
"Bimo, mama masuk boleh? " tanya bu Alin sebelum masuk kamar anak sulungnya itu.
Bimo yang tengah membaca hasil editan naskahnya menghentikan pekerjaan menyenangkannya sejenak. Dengan ogah-ogahan Bimo membuka pintu kamarnya dan membiarkan mamanya masuk.
"Kamarmu sepi ya... " komentar bu Alin begitu masuk. Bimo hanya menatapnya sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya. "Kalo ada temennya bagus kali ya di sini, kasurnya juga lebar gini... Buat satu orang lagi gapapakan ya... " Bu Alin kembali berkomentar sambil tiduran sejenak, lalu membuka lemari baju Bimo dan melihat-lihat kamarnya.
"Ma, aku dah gede. Aku gak nyimpen DVD bokep, apalagi yang dari Jepang. Aku dah gak nonton Anri Okita lagi, majalah dewasa juga dah gak koleksi Ma... " ucap Bimo seolah paham apa yang di cari ibunya saat mulai membuka-buka lemari dan mengecek rak bukunya, serasa razia dadakan.
"Siapa yang mau razia kamu sih? "
__ADS_1
Bimo kembali menatap mamanya, kini dengan tatapan bingung dan terheran-heran. Kalau gak mau razia kenapa teliti banget ngeceknya, batin Bimo.
"Kamu kalo ada yang nemenin di kamar marah gak? Mau berbagi tempat gak? " tanya bu Alin yang makin membuat Bimo bingung.
"Ma aku gak mau loh ya kalo Aldo nginep sekamar sama aku! "
"Emang mama mau suruh Aldo nginep?"
Bu Alin langsung tersenyum sumringah saat Bimo penasaran dengan apa yang ia mau. Bu Alin langsung menunjukkan foto Andin yang tadi ia ambil, juga beberapa fotonya bersama keluarga Andin tadi.
__ADS_1
"Ingat Andin gak? Anaknya om Trisno temen papa itu loh. Kamu mau gak di jodohin sama dia? "
Bimo hanya diam menatap foto Andin. Alisnya berkerut memikirkan banyak hal, Bimo sangat benci di paksa apalagi soal cinta. Rasanya ingin sekali Bimo menolak permintaan namanya dengan tegas seperti biasa, tapi saat ia menggeser foto-foto di galeri ponsel mamanya dan mendapati foto Silvia. Bimo hanya bisa menghela nafas panjang, lalu mengirimkan foto-foto Andin ke ponselnya.
"Aku mikir-mikir dulu ya Ma... " ucap Bimo lalu menggiring mamanya keluar kamar.
"Mikir-mikir dulu? Tumben? "
Mendengar sindiran mamanya yang heran dengan ucapannya, Bimo langsung menutup pintu kamarnya dan tak keluar kamar sama sekali. Bimo juga mengunci pintu kamarnya dan mengabaikan Silvia yang menggedor pintu kamarnya berusaha masuk. Bimo juga langsung memakai mode pesawat agar tidak menerima telpon atau bom chat dari adiknya itu.
__ADS_1
Badan standar, wajah standar, rambut standar, rumah hmm... Miskin? Temen papa sih, apa pinjem duit sama papa sampe kayak gini. Cih! Mana mungkin papa jadi kayak rentenir murahan gini... Mama juga kayaknya seneng banget sama dia... Ada apa-apanya ini... Alah yaudah lah gapapa cuma biar Silvia bisa nikah ini... Aku nikah bentar, tidur, ceraikan. Anggap aja nyewa Miyabi, batin Bimo mempertimbangkan Andin yang di jodohkan dengannya.