
Andin hanya memegangi pipinya yang panas sebentar lalu kembali berusaha fokus menenangkan Putri yang menangis. Sambil menenangkan hati dan pikirannya.
"Maafin Mamamu ya Nak... Mamanya Putri lagi marah saja... " ucap Andin menjelaskan pada Putri yang masih belum bisa memahami apa ucapannya. "Cup... Cup... Maaf ya Nak... " sambung Andin terus menenangkan Putri.
"Heh! Anak gak jelas nangis mulu... " ucap bu Alin yang pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Andin hanya bisa beristigfar lalu membawa Putri ke kamarnya. Andin tak habis pikir, mengapa semua orang dirumah begitu membenci Putri. Bahkan Putri sama sekali tak mengetahui apa-apa juga tak meminta keadaan seperti ini. Tapi tetap saja meskipun Putri suci dan polos semua tetap mengkambing hitamkannya atas hal buruk yang menimpa. Tak hanya Putri yang tertekan. Andin juga tertekan, selain perintah untuk cerai dan berpisah dari suaminya yang terus di ucapkan Silvia. Andin juga ikut sedih tiap semua memarahi dan mengucapkan kebenciannya pada Putri.
"Kamu gak salah apa-apa, gak ngerti apa-apa tapi banyak yang gak suka kamu, nyalahin kamu. Kasian kamu Nak... " ucap Andin lalu mengecup pipi Putri. "Anak pintar, anak cantik, anak kuat... " sambung Andin menguatkan Putri dan hatinya sendiri.
Andin hanya bisa menangis meratapi nasip Putri yang begitu malang dan dirinya yang kini dibenci Silvia tanpa sebab yang bisa di rasionalkan.
●●●
__ADS_1
"Gimana Bim? Bisa? " tanya Anton manager departemen pemasaran pada Bimo.
Bimo hanya diam sambil berfikir. Alisnya berkerut membaca jadwal acara yang di rancang. "Ini kenapa jadwalnya berdekatan? " tanya Bimo.
"Ya soalnya banyak yang minta di adain... Keuntungannya besar..." jawabnya sambil berbisik.
"Aku gak bisa..." ucap Bimo lalu meletakkan kertas yang dari tadi ia baca. "Istriku hamil tua, aku mau nemenin istriku. Lagian dulu aku gak ngadain meet and greet gapapa... " sambung Bimo lalu merapikan barang-barangnya dan pergi.
"Bimo emang gitu, anak pertama... " ucap editor Bimo yang sudah sangat maklum dengan apa yang Bimo lakukan.
Anton hanya mengangguk lalu pergi menyusul Bimo ke rumahnya. Tapi sesampainya di sana Bimo masih belum sampai. Hanya ada Andin yang tampak sedang menyuapi Putri itu pun tidak mempersilakannya masuk dan hanya di teras dengan suguhan es jeruk.
"Maaf, tapi gak ada cowok di rumah. Mas Bimo juga belum pulang. Jadi tunggu di luar ya Mas... " ucap Andin lembut lalu masuk dan menyuapi Putri lagi.
__ADS_1
"Elu ngapain kesini! " kesal Bimo begitu turun dari mobil. "Assalamu'alaikum ..." sambung Bimo sambil berjalan masuk.
"Loh mas udah pulang... " sambut Andin lalu memeluk Bimo. "Ada yang nyari Mas... " sambung Andin melapor.
Bimo hanya menghela nafas lalu mengangguk. "Sayang tadi aku beli ini... " ucap bimo memamerkan alat penyedot komedo yang baru di belinya.
"Buat apa Mas? " tanya Andin heran.
Apa aku jelek ya? Apa komedoku dah parah? Batin Andin menduga-duga.
"Kamu gak suka ke salon , pakek skin care juga enggak, facial juga enggak. Jadi aku beli in ini biar kamu bisa facial di rumah... " jelas Bimo lalu membawa barang pemberiannya ke kamar.
Lah di cuekin... Batin Anton yang langsung mati kutu.
__ADS_1