Young Money

Young Money
Part 21


__ADS_3

Flashback On


"Di icipin ya, aku tadi yang masak. Semoga suka," ucap Andin yang tiba-tiba masuk ke kamar Silvia.


"I-iya Kak," jawab Silvia gugup lalu berusaha bangun.


Andin langsung membantunya bangun dan duduk. Andin menatap kamarnya sebentar. Silvia sangat malu, selain berantakan pasti Andin sudah tau masalahnya. Silvia bahkan malu dan jijik pada dirinya sendiri.


"Aku ambilin minum ya biar gak seret," ucap Andin lalu cepat-cepat keluar dan datang kembali dengan sebotol air dingin. "Kalo Silvia suka di habisin ya, aku keluar dulu biar gak di cariin," ucap Andin lalu berjalan keluar.


Jelas terlihat kalau Andin diam-diam memberinya makanan dan memperhatikannya. Silvia benar-benar tersentuh akan perhatian Andin yang baru di kenalnya. Apalagi bila Andin ketahuan pasti bakal kena omel semua orang.

__ADS_1


Silvia yang dari semalam belum makan langsung menghabiskan nasi goreng dan omlet buatan Andin dengan lahap. Bahkan Silvia tak pernah selahap ini sebelumnya. Ini juga kali pertama ada yang memperhatikannya.


Orang tua yang selalu sibuk kerja dan kakaknya yang asik dengan dunianya sendiri. Membuat Silvia begitu kesepian hingga kekurangan kasih sayang. Baru kali ini ada orang yang memperhatikannya di rumah, meskipun itu sudah sangat terlambat. Mungkin kalau ia kenal Andin lebih awal ia tak akan terjerat pergaulan bebas seperti sekarang.


"Silvia dah habis?" tanya Andin yang sudah rapi dengan segelas susu coklat dingin dari kulkas. "Di minum ya," ucap Andin lalu merapikan piring bekas makanan Silvia. Silvia hanya mengangguk dan menatap Andin yang berlalu begitu saja.


Flashback Off


Cukup lama Silvia menunggu pesanan telur asinnya setelah akhirnya memutuskan memakai layanan pesan antar. Tapi sialnya si driver membatalkan pesanan Silvia setelah lama menunggu. Silvia marah dan kesal bukan main. Ia langsung mereview dengan buruk lalu menangis karena apa yang di inginkannya tak terwujud.


Lain Silvia, lain lagi Bimo yang tak bisa tidur karena Andin kembali mengobatinya sebelum pergi dan sentuhan lembut Andin membuatnya ingin terus di sentuh Andin. Sampai akhirnya Bimo mencoba tidur di sofa seperti yang di lakukan Andin.

__ADS_1


Ya ampun gak enak banget gini! Andin kok bisa tidur? Batin Bimo heran dan merasa bersalah membuat Andin mengalami malam yang tidak mengenakkan tiap tidur malam.


"Pantesan bangun pagi terus. Kayak gini tempatnya mana ada yang bisa tidur nyenyak," ucap Bimo sambil memindah bantal Andin ke tempat tidurnya, lalu menyingkirkan selimut yang biasa di pakai Andin.


Bimo mulai mengecek koper Andin. Bajunya sedikit sekali, itupun tak ada yang di pindahkan ke lemari karena memang lemari Bimo penuh semua. Bimo kembali iseng dengan ke kamar mandi dan mengecek peralatan Andin di sana. Semua diletakkan dalam satu box pastik, hanya ada sabun muka, sikat gigi, pelembab, dan lipstik yang hampir habis juga sebuah cottonbut sebagai pengganti kuas untuk lipstiknya.


"Ini perlu di ganti semua," gumam Bimo yang akhirnya memikirkan Andin.


Bimo kembali ke koper Andin dan mengecek siapa tau ada sesuatu lagi yang belum ia temukan. Seperti aksesoris mungkin, semacam jam tangan atau sejenisnya. Tapi sayangnya Bimo tak menemukannya sama sekali.


"Masa iya dia cuma pakek cincin kawin doang," ucap Bimo tak percaya lalu merapikan seperti semula dan kembali tiduran di ranjangnya.

__ADS_1


Baru matanya terpejam sebentar, otaknya yang sialan teringat soal foto pernikahannya dulu yang di cetak dengan ukuran kecil dan pas untuk hiasan di atas lacinya. Mungkin dengan memasang foto itu Andin bisa merasa lebih nyaman pikir Bimo lalu meletakkan foto yang ia simpan di antara buku-bukunya ke atas laci. Bimo mau kembali memakai cincinnya lagi setelah membongkar-bongkar barang milik Andin.


__ADS_2