Young Money

Young Money
Part 15


__ADS_3

"Capek? Adek nendang? Udah aja... " pinta Bimo khawatir saat melihat Andin mengelus perut.


"Enggak mas, gapapa... " jawab Andin lembut lalu mengecup pipi Putri dengan gemas.


Tetap saja, apapun yang Andin bilang rasanya Bimo hanya akan menuruti apa yang ada di kepala dan hatinya yang hanya ingin memanjakan Andin. Bimo tetap saja meminta pembantu untuk menggantikan pekerjaan istrinya, lalu memintanya untuk duduk santai sambil mencicipi hidangan yang ada.


Silvia jelas sangat kesal dengan apa yang di lakukan kakaknya pada Andin. Bahkan melihat Putri yang jauh lebih bahagia saat bersama Andin dari pada bersamanya membuatnya sangat kesal. Silvia merasa tak adil dengan segala yang ia alami saat ini. Benci, marah, dan dendam juga segala emosinya yang tak seharusnya di luapkan pada Andin tetap ia luapkan tanpa rasa bersalah.


Berkali-kali ia menyuruh Andin melakukan ini dan itu mengambilkan ini dan itu tiap kali Bimo tak di sampingnya. Apa lagi Putri juga sudah tidur di kamarnya jadi Silvia merasa lebih bebas lagi untuk memerintah Andin.


"Loh! Mbak Andin ngapain nyingkirin piring? Nggak usah bersih-bersih mbak, biar Bibi saja... " ucap pembantu di rumah yang menegur Andin.


"Iya Bi... Tolong ya... " jawab Andin lembut sambil tersenyum.


"Udah mbak Andin di depan aja, nanti Bibi yang di marahin mas Bimo ..." pinta Bibi pada Andin, yang di angguki Andin.


Andin akhirnya duduk di samping suaminya, meskipun tak selang lama Silvia mengganggu dan menyingkirkannya lagi. Meskipun sesi do’a dan ceramah tadi di lalui tanpa gangguan. Rasanya Silvia tetap tak rela bila kakaknya berduaan dengan istrinya.

__ADS_1


"Mas, aku mau ke kamar ya... " pamit Andin sambil menyeka keringat di keningnya.


"Panas ya? Mau di temenin? " tanya Bimo lalu membantu istrinya bangun dan mengantarnya ke kamar.


●●●


Bimo terus memandangi istrinya yang tampak lelah, sambil mengelus perutnya dengan lembut. Andin juga hanya memejamkan matanya meskipun tidak benar-benar tidur, sambil membiarkan suaminya yang mengelus perutnya atau memijat kakinya tanpa di minta.


"Capek ya bumil ?" tanya Bimo pada istrinya.


Andin hanya tersenyum lalu menggeleng dan menatap suaminya.


Andin hanya terkekeh sambil menggeleng.


"Dih ketawa... " ucap Bimo terpotong dengan suara piring yang pecah.


Tak lama terdengar suara cekcok Silvia dan seorang pria, yang tak lain adalah mantan suaminya. Bimo langsung keluar kamar, meninggalkan istrinya yang ikut panik. Tak selang lama suara tangis Putri terdengar begitu nyaring.

__ADS_1


Andin langsung keluar kamar dengan tergopoh-gopoh. Terlihat Aldo yang sudah menggendong Putri secara paksa di tengah suasana panas pertengkarannya dengan Silvia.


"Jangan neror gue! Apalagi istri sama keluarga gue! Masalah lo cuma di ni anak kan? Oke gue ambil! " ucap Aldo sambil menuding-nuding Silvia.


Silvia dan Aldo terus cekcok, maki dan menampar. Sampai akhirnya Andin maju dan mengambil Putri dari gendongan Aldo.


"Biar aku saja yang asuh... " ucap Andin lalu mundur perlahan ke belakang suaminya.


Bimo hanya mengangguk pelan lalu menatap ke sekelilingnya dengan serius. "Masalahnya cuma karena kalian gak mau ngasuh Putri kan? Sekarang aku sama Andin yang ngasuh. Kalian bebas gak punya tanggungan! " ucap Bimo dengan nafasnya yang menggebu dan tangannya yang terkepal menahan emosi.


"Harusnya aku nikahin Andin dari pada kamu!" ucap Aldo sinis pada Silvia.


Andin langsung menyembunyikan wajahnya dalam dekapanya pada putri yang masih menangis kencang.


Bimo yang sudah siap menghajar Aldo langsung di tahan Andin yang menggenggam tangannya lalu menariknya agar mundur selangkah.


"Masalahnya sudah selesai... Ayo ke kamar Mas, aku capek... Putri juga kepanasan di sini... " lirih Andin lembut.

__ADS_1


"Gimana rasanya ya punya adek ipar orang gila kayak Silvia? " sindir Aldo ambigu lalu berjalan keluar. "Ah iya... Jangan ganggu kehidupanku... " sambungnya lalu pergi meninggalkan tempat bahagia yang baru saja di hancurkannya.


__ADS_2