
Andin yang begitu terkejut menerima kabar kematian ibunya ini. Tangannya gemetar sampai ponselnya jatuh. Kakinya langsung lemas sampai ia langsung terduduk di lantai lalu menangis dengan histeris. Bimo dan semua anggota keluarganya langsung bangun dengan panik.
Bimo langsung mencari Andin yang sudah tak ada di sofa lalu langsung keluar kamar, Silvia dan orang tuanya juga langsung keluar kamar masing-masing. Bimo dibuat paling bingung dan panik karena Andin menangis histeris begini sambil memanggil ibunya. Bu Alin langsung memeluk Andin dan berusaha menenangkannya, sementara Bimo masih bertanya-tanya apa yang menyebabkan Andin menangis.
"Innalillahi wa innailaihi raji'un..." ucap Silvia yang melihat pesan di ponsel Andin.
Bimo langsung menyahut ponsel di tangan Silvia, lalu memberikan ponsel Andin pasa pak Hendro yang penasaran.
"Yang sabar," ucap pak Hendro sambil mengelus bahu Andin.
__ADS_1
"Ibu bilang mau sembuh, mau temani aku terus," ucap Andin di sela isakannya.
Bu Alin dan Silvia ikut sedih bahkan menangis melihat Andin yang tengah berduka. Pak Hendro juga ikut sedih meskipun tak sampai menangis. Bimo hanya diam, tentu saja Bimo ikut sedih dan berduka atas apa yang menimpa Andin pagi ini. Bimo langsung bersiap mengantar Andin menemui ibunya, tentu hanya dengan persiapan yang sangat darurat. Hanya sikat gigi, cuci muka dan memakai celana panjang.
Andin terus menangis sambil menggenggam tangan Bimo yang membawanya ke mobil. Andin berusaha tenang, berusaha menghentikan tangisnya di sepanjang perjalanan dalam diam.
"Jangan di tahan, bibirmu berdarah," ucap Bimo yang melihat ada darah yang mengalir di sela bibir Andin.
Andin hanya diam tak mendengarkan apa yang di ucapkan Bimo. Hingga ia sampai di rumah sakit dan kembali menangis histeris saat melihat ibunya yang tebujur kaku.
Pak Trisno hanya bisa mendekap Andin berusaha menguatkannya. Bimo langsung menyeka air matanya yang akhirnya ikut mengalir saat melihat Andin dan mertuanya. Bimo tak menyangka bila yang datang hanya ia dan Andin saat bu Tuti meninggal. Tak ada yang peduli untuk datang sepagi ini.
__ADS_1
Miris, semua datang hanya saat ada maunya. Batin Bimo yang melihat betapa sengsaranya Andin saat ini. Andin anak tunggal, ibunya juga. Andin benar-benar sebatang kara nantinya saat ayahnya juga menyusul kepergian ibunya, sementara Andin harus hidup dengan pria yang tak di cintainya dan sempat menganggapnya sebagai pelacur.
●●●
Acara pemakaman berlangsung tanpa di hadiri sanak saudara. Hanya tetangga dan beberapa mantan pegawai yang masih memiliki rasa kemanusiaan. Andin jelas sangat histeris sampai pingsan saat ibunya di makamkan. Andin bahkan masih sedih dan enggan bicara di kamarnya. Kondisi pak Trisno tak jauh beda dengan Andin hanya saja pak Trisno lebih bisa keadaannya. Pak Trisno juga bisa sedikit bercerita pada besannya soal kepergian istrinya dan waktu-waktu berat istrinya melawan penyakitnya.
Bimo makin tidak menyangka dengan apa yang sudah di lalui Andin. Bimo benar-benar terenyuh, selain karena perasaannya sebagai penulis yang begitu lembut. Bimo juga tak menyangka bila semua yang ia pikirkan soal Andin salah besar. Bila sebelumnya Bimo merasa sebuah musibah menikah dengan Andin, kini ia merasa sebuah berkah bisa menikahi Andin.
Bimo masih mendapati Andin yang belum makan, minum pun hanya sedikit masih berbaring di kasur lipatnya sambil memeluk guling memunggungi pintu. Kadang nafasnya masih tersengal karena tak siap di tinggal ibunya. Bimo kehabisan kata-kata untuk menguatkan Andin, Bimo cukup tau diri ia tak mungkin kuat bila ada di posisi Andin. Tak mungkin Bimo bisa bilang sabar ya, bila ibunya sendiri yang meninggal. Bimo juga merasa menyesal tak sempat berbuat baik pada ibu mertuanya, kalau saja ia tau mertuanya hidup hanya sebentar. Pasti ia mau menginap di rumah sakit menunggunya bersama Andin.
"Mas, dah solat?" tanya Andin saat Bimo menyentuh bahunya.
__ADS_1
"Belum," jawab Bimo lalu tidur di samping Andin dan mendekapnya. "Kamu kuat, aku tau kamu kuat."
Andin hanya menundukkan kepalanya menyembunyikannya di bawah guling yang ia peluk.