
●●●
Selama hampir seminggu bahkan persiapan akikah sudah di laksanakan, silvia masih tak mau menyentuh dan melihat bayinya. Bahkan ia menamainya secara acak. Putri, hanya itu yang terlintas di kepalanya. Karena jenis kelamin anaknya perempuan. Hanya itu.
Tapi sayang, saat hari akikah putrinya berlangsung Silvia menghilang entah kemana. Hilang begitu saja. Tak bisa di hubungi lagi, hanya pesan singkat yang di kirim ke ayahnya saja pesan terakhirnya saat dini hari.
Dan tak ada lagi kabar setelahnya. Entah pergi kemana Silvia itu. Entah dimana ia menenangkan dirinya. Bayi perempuan yang begitu ringkih dan tak di inginkan itu juga langsung di telantar kan. Hanya baby sitter yang menjaga dan merawatnya. Bu Alin dan Andin juga. Tapi tak bisa lama-lama karena urusan masing-masing.
Meskipun akhirnya Silvia ketemu dan bisa di awasi. Rasanya tetap saja, Silvia tak mau pulang untuk melihat putrinya dalam waktu dekat.
"Putri Maratus Sholikah? Gimana? Bagus gak? " tanya Andin yang menggendong keponakannya dengan hati-hati.
"Bagus, padahal baru mau ku kasih nama Jenar, biar keliatan keren. Tapi pilihan mu juga bagus... " jawab Bimo lalu mengecup kening istrinya.
"Kalian kalo mau mesra jangan di depan Silvia ya... Mama khawatir dia cemburu, iri... " ucap bu Alin.
"Ah iya ma... " jawab Bimo yang di angguki Andin. "Oh iya ma, Silvia dah di cari? " tanya Bimo.
__ADS_1
"Udah, dia di rumah temannya. Vina apa siapa mama lupa. Tapi dah ketemu lagi di awasi..." jawab bu Alin.
"Jadi khawatir... " gumam Andin. "Kasian kamu Nak, di tinggal mamamu terus ya... " ucap Andin pada bayi di gendongannya.
Karena rasa keibuannya yang tinggi dan sebentar lagi ia juga menjadi ibu. Andin akhirnya memaksa suaminya untuk tinggal, setidaknya sampai Silvia pulang dan mau menerima putrinya yang tak berdosa. Meskipun Bimo awalnya tak setuju dan khawatir Andin akan terlalu lelah.
Beberapa bulan berlalu, dan Andin masih merawat Putri dengan baik. Kandungannya juga sehat dan makin membesar. Bimo lama kelamaan juga menerima Putri yang jadi makin menggemaskan dan terkadang tak mau lepas darinya.
"Mas, pengen anggur... " bisik Andin pada Bimo yang sudah terlelap.
"Mas, aku pengen banget makan anggur Mas... " pinta andin lagi sambil mencium pipi suaminya dan menepuk bahunya.
"Besok gak bisa sayang? Aku ngantuk... " jawab Bimo yang masih memejamkan mata.
"Besok ya Nak... Sabar... " ucap Andin sambil mengelus perutnya.
"Iya, sekarang ini mau cari anggur... " jawab Bimo yang langsung bangun setelah mendengar ucapan Andin pada bayi di perutnya.
__ADS_1
Tak lama suara tangis Putri terdengar, Andin langsung menenangkannya dengan sabar, sementara Bimo mencarikannya anggur.
"Mas, sama ice cream vanila boleh? " tanya Andin.
"Boleh... " jawab Bimo. "Ada lagi? " tanyanya sebelum keluar.
"Sudah... Maaf ya Mas, bikin repot... " ucap Andin sambil memberikan dot susu milik Putri.
"Gapapa, kan aku yang bikin hamil... " ucap Bimo lalu mengecup kening Andin. "Sabar ya Nak... " sambung Bimo lalu mengecup perut Andin yang mulai membuncit di balik dasternya.
Bimo benar-benar mencarikan anggur untuk istrinya sampai ia rela malam-malam pergi ke supermarket 24 jam di kota. Bimo bahkan membeli cukup banyak jenis anggur dan buah beri untuk Andin, tak hanya itu ia juga membeli yoghurt dan macam-macam rasa ice untuk istrinya. Bahkan karena ia datang malam dan beli dalam jumlah banyak bimo sampai dapat bonus dan potongan harga. Ia juga dapat pengemasan khusus dengan steirofom karena pembelian ice cream-nya.
"Rejeki anak... " gumam Bimo sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil.
Tapi tak Bimo sangka saat ia akan pergi ia mendapati seorang wanita yang di usir dari caffe yang tak lain adalah adiknya. Bimo buru-buru mendatanginya lalu membantunya. Silvia teler. Tubuhnya bau rokok dan alkohol, tubuhnya juga sangat kurus. Dengan cepat Bimo membawa silvia ke klinik.
Setelah pemeriksaan dan hasilnya Silvia hanya tertidur karena terlalu mabuk. Bimo memutuskan untuk membawanya pulang.
__ADS_1