Young Money

Young Money
Part 18


__ADS_3

Andin langsung menggeleng. "Maaf ya Mas, aku cuma sebel... Bukan masalah move on atau apa lah itu... Itu juga gak penting sekarang... Tapi gara-gara dia Salma sama aku jadi musuhan... " jawab Andin sambil menatap suaminya.


"Salma siapa? " tanya Bimo bingung.


"Temenku... Sahabat... Setidaknya dulu gitu Mas. Waktu itu aku masih pacaran sama Bram ternyata Bram naksir sama Salma. Gak lama waktu tau ayah bangkrut mereka pacaran. Salma bilang Bram yang ngajak jadian... Aku sakit hati, tapi aku jadi makin sakit hati dan kecewa waktu denger kalo Bram suruh Salma buat ninggalin orang miskin kayak aku..." jelas Andin secara singkat dengan sedih.


Bimo hanya mengangguk, lalu mengecup kening Andin dan memeluknya. "Tapi sekarang dah gak ada perasaan apa-apa kan sama Bram? " tanya Bimo memastikan.


"Sama sekali gak ada Mas... " jawab Andin meyakinkan suaminya lalu mengecup bibirnya dengan lembut.


"Aku cemburu kalo kamu mikirin orang lain selain aku sama anak kita... " ucap Bimo terus terang.


"Iya Mas, aku paham... " jawab Andin lalu menggenggam tangan suaminya. "Kita jadi bikin barbequean kan? " tanya Andin sambil menggandeng suaminya keluar kamar.


"Kalo makan malam pakek pasta aja gimana? " tanya Bimo sambil mengikuti istrinya.

__ADS_1


●●●


Andin membuatkan makan malam dengan sederhana namun terasa sangat sepesial. Bukan hanya karena di makan berdua di taman belakang. Tapi Andin juga hanya membuat dua porsi untuknya dan Bimo. Bahkan sampai mertuanya hanya mencicipi tanpa bisa menyantap utuh seporsi.


Andin sebenarnya ingin masak banyak, tapi karena Bimo sudah menatapnya dengan wajah di tekuk dan lagi sudah sempat cemburu. Andin jelas tak mau mencari masalah dan memilih untuk menyenangkan hati suaminya. Meskipun ia harus mendengar sindiran mertuanya yang tak bisa ikut makan malam romantisnya.


"Ya, tau gini tadi Papa ngajak Mama makan malam di luar... Gak taunya cuma jadi obat nyamuk... " sindir pak Hendro.


"Iya Pa, maklum... Masih baru... Tau gini mama beli lauk... Kasian cuma makan pakek apaan ini... " imbuh bu Alin dengan memelas menyindir Andin dan Bimo.


"Mama Papa apaan sih? Kayak gak pernah muda deh... " ucap Bimo menanggapi sindiran orang tuanya.


"Ah gak ada suara Ma, perasaan mama aja kali... " jawab pak Hendro.


"Mama denger suara orang nyinyir Pa... " ucap bu Alin lalu tertawa bersama suaminya.

__ADS_1


Andin hanya diam sambil tersipu saat mendengar mertuanya yang menggodanya dengan sindiran.


"Udah Mas, lanjut makannya... " ucap Andin sambil menyentuh bahu suaminya. "Besok Andin bikin sarapan Ma... " sambung Andin sambil tersenyum manis.


Apa keluargaku terlalu membebani Andin? Sampe makan aja harus Andin juga yang masak semua... Batin Bimo sambil menatap istrinya yang mengambilnya potongan daging.


"Kamu gak harus masak tiap hari kalo capek... Kamu istriku... Cuma wajibnya melayani aku... " ucap Bimo sambil menuangkan air untuk Andin.


"Gapapa Mas, aku suka masak... Aku suka liat semua orang makan lahap gara-gara masakanku... " jawab Andin lembut. "Sejak Ibu sakit aku jadi biasa ngurus semuanya... Ngurusin rumah, masak, kerja... Ini gak masalah... Aku suka Mas... " sambung Andin.


Bimo hanya menghela nafas mendengar ucapan istrinya. Ia tak pernah tau dengan pasti apa yang Andin rasakan. Apa Andin tertekan, lelah, sedih atau apa pun itu. Karena ya... Memang Andin selalu mengatakan itu tidak apa-apa dan Andin juga selalu mengerjakannya dengan senang hati.


"Tapi kamu di sini buat jadi istri... Bukan pembantu... Aku maunya kamu jadi istriku... Cuma fokus sama aku... " sambung Bimo menegaskan.


Apa mas Bimo masih cemburu soal Bram ya? Aduh harus gimana ini... Batin Andin tidak enak dan serba menduga-duga.

__ADS_1


"Paham? " tanya Bimo lagi.


"Iya Mas... Tapi aku gak... Em... Nanti saja... " ucap Andin mengurungkan niatnya untuk bertanya.


__ADS_2