Young Money

Young Money
Part 8


__ADS_3

Pak Trisno datang membawa dua kilo ikal lele dari kolamnya. Ia berusaha mencarikan yang terbaik dan terbesar untuk Andin dan besannya. Andin terlihat sangat semangat dan senang saat ayahnya datang. Ia bahkan langsung mengolah lele yang di bawa ayahnya. Meskipun Bimo jadi uring-uringan karena Andin ngeyel.


Makan malam kali ini dengan menu lele goreng dan lele bakar, meskipun bukan Andin langsung yang menggoreng atau membakarnya. Pak Hendro tampak sangat senang dengan menu masakan Andin kali ini. Bahkan ia sudah mulai mencicip lele dan sambalnya terlebih dahulu. Kalau Bimo tidak mengingatkan untuk mandi dulu, mungkin pak Hendro sudah menghabiskan semuanya sendiri.


Bu Alin juga senang dengan menu buatan Andin yang harumnya sudah tercium begitu masuk rumah. Acara makan malam terasa sangat menyenangkan. Sampai Silvia ikut dan merusak suasana. Silvia kembali pura-pura mual dan meminta Andin untuk menyingkir dari ruang makan. Andin sama sekali tak keberatan, meskipun Bimo tampak kesal dengan apa yang di lakukan adiknya. Pak Trisno yang melihat bagaimana cara Silvia mengusir anaknya juga jadi tak selera makan.


"Makan itu tempatnya ada dua, kalo gak dapur ya disini..." sindir Silvia.


Andin langsung terdiam lalu menghentikan makannya. Ia tak mungkin makan di dapur bersama dengan para pembantu, tukang kebun dan supir. Tapi kalau di ruang makan Silvia bisa muntah-muntah.


"Ah.. Aku dah kenyang... " ucap Andin lalu bangun.


Bimo langsung menahan Andin. "Kamu yang makan ke dapur!" tegas Bimo pada Silvia. "Andin ini istriku. Kamu terima apa enggak dia bagian dari keluarga. Kalo kamu gak mau makan di dapur suruh anakmu itu tau diri... " sambung Bimo.


"Mas, udah gapapa... " ucap Andin. "Aku dah kenyang... " sambung Andin lalu menghela nafas.


Pak Trisno hanya diam tak berani berkomentar lalu menghentikan makannya. "Bimo, sudah... " ucap pak Trisno yang merasa tidak nyaman dan jadi canggung karena Bimo.


Bimo akhirnya menundukkan pandangannya lalu mengambilkan nasi dan lele juga sambel untuk Andin. "Makan lagi, buat anakku... " ucap Bimo lembut pada Andin.


"Sudah kenyang mas... " ucap Andin.

__ADS_1


Bimo tak menghiraukan ucapan Andin sama sekali. Ia kembali mengambilkan lele untuk mertuanya. "Ayah makan lagi, makan yang banyak... " ucap Bimo.


Silvia akhirnya pergi ke kamarnya dengan kesal. Ia tak menyangka kakaknya akan membela Andin kali ini dan lagi tak ada yang membelanya. Bahkan tidak orang tuanya. Meskipun Andin dan ayahnya berusaha membuat kakaknya tenang, tetap saja baginya itu hanya untuk cari muka saja.


"Dasar lacur, banyak utang! " maki silvia kesal.


●●●


Andin makan dengan lahap begitu juga dengan mertuanya. Meskipun tadi sempat ada ketegangan. Usai makan yang selesai lebih awal Andin sengaja mengambilkan makanan untuk Silvia. Andin memilihkan lele bakar yang paling besar, lalapan dan sambal.


"Silvia... " panggil Andin sebelum masuk ke kamar iparnya.


Perlahan Andin membuka pintu kamar Silvia lalu meletakkan makanannya di atas meja. "Maaf ya yang tadi... Besok lagi aku makan duluan aja, biar kamu bisa makan sama-sama ya... " ucap Andin lembut.


"Kamu mau apa? " tanya Silvia sinis.


"Ah iya lupa... " ucap Andin lalu mengambilkan air putih dingin untuk Silvia dan kembali ke kamar Silvia lagi.


Silvia hanya memandangi makanan yang di bawakan Andin. "Kamu butuh apa sih sebenarnya? Kapan gak pura-pura? " tanya Silvia pada Andin dengan sinis.


"Apanya yang pura-pura? Aku gak pura-pura, tadi emang mas Bimo yang gak bolehin goreng sama bakar sendiri... " ucap Andin menjelaskan.

__ADS_1


Dengan kesal Silvia langsung menyiram wajah Andin dengan air dingin yang di bawakan Andin tadi.


"Aghh! Silvia kenapa? " tanya Andin yang keget dengan apa yang di lakukan Silvia.


"Kamu cerai aja sama kak Bimo! Kak Bimo nikah sama kamu karena aku hamil duluan! Sekarang aku cerai! Jadi kak Bimo juga! " tegas silvia.


Pak Trisno yang melewati kamar Silvia tak sengaja mendengar ucapan Silvia yang menyebut kata cerai cukup tercekat. Ia tak menyangka sama sekali kalau putrinya akan di perlakukan seperti itu. Bila awalnya pak Trisno maklum dengan sikap Silvia tadi, kali ini pak Trisno tau kenapa Silvia melakukan itu pada Andin. Jelas tak ada alasan untuk menceraikan Andin bagi Bimo, tapi tetap saja itu membuat pak Trisno khawatir. Apalagi putrinya tengah hamil muda.


"Astagfirullah... " gumam pak Trisno lalu mengelus dadanya dan melanjutkan aktivitasnya.


Terlihat Andin yang buru-buru masuk ke kamar suaminya sambil menutup mulut dan hidungnya. Entah apa yang di ucapkan Silvia padanya. Bimo yang melihat tingkah mencurigakan istrinya juga di abaikan Andin yang langsung masuk kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam.


"Sayang ngapain? " tanya Bimo dari luar.


"Eng... Gapapa Mas... Mules aja... " jawab Andin membohongi suaminya.


"Solat jamaah apa sendiri ?" tanya Bimo.


"Sendiri aja mas... " jawab Andin lagi.


"Yaudah... " ucap bimo lalu meninggalkan Andin di kamar.

__ADS_1


__ADS_2