
Andin kali ini datang bersama ayahnya yang akan menginap di rumah mertua Andin. Hanya telur asin dan pisang yang di bawanya. Meskipun begitu Andin sangat senang dengan kehadiran ayahnya, meskipun ayahnya hanya menginap semalam saja nantinya.
Andin terlihat sibuk melayani ayahnya, Andin melakukannya dengan senang hati karena lama tak bersama ayahnya. Bimo baru keluar kamarnya saat menjelang sore, dengan wajahnya yang masih mengantuk meskipun sudah mandi. Andin tidak memasak apa-apa awalnya. Tapi melihat telur asin yang menggoda, akhirnya ia kembali memasak. Oseng cabai dan telur asin, lebih terlihat seperti sambal matah dengan telur asin sebenarnya.
"Silvia mau makan? " tanya Andin yang tengah menonton tv bersama ayahnya.
Silvia hanya mengangguk lalu menyalimi ayah mertua kakaknya itu. Andin langsung bangun dan menemani Silvia sejenak.
"Ada telur asin loh, Silvia doyan gak?" tanya Andin sambil membukakan tudung saji.
"Ya ampun! Dari tadi aku pengen banget kak makan ini! Akhirnya!" ucap Silvia senang.
__ADS_1
Andin dan ayahnya ikut menemani Silvia makan. Silvia makan dengan sangat lahap hanya dengan telur asin saja. Pak Trisno sampai tidak enak hati melihat Silvia begitu lahap. Bahkan pak Trisno juga jadi khawatir bila Andin tak diberi makan atau makan tidak cukup di rumah mertuanya setelah melihat cara Silvia makan.
"Mas Bimo," panggil Andin begitu melihat Bimo keluar kamar.
Bimo yang akan menyalimi ayah mertuanya langsung di tarik Andin agar kembali ke kamar dengan cepat. Andin tau bila ada Bimo nantinya Silvia akan menghentikan makannya dan kembali mengurung diri di kamar. Bimo hanya mengikuti Andin yang menariknya masuk ke kamar, bahkan Bimo jadi deg-degan dan memikirkan hal sensual yang akan di lakukan Andin setelah mengunci pintu kamar.
Gak, gak mungkin Andin seagresif itu! Batin Bimo mengusir pikiran kotornya.
"I...iya... K...ka...kan...kan kita... Kita dah nikah... Ma... Mas... Masak iya tidur pisah... " jawab Bimo gugup lalu memalingkan wajahnya karena malu, begitu pula dengan Andin yang melakukan hal yang sama.
Situasi langsung beku dan canggung. Jelas-jelas Bimo dan Andin belum siap untuk sesuatu seintim itu. Bagaimana bisa Bimo berpikir Andin akan nyaman dengan keputusannya.
__ADS_1
"Lagian, di sofa kan gak enak, keras. Kamu juga gak pernah tidur enak kan waktu di sini. Ngejingkrung terus kayak udang bongkok..." ucap Bimo berusaha mencairkan suasana. "Nanti ada gulingnya kok! Jadi ada jarak!" sambung Bimo yang meninggikan suaranya karena salah tingkah sendiri.
Andin hanya mengangguk pelan dan merasa tidak akan berjalan lancar. Tidur beda tempat saja masih membuatnya canggung apa lagi seranjang. Huft bisa mati konyol lama-lama. Hup! Bimo dan Andin kompak menutupi wajah masing-masing dengan kedua telapak tangan mereka lalu memunggungi satu sama lain karena malu.
Mas Bimo gak salah, ini juga wajar. Aku sama mas Bimo dah dewasa, dah nikah. Gak mungkin selamanya bakal tidur pisah. Batin Andin berusaha memaklumi dan menerima perlakuan Bimo.
Ini wajar! Aku dah jadi suami istri. Silvia yang kumpul kebo aja bisa masa aku yang halal enggak! Tapi, argh! Ini kenapa bertolak belakang banget sama apa yang ku tulis di novel! Kalo sampe Andin tau dan percaya kalo aku Ten Ayashi, bisa di ketawain habis-habisan aku! Batin Bimo panik namun tetap berusaha menguasai keadaan dan situasi yang terlanjur terjadi ini.
●●●
Hingga malam menjelang, usai makan malam dengan sangat menyenangkan dan hangat. Bersama Silvia juga yang besok akan menikah jauh sangat cepat dari perkiraan. Andin kembali ke kamar dan mengobati Bimo, yang kini sudah seperti kebiasaannya. Andin jadi jauh lebih canggung begitu pula dengan Bimo.
__ADS_1
Andin juga akhirnya tidur bersama ayahnya setelah membantu Silvia merapikan kamar. Juga di bantu pembantu rumah tangga agar lebih cepat selesai. Sementara Bimo kembali tidak tidur semalaman. Padahal paginya ia harus menjadi saksi di pernikahan adiknya.