
Coba gue kenal duluan sama Andin. Dah gue nikahin sejak lama! Beda jauh bener dari Silvia. Kalo gak bunting gak gue nikahin lo! Batin Aldo sambil menatap Silvia yang bergelayut manja padanya.
"Iya Mas. Wa'alaikumsalam..." ucap Andin lalu menyudahi teleponnya.
"Udah yuk pulang! " ajak Silvia lalu berjalan ke mobil sementara Aldo tengah membayar makan siang mereka.
●●●
Andin langsung tidur di sofanya begitu sampai rumah. Kamarnya juga langsung ia tutup dan kembali memakai dasternya menunggu Bimo pulang.
Aldo yang masih ingin memandangi Andin perlahan mengendap-endap berjalan ke kamar Bimo. Hasratnya benar-benar menggebu untuk bisa menemui Andin lagi. Aldo benar-benar ingin menemui Andin, meskipun Silvia bilang untuk menunggu di ruang tamu saja. Perlahan tangannya memegang gagang pintu kamar Bimo dengan gugup dan sedikit gemetar, ini pertama kalinya ia berhasrat mengintip wanita yang jelas istri orang.
"Kamu ngapain?" tanya Silvia begitu keluar kamar pada Aldo.
Aldo langsung membelalakkan matanya cukup terkejut langsung kepergok begini.
"Loh ku kira ini kamarmu. Baru mau di kagetin," jawab Aldo gugup lalu merangkul Silvia.
"Aih kamu ini... Ada-ada aja," Silvia sama sekali tak curiga pada apa yang akan di lakukan Aldo dan hanya menganggapnya sebagai surprise yang gagal.
Bukannya Aldo dah tau mana kamarnya Silvia. Batin Bimo heran saat tak sengaja menguping pembicaraan Aldo dan Silvia.
"Loh Kak dah pulang? " sambut Silvia saat melihat Bimo dengan tote bag dari penerbitannya.
Bimo hanya menatap tajam Aldo lalu Silvia. Bimo jelas masih tak merestui hubungan Silvia ini, hanya pacaran saja Bimo sudah tidak suka. Apa lagi menikah karena hamil duluan dan yang makin membuat Bimo kesal karena ia tak bisa mengatakan kebenaran yang ada demi menjaga nama dan perasaan adiknya.
__ADS_1
Bimo langsung masuk ke kamarnya dan melihat Andin yang tengah tidur siang di sofa. Beberapa buku masih berserakan di lantai, tidak terlalu berserakan hanya saja Bimo suka sesuatu yang benar-benar rapi.
"Mas? Udah pulang," ucap Andin yang bangun karena mendengar langkah kaki Bimo di kamarnya.
"Aku tadi ke percetakan dapet ini," ucap Bimo yang langsung memamerkan novel barunya.
"Ya Allah! Kok bisa dapet Mas? Ini loh belum rilis!" pekik Andin yang langsung meraih buku di tangan Bimo.
"Kok kamu tau?"
"Aku ngikutin IG penerbitannya, ini baru rilis bulan depan. Hebat! Kok bisa dapet?" Andin langsung menciumi buku baru tersebut, menghirup aroma buku baru yang membuatnya senang. "Ya Allah! Ada tanda tangannya! Kamu dapet dari mana Mas? "
Bimo hanya tersenyum melihat Andin yang begitu senang. Ia tak menyangka bila Andin benar-benar mengaguminya. Bahkan Andin langsung menangis haru saat melihat tulisan "untuk Andin" dalam tanda tangan tersebut.
"Aku seneng," jawab Andin lalu menyeka air matanya sambil tersenyum.
"Ahahahaha Andin... Andin..."
"Makasih ya Mas."
Bimo tak pernah merasa benar-benar bisa membuat seorang wanita bahagia sampai terharu selain tokoh di naskahnya dan kini ia benar-benar merasakannya. Baru kali ini Bimo merasa sukses bersikap romantis pada seorang wanita hingga ia ikut berdebar.
"Kita bikin list biodata sama ceritakan tentang diri masing-masing yuk!" ajak bimo lalu mengambilkan kertas dan bolpen untuk Andin yang mulai membaca kata pengantar.
"Ck! Ku kira masih bujang. Ternyata dah nikah," gumam Andin tak mempedulikan ajakan Bimo.
__ADS_1
"Kenapa?" Bimo memberikan kertas dan bolpennya pada Andin.
"Dia udah nikah ternyata. Pantesaan aja tulisannya bikin baper terus..." jawab Andin murung lalu menerima kertas dari Bimo. "Jadi aku harus ngisi gimana ?"
"Deskripsikan aja dirimu..." Bimo ikut duduk di samping Andin. "Kalo ternyata Ten Ayashi itu suamimu gimana?"
"Hahaha ya gak lah, kan aku dah punya suami," Andin langsung menundukkan pandangannya setelah tertawa keci lalu menerima kertas dari suaminya.
Bimo langsung duduk di meja kerjanya sementara Andin mulai menulis dengan beralaskan buku di sofanya. Beberapa kali Bimo menatap Andin sampai akhirnya ia hanya menatap Andin, memperhatikan wajahnya, rambutnya, bahunya, pinggangnya, sampai ekspresinya saat sedang menulis. Cantik, hanya kata itu yang terbersit di kepala Bimo.
"Mas, kalo udah terus gimana?" tanya Andin lalu menatap Bimo.
"Eh? Em yaudah kasih ke aku," jawab Bimo kaget.
"Oke, kurang dikit kok."
Bimo hanya mengangguk lalu mulai menulis deskripsi tentang dirinya. Shit! Kepalaku kosong! Isinya cuma Andin! Batin Bimo yang bingung akan mulai dari mana.
"ASTAGFIRULLAH!!! SILVIAAA!!! " suara jeritan bu Alin terdengar begitu nyaring. Tak lama suara tangis histerisnya.
Bimo dan Alin langsung berlari tergesa-gesa keluar kamar menuju ke kamar Silvia yang terbuka lebar. Bimo langsung menahan Andin agar tetap jauh dari kamar Silvia, tak lama suara barang-barang dari kamar Silvia yang di banting bu Alin terdengar bahkan beberapa sampai terlempar keluar.
Andin hanya mundur dan kembali masuk ke kamar sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya saat melihat mertuanya tengah marah besar. Suara tangis Silvia juga terdengar meraung-raung. Sampai akhirnya suara itu terhenti dan berganti dengan jeritan Silvia dan Bimo, Andin masih di kamar sampai akhirnya suara ambulan terdengar.
Ya Allah semoga semua baik-baik saja. Batin Andin yang hanya bisa berdoa.
__ADS_1