
Bu Alin yang sangat syok langsung pingsan. Beruntung bu Alin tidak memiliki riwat penyakit parah sebelumnya, hanya tekanan darah tinggi saja yang sampai membuatnya seperti ini.
Tak selang lama, Andin datang bersama pak Hendro, mertuanya. Terlihat Bimo yang duduk di samping bu Alin sementara Silvia menunggu di luar bersama Aldo. Pak Hendro langsung masuk sementara Andin berdiri di menunggu Bimo keluar.
"Gimana Kak?" tanya Aldo begitu Bimo keluar dari ruang UGD.
Bugh! Tanpa ragu Bimo langsung menghajar Aldo tanpa henti. Aldo yang terus menangkis akhirnya membalas pukulan dari Bimo hingga aksi saling jotos tak bisa di hindari. Silvia berusaha memisahkan Bimo dan Aldo begitu pula dengan Andin yang di bantu bagian keamanan.
Lain anak-anaknya yang tengah berkelahi. Bu Alin yang baru sadar langsung menangis dalam pelukan suaminya. Mulut dan hatinya tak kuat menyampaikan kabar tentang kelakuan liar dan jalang putrinya. Hati ibu mana yang tak hancur saat tau putrinya hamil duluan. Setelah membesarkan dengan sebaik dan semua kemampuan, putri kecil yang di besarkan itu malah menjadi jalang.
"Silvia hamil duluan Pa," ucap bu Alin sambil menangis tersedu-sedu.
"Astagfirullah..." hanya kata itu yang keluar dari mulut pak Hendro. Sesak rasanya mengetahui putrinya menjadi wanita murahan, gampangan, sampai hamil duluan.
Bu Alin terus melanjutkan ceritanya. Mulai dari niatnya untuk memberi kejutan pada Silvia yang malah ia sendiri yang mendapat kejutan dari Silvia. Hasil USG, test pack, dildo, ****** yang bahkan tak di temukan bu Alin di kamar putranya malah ada di kamar Silvia. Tak hanya itu bu Alin juga menemukan pakaian dalam pria di bawah tempat tidur Silvia yang jelas bukan milik pak Hendro apa lagi Bimo.
Pak Hendro berusaha untuk lebih tenang dari istrinya, meskipun tak di pungkiri ia juga sakit hati dan kecewa. Ternyata putrinya yang begitu ingin menikah dan selalu memaksa untuk melangkahi Bimo dengan alasan menghindari zina, sudah hamil duluan. Ditambah dengan temuan istrinya jelas **** sudah menjadi kebutuhan pokok Silvia.
●●●
__ADS_1
"Istigfar Mas..." ucap Andin sambil memeluk Bimo yang duduk di sampingnya dan masih menatap tajam ke arah Silvia dan Aldo juga natasnya masih menderu penuh emosi. "Tahan Mas..." Andin kembali menahan Bimo sambil mengelus tangannya yang terkepal lalu menggenggamnya.
Aldo terlihat lebih bisa mengendalikan emosinya. Selain Silvia yang terus di sampingnya, menatap Andin yang tengah menanangkan Bimo membuatnya ikut tenang. Meskipun Andin tidak sedang menenangkannya. Pikirannya langsung kotor saat melihat betapa mulus dan jenjangnya kaki Andin karena dasternya yang hanya sampai di bawah lutut.
Bimo hanya menghela nafas, lalu menatap istrinya yang terlihat khawatir dan tegang. "Maaf ya... " ucap Bimo lalu menggenggam tangan Andin sambil merangkuknya.
"Sudah Mas gapapa..." jawab Andin sambil mengangguk dan mempererat pelukannya pada Bimo.
Aldo benar-benar kesal melihat kemesraan Bimo dan Andin yang tak seberapa itu. Bahkan ini pelukan pertama Andin dan Bimo di depan umum selama pernikahan mereka. Masih terlihat kaku dan canggung, tapi tetap terlihat mesra meskipun hanya pelukan biasa.
Aldo mengalihkan pandangannya pada Silvia yang membawa banyak masalah dalam hidupnya dengan senyum getirnya namun disalah artikan oleh Silvia sebagai penguat hatinya. Aldo langsung mengalihkan pandangannya dari Silvia ke Andin lagi. Penampilan Andin yang terburu-buru malah membuatnya makin menarik, wajahnya memang terlihat sedikit pucat tanpa make up. Tapi hal itu tidak melunturkan kecantikan alaminya sama sekali. Daster batik yang di kenakan Andin juga membuatnya terlihat keibuan dan err sexy sekali, apalagi rambutnya sedikit berantakan begitu.
Cup! Dengan cepat dan singkat Bimo mengecup bibir Andin dan kembali menatap kedepan, sementara Andin masih menatapnya dengan terkejut karena kecupan mendadak barusan. Andin cepat-cepat menundukkan pandangannya sambil menutupi bibirnya.
Mas Bimo ini, batin Andin antara terkejut dan senang dengan apa yang di lakukan bimo. Ya ampun! Aku kenapa kok sampe nyosor gini! Batin Bimo malu dan senang dengan refleksnya barusan.
Andin dan Bimo kembali canggung lagi. Meskipun Andin tak menggeser duduknya ataupun Bimo yang tak melepaskan rangkulannya. Aldo yang menatap kecupan singkat tadi langsung di bakar api cemburu, meskipun Aldo tau di mana posisinya. Ia tetap tak bisa menahan perasaannya.
"Gimana Pa?" tanya Bimo saat melihat pak Hendro keluar dari ruang UGD.
__ADS_1
"Papa mau ngomong," ucap pak Hendro.
Andin yang paham harus bagaimana langsung masuk ke ruang UGD untuk menemani mertuanya. Bu Alin langsung menangis melihat Andin, apalagi saat Andin sudah duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Andin dapat melihat dengan jelas kesedihan mertuanya meskipun belum tau jelas apa yang masalahnya.
"Mama malu! Mama malu punya anak kayak Silvia!" adu bu Alin pada Andin.
Andin hanya diam mendengarkan aduan mertuanya. Andin hanya memposisikan dirinya sebagai pendengar tanpa bisa memberikan solusi pada mertuanya. Sesampainya di rumah pembicaraan masih berlangsung dengan sengit. Andin masih menemani bu Alin sampai bu Alin terlelap, barulah ia keluar kamar.
"Andin sini!" panggil pak Hendro.
Andin langsung datang dan berdiri di samping Bimo.
"Andin biar aku aja yang kasih tau. Papa lanjutin aja," ucap Bimo lalu menggandeng Andin, membawanya masuk kamar.
Pak Hendro hanya mengangguk, terdiam sejenak lalu menatap Silvia dan Aldo.
"Gak ada pesta pernikahan. Kamu nikah di KUA, yang penting sah aja mumpung undangannya belum di sebar."
Silvia hanya menundukkan kepala, Aldo juga. Meskipun Aldo senang dengan keputusan pak Hendro yang makin tak menyulitkannya.
__ADS_1