
"Jadi gini..." ucap Bimo yang bingung harus mulai bicara dari mana dengan Andin.
Andin hanya menatap Bimo menunggu apa yang akan di sampaikannya.
"Silvia hamil duluan..." ucap Bimo yang membuat Andin membelalakkan matanya tak percaya. "Aku nikahin kamu, biar papa ngijinin Silvia nikah sama Aldo. Maaf ya," sambung Bimo yang menjelaskan benar-benar secara singkat.
Andin hanya diam lalu menundukkan pandangannya. Tentu saja Andin sedih, tapi ia sadar ia juga melakukan hal yang sama pada Bimo. Andin menghela nafasnya dengan berat lalu tersenyum dan mengangkat kepalanya, menatap Bimo.
"Gapapa Mas, kita kan sama. Sama-sama karena terpaksa. Aku butuh uang, kamu butuh aku biar Silvia bisa nikah. Gak masalah. Kita sama saja," ucap Andin bijak lalu tersenyum maklum.
Mendengar ucapan Andin yang bijak dan bisa memahami kondisinya, Bimo langsung tersenyum sumringah. Beban di hatinya yang selama ini ia sembunyikan rasanya lenyap semua hari ini. Melebur begitu saja.
"Wajahmu dah di obatin Mas?" tanya Andin.
"Belum," jawab Bimo lalu bangun dari duduknya dan kembali melanjutkan menulis deskripsi tentang dirinya.
Andin yang merasa berkewajiban mengurus Bimo langsung keluar kamar, mencari obat-obatan untuk Bimo. Lalu kembali ke kamar dengan kotak P3K yang ia temukan.
"Mau di obatin apa obatin sendiri?" tanya Andin.
Ya ampun peduli banget si Andin sama aku, aku aja dah lupa sakitnya gara-gara masalah Silvia, batin Bimo.
"Gimana Mas?" tanya Andin lagi karena tak mendapat jawaban dari bimo.
__ADS_1
"Oh iya, aku aja. Taruh aja nanti ku obatin," jawab Bimo gelagapan.
Andin hanya menuruti perintah Bimo lalu kembali menyelesaikan tulisannya. Andin langsung memberikan kertasnya setelah selesai ke atas meja kerja Bimo. Tak lama Andin sudah kembali asik membaca buku barunya.
"Mas, aku ke kamar mama ya?" tanya Andin meminta ijin Bimo yang hanya di angguki Bimo.
Andin langsung keluar kamar dan mengecek kondisi bu Alin. Silvia dan Aldo masih di ruang tamu bersama pak Hendro yang masih menggebu-gebu. Begitu Andin masuk kamar bu Alin terlihat masih sedih sambil menangis dalam diam.
"Ma, Andin temenin boleh ?" tanya Andin yang di angguki bu Alin. "Ma, mama dari tadi belum makan. Mama makan dulu mau Ma?" tanya Andin sambil duduk di tempat tidur lalu memijat kaki ibu mertuanya.
"Mama gak pengen makan," jawab bu Alin.
Andin masih di kamar mertuanya dan hanya menemani mama mertuanya yang menangis dan tengah kecewa.
"Gapapa Ma, mama gak usah mikirin aku sama mas Bimo. Aku sama mas Bimo gapapa kok, kita dalam kondisi yang sama. Mama jangan khawatir," ucap Andin paham apa yang ingin di ketahui mertuanya.
"Kamu gak keberatan sama Bimo?"
"Mas Bimo baik kok Ma, aku tadi di kasih novel baru. Ada tanda tangannya juga. Kemarin juga aku di temenin terus. Mas Bimo menyenangkan. Aku suka," Andin terlihat sangat ceria saat menceritakan bagaimana sikap Bimo padanya.
"Alhamdulillah kalo kamu bisa nerima Bimo."
"Mama apaan sih, aku yang harusnya alhamdulillah bisa di bantuin, di kasih suami juga masa kayak gitu aku gak terima. Kurang ajar banget aku."
__ADS_1
"Andin tidur bareng sama Bimo ?"
"Gak tau Ma, seringnya aku tidur duluan jadi gak bareng."
Bu Alin di buat geli karena jawaban polos menantunya yang menjawab secara harfiah.
"Ma," panggil Bimo yang langsung masuk ke kamar orang tuanya.
Andin langsung bangun dan menatap Bimo terkejut. Bimo yang melihat bagaimana reaksi Andin cukup geli dan makin gemas. Apalagi Andin jadi salah tingkah begini. Makin membuatnya terlihat menggemas dan lebih imut.
Duh gawat! Pasti mas Bimo denger tadi aku ngomong apa aja sama mama! Aduh! Aku malu! Batin Andin panik sambil merutuki dirinya sendiri.
"Gapapa disini aja, mau kemana ?" tanya Bimo saat melihat Andin berjalan keluar.
"M...ma...mandi..." jawab Andin malu-malu lalu berlari kembali ke kamar.
"Andin kenapa Ma ?" tanya Bimo heran.
"Tiap sama kamu apa dia kayak gitu?" tanya bu Alin.
"Enggak..." jawab Bimo lalu tiduran di samping ibunya.
Apa Andin marah ya sama aku? Tapi bukannya dia bilang gapapa. Katanya dia maklum, kok jadi gitu. Batin Bimo heran.
__ADS_1