Young Money

Young Money
Part 14


__ADS_3

Selama persiapan hanya Bimo dan keluarganya yang sibuk, persis seperti dulu saat menikah. Tentu saja Andin di tawari untuk ikut membantu, tapi Andin akhirnya hanya diam saja bersama ayahnya yang menemani. Mulai tema, warna, dekorasi, sampai pelaksanaannya Andin hanya bisa setuju saja.


"Kamu kok gak senang? " tanya pak Trisno pada Andin.


"Senang kok... " jawab Andin setelah menghela nafas.


"Emang kamu pengennya kayak gimana ?" tanya pak Trisno yang tau bila putrinya tidak senang dengan kehebohan yang ada.


"Aku maunya bikin acara makan-makan biasa aja di rumah kita, aku kangen ibu... " ucap Andin sedih. "Tapi gapapa Yah, ini juga aku senang. Acaranya jadi besar, mewah sekali... " sambung Andin yang dapat memaklumi keadaannya.


"Nanti kalo ada waktu kita bikin aja di rumah ya... " hibur pak Trisno yang di angguki Andin.


"Aku kangen ibu... " ucap Andin lalu menghela nafas berharap rasa rindunya hilang seiring hembusan nafasnya.


●●●

__ADS_1


Sampai hari H acara tujuh bulanan. Andin hanya ber-dandan seadanya. Caranya memakai kerudung juga sama seperti biasa. Sederhana dan tidak neko-neko. Putri juga sudah di urusi dengan baik, mulai dari bangun pagi tadi sampai acara.


Silvia masih tampak ogah-ogahan dan membenci Putri yang begitu polos. Bahkan beberapa kali Silvia membiarkan anaknya jatuh atau meneriaki nama Andin untuk membantu anaknya yang begitu aktif.


"Mau apa Nak?" tanya Andin sambil menggendong Putri yang dari tadi mendekati cindra mata.


"Kak Andin! Itu piringnya bantuin ngelap... " perintah Silvia dengan ketus pada Andin.


"Iya... " jawab Andin lalu menggendong Putri dan membawanya setelah memberikan sebuah cindra mata untuk putri.


Putri langsung menunjukkan wajah terkejutnya lalu menangis sambil memeluk Andin.


"Cup... Sayang... Gapapa nak... Cari yang lain ya... " hibur Andin lalu berjalan menjauhi Silvia.


"Ngelap piring woy! " sinis Silvia.

__ADS_1


"Iya, kamu jagain putri dulu ya... " ucap Andin lalu memberikan Putri pada Silvia yang makin menangis kencang dan tak mau lepas darinya.


"Emang dasarnya kamu kesini cuma mau enaknya aja! Miskin di tolongin balesannya kayak gini! Gak tau diri! " maki Silvia lalu pergi meninggalkan Andin.


Andin hanya diam lalu menyeka air matanya sambil menimang Putri agar berhenti menangis. Andin berusaha tenang dan menahan tangisnya, melupakan kejadian tadi dan memaafkan Silvia yang memang tidak stabil sejak bercerai.


"Diem ya nak... Cup... " ucap Andin lembut pada Putri lalu mengajaknya untuk mengelap piring juga.


"Sayang... " panggil Bimo sambil membawa susu untuk Putri. "Kamu kok yang ngelap piring? Udah suruh yang lain aja... " sambung Bimo lalu menggendong keponakannya.


"Gapapa Mas, cuma ngelap piring... Bentar lagi juga selesai... " ucap Andin sambil terus mengelap piring.


"Kak Bimo kalo sama istri biasa aja dong, orang mau bantuin kok malah di manjain! Tar ngelunjak loh! " sindir Silvia sinis.


"Dih biarin! Bini gue! Acara gue! Suka-suka gue! " balas Bimo membela Andin yang terus menerus jadi sasaran sindiran pedas adiknya.

__ADS_1


Sabar, gapapa... Aku cuma istri, jadi istri juga karena di paksa. Alhamdulillah di terima dengan baik... Gak boleh ngeluh... Ga boleh h marah-marah gak bakal nyelesaiin masalah... Batin Andin menguatkan diri sambil mengelus perutnya lembut.


__ADS_2