
selanjutnya di mulai dari episode ini
banyak kata-kata yang akan berganti.
Dan tidak akan sama dengan episode sebelumnya.
karena dimulai dari sini beberapa peran akan menunjukkan sifat aslinya.
jadi mohon di maklumi ya jika ada kata-kata yang kurang atau belum baik.
_____________________💕____________________
Prang... rang... ng..............
( anggap seperti itu suara nya 😂 )
"Kau... !, Kenapa bisa kau berada disini ha.!," Teriak lanlan sambil Jari telunjuk lanlan menunjuk ke arah ramesh yang duduk dengan santainya.
"Hei pelan kan suara mu, bisa-bisa kamu membentak ku seperti itu, tidak sayang kah kau dengan nyawamu itu" bentak Ramesh yang kesel dengan teriakan lanlan yang membuatnya sakit telinga.
"Nyawa ku bukan ditangan mu, kau pikir kau itu dewa penyambut nyawa ha," balas bentakan lanlan dengan tatapan mata membunuh, tangan nya menurun dan melipat kan kedua tangannya didada.
"Singkirkan tatapan mata mu itu, sebelum mata mu ku congkel sekarang juga.!" Ramesh akhrinya berdiri dan berjalan mulai mendekati lanlan.
Namun tiba-tiba...
"Bos, ada apa saya mendengar ada suara yang sangat keras berasal dari dalam" ujar zanli yang langsung memasuki ruang ramesh karena takut terjadi apa-apa dengan ramesh.
"Siapa yang menyuruh gadis barbar ini masuk ke ruangan ku, dan makanan yang aku pesan tadi kenapa masih juga belum sampai.!" Bentak ramesh ke zanli yang membuat lanlan sedikit mencerna ucapan pria di depannya.
"Maaf bos, saya sudah memesannya seharusnya sudah tiba bos," zanli menghirup aroma makanan dan melihat tumpahan makanan dan pecahan piring yang sudah berserakan ada dibawah lantai zanli sedikit berfikir.
"Nona, apakah nona yang disuruh untuk membawa kan makanan ke ruang ceo.?" Tanya zanli ke lanlan dengan intens nya.
" Ya saya disuruh, karena terpaksa saya harus menggantikan waiter yang izin. Malah ketemu dengan pria brengsek ini, sunggu sial hari ku" kesel lanlan menatap tajam ramesh dengan wajah yang sudah memerah karena amarah lanlan yang sudah meninggi.
"Hem... Tidak ku sangkah dia bekerja di perusahaan ku, menarik" guman Ramesh dengan senyuman licik nya.
" Jadi nona yang disuruh untuk mengantarkan makanan ke ruang ceo?" Jawab ulang zanli untuk memastikan.
Lanlan yang di tanya dua kali pun jadi bingung dan menjawa dengan anggukan kepala.
"Nona yang saat ini di depan nona, dia lah CEO yang meminta makanan untuk di antar nona" penjelasan dari zanli membuat amarah lanlan mendadak menurun dan menjadi ciut namun dihiraukan lanlan dan langsung bersikap biasa saja.
" Dia" sambil jari lanlan menunju ke arah ramesh, " CEO..., Hahaha" tawa lanlan tanpa sengaja karena merasa lucu saja seorang ceo bisa berada disini.
Setelah lama lanlan tertawa, lanlan merasa ada yang salah dengan pemikiran nya.
"CEO..., Ceo baru yang dibilang ka tia, ceo baru yang meminta di antar kan makanan, dan ceo pemilik perusahaan x1 dong." Guman panjang lanlan yang sudah memahami situasi.
" Gawat aku dalam bahaya besar" wajah lanlan sudah mulai menunduk, karena dilihat nya piring dan makanan sudah berantakan lanlan berusaha jongkok, namun langkah kaki pria didepannya itu berjalan semakin mendekat.
" Kenapa sekarang kau jongkok? Apa kau sudah menyadari kesalahan mu?" Tanya Ramesh yang semakin mendekat ke arah lanlan.
Namun lanlan tetap diam, tetap membersihkan sisa makanan yang tertumpah dan mengambil beberapa pecahan kaca, dan...
Ahk.....
Jerit pelan lanlan, namun tetap di lanjut kan untuk mengambil sisa pecahkan kaca sedikit lagi agar bisa cepat keluar dari ruangan neraka itu.
Bener saja, ini yang ke dua kali nya lanlan MALU. Pertama salah naik taksi, dan yang kedua salah orang 😂.
Ramesh yang melihat tetesan merah di lantai ikutan menjongkok dan betapa terkejutnya Ramesh melihat sudah banyak luka di tangan lanlan namun masih setia mengambil pecahan gelas itu.
"Apa kau sudah gila, membuat tangan mu sendiri berdarah. Dan pada akhirnya semua karyawan akan mengira saya yang melukai mu, begitu" bentak Ramesh yang langsung menghentikan tangan lanlan dan memegang nya erat.
"Apa peduli mu, jika aku tutup mulut dengan rapat tidak akan ada yang tau masalah luka di tangan ku. Dan kau tidak perlu takut akan hal itu" lanlan menghempaskan tangan ramesh dan mengambil ulang pecahan kaca tersebut.
"Zanli siapa menager di resto" teriak Ramesh ke zanli yang pastinya di dengar oleh lanlan.
"Gawat aku sudah berjanji ke kak tia untuk berusaha tidak membuat masalah, gawat... gawat... gawat...apa yang harus aku lakukan? Oh pa, ma tolonglah lanlan saat ini." guman lanlan di tengah teriakan ramesh.
"Maneger di resto itu bernama ti..." Suara lanlan memotong zanli menjawab pertanyaan Ramesh.
"Buat apa kau memanggil manager ku, jangan bawa dia dalam masalah ini. Disini aku lah yang salah." Dan tetap melanjutkan mengambil pecahan kaca.
" Bagus, sekarang aku tau kelemahan nya, guman Ramesh''
" Jika kau tidak berhenti mengambil pecahan kaca itu, sekarang akan ku pecat semua yang ada di dalam resto sekarang juga" teriak Ramesh yang sudah tidak bisa menahan amarahnya melihat darah segar yang terus menerus keluar dari tangan mungil lanlan.
Lanlan pun menghentikan kegiatan nya.
Dan mulai berdiri.
" Panggil orang untuk membersihkan ruang ini, dan kau ikut aku sekarang.! Bentak Ramesh namun lanlan tetap pada tempatnya tidak berjalan sedikitpun.
Ramesh yang sudah berjalan tidak mendengar langkah kaki selain langkah kakinya pun akhirnya melihat ke belakang dan bener saja lanlan masih setia berdiri ditempat nya.
Dengan berjalan cepat ramesh menghampiri lanlan dan menggendong nya ke ruang private ramesh di dalam kantor nya.
" Hei kau, lepaskan aku dasar brengsek, jelek, hidup lagi.! " Kata-kata yang keluar dari lanlan sama sekali tidak dihiraukan ramesh namun zanli menatap tidak percaya perlakuan ramesh terhadap lanlan.
Dan lagi membawa orang luar ke ruang private seorang ramesh itu sungguh langkah.
"Duduk..! jika kamu berani berdiri sekarang juga saya bisa memecat menager mu yang tidak becus memilih pegawai ceroboh seperti mu." Ramesh pun berjalan mengambil kotak p3k dan mulai berjongkok, sedangkan lanlan mengikuti perintah ramesh untuk tetap duduk.
"Ka..kau... Mau apa kau, ha" ujar lanlan yang mulai sedikit ketakutan karena tadi ramesh membentak lanlan dan sekarang berjongkok tepat di depannya.
Namun ramesh tidak lagi menjawab pertanyaan lanlan, dan hanya memilih diam.
Ramesh pun mengobati lanlan dengan lembut, membalutnya dengan hati-hati.
"Sungguh gadis yang keras kepala"guman Ramesh
"tadi membentak ku, sekarang mengobati, besok mau apa lagi coba,? paling besoknya aku dibunuh. sayang sekali wajah pengeran ku harus di kuasai oleh iblis ini" guman panjang lanlan sambil menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"Terimakasih" ujar lanlan setelah ramesh selesai membalut lanlan.
"Kau pikir cukup dengan kata terimakasih mu itu, hari ini saya sudah sangat lapar, kamu seenaknya membuang makanan yang sudah saya pesan, menurut bagaimana cara saya memperlakukan mu? Apakah saya harus memecat manager bodoh itu atau seluruh pegawai resto?" Tanya Ramesh dengan tatapan menyelidik ke arah lanlan,
Lanlan pun berfikir sejenak.
"Tidak, aku gak mau jika karena aku mereka di pecat apalagi kak Tia, kak Tia selama ini yang memberiku kepercayaan dan baik padaku, aku harus apa?" Lanlan bener-bener gelisah.
"Baik saya akan siapkan makanan mu yang baru sekarang, apakah puas?" Tanya lanlan memberikan pendapatnya.
"Tidak cukup puas, saya mau jika saya memesan makanan kamulah yang antar makanan itu mulai besok langsung ke ruangan saya. paham.!" Perintah tegas ramesh yang langsung di anggukan lanlan.
"kalau begitu saya permisi sekarang" jawab pasrah lanlan dan melangkah kaki nya ingin keluar dari ruang private ramesh, namun tangan nya langsung di cekal oleh ramesh.
"Kau, temani lah aku makan" perintah ramesh yang langsung diberi tatapan tajam oleh lanlan.
"Jika kau menol..." Langsung dipotong oleh lanlan.
"Ya baiklah saya temani, hu, dasar SUCAM." kesel manyun lanlan.
"Sucam??... Menaikan kedua alisnya dengan tatapan seperti orang bodoh. Lanlan yang melihat ramesh dengan tatapan bodohnya" haha" lanlan pun tertawa kecil.
"SUKA ANCAM, itu kata yang ku buat sendiri." Lanlan pun menjelaskan arti dari kata itu.
"Wah kau semakin berani ya, ingat saya itu bos kamu disini jadi bertidak lah sesuai posisi mu"balas ramesh yang tidak suka dengan sebutan itu.
Lanlan pun terdiam karena memang bener apa yang di katakan ramesh.
Ramesh memanggil zanli dan menyuruh menyiapkan makanan untuk dua orang.
Zanli mengerti dan langsung menjalankan tugasnya.
Setengah jam kemudian pesanan ramesh pun tiba, dan Membawanya keruangan private milik ramesh.
"Kenapa bisa dua porsi begini?." Tanya lanlan
"Kan aku suruh kau untuk menemaniku makan"jawab enteng ramesh
"Ya menemani yang menemani dong ini namanya makan bersama bukan menemani" ketus lanlan
"Apa bedanya itu sama saja, makan...!" Perintah Ramesh
"Gak mau,!" Jawab ketus lanlan memalingkan muka nya.
"Apa perlu ku suap" goda ramesh yang mulai gemes melihat tingkah lanlan.
"Aku gak mau ya gak mau, lagian tidak ada kuah juga disini aku gak mau"jawab mayun lanlan
Ramesh keluar dan menyuruh zanli untuk mengambil beberapa sup terbaik di resto
Dan beberapa menit kemudian tibalah sup ayam, sup sapi, dan sup ikan yang di pesan oleh ramesh.
"Kau beneran mengambil kuah ini untuk ku," tanya lanlan yang tidak percaya dengan tingkah ramesh yang bisa berubah dengan cepatnya.
Berusan saja marah seperti singa yang haus darah sekarang... Sungguh berbeda
"Tidak usah, ini saja." Ucap lanlan dengan mata berbinar-binar melihat banyak nya kuah dengan berbagai rasa sudah ada didepan mata, karena memang lanlan belum makan dan waktu makan siang pun sudah lewat.
Melihat lanlan yang kesusahan mengambil beberapa makanan, ramesh pun membantu lanlan, lanlan tanpa sadar menerima suapan dari ramesh dengan wajah yang sudah di penuhi makanan, wajah dingin dan galak lanlan berubah sangat cepat menjadi Seperti anak yang senang mendapatkan mainan baru.
Ramesh seneng lanlan terima suapan nya, dan teringat cara makan lanlan waktu berada di pesta.
"Kak, tolong dong itu mangkok nya arahin ke mulutku" pintah lanlan yang tanpa sadar menyuruh ramesh karena yang di pikiran lanlan dia lagi makan bersama kakak nya Daffa.
Daffa terkadang masih sering menyuap lanlan untuk makan, karena lanlan sebenernya tipe orang yang susah makan jika tidak sesuai dengan seleranya.
Ramesh hanya mengikuti ucapan lanlan, mengangkat mangkok tapi masih belum mengerti kemana mangkok itu harus di Tarok.
"Iss... Kakak ini" dengan tangan mungil lanlan yang di balut tadi dan dengan cepatnya memegang tangan ramesh yang juga memegang mangkok dan menuntun kearah wajah lanlan.
Gluk...gluk... gluk...
"Hem..nyam nyam... Enak kak." Dengan senyum termanis lanlan, terlihat lah wajah cantik alami lanlan karena bahagia bisa makan sesuai dengan seleranya.
Ramesh yang menyaksikan lanlan masih membatu, menatap yang didepan nya tidak percaya,
Gadis galak yang didepannya sunggu sangat menggemaskan, gadis yang tidak punya malu makan bukan pakai sendok tapi malah langsung main minum dari mangkok.
"Sungguh langkah" pikir ramesh
ramesh kagum melihat wajah dan senyuman natural dari lanlan, jantung ramesh mendadak berdetak tidak karuan.
"ini jantung mengganggu saja, lagi asik melihat Dewi malah berdetak sangat cepat begini, berhenti dong, hu..." kesel ramesh menggangu moment melihat pemandangan gratis.
Setelah lanlan selesai meminum kuah yang langsung dari mangkok akhirnya melihat ke depan dan terkejut yang didepan bukan kakak nya namun pria sombong yang tidak disukai lanlan.
"Kau, kenapa kau bisa disini?" Tanya lanlan yang masih tidak sadar.
" Hai kau..., Malah bengong lagi.!?" Ujar ulang lanlan yang melihat ramesh tidak menjawab.
Ramesh yang di panggil akhrinya sadar...
" Apa yang tadi kau bilang barusan,?" Ujar Ramesh
"Kau, kau kenapa bisa disini?" Balas lanlan yang masih saja belum sadar akibat kekenyangan .
"Apa kau tidak bisa lihat ini dimana?" balas ramesh dengan entengnya.
Lanlan yang mendengar Ramesh pun
akhirnya melihat di sekelilingnya, ruangnya yang belum pernah dilihat. mewah dan besar.
"Ini... Ini dimana?" Guman lanlan
"kau kenapa kau membawa ku ke hotel" tanya lanlan yang melihat ruangan mewah dan besar itu seperti hotel.
__ADS_1
"hahaha, tawa ramesh yang membuat lanlan menatapnya penuh dengan tanda tanya.
"ini bukan hotel, tapi jika kamu mau aku bawah ke hotel si ya gpp kok" ujar ramesh menjelaskan sekalian menggoda lanlan.
"iss... kau dasar mesum" bentak lanlan dengan wajah yang sudah merona mendengar kata-kata yang menurut nya gila
"Aduh gawat kenapa bisa lupa aku kan tadi makan bersama pria sombong ini, bukan bersama kakak, gawat... gawat... Hancur sudah namaku" ingatan lanlan yang sudah mulai kembali
Wajah nya memerah, menahan malu tertangkap oleh mata Ramesh. Ramesh yang melihat pun tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Lanlan berdiri, dan mencari jalan untuk keluar tidak menghiraukan lagi yang ada didepan nya. Karena sunggu memalukan.
Bener-bener memalukan untuk yang ketiga kali nya lanlan bertidak ceroboh lagi didepan orang yang sama.
"Ais... Bagaimana ini mau ditaro dimana muka ku, ini sudah ketiga kalinya MALU pada orang yang sama" guman lanlan yang berjalan menuju ke resto.
Setiba nya lanlan di resto semua pegawai lain nya sudah mempersiapkan diri untuk pulang.
Lanlan menuju kebelakang mengambil ponselnya dan memintak sopir untuk menjemput.
1 jam kemudian
lanlan di kamar dan sudah berganti pakaian piyama tidur.
Lanlan masih gelisah, tidak bisa tidur memikirkan kejadian hari ini yang baginya sunggu Sangat memalukan.
Akhirnya dia mengambil ponsel nya dan meminta izin ke kak tia untuk tidak masuk bekerja besok.
Sedangkan ramesh, masih setia dengan bibir nya yang senyum-senyum sendiri.
Sesampainya dirumah senyum itu belum juga luntur.
Zanli, riki, dan karin yang melihat ramesh tersenyum bergidik ngeri, karena ramesh memang orang yang jarang dan sangat jarang bisa tersenyum.
Keesokan Harinya
"Pesan lagi makanan dan juga beberapa kuah untuk makan siang nanti" perintah ramesh yang langsung di mengerti zanli.
Beberapa menit kemudian
"Zanli kenapa dia yang antar makanan ke ruangan ku" tanya ramesh menunjuk ke seorang waiter yang memang biasanya untuk mengantarkan makanan.
"maaf bos , sebenarnya dia lah yang selalu di tugaskan untuk mengantar makanan keruang bos ataupun yang lain" jawab gugup zanli
"Kamu keluarlah sekarang" perintah ramesh ke waiter tersebut.
"Dan kau zanli aku mau yang antar makanan wanita kemarin bukan dia atau siapapun, panggil dia sekarang ke ruangan ku" Bentakan Ramesh membuat zanli semakin gugup hingga ketakutan.
Zanli dengan cepat menelfon resepsionis resto dan menanyakan gadis yang antar makanan kemarin.
Yang tidak lain adalah dartin
Dartin pun menjelaskan bahwa hari ini lanlan tidak masuk bekerja.
"Bos wanita yang di maksud bos hari ini tidak masuk bekerja bos" masih dengan gugup nya zanli memberitahu ramesh.
"Minta dia sekarang untuk masuk, dan saya tidak mau tau jika hari ini dia tidak ada di ruangan saya, maka restoran itu hari ini juga saya tutup" teriak keras ramesh dengan wajah yang sudah memerah menahan amarahnya yang sudah meninggi
"Kau mau kabur kemana, kau yang sudah membuatku gila hari ini, jadi bertanggungjawab lah gadis galak" guman frustasi ramesh yang semakin kesel dengan lanlan yang mengikarkan janjinya.
Drett...drett....drett...
Drett... Drett... Drett... Drett...
"Hoammm...., ais...Siapa si masih pagi juga sudah mengganggu ketenangan orang saja" teriak kesel lanlan yang berusaha mengambil ponsel di sekitar tempat tidur lanlan.
Tanpa melihat nama yang ada di layar.
"Hallo ini siapa" jawab ketus lanlan dengan suara serak nya
"Lanlan ini kak Tia sudah siang masih juga tidur, restoran kita akan ditutup hari ini juga." Ujar Tia yang sudah kebingungan dan khawatir karena tiba-tiba mendapat kabar resto akan di tutup.
"Ohhh... Ya sudah hanya itu saja kan harus ya nelfon berkali-kali gini." Jawab lanlan
"Lanlan....!?" Teriak Tiara dari sembarang telfon yang membuat telinga lanlan sakit dan akhir nya mulai sadar karena suara tadi adalah suara manager yang sangat di segani lanlan.
"Maaf kak tia, maaf... Ada apa tadi ya kak Tia?" Lanlan membernarkan posisi nya hingga duduk dan fokus.
" Restoran kita lan, resto kita akan di tutup hari ini ji..." Suara lanlan langsung memotong Tiara yang belum selesai bicara.
"Apa!!" Teriak lanlan yang membuat sakit telinga tiara
"Lan kak Tia belum selesai ngomong nya main potong-potong saja, kamu cepatlah ke resto sekarang, atau kamu beneran mau resto kita ditutup" Tiara mencoba berbicara yang mudah untuk di mengerti lanlan agar lanlan pun bisa segera ke resto .
"Kak tapi kan lanlan sudah izin, tanpa lanlan pun kalau memang resto tutup ya di tutup kak" jawab lanlan dengan enteng nya.
"Resto tutup tidak ditutup nya kamulah yang tau lan, kakak berharap kamu bisa bertindak bijak kamu juga tau berapa banyak pegawai di resto kita jika resto tutup bagaimana dengan mereka? Harapan Resto untuk sekarang ada di kamu lan" Tiara langsung mematikan telfonnya, Tiara berharap dengan kata-kata terakhir nya tadi membuat lanlan mengerti.
"Tapi kak... Hallo ... Hallo kak"
Ais... Apa urusan nya resto dan aku si, perasaan aku bukan pemilik resto itu" guman lanlan yang masih berfikir.
Pemilik resto,... Lama lanlan berfikir...
"Aduuh.... sialan ini pasti ulah si ceo sombong itu, gak bisa buat hari ku tenang ya, awas saja!." Kesel lanlan yang bersiap diri untuk berangkat ke restoran x1.
Di Restoran
Lanlan yang sudah tiba di perusahaan x1 bukan langsung ke resto, namun langkah kaki lanlan langsung menuju lift ke ruangan Ramesh.
Tanpa basa-basi lagi lanlan langsung menuju ruangan ramesh dan mendobrak ruangan ramesh yang masih tertutup, masih dengan pakaian dari rumah lanlan karena lanlan tidak mengganti pakaian resto.
Bruuuak...
terimakasih sudah mampir 😘
__ADS_1
❤️ salam manis dari author ❤️