Young Money

Young Money
Part 13


__ADS_3

"Kak... " panggil Silvia yang masuk ke kamar Bimo yang tak di kunci.


"Ape ?" jawab Bimo acuh tak acuh.


"Kakak kapan cerainya? " tanya Silvia tanpa beban.


"Hus! Apaan! Aku gak cerai, aku mau jadi bapak. Gak ada cerai... " ucap Bimo lalu meletakkan barang-barang yang baru ia kemasi di atas tempat tidurnya. "Keluar sana..." omel Bimo sambil mendorong Silvia keluar kamarnya.


"Kak! Kita nikah urut! "


"Bubarnya kagak! " potong Bimo lalu mendorong Silvia keluar.


Bimo langsung membanting pintu kamarnya begitu Silvia keluar. Andin yang baru datang langsung bertemu dengan Silvia di depan kamarnya. Andin hanya menunduk dan ingin cepat-cepat masuk atau paling tidak menghindari Silvia.


"Lu siapkan? Kalo kak Bimo minta cerai mendadak? " tanya Silvia.


"Astagfirullah... Mas Bimo gak gitu... Insyaallah gak ada apa-apa gak perlu cerai... " jawab Andin dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


Bimo yang samar-samar mendengar suara Andin dan Silvia langsung keluar kamar .


"Ntar gue bantu! " ucap Silvia ambigu pada kakaknya.


"Apaan sih lu! Bawel amat! Gue bisa sendiri! " kesal Bimo.

__ADS_1


Andin yang mendengar percakapan suami dan iparnya sedikit merasa lebih baik. Meskipun ada keraguan dan prasangka di hari dan pikirannya, Andin berusaha yakin dan percaya pada suaminya.


"Mama bilang apa? " tanya Bimo pada istrinya.


"Boleh, gapapa... " jawab Andin lalu masuk kamar.


Andin langsung masuk ke kamar mandi dan menyeka air matanya sebelum suaminya bertanya dan ia kewalahan menjawabnya.


"Sayang... " panggil Bimo dari luar kamar mandinya.


"I-iya Mas? " jawab Andin lalu bercermin meyakinkan dirinya kalau ia sudah terlihat baik-baik saja.


Andin hanya diam selama membantu suaminya berkemas. Sesekali ia mengelus perutnya dan mencari posisi yang nyaman lalu melanjutkan aktivitasnya. Meskipun bimo sudah memintanya istirahat saja, bahkan bimo memberikan ponselnya. Sengaja agar andin belanja online sambil istirahat agar tidak kecapekan.


"Loh, gak nanti aja habis makan malam? " tanya Bimo lalu duduk di samping istrinya.


"Sekarang aja Mas... " rengek Andin dengan matanya yang langsung berkaca-kaca.


"I-iya... Sekarang... Langsung pulang ya? " ucap Bimo lalu memeluk istrinya.


Andin langsung mengangguk dengan cepat. "Si Putri kita ajak aja gimana mas? " tanya Andin sambil menatap suaminya.


"No! Andin, putri kan anaknya Silvia. Meskipun kita dah sama-sama dia terus. Gimanapun juga dia tanggung jawabnya Silvia. Kamu jangan egois, ini pembelajaran buat Silvia... Biar Silvia yang tangani... " jawab Bimo.

__ADS_1


"Tapi mas... "


"Buat yang ini jangan ngeyel ya... " potong Bimo lembu lalu mengecup kening Andin. "Bentar lagi juga kita punya baby sendiri... " sambung Bimo.


Andin hanya mengangguk.


"Yaudah yuk pulang... " ajak Bimo lembut.


●●●


Selama di rumah Andin tampak lebih baik meskipun ia terus memikirkan Putri. Bayangan Putri yang terus mencarinya juga membuatnya merindukan keponakannya itu.


"Mau salad? " tanya Bimo yang tengah membuat salad sayur untuk sandwichnya.


"Enggak Mas," jawab andin lalu memeluk suaminya dari belakang. "Kangen Putri... " bisik Andin pada suaminya.


"Minggu depan kesana... " jawab Bimo lalu memanggang rotinya. "Oh iya sayang, mau tujuh bulanan dimana? Rumah papa apa ayah ?" tanya Bimo.


"Em, di sini aja gimana Mas? Cuma keluarga deket aja gitu? " ucap Andin lalu mengambil gelas.


"Mas aja yang bikin susu... " ucap Bimo mengambil alih. "Keluarga inti maksudmu? Tapi pasti mama pengen ngundang banyak orang sayang."


"Ya sudah Mas, aku ngikut aja... " jawab Andin pasrah sama seperti saat pernikahannya dulu hanya saja kali ini Bimo menolaknya dengan halus.

__ADS_1


"Kalo kamu mau yang keluarga inti aja, nanti kita bikin acara liburan aja... " ucap Bimo lalu memberikan segelas susu untuk istrinya. "Sehat ya Nak... " ucap Bimo sambil membungkuk untuk mengecup perut Andin.


__ADS_2