
Usai memandikan Putri dan memberikan susu. Andin mulai sibuk membersihkan kamar sambil bermain dengan Putri atau menemaninya menonton kartun. Sesekali Andin juga mengambilkan minum atau apa yang di butuhkan Bimo atau mertuanya. Tidak ada gangguan dari Silvia sama sekali. Jangankan mengganggu, keluar kamar saja tidak.
"Mas mau buah? " tawar Andin pada Bimo sambil membawa pisang untuk Putri.
Bimo hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya yang serius ke layar komputer.
"Mas nanti mau makan apa? " tanya Andin lagi sebelum keluar kamar.
Bimo kembali menggeleng lalu meraih ponselnya. "Itu kenapa bisa kayak gitu layoutnya?! Kemarin kan dah dijelasin! Ilustrasinya juga argh ancur parah! Gak nyambung gitu! " omel Bimo yang langsung nerocos memarahi si penerima telepon.
Andin hanya diam di ambang pintu sambil menatap suaminya yang tampak begitu marah. Bahkan Bimo sampai menggebrak meja dan tampak sangat terburu-buru.
"Ada masalah..." ucap Bimo sambil mengambil kunci mobilnya dan tas kerjanya. "Aku mau ke kantor dulu... " sambung Bimo lalu menyalimi istrinya.
__ADS_1
Andin hanya mengangguk sambil menyalimi suaminya. Tapi saat suaminya akan memeluknya Andin mengambil jarak lalu tersenyum.
"Jangan marah-marah Mas, gak baik kalo Mas emosian kayak gini... " ucap Andin lembut lalu mengelus dada suaminya dan mencium bibirnya sekilas.
Bimo hanya menghela nafas lalu tersenyum sumringah setelah apa yang dilakukan istrinya memudarkan semua amarah di dadanya.
"Hati-hati ya Mas... " ucap Andin lalu mengantar suaminya keluar.
"Ck! kamu ini bikin aku gak jadi marah-marah, jadi lupa mau ngapain... " ucap Bimo ceria kembali.
"Istriku masak apa? Aku makan yang mau di masak istriku aja... " jawab Bimo lalu mengecup kening Andin sebelum masuk ke mobilnya.
●●●
__ADS_1
Andin akhirnya memutuskan untuk membuat sup ayam dengan wortel dan kentang agar Putri juga bisa ikut makan dengan menu yang sama dengannya. Andin juga membuat sambal kecap untuk supnya. Juga menggoreng beberapa potong tempe. Meskipun tetap saja di bantu bibi pembantu yang tak enak hati bila Andin mengerjakan semuanya sendiri.
Usai memasak dan semuanya rapi tersaji. Andin menyiapkan makan siang untuk Putri, sembari menunggu makan siangnya dingin Andin mengajak bermain Putri seperti biasa. Tapi baru saja Putri tersenyum dan siap tertawa, Silvia keluar dari kamarnya dengan tatapan penuh kebencian pada Andin dan Putri hingga Putri takut dan memeluk Andin erat-erat.
"Silvia mau makan? Aku tadi masak sup ayam loh... " ucap Andin menawari Silvia dengan ramah seperti biasa.
Tapi di luar dugaan tawaran Andin tak di tanggapi baik oleh Silvia sama sekali. Bahkan Silvia menganggap tawaran Andin padanya sebagai hinaan. Entah apa dasarnya.
"Bacot! Lo cerai aja mendingan! Gak tau diri! Melarat di bantuin malah ngelunjak! " makinya pada Andin lalu menjambak kerudungnya.
"Astagfirullah... Kamu ini ada apa? Istigfar Silvia! Istigfar! " ucap Andin sambil berusaha menarik kerudungnya dari genggaman Silvia.
"Gak ngerasa salah lagi! Emang dasar gak tau diri! Wanita murahan! Di jual demi duit! " maki Silvia yang main emosi sambil menghempaskan jambakannya hingga Andin terhuyung sampai hampir terjatuh sambil menggendong Putri. "Lo pilih salah satu! Anak haram ini atau kak Bimo! " sambung Silvia memberi pilihan.
__ADS_1
"Astagfirullah... Silvia... Putri ini anakmu, dia gak tau apa-apa, dia suci, dia juga gak mau berada di posisi sulit ini... " jawab Andin yang langsung di tampar Silvia dengan keras lalu masuk kamar dengan di iringi bantingan pintu kamarnya yang begitu keras.