Young Money

Young Money
Part 5


__ADS_3

Andin kembali menemani Bimo lagi, seperti biasa, tapi karena tempatnya yang dekat dengan klinik. Iseng Andin memeriksakan diri, apalagi ia kerap merasa tidak enak badan.


Selama Bimo sibuk dengan acaranya, Andin tengah mengantri untuk diperiksa. Sampai akhirnya Andin selesai di periksa dan tengah mendengar analisis dokter yang terus menanyainya ini itu.


"Tapi Ibu punya suami?" tanya si dokter pada Andin.


"Punya, lagi kerja..." jawab Andin. "Apa magh saya sudah parah? " tanya Andin khawatir.


"Bukan magh..." jawab dokter lalu mengambil hasil USG Andin. "Ibu hamil, sudah lima minggu..." sambung si dokter.


Andin langsung membelalakkan matanya tak percaya. Tak selang lama ia langsung menangis haru dan mengucap syukur berkali-kali. Si dokter juga ikut senang dengan reaksi Andin. Setelah menerima resep obat dan menebusnya Andin kembali ke ruang tunggu.


Suaminya masih sibuk dengan para penggemarnya. Andin berusaha untuk menahan diri dan tidak memberitahu saat ini juga.


"Ini harus jadi kejutan..." gumam Andin.


Tapi belum ada lima menit ia mengatakannya ia langsung pergi menemui suaminya dan memberikan surat pemeriksaannya dan foto USG-nya lalu buru-buru kembali ke ruang tunggu.


"Sebentar ya..." ucap Bimo lalu membuka surat hasil pemeriksaan Andin, Bimo langsung membelalakkan matanya saat melihat hasil pemeriksaan dan USG istrinya.


Kling!

__ADS_1


Bimo langsung tersenyum sumringah dan buru-buru menyelesaikan acaranya. Agar bisa cepat menemui istrinya. Bahkan acaranya sampai selesai lebih awal dan sold out lebih cepat karena Bimo minta panitia mengumumkan kalau satu jam lagi di tutup.


"Andin..." Bimo langsung memeluk istrinya erat lalu mencium bibir dan keningnya. "Alhamdulillah..." bisiknya lirih lalu membenamkan wajahnya di tengkuk Andin, tak lama ia langsung meluruh ke lantai agar sejajar dengan perut Andin. "Kamu sejak kapan di sana hmm?" tanya Bimo lalu mengecup perut Andin lembut.


"Sstt... Mas di liat in ih... Malu..." ucap Andin yang tersipu-sipu.


"Biarin, kan dah nikah... Dah bapak-bapak ini..." ucap Bimo lalu bangun dan duduk di sofa bersama Andin.


"Aduh yang pengantin baru... Nempel terus kayak perangko!" sindir editor Bimo yang turut menjadi panitia.


"Udah yuk pulang... Apa mau jajan? Pengen apa gitu gak?" tanya Bimo mengabaikan editornya yang maha nyinyir itu.


"Mau pulang aja," jawab Andin pelan lalu berusaha menegakkan duduknya.


"Tapi aku pengen tiduran aja Mas, nanti beli di bungkus aja gimana?" tanya Andin lalu membawa amplop pemeriksaannya tadi.


"Apa pesan antar aja?" tanya Bimo semangat memanjakan istrinya.


"Yaudah gapapa..." jawab Andin lalu masuk ke dalam mobil.


"Ice cream mau?" tanya Bimo yang benar-benar ingin memanjakan istrinya.

__ADS_1


"Enggak Mas..." jawab Andin lalu memakai sabuk pengaman.


"Beneran gak pengen apa-apa? " tanya Bimo lalu mengambilkan bantal untuk istrinya.


Andin hanya mengangguk lalu mengecup pipi suaminya. "Nanti kalo pengen pasti bilang..." ucap Andin agar suaminya lebih tenang.


"Beneran ya?" ucap Bimo sedikit tenang yang langsung di angguki Andin. "Kamu kenapa periksa sendiri tadi?" tanya Bimo setelah menyalakan mesin mobilnya.


"Aku khawatir kalo magh atau yang lainnya, jadi aku periksa aja. Ku kira cuma di tensi. Gak taunya sampe di USG, eh dah hamil lima minggu..." jelas Andin lalu menggenggam tangan suaminya lembut.


"Kenapa gak bilang aku?" tanya Bimo.


"Kan mas lagi kerja... " jawab Andin lalu bersandar di bahu Bimo.


"Aku khawatir... Tapi aku juga seneng kamu hamil... Dedeknya gapapa kan? " tanya Bimo.


"Gapapa, sehat... " jawab Andin lalu mengecup pipi Bimo.


"Makasih... " ucap Bimo lalu mengecup punggung tangan Andin.


"Buat apa?" tanya Andin heran.

__ADS_1


"Sudah mau jagain mani-ku sampai jadi janin gini... " jawab Bimo lalu mengecup kening Andin. "Baik-baik ya di dalem... " sambung Bimo sambil mengelus perut Andin yang masih datar.


__ADS_2