periksa dia sekarang, jangan sampai ada sedikitpun yang terlewati." Perintah ramesh ke Jony.


Jony baru kali ini melihat aura membunuh ramesh, menjadi ketakutan dan berjalan menuju keuangan private ramesh, sedangakan ramesh dimeja kerjanya.


"Nona luka mu sudah ku perban, setidaknya untuk beberapa hari jangan terkena air agar cepat kering dan sembuh karena saya sudah memberi obat untuk tidak meninggal bekas luka di tangan nona." Ujar Jony menjelaskan sambil tersenyum ramah, lanlan yang melihat senyuman jony ada rasa lega, amarah yang tadi memuncak menjadi padam.


"Terimakasih dok" jawab tulus lanlan dengan senyuman termanis nya


Saat itu Ramesh masuk dan tepat melihat Jony yang tersenyum ke lanlan.


Rasa sesak lagi mengelilingi nya, dan dengan cepat masuk.


"Kalau sudah selesai kau boleh pergi sekarang!" Bentak ramesh dengan geramnya.


Seketika Jony menjadi takut dan langsung saja meninggalkan ruangan neraka itu.


"Hu, ram kau sungguh menakutkan" guman Jony.


"Kau sangat mudah tersenyum pada pria lain, namun kenapa terhadap ku kau hanya marah dan galak.!" ujar ramesh ingin memintak jawaban yang memuaskan dahaga yang sudah sepanas api dan sesak.


Lanlan terdiam sejenak dan tersenyum sinis,


"Aku mau tersenyum atau tidak itu hak ku, bibir ku tersenyum kepada siapapun tidak ada urusannya sama mu ,! Jadi kau tidak usah berlagak seperti sepasang kekasih yang lagi cemburu."


Sejenak raut wajah ramesh berubah, memikirkan perkataan lanlan ada rasa yang sangat sulit untuk di pahami ramesh


"Apakah iya aku cemburu,? Apa bener aku sudah mulai menyukai gadis yang di depan ku saat ini, huuff tidak mungkin?" guman ramesh bertanya pada diri nya sendiri.


"Kau jangan terlalu percaya diri nona, banyak gadis diluar sana yang lebih anggun, ramah, dan seksi yang ingin naik keranjang ku tanpa aku minta, jadi simpan saja khayalan mu itu" ujar sinis ramesh


"Baguslah jika kau tidak cemburu, dan kau jangan pernah lagi ikut campur urusan ku, temui saja gadis-gadis mu yang ingin naik keranjang mu itu. Karena aku tidak akan tertarik, jangankan ke ranjang mu melihat mu saja sudah membuatku muak" ujar lanlan dengan tatapan dan suara penekan yang amat kuat menandakan jika perkataan lanlan serius.


sambil berjalan perlahan untuk segera sampai ke resto. Namun sebelum nya ada rasa sesak didada lanlan mendengar ucapan ramesh. Sedih yang tanpa sadar mengeluarkan butiran bening dari sudut matanya.


"Kenapa aku.?? kenapa aku menangis,?? kenapa dada ku sesak,?? huhu.. dasar pria brengsek.!" Umpat lanlan lirih.


Sedangkan ramesh masih mematung, mencerna setiap ucapan gadis itu, ada rasa sedih yang sulit di artikan nya.


"Apakah perkataan ku terlalu kasar, sehingga dia berkata yang begitu menyakitkan, ahh..." teriak frustasi Ramesh memegang kasar rambutnya.


******


"Selidiki dia lebih lagi, kumpulkan bukti yang kuat, dan juga... tentang pria yang memapah lanlan saat jatuh itu, kau paham.!?"perintah ramesh ke zanli


Zanli sudah selesai menyelidiki, dan zanli memang sudah menemukan pelakunya, namun karena ramesh mau bukti yang kuat zanli pun bertindak lebih dalam lagi, dan pria yang dimaksud ramesh tadi sudah di mengerti zanli karena pada saat ramesh tiba di depan kerumunan dan melihat lanlan di bantu berdiri zanli berada tepat disamping ramesh.


"Baik bos, akan saya selidiki sekarang, saya permisi bos" balas zanli membungkuk badan hormat dan meninggalkan ruangan


"Apakah sekarang dia baik-baik saja,? bagiamana dengan luka di tangan nya?" Khawatir ramesh secara tiba-tiba.

__ADS_1


Tok...tok...tok...


"Masuk" ujar ramesh dari dalam ruangannya.


Seseorang mengantar kan makanan yang sudah di pesan zanli sebelum melakukan perintah baru dari ramesh.


"Bos, ini makanannya ingin saya letakkan dimana bos?." Ujar waiter yang biasa antar makanan.


"Kenapa kau yang antar makanan ke ruangan ku?"


"Maaf bos karena memang saya lah yang mengantar makanan dari resto ke ruangan yang memesan makanan bos" ujar jujur waiter


"Pergilah, dan bawah kembali makanannya. panggil manager kalian, temui saya sekarang" perintah ramesh


"Baik bos" balas waiter itu menunduk hormat pada Ramesh.


Setengah jam kemudian


Tok...tok...tok...


"Masuk"


Seorang wanita yang anggun, dan cantik memasuki ruangan.


"Saya Tiara maneger di restoran x1, ada yang bisa saya bantu bos" ujar Tiara memperkenalkan diri, karena ini pertama kalinya Tiara menghadap ke CEO baru.


"Ingat kah kau, yang terjatuh didepan restoran beberapa hari yang lalu?" Tanya ramesh dengan intens


"Ya saya ingat bos, dia gadis yang baru 6 bulan bekerja di restoran ini, dan di waktu 3 bulan dia bekerja beberapa pelanggan resto menyukai pelayanan ramah nya, sehingga saya mengangkatnya menjadi asisten saya di bagian waiter bos" jelas Tiara


"Baru 6 bulan,? dan sekarang menjadi seorang assiten??" tanya ulang ramesh dengan penjelasan tiara


"Ya bener bos, nama gadis itu lanlan.


Bisakah saya mengetahui ada apa bos memanggil saya?"


"Saya mau mulai besok yang mengantar makanan saya bukan waiter yang tadi, tapi lanlan assiten kamu."


"tapi bos, itu bukan bagian dari pekerjaan lanlan bos?"


"kau membantah ku??!"


ramesh menatap tajam tiara, sehingga membuat tiara tidak bisa berkata apa-apa lagi.


" ti..tidak bos, Baiklah akan saya lakukan sesuai keinginan bos, namun hari ini lanlan izin tidak masuk bekerja. jika lanlan sudah masuk bekerja saya akan kasitau lanlan bos"


Tiara hanya bisa pasrah dengan keputusan sepihak CEO nya.


"Baiklah" jawab ramesh yang


Tiara pun meninggal ruangan CEO nya sedangkan ramesh masih saja memikirkan lanlan memikirkan luka lanlan.


Dirumah Lanlan


beberapa jam sebelumnya


Saat riko tau lanlan terluka semenjak lanlan pulang bekerja kemarin, Riko ingin dokter KEXLI( dokter kepercayaan keluarga lanlan) untuk segera datang ke rumah lanlan, namun saat hendak menelfon suara lanlan mencegah Riko untuk menelfon.


"Pa, lanlan sudah di periksa kok oleh dokter katanya lanlan tidak kenapa-kenapa hanya jangan terkena air dulu pa, jadi tidak usah ya telfon dokter kexli lagi pa" berbicara dengan suara yang yang memelas agar papa nya perlu melakukan hal yang menurut lanlan itu berlebihan.


"Tidak papa harus panggil kexli agar luka mu tidak infeksi, kexli lebih paham dan berpengalaman dalam hal pengobatan." Jelas ramesh yang memegang ponselnya dan ingin menelfon kembali.


"Pa beneran lanlan tidak apa-apa, lanlan hanya luka biasa saja pa, bukan kanker" rengek lanlan yang langsung di tatap tajam oleh riko


"ini mulut mau papa jahit, Tidak harus kanker kamu di periksa lan!, luka apapun itu sekecil apapun itu harus tetap diperiksa. Karena papa tidak mau kamu anak perempuan papa satu-satunya kenapa-kenapa.


Tapi baiklah jika kamu tetap tidak mau papa panggilkan kexli. Besok kamu tidak usah bekerja sampai Bener-bener sudah pulih, paham?"


"Ya... pa, ini hanya luka biasa lanlan mau bekerja besok pa lanlan janji akan hati-hati pa" rengek lanlan memohon papa nya tidak usah khawatir.


"Mau papa panggilkan kexli atau tidak usah bekerja, pilih salah satu" tegas riko


"Pa....??"


"Keputusan papa sudah bulat besok kamu tidak usah bekerja, dan papa tidak memanggil kexli."


Kembali ke saat ini.


"Jangan membantah lan, papa Seperti ini karena papa sayang kamu, jadi diam lah di kamar sebentar lagi papa akan suruh bibi bawakan makanan kamu" tegas riko saat mendengar lanlan terus saja berbicara di Balik pintu dan Akhirnya menuju ke kamar lanlan.


"Pa..., Lanlan mau bekerja hari ini pa, lanlan tidak mau telat pa" rengek lanlan


Saat lanlan hendak ingin berangkat bekerja riko menahan lanlan dan menyuruhnya untuk masuk kamar.


"Sekali tidak papa bilang tidak! Atau mau papa buat sekarang surat resign kamu?" Tanya Riko


" Ya pa, ya... Lanlan tidak bekerja hari ini"


" Bagus nanti papa pasti buka pintunya setelah bibi pulang dari pasar dan kamu sudah makan"


Riko pun meninggal lanlan di kamarnya masih dengan pintu terkunci.


"Pa, apa papa tidak terlalu ketat terhadap lanlan" tanya karin yang sudah melihat riko turun dari tangga selesai dari kamar lanlan.


"Tidak, papa hanya mau luka nya sembuh dulu baru bekerja. Itu saja kok" jelas riko dengan entengnya.


Karin yang melihat tingkah suaminya yang terlalu posesif terhadap lanlan hanya menggeleng kan kepala.


******


Keesokan harinya

__ADS_1


"Ingat kalau bekerja hati-hati, papa tidak mau tau kalau kamu sampai terluka parah seperti semalam papa tidak akan mengijinkan kamu bekerja lagi, paham lan?" Ujar riko memperingati lanlan.


"Pa, lanlan sudah besar lanlan bisa jaga diri kok. Lagian kemarin itu luka nya luka kecil saja"jawab manyun lanlan yang masih sedikit kesel dengan papa nya karena semalam lanlan tidak bekerja hanya karena luka kecil bagi lanlan.


"Jika bisa jaga diri jangan terluka, kamu itu gadis sayang untung saja luka di tangan kamu itu tidak berbekas" khawatir riko dengan wajah sedihnya


Lanlan yang melihat raut wajah papa nya berubah pun langsung tidak enak hati.


"Baiklah pa, jangan sedih lagi ya. Lanlan sayang papa" sambil memeluk papa nya agar rasa khwatir papanya hilang.


Tok....tok...Tok...


"Masuk"


Saat ramesh hendak melihat siapa yang masuk, hati yang dari semalam khawatir dan gelisah menjadi hilang seketika. Karena wajah yang sangat di khawatir nya kan terlihat baik-baik saja.


"Ini makanan yang kamu minta" ujar lanlan memasuki ruangan dan meletakkan makanan itu di meja satu lagi meja khusus tamu atau meja santai yang ada didalam ruangan Ramesh.


Tiara sudah menjelaskan ke lanlan jika ramesh mau lanlan yang mengantar makanan, dan memang itu janji lanlan ke ramesh. lanlan Langsung mengangguk kepala tanda mengerti dan tidak ingin mempersulit keadaan.


Ramesh hanya diam, diam memandang wajah lanlan melihatnya lekat tanpa berkedip. Ingin rasanya memeluk tubuh lanlan namun dia sadar siapa dia, Dan dimana sekarang. hanya bisa memandang untuk saat ini yang bisa dilakukan ramesh


"Apa kamu tidak ingin makan?" Ujar lanlan menyelidiki dengan tatapan penuh tanya.


"Apa kamu baik-baik saja?"


ramesh bukannya menjawab malah bertanya balik.


"Ini orang kenapa si, kok jadi diam begini, yang di tanya apa di jawab apa?" Guman lanlan


"Saya tanya ya di jawab dulu, bukan tanyak balik."


"Ya aku akan makan setelah tau apa kamu baik-baik saja, bagaimana dengan luka mu?"


"Saya baik-baik saja, makanlah sekarang kerjaan saya masih banyak"


"Tidak bisakah kau menemaniku lebih lama lagi" tanya ramesh dengan wajah yang penuh harap agar lanlan setuju.


"Ini anak kenapa si, kok berbeda banget hari ini, tidak seperti biasanya."


Lanlan terdiam menatap ramesh dengan intens, dan reflek memegang dahi ramesh.


"Tidak panas kok, kamu sakit apa.?? Kok berbeda banget hari ini si"


Ramesh terdiam sejenak detakan jantungnya berpacu dengan cepat hingga rona merah di wajah ramesh terlihat oleh lanlan.


Lanlan mengerutkan keningnya dan lagi memegang dahi ramesh, namun hasilnya tetap sama tidak panas akhirnya lanlan memberanikan diri untuk memegang kedua pipi tampan ramesh dengan tangan mungil lanlan.


Jantung ramesh semakin berdetak semakin cepat, hasrat nya bangkit nafas di


dadanya naik turun merasakan sesak yang tak bisa di tahan.


CUP


Ramesh mencium bibir mungil lanlan dengan lembut, lanlan yang diserang secara tiba-tiba melotot kearah Ramesh dan menarik tangannya kembali ke posisi semula.


"Kau... !!" Bentak lanlan


"Jangan menyentuh ku jika tidak ingin ku sentuh, kau membangunkan hasratku yang tertidur lama" ujar ramesh menggoda lanlan


"Membangun.? Tertidur.?" Jawab linglung lanlan yang membuat ramesh semakin gemas dengan raut wajah lanlan yang terlihat imut saat berfirkir.


Ramesh pun mendekat kan wajah nya semakin dekat hingga lanlan bisa merasakan nafas hangat ramesh di wajah lanlan.


"Kau ingin melihatnya" tanya ramesh mengalihkan tatapan nya menuju ke bawah miliknya.


Lanlan yang melihat tatapan Ramesh teralih kan dan mengikuti tatapannya.


"Kau... Dasar mesum.!" Teriak lanlan


Wajah lanlan seketika pun memerah, karena tak ingin terlihat oleh ramesh lanlan mengalikan pandangan ke samping.


"Kenapa... Kau merona juga bukan?"


"Tidak, kau jangan terlalu percaya diri, dan jangan menggodaku karena aku tak akan tergoda" lanlan menyangkal ucapan ramesh.


"Tidak, tapi kau memang tergoda bukan?" Ujar ramesh yang semakin menggoda lanlan.


"Sunggu sangat menggemaskan, ingin rasanya aku memakan nya sekarang."guman ramesh yang masih menahan hasratnya.


"Jika kau tidak makan, maka aku keluar dan jangan harap aku akan datang lagi untuk mengantar makanan ke ruanganmu jika kau masih bertingkah gila seperti ini.! Teriak lanlan yang langsung membuat ramesh menciut.


"Baiklah, mari kita makan" jawab ramesh pasrah yang tanpa sadar lanlan pun tersenyum.


"Jika kamu tersenyum, kamu sungguh sangat cantik dan menggemaskan"


Ramesh tau lanlan tersenyum walau itu senyuman yang cepat hilang seketika, walau begitu ramesh sangat seneng lanlan bisa tersenyum saat bersamanya.


"Berhenti menggodaku atau aku pergi sekarang" jawab manyun lanlan yang wajahnya kembali merona.


"Ya baiklah" ramesh tersenyum tulus.


"Jangan tersenyum seperti itu" ujar kesel lanlan karena tidak tahan berada di dekat ramesh "aku ke toilet sebentar" lanlan meninggal kan ramesh yang mematung.


"Sial... Ini jantung berdetak cepat sekali lagi, jika terdengar dia bagaimana coba...yang ada aku bisa malu tak tertolong. Hufffh sadar lan sadar... Sebaiknya aku cuci muka saja agar jantung ku berdetak normal kembali" guman lanlan menatap ke cermin menampilkan wajah yang sudah merona seperti kelinci rebus dan langsung membasuh wajahnya dengan air ke kedua pipinya.


KRIETT...


AHHHK....


terimakasih sudah mampir 😘

__ADS_1


❤️ salam manis dari author ❤️


__ADS_2