
"Sayang mau ice gak?" tanya Bimo saat mengantri.
"Aduh! Mbak! Gimana sih! Jangan norak! Bikin malu aja!" omel seorang wanita paruh baya yang memarahi ART-nya.
Bimo dan Andin cukup tercekat. Andin yang paling tercekat. Pikirannya langsung kemana-mana, ada ke khawatiran kalau Bimo dan keluarganya mungkin akan memperlakukannya begitu juga.
"Mas, apa dulu aku kayak gitu juga?" tanya Andin yang tak mengalihkan pandangannya dari ART tadi yang mulai menjauh.
"Hus! Kamu ini ngomong apa?! Enggak lah..." jawab Bimo berusaha menepis pikiran aneh istrinya.
Andin hanya diam, lalu menunduk dan menyeka air matanya dengan cepat meskipun suaminya sudah melihatnya.
"Aku jelasin di rumah..." ucap Bimo lalu memeluk Andin dan mengecup keningnya sekilas.
●●●
Tapi sayangnya sesampainya di rumah Andin langsung sibuk memasak bersama bu Alin dan Silvia. Meskipun bu Alin dan Silvia hanya menonton saja, sementara Andin yang mengerjakan semua di bantu ART di rumah.
Bimo benar-benar makin merasa tidak enak hati saat melihat Andin yang masih memasak, meskipun sedang sedih dan marah begini. Sampai saat makan bersama pun Andin masih melayani bu Alin dan Silvia, juga dirinya yang ikut makan bersama.
"Kak, kurang asin nih..." ucap Silvia pada Andin.
__ADS_1
"Oh iya, sebentar..." jawab Andin yang langsung bangun dan mengambilkan garam untuk Silvia.
"Andin, ambilin mama minum dingin ya Nak..." pinta bu Alin sekalian.
"Aku es teh ya Kak..." pinta Silvia lagi.
"Iya..." jawab Andin lalu menuruti semua permintaan ipar dan mertuanya.
Sesampainya di meja makan, Andin masih menuangkan air ke gelas milik suaminya yang kosong. Lalu kembali duduk, tapi belum lama ia duduk Silvia mengibaskan tangannya.
"Kak andin, aku gak suka parfumnya kak Andin..." ucap silvia sambil mengelus perutnya dengan wajahnya yang menahan mual.
"Kak Andin parfumnya apa?" potong Silvia yang masih mengibaskan tangannya.
"Ah, aku ganti baju dulu kalo gitu..." ucap Andin dengan senyum setelah mencium bau badannya.
Bimo hanya menghela nafas melihat cara adiknya mengusir istrinya dengan lumayan halus itu untuk tidak makan dalam meja yang sama dengannya. Tapi Bimo berusaha positiv thinking, mungkin memang indra penciuman ibu hamil seperti Silvia memang peka.
"Gak di lanjutin makannya?" tanya bu Alin saat melihat Bimo yang menyusul Andin ke kamar.
"Gak nunggu Andin..." jawab Bimo singkat.
__ADS_1
Silvia merasa sedikit mencelos mendengar kakaknya yang mementingkan Andin. Sedikit rasa kesal, marah dan iri mulai tumbuh di hati Silvia saat tau kakaknya yang dingin sudah berubah.
"Apa aku sekecut itu ya..." gumam Andin yang beberapa kali menciumi ketiaknya.
"Andin..." ucap Bimo yang langsung menerjang istrinya dan memeluknya erat, lalu ******* bibirnya dengan begitu bernafsu.
"Emm... Mas..." erang Andin yang sudah di tindih Bimo.
"Aku minta maaf, aku gak bakal gitu lagi... Aku cinta kamu... Jangan marah lagi..." ucap Bimo manja sambil merengek meminta maaf.
"I-iya... Lain kali jangan di ulangi lagi ya..." ucap Andin lembut sambil mengusap pipi bimo dengan lembut.
"Iya, lain kali aku gak gitu lagi... Aku minta maaf... " ucap Bimo lalu menciumi tangan kanan Andin.
Krieettt... Suara decit pintu kamar Bimo yang terbuka. Silvia terlihat berdiri di sana lalu cepat-cepat pergi sebelum Bimo dan Andin menyadarinya.
"Pintunya belum di tutup rapat Mas... " ucap Andin lembut.
Bimo langsung bangun lalu menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam setelah menggantungkan tulisan "don't distrub!" dengan hiasan hati di sekitarnya.
Aku mau cerai, kak Bimo juga harus cerai! Batin Silvia lalu masuk ke kama
__ADS_1