
●●●
Baik Andin maupun Silvia sama-sama tidak keluar untuk solat berjamaah. Silvia sendiri jangankan solat jamaah, mau solat wajib saja susahnya minta ampun.
Usai solat dan mendoakan yang terbaik untuk Andin dan janinnya, semua kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Bu Alin yang menonton sinetron, bapak-bapak yang mengobrol sambil minum teh, lalu Bimo yang menemani istrinya.
"Ayo pulang... " ajak Andin sambil memeluk suaminya.
"Loh tumben buru-buru, ada apa? " tanya Bimo heran sambil memeluk istrinya yang masih memakai mukena.
Andin hanya menggeleng lalu menunduk murung dan masih memeluk erat suaminya.
"Masalah tadi waktu makan ya? " tanya bimo sambil mengecup kening andin lembut.
Andin hanya menggeleng pelan lalu memper erat pelukannya. "Aku pengen pulang... " pinta Andin lagi, kali ini suaranya sedikit merengek menahan tangisnya.
Tapi jelas Bimo tak tau penyebab Andin ngotot begini dan menganggap kalau Andin hanya ingin bermanja-manja saja dengannya. Apa lagi suara Andin kali ini terdengar begitu manja dan imut bagi Bimo.
"Andin... Bapak pulang dulu ya... " ucap pak Trisno di luar kamar.
Bimo dan Andin langsung buru-buru keluar kamar. Keduanya terkejut kenapa sampai pak Trisno pamit pulang, padahal sebelumnya berencana untuk menginap.
"Loh kenapa Yah? " tanya Bimo yang di susul Andin.
__ADS_1
"Ayah mau istirahat di rumah saja. Ayah gak mau ngerepotin... " pamit pak Trisno lalu menyalimi Andin dan Bimo.
"Loh, ayah pulang naik apa ?" tanya Andin khawatir.
"Tadi dah di pesenin ojek sama Silvia... " jawab pak Trisno.
Andin langsung murung dan terlihat sangat sedih. Tapi kali ini ia tak bisa berkata apa-apa seperti biasanya saat ia merengek agar ayahnya tinggal.
"Aku ikut... " pinta Andin pada ayahnya.
Bimo dan pak Trisno terdiam sejenak, sebelum akhirnya pak Trisno buka suara. "Udah punya suami kok masih ngintilin ayah! " ucap pak Trisno tegas.
Andin langsung cemberut mendengar ucapan ayahnya.
"Gak ah... " tolak pak Trisno lalu keluar.
Tak lama suara motor terdengar , pak Trisno langsung pergi setelah menyalimi anak dan menantunya.
Gapapa, Bimo bisa jagain Andin... Batin pak Trisno setelah menatap menantunya yang terlihat begitu protektif dan menyayangi pada putrinya.
"Aku mau ke kamar, ganti baju... " ucap Andin.
Bimo hanya mengangguk mendengar ucapan istrinya.
__ADS_1
●●●
"Maumu apa ngusir mertuaku?" tanya bimo kesal pada adiknya yang makin kurang ajar.
"Apaan sih? Aku gak ngusir... " jawab Silvia. "Orang aku cuma bilang, mau renov kamar tamu buat kamar anakku. Gitu aja kalo dia pulang ya berarti tau diri... " sambung Silvia enteng.
"Maksudnya kamu tadi waktu makan juga apa? Ngapain berusaha nyingkirin Andin sama ayah? " tanya Bimo yang masih kesal.
"Ya emang anakku ini gak mau makan sama orang yang harusnya jadi pembantu! Malah gak tau diri kayak bini lo! " maki Silvia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mas... " terdengar suara Andin dari luar yang mencarinya.
Dengan kesal dan masih berat hati. Bimo meninggalkan adiknya yang begitu kurang ajar itu. Tapi langkahnya terhenti sejenak saat Silvia memegangi tangannya.
"Aku janji bakal jadi baik-baik lagi kayak dulu. Asal kakak ceraikan kak Andin... " ucap Silvia sambil memegangi tangan kakaknya.
Bimo hanya diam lalu mengibaskan tangannya menampik tangan Silvia lalu buru-buru keluar menemui istrinya.
"Mas dari mana? " tanya Andin yang sudah tiduran dengan dasternya.
"Habis dari kamar Silvia, katanya mau renovasi... Makannya ayah pulang, gara-gara gak mau ganggu renovasinya... " jawab bimo lalu mengelus perut Andin lembut.
Andin hanya mengangguk lalu mengecup bibir Bimo lembut sebelum memejamkan mata untuk tidur.
__ADS_1
"Sehat terus ya Nak, bumilnya juga... " bisik Bimo lalu mengecup kening Andin sambil mendekapnya.