Young Money

Young Money
Part 10


__ADS_3

Andin sama sekali tak berminat untuk menemui Silvia setelah sampai di apartemennya. Rasanya bimo juga senang dengan sifat Andin ini. Terlebih ia jadi tak perlu menanggapi permintaan labil adiknya yang memintanya cerai.


Yang benar saja, aku mau punya anak gini di suruh pisah... Batin Bimo tiap kali menatap istrinya.


Aku sama mas Bimo dah bisa cinta, dah mau punya anak masa cerai... Batin Andin tiap mendapati suaminya yang menatapnya.


"Apa? " tanya Bimo yang jadi salah tingkah karena mendapati istrinya yang terus memperhatikannya.


Andin langsung memalingkan pandangannya, lalu memeluk bantal di sampingnya.


Bimo langsung menghentikan aktifitas menulisnya lalu mendekati istrinya. "Kenapa hmm...?" tanya bimo lagi sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Gak kenapa-napa... " jawab Andin sekenanya.


Bimo terkekeh pelan mendengar jawaban istrinya. "Kamu bikin salting tau gak? " tanya Bimo lalu mengecup pipi istrinya dengan gemas.


"Mas, mau makan siang apa ?" tanya Andin sambil menurunkan tangan suaminya ke perut.


"Kamu mau makan apa? " tanya Bimo.


"Ih kok balik tanya... " jawab Andin.

__ADS_1


"Idih GR aku tanya sama anakku kok... " goda Bimo yang hanya di tanggapi dengan cubitan kecil dari istrinya sampai ia mengaduh pura-pura kesakitan.


●●●


Rasanya hampir tiap hari di habiskan hanya untuk bersantai, menjalankan hobi juga memeriksakan kandungan di tiap minggunya. Semua terasa normal dan baik-baik saja, harmonis dan penuh cinta. Sampai ada kabar kalau Silvia melahirkan.


Bimo dan Andin datang untuk memberikan suport pada Silvia. Meskipun Silvia tak mau bertemu dengan Andin. Andin yang tau diri dan tak mau mempersulit keadaan memilih mengalah. Meskipun begitu Andin terus mendoakan yang terbaik untuk Silvia. Pak Trisno juga ikut datang setelah menerima kabar dari Andin.


"Gimana? " tanya pak Trisno begitu sampai.


"Sejauh ini baik... Semoga lancar... " jawab Bimo sambil menyalimi mertuanya lalu duduk di samping istrinya.


Pak Trisno hanya mengangguk lalu duduk menunggu sambil mendoakan Silvia. Sementara kedua orang tua Bimo mendampingi Silvia selama proses melahirkan yang terasa begitu lama. Sampai akhirnya tangis bayi terdengar menggelar. Bimo langsung masuk, begitu pula dengan Andin dan ayahnya.


Semua berusaha membujuknya. Bahkan sampai ia di pindahkan dari ruang bersalin ke ruang rawat inapnya. Ia masih tak mau menyusui bayinya. Jangankan menyusui, menggendong dan memandangi nya saja ia tak mau.


"Biar aku aja yang gendong Ma... " ucap Andin menawarkan diri.


Bu Alin hanya mengangguk lalu memberikan cucunya yang belum memiliki nama itu pada Andin. Andin tampak senang saat menggendong keponakan kecilnya. Bahkan saat memberikannya glukosa sebagai pengganti ASI sementara Andin juga yang mengurusi. Bahkan rasanya kelahiran bayi perempuan dari rahim Silvia itu terasa seperti kelahiran bayi Andin dan Bimo. Andin dan Bimo tampak kompak menjaga dan menenangkan bayi kecil itu.


"Emm... Bobo lagi... " bisik Andin sambil memandangi bayi dalam gendongannya.

__ADS_1


"Bentar lagi punya sendiri... " bisik Bimo pada istrinya lalu mengecup pipi bayi mungil yang baru saja tidur dalam gendongan Andin.


Silvia tampak sangat kesal melihat betapa kakaknya sangat menyayangi Andin. Apa lagi sekarang mereka menjadikan anaknya sebagai objek imajinasi. Andin juga tampak begitu menyayanginya bahkan saat pertama menggendong bayinya, rasanya Andin dan Bimo yang menjadi orang tua.


Tak selang lama setelah bayinya terlelap di dalam box bayinya, Aldo datang bersama istrinya yang baru. Silvia tampak kesal bukan main. Begitu pula dengan keluarganya yang tak menyambut Aldo bahkan sangat ketus padanya.


"Kamu makin cantik pakek hijab gitu... " puji Aldo saat melihat Andin yang menatapnya dengan tajam dan penuh rasa benci meskipun Andin tampak masih takut padanya.


Bimo hanya diam lalu merangkul Andin.


"To the poin saja, apa mau mu? " tanya Silvia ketus.


"Ah, benar... Ini bayiku juga kan? Kamu kelihatannya gak suka dan gak siap jadi ibu. Bagaimana kalau aku saja yang ngurus? Jadi kamu, bisa cari pasangan baru dan gak perlu neror istriku atau menelponku tiap malam... " ucap Aldo terus terang.


Silvia hanya diam lalu memalingkan wajahnya. Terlalu kesal. Ingin sekali ia menghajar mulut tak tau diri itu. Atau menjambak rambut wanita ****** itu sampai botak. Kalau saja ia sudah sedikit pulih setelah melahirkan.


"Kamu bisa hubungi aku kalo kamu mau buang bayinya... " ucap Aldo lalu pergi.


"Ini... Buat beli susu..." ucap wanita yang di bawa Aldo menyerahkan amplop pada Silvia yang langsung di lemparnya kembali.


"Makan saja uangnya, aku tidak butuh uangmu! " kesal Silvia.

__ADS_1


Silvia hanya diam dalam tangisnya yang langsung pecah. Ini bukan yang dia mau, bukan kehidupan seperti inI yang ia dambakan. Bimo juga langsung pergi bersama istrinya. Tak mau terlalu lama dan membuat istrinya tak tenang juga memberikan celah pada Aldo untuk datang dan mendekatinya lagi. Tidak lagi!


__ADS_2