
"Kak, kamu mau gak sam... "
"Aku mau nikah sama anaknya om Trisno, sama si Andin. Bulan depan gapapa." Bimo yang tau kemana arah pembicaraan papanya langsung mengucakan apa yang mau di dengar orang tuanya.
Pak Hendro cukup terkejut dengan ucapan Bimo, bahkan bu Alin sampai menjatuhkan roti isi yang tengah ia nikmati karena terlalu terkejut.
"Aku mau pernikahan yang sederhana dan eksklusif. Aku gak banyak kenal sama Andin. Semua mama papa aja yang urus, aku tinggal ijab aja. Aku baru mau kenal dan ketemu waktu Andin dah sah jadi punya ku... " ucap Bimo lagi lalu pergi dari rumah begitu saja setelah menyalimi kedua orang tuanya yang masih syok.
"Mimpi kita ini... " gumam pak Hendro dan istrinya kompak.
Tak ada yang menyangka bila Bimo yang keras kepala dan begitu dingin menyampaikan keinginan untuk menikah. Bahkan Bimo yang selalu mengatakan bila ingin hidup bebas setuju dengan perjodohan ini. Benar-benar di luar dugaan.
__ADS_1
"Kakak mana? Kok di kamarnya gak ada? " tanya Silvia yang baru sampai di meja makan pada orang tuanya.
"Yang tadi nyata Ma... " ucap pak Hendro pada istrinya yang hanya di angguki bu Alin.
"Papa mama kenapa sih?! "
"Kakakmu mau nikah.. " Bu Alin hanya mengangguk menguatkan jawaban suaminya.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa nikah sama belum dede bayinya gede! Yes! Yes! Yes! Makasih Kak, batin Silvia senang bukan main dengan kabar pagi yang ia terima kali ini.
Silvia langsung bergegas ke kamarnya tanpa bertanya siapa yang akan di nikahi kakaknya. Bagi Silvia tak penting lagi siapa yang akan di nikahi kakaknya, terserah siapa dan apapun itu. Orang kek, hewan kek, pekerjaannya sendiri kek, bahkan tiang listrik sekalipun bagi Silvia tak penting lagi sekarang. Yang Silvia tau dan yang jelas ia butuhkan hanya segera menikah dengan Aldo! Apapun caranya!
__ADS_1
●●●
Semua di siapkan secara mendadak. Hanya keluarga Bimo yang ribet tentunya. Tak ada keluhan dari keluarga Bimo, semua bisa maklum dengan kondisi bu Tuti yang kini bisa di rawat di rumah sakit. Andin tetap ikut membantu, meskipun hanya sedikit. Hanya memilih warna baju seragam untuk anggota keluarga. Itupun di tolak Bimo mentah-mentah, hingga Andin hanya memilih gaunnya saja bersama calon ipar dan calon mama mertuanya.
Andin tak lagi banyak memilih. Ia bahkan tak bisa meminta pernikahan impiannya dan mengenal pria yang akan menikahinya. Tema gaun brydal moderen untuk pesta resepsi ekslusifnya, dan kebaya dengan model kutu baru sebagai pakaian saat akad nikahnya nanti.
Undangannya yang di sebar pun hanya mengundang sedikit anggota keluarganya, itupun hanya adik dan kakak orang tuanya. Andin dan keluarga benar-benar tak mau membebani. Berbeda dengan keluarga Bimo yang mendominasi undangan, baik kolega, teman, sampai keluarga besar.
"Kak Andin, aku suka kakakku gak salah pilih cewek buat jadi istri... Aku pengen akrab banget sama kamu... " ucap Silvia saat mengajak Andin memilih souvenir.
"Iya dong, harus. Kita kan bentar lagi jadi keluarga... " saut bu Alin yang di angguki Andin sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
Kalem banget kak Andin. Emang gak kaya sih, tapi dia punya inner beauty. Sikapnya juga dewasa, keibuan sesuai kriteria kakak banget. Batin Silvia memuji wanita pilihan kakaknya ini.