
"Aelah, cuma hamil bukan cacat kali. Lebay banget sih kak Bimo..." sindir Silvia lalu mengganti channel tv padahal Andin sudah menunggu acaranya dari tadi.
"I-iya mas, jangan lebay..." ucap Andin yang jadi merasa tidak enak dan serba salah.
Padahal Andin baru saja merasa nyaman dan senang dengan perlakuan suaminya yang memanjakannya ini. Bukan memanfaatkan kesempatan, hari biasa saat ia tidak hamil Bimo juga memanjakannya. Hanya saja kali ini ia merasa hubungan rumah tangganya makin membaik seiring berjalannya waktu.
"Lu sirik amat, lu alergi liat orang seneng ya?" ucap Bimo menanggapi Silvia. "Bini, bini gue. Hamil, hamil anak gue. Nyinyir aja!" sambung Bimo lalu pergi mencari pembantunya untuk membuatkan kentang goreng.
"Maaf ya, mas Bimo lagi sensitif... " ucap Andin tidak enak hati pada iparnya.
Andin yang awalnya ingin menggenggam tangan Silvia juga langsung ditampik Silvia dengan kasar.
"Gue tau abang gue kayak gimana! " ketusnya pada Andin.
Andin langsung menarik tangannya lalu diam. Bu Alin yang ada di antara keduanya juga merasa serba salah. Ingin membela Andin, takut Silvia makin marah dan membenci Andin tanpa sebab. Ingin memarahi Bimo yang menimbulkan pertengkaran, ia sendiri juga suka saat melihat Bimo memanjakan Andin dan tampak sangat harmonis begini.
"Duh acaranya jelek ya, kita ganti yang lain gimana? Pakek masker ? Pijat? " tawar bu Alin.
__ADS_1
"Aku mau belanja perlengkapan bayi aja... " ucap Silvia.
"Oh, oke ayo..." ucap bu Alin menuruti Silvia. "Andin mau ikut?" tawar bu Alin meskipun sudah di pelototi Silvia.
Andin sebenarnya ingin ikut, tapi karena Silvia yang tampak masih marah dan kesal padanya ia langsung menggeleng sambil tersenyum. "Aku mau nunggu ayah sambil nonton tv sama mas Bimo aja... " jawab Andin.
"Yaudah mama siap-siap dulu... " ucap bu Alin lalu pergi ke kamar, begitu pula Silvia.
Andin hanya diam lalu mengganti saluran tv ke channel yang tadi ia tonton. Tak berapa lama suaminya datang dengan kentang gorengnya. Tapi baru beberapa suap ia memakan kentang goreng yang di bawa suaminya Silvia lewat dan mencomot hampir sebagian besar dari kentang goreng yang ada.
"Laper, ya doyan juga... " jawab Silvia. "Abisnya gak di makan kak Andin, gak doyan ya Kak?" sambung Silvia yang di angguki Andin.
"Buat Silvia aja... " ucap Andin sebelum suaminya memarahi Silvia.
Suara motor terdengar dari luar, Bimo langsung pergi melihat keluar. Karena jelas itu pesanannya, apa lagi sudah mengklakson beberapa kali.
"Kak, kakak paham kan alasan kak Bimo nikah sama kamu?" tanya Silvia yang di angguki Andin. "Kakak tau aku cerai gara-gara Aldo selingkuh? " tanya Silvia lagi. "Jadi kakak paham kan harus gimana sama kak Bimo sekarang? " tanya Silvia lagi dan kali ini membuat Andin bingung.
__ADS_1
"Sebentar ya sayang aku ganti tempatnya dulu... " ucap Bimo menyela pembicaraan Andin dan Silvia.
Andin hanya mengangguk. "Iya aku paham harus gimana... " ucap Andin dengan senyum sumringah di wajahnya.
Jelas apa yang ada di pikiran Andin saat menangkap maksud dari omongan Silvia, dan apa yang Silvia mau itu sangat berbeda jauh. Bahkan Silvia sampai syok dan bingung kenapa Andin bisa tersenyum sumringah begini.
"Sayang... Aaaa... " ucap Bimo lalu menyuapi Andin.
"Silvia mau juga? " tanya Andin menawari Silvia sambil mengunyah ciloknya.
"Gak! " jawab Silvia kesal lalu pergi ke mobil duluan.
"Weh ciloknya mama... " ucap bu Alin yang melihat Andin dan Bimo yang tengah menikmati cilok sambil nonton tv.
"Masih ada kok di dapur, nanti tinggal di angetin kalo dingin... " ucap Bimo.
"Sip... Sip..." ucap bu Alin lalu mencomot cilok di piring lalu menyalimi Andin dan Bimo. "Jaga rumah ya Nak... " sambung bu Alin lalu pergi.
__ADS_1