You Are My BEST SUN

You Are My BEST SUN
Menyesal dan mulai introspeksi diri


__ADS_3

"Ya kan tidak seru dong... kalau kau malah balik si lila!! Seharusnya kau tinggalkan saja dia seperti tarik ulur gitu atau seperti lagu yang lagi hits sekarang TARIK SIS SEMONGKO gitu baru seru... lila mah payah" guman lanlan kesel berbicara sendiri.


"Sekarang apa kau masih ingin balas dendam dengan lanlan?" Tanya lila dengan lembut berharap jawaban yang memuaskan dari sahabat nya......


"....." terdiam, lina bingung harus bagaimana, harus jawab apa.


"Sepertinya kau masih ingin membalas dendam kan, baiklah tidak apa-apa" Lila yang berjongkok pun mulai berdiri namun tangan nya di cekat kuat oleh lina.


"Wah... Tadi perang mulut sekarang drama romantis." Lanlan terus menyaksikan sesuatu yang menarik di matanya bagaikan menonton layar besar tanpa niatan untuk pergi dari tempat persembunyiannya.


"kenapa lagi Lin??"


"aku tidak tau harus memberi jawaban apa ke kau lil, tapi yang bisa aku jawab jangan pergi jangan meninggalkan ku hanya karena si sialan itu."


"dia punya nama lin! dan dia atasan kita"


"tetap saja orang asing bagi kita kan ??"


Lila menghela nafas panjang, sambil menggelengkan kepala.


"baiklah aku beri kau satu kesempatan untuk mulai berfikir dan berhenti bertindak memalukan lagi. ingat lina jangan gara-gara perbuatan mu yang konyol ini orangtua yang membesar kan mu menjadi sasaran nya. apa kau mau itu terjadi hem..."


tanya lila dan dengan cepat lina menggeleng kan kepalanya.


"ya sudah ayok kita pulang kau sudah sangat pucat. tapi bersyukurlah lanlan memberi mu izin untuk libur 2 hari kedepan."


lina yang mendengar menatap Lila melotot tidak percaya dengan mulut nya yang terbuka lebar.


"ha...masih tidak percaya denganku"


"....." lina hanya bisa diam


"hem...sekarang mereka sudah romantisan di jalanan yang sunyi ini, dan aku sendiri di pohon ini, huff... baru sadar jika aku sendiri daritadi karena kepoku ini yang ingin tau apa yang akan mereka lakukan lagi, Jadi seperti penguntit gini deh. baiklah semoga musuh ku yang ini cepat tobat. aku tidak ingin punya musuh sungguh menambah dosa saja jika ingin balas, jika tidak dibalas malah semakin menjadi-jadi menyiksaku." batin lanlan yang baru tersadar akibat keponya.


"papa, mama, dan kakak ku saja menyayangi aku dan bahkan memanjakan aku, bisa-bisanya orang luar ingin menyiksaku. tidak akan bisa dong lanlan dilawan, hihi...!!" geram lanlan yang akhirnya meninggalkan layar besar didepannya menuju ke mobilnya.


kembali ke semula


"kau akan tau nanti"


"bagaimana dengan motor ini" lirih lina yang memandang motor di sampingnya sudah lecet, Ada rasa ketakutan terlihat di wajah nya "sudah rusak begini lil aku harus perbaiki dulu, sebelum ada yang tau aku bisa kena masalah besar setelah kak tia pulang nanti"


Puffh...


Lina yang mendengar suara tawa tertahan lila melirik tajam ke arah lila.


"Apaan si... aku serius lil..."


Lila pun tersenyum tulus


"aku sudah telfon tukang bengkel lina sayang...., karena lanlan yang menyuruh ku tadi nanti akan di bawa ke bengkel untuk di perbaiki. dan lagi... lanlan yang bayar biaya dan memberitahu pegawai lain untuk memakai motor lain untuk pengantaran makanan. karena motor satu nya di bengkel untuk di servis Itulah yang aku dengar dari pegawai lain setelah aku terima telfon dari lanlan"


"....."lagi-lagi lina hanya diam


"kau masih tidak percaya bukan?? semua sudah di rencanakan lanlan. dia hanya ingin berurusan dengan mu saja bukan pekerjaan atau orang lain yang tidak bersalah. kuharap kau mulai sadar untuk berubah dan melupakan rasa dendam mu itu lin"


"....." lina masih betah untuk berdiam diri mendengar namun tidak menjawab.

__ADS_1


"Apa bener seperti itu... Kenapa?? Apa karena kau kasihan dengan ku?? Atau ada hal lainnya, hem..." Lina diam sambil merenungi semua pembicaraan Lila ke dia, Lina sangat yakin jika Lila tidak akan berbohong dengan ucapannya.


"ya sudah sini biar aku bantu, mari kita pulang" senyum Lila yang membuat Lina akhirnya tersenyum juga.


drett...drett...drett...


Lina dan Lila saling memandang dan mencari sumber bunyi itu, Lila melihat ponsel nya namun bukan ponsel nya yang berbunyi, namun tidak berapa lama terdengar suara Lina ynag yang menjawab telfon seseorang.


"Hallo kak tia"


"Ya hallo Lina bagaimana keadaan mu, apa sudah membaik atau masih demam tinggi"


"Demam tinggi...? Siapa??" Guman Lina yang terdiam


"Lina... masih di situ kah? Kak Tia ngomong kok tidak dijawab??"


"Ah... Iy...iya kak, tadi maksudnya kakak apa ya kak??"


"Maksudnya kakak sakit mu sudah membaik belum, jangan di paksakan bekerja nanti jadi tambah masalah. Tadi lanlan sudah menelfon kakak dan kasitau kamu lagi deman tinggi namun masih tetap bekerja. Tidak boleh seperti itu jika sakit izin saja. Kakak kasih kamu libur untuk menyembuhkan diri dua hari cukup Lin??" Jelas Tia panjang


"Lanlan, lanlan, dan... Lanlan lagi, kenapa??, kenapa...Huhu" tanpa diminta air mata Lina pun terjatuh membahasi pipinya.


dengan cepat Lina menghapus kasar air matanya


"Baiklah kak, terimakasih izin nya kak. Dua hari sudah sangat cukup."


"Baiklah kalau begitu kakak tutup telfon nya ya kakak masih ada tugas lain lagi, lekas sembuh ya"


"Ya kak"


Lina terdiam mencerna ucapan Lila yang dari tadi membentak, teriak, marah, dan kecewa bahkan hampir meninggalkan Lina ternyata semua bener. Lanlan hanya berurusan dengan lina saja.


"Kak tia..."


"Terus kenapa kau menangis? Kak Tia marahi mu, atau kak Tia pecat mu, atau kenapa?? Tapi ahk tidak mungkin kan... Kenapa si"


"ya ampun Lil, kau yang bertanya kau pula yang menjawab, Pertanyaan mu itu sudah kaya detektif saja. hem... Tidak ada apa-apa, aku hanya diberi izin libur karena demam tinggi"


"Kan.... Bener kan, kamu si masih juga belum percaya" girang lila yang seneng lina diberi izin untuk istirahat bukan dipecat.


"....."


"Sudahlah ayok pulang"


"Apa aku yang memang keterlaluan Lil? Apa aku yang disini Berhati iblis itu?" lirih lina meminta jawaban seolah ingin di beri jawaban yang memuaskan. sadar lina yang mulai ingin memahami awal pertemuan nya dengan lanlan hingga sekarang.


Lila yang mendengar ucapan Lina keluar dari mulut nya dengan suara lirih seperti meminta jawaban memuaskan, dengan wajah yang sudah di tekut kebawah Lila pun jadi bingung dan sedih.


"Sudahlah... Nanti saja itu di pikirkan asal kau mulai sekarang jangan gegabah lagi. Itu sudah cukup...ayok Lo pulang capek kali aku ajak mu pulang tenggorokan ku kering ini, mu mau jadi zombie disini ha dengan tubuh mu yang begini pucat nya" goda Lila mengalikan pembicaraan.


"Baiklah ayok, Mak rempong mu sudah keluar."


******


Di RS. Murni Hati


"Jony kapan aku bisa pulang, aku bosan melihatmu terus disini"

__ADS_1


"akupun bosan"


"apa kau bilang tadi!!"


"tidak ada kok, kau salah dengar."


"hem..."


"kau tau di posisi aku itu bingung ram, bisa saja kau pulang hari ini karena luka di punggung mu sudah mulai kering, hanya saja kau tau sendiri bagaimana mommy mu itu. jadi jangan salahkan aku dong"


"ya kau pinter dikit gitu cari alasan, aku lama-lama bukan sembuh disini Jon tapi mati bosen lihat mu terus... mu terus..." cerocos ramesh yang keselnya sudah sampai ke ubun-ubun.


"kalau tau dirumah sakit bosan, jangan terluka dong. simple saja kok buat mommy"


Karin yang ingin memasuki ruangan ramesh karena habis membeli makanan di bawah mendengar ocehan anaknya.


"mommy juga, kenapa tidak pulang-pulang dari kemarin. kasihan daddy mom sendiri dirumah. ramesh hanya terluka mommy... bukan mau mati!!, atau mommy beneran ingin ramesh mati??"


TAK...!!!


suara bantingan keras.


Karin membanting kuat makanan yang dibelinya ke meja disamping tempat tidur ramesh hingga membaut ramesh dan Jony terkejut seketika.


"ah... saya permisi keluar nyonya dan tuan muda"


Jony memilih untuk melarikan diri dari amukan nyonya yang jika sudah marah akan marah bagaikan siang kelaparan.


"pergilah!!" suara tajam itu membuat Jony dan Ramesh menelan ludah dengan kasar dan merasa sesak dengan aura yang dikeluarkan Karin sungguh menyekat.


"ya mommy... jangan marah dong nanti hilang Lo cantiknya" ramesh mencoba menenangkan mommy nya namun sulit.


"diam!!" bentak kasar Karin tidak terima ramesh mengucap kata mati pada diri nya sendiri.


Disisi lain


"mommy....!! sungguh mommy kejam sekali dengan daddy ya, berani sekali membiarkan pria tampan ini tidur sendiri hingga pagi. tidak dapat ninght kiss, dan morning kiss juga." gerem riki yang semenjak semalam tidak menemui istrinya di tempat tidur.


"sebenarnya yang suami mu siapa hem... aku atau ramesh mommy" gentarkan gigipun terdengar akibat kesel, marah nya riki sudah sampai ke ubun-ubun.


Riki berbicara sendiri sambil bersiap-siap menuju kerumah sakit.


setelah Riki bangun dari tidur panjang nya, Riki tidak juga menemui istrinya. dikira istrinya masih ada di ruang dapur sehingga Riki ketiduran hingga pagi, saat ditanyain bibi dan sopir juga tidak tau tentang nyonya nya kemana, namun saat di cari sopir satu lagi khusus untuk mommy nya disitu kecurigaan riki dan akhirnya menelfon supir istrinya.


rasa terkejut, khawartir, dan marah pun bercampur aduk menguasai hati dan pikiran nya. bagaimana bisa istrinya pergi tanpa izin suaminya dan tanpa kabar juga mengenai anaknya.


" cepat jalan sekarang!!" perintah Riki ke sopirnya dengan lantang


jarak dari rumah ramesh hingga kerumah sakit cukup memakan waktu yang lama. itu yang membuat riki masih terus gelisah raut wajahnya menjadi kacau memikirkan istri dan anaknya yang tidak menganggap nya ada.


hingga 1 jam sampai lah riki kerumah sakit itu.


BRUK...!!


waduh sangking buru-buru nya hingga menabrak seseorang ni pak Riki terhormat kita 😂 masih penasaran bukan siapa yang ditabrak?


hari ini akan via buat 2 episode yaaa, jadi ditunggu saja yaa 🥰

__ADS_1


Terimakasih dukungan, Liv seneng banget padahal Liv yakin imajinasi liv ini masih rendah karena masih baru juga. namun berkat dukungan manteman Liv seneng.


terimakasih sudah mampir 😘


__ADS_2