Young Money

Young Money
Part 11


__ADS_3

"Hai Do! " sapa Bela ramah saat Aldo masuk ke kosnya. "Tumben mampir? Mau di puasin atau apa? "


"Aku mau nikah, Silvia hamil." Ucap Aldo memberi tahu Bela.


Bela langsung membelalakkan mata, bibir sexynya juga langsung menganga tak percaya. Aldo yang baru seminggu pacaran dengannya dan baru saja merenggut keperawanannya ini benar-benar membuat hatinya hancur. Bela tak menyangka bila Aldo yang berjanji untuk segera memutuskan hubungan dengan Silvia malah akan melanjutkan hubungan lebih serius dengannya. Bela langsung menangis sejadi-jadinya sambil menampar dan memukuli Aldo.


"Kamu bilang mau mutusin Silvia ! Kenapa sekarang malah kamu mau nikah sama dia?! " tanya Bela sambil menjerit histeris.


"Maaf... Tapi Silvia sudah terlanjur hamil dan yang di rahimnya sudah jelas anakku..."


"Kenapa kamu kasih harapan palsu ke aku? Kenapa kamu lambung kan aku tinggi-tinggi kalo akhirnya kamu hempaskan gini? "


Aldo hanya diam mendengar makian demi makian Bela. Ia benar-benar tak menyangka bila Bela mencintainya lebih dari yang ia kira. Dari awal Aldo memang hanya memainkan perasaan Bela, bahkan saat bercinta ia tak memakai cinta. Hanya sekedar crot dan pergi. Bahkan Aldo baru tau bila ia pria pertama yang bercinta dengan Bela saat Bela memarahinya sekarang. Aldo juga tak menyangka Bela yang ia anggap hanya ayam kampus ternyata mencintainya dengan tulus dan hanya bertingkah jalang di depannya.


"Maaf... " hanya kata maaf yang bisa di ucapkan Aldo sambil memeluk Bela yang menangis sakit hati.

__ADS_1


●●●


Pernikahan Andin dan Bimo akhirnya berlangsung. Orang tua Andin datang, juga keluarganya. Setelah akad nikah yang mengharukan dan resepsi yang melelahkan. Akhirnya Andin resmi menjadi istri dari Bimo. Setelah mengobrol tadi di acara yang pernikahan dengan canggung, Andin dan Bimo juga sudah mengantar bu Tuti kembali ke rumah sakit. Andin mulai tinggal serumah dengan orang tua Bimo.


"Ini kamarku, aku gak nyiapin kamar pengantin." Ucap Bimo sambil membukakan pintu kamarnya untuk Andin dan menunjukkan isi kamarnya. "Itu tempat kerjaku, buku koleksi ku, kamar mandi di dalam, kalo haus ada dispenser juga di sini, buah juga." Bimo membuka kulkas mini di bawah dispensernya. "Kamu boleh pakek semua yang di sini, selama kamu rapiin lagi. Em... Jangan jorok, jangan buang sampah sembarangan, aku ada dua tempat tidur kalo kamu gak mau tidur sama aku. Oh iya jangan berisik kalo aku lagi kerja. Ada pertanyaan? "


"Kamu kerja apa? " tanya Andin lalu duduk di atas sofa panjang atas ranjang Bimo sementara Bimo mencari kasur di bawah ranjangnya.


Loh kok gak ada? Batin Bimo bingung dan langsung keluar kamar begitu saja.


Andin masih diam, tak tau harus bagaimana atau harus bersikap bagaimana. Badannya benar-benar lelah, apalagi ini kali pertamanya ia berdiri berjam-jam. Untung ia tak langsung berhubungan intim, Andin tak bisa membayangkan bagaimana jadinya ia kalau ia langsung bercinta sekarang.


"Kasurku di pindah, nanti aku mau kerja jadi kamu istirahat aja... " ucap Bimo begitu masuk kamar.


"Aku tidur di sofamu aja, kamu capek kan mas? Tadi kamu bilang mau langsung tidur kan? " Andin langsung pindah ke sofa dekat pintu dan membuka kopernya lalu mengeluarkan peralatan mandinya. "Aku mau bersihin muka dulu... "

__ADS_1


Bimo hanya mengangguk lalu membuka lemarinya, mencari selimut lain untuk Andin. Bimo bahkan menyiapkan sofa untuk Andin tidur nanti atau dirinya. Bimo sebenarnya juga sudah sangat ingin mandi, membersihkan wajahnya kalau saja Andin tidak lama di kamar mandi. Sampai akhirnya Bimo memilih memakai kamar mandi luar karena Andin yang terlalu lama. Saat Bimo masuk kamar setelah mandi pun Andin masih di kamar mandi tanpa ada suara air.


"Andin? " panggil Bimo di depan pintu kamar mandi.


"Iya mas. " Saut Andin dari dalam.


"Masih lama? "


"Ini udah kok cuci mukanya... Mau ganti baju susah... "


Mendengar jawaban Andin yang cukup mencurigakan Bimo langsung masuk ke kamar mandi. Andin cukup terkejut dan refleks menutupi dadanya dengan tangannya meskipun gaunnya bahkan belum terlepas, dengan tenang Bimo membantu Andin membuka lesreting dan kancing gaun Andin yang tak ada habisnya ini.


Andin hanya menundukkan wajahnya sambil menutupinya dengan kedua telapak tangannya. Terlalu intim dan memalukan kondisinya saat ini. Hanya berpose mesra tadi saat pernikahannya saja masih membuatnya malu dan canggung. Di tambah sekarang ia yang tak bisa melepas gaunnya, ini terlalu bodoh dan memalukan.


"Aw! " pekik Andin saat Bimo menekan memar di punggungnya.

__ADS_1


"Ini memar? Ku kira ******... " ucap Bimo.


"Iya memar, ke lempar batu... " jelas Andin sebelum Bimo berfikir yang tidak-tidak.


__ADS_2