' R E T A K '

' R E T A K '
Makam ibu ^


__ADS_3

Nara mengantarkan sampai di mobil ambulance ,


"Dok ,apa dokter Nara tidak ikut ?"


"Aku libur hari ini " ucap Nara nyakin .


"Tapi siapa yang akan bertanggung jawab nanti dok ?


"Iya . ya sudah aku ikut !"Nara duduk di sebelah tuan yang belum di kenalnya itu .


Nara memperhatikan kalbutor detak jantung yang menempel di tubuh pria paruh baya itu .


"Lebih cepat sedikit , "ucap Nara melihat detak jantung itu sedikit demi sedikit menurun .


"Baik dok"


Nara menelpon seseorang .


"Kami sebentar lagi sampai " setelah sepuluh menit akhirnya mereka telah sampai di depan rumah sakit .


Nara ikut berlari memasukan pasien di ruangan ICU untuk mendapatkan pertolongan pertama .


"Dok apa yang terjadi ?


"Tuan ini mengalami serangan jantung " Nara sampai di pintu ICU


"Baik lah , dokter Nara tidak ikut kedalam ?"


"Aku libur hari ini " ucapan itu keluar lagi dari bibirnya .


"Baik lah tolong pantau kami dok "


" Ya sudah aku ikut " Nara dengan baju berwarna putih Tampa jas kedokteran nya pun ikut menangani pria paruh baya itu .


Setelah memakan waktu satu jam akhir semua dokter dan perawat bernafas lega karena pasien mereka' telah stabil walau belum sadarkan diri .


mereka mengucapkan syukur kepada Tuhan yang maha esa .


"Apa keluarga nya belum ada yang datang ?" ucap Nara pelan


Namun suara suster membuat Nara mengalihkan pandangan nya .


"Dok , telpon tuan itu terus berbunyi "


Nara mengambil alih ponsel itu dan melihat nama yang tertera di layar ponsel mahal itu .


"Sekertaris Lee ' Nara pun menekan tombol hijau untuk menerima panggilan itu .


"Halo "


"Maaf apa ini keluarga dari orang yang memiliki ponsel ini ? tanya Nara .


"Siapa ini ? " dengan suara dingin .


"Tuan sekarang lebih baik kerumah sakit , karena pemilik ponsel ini sedang ada di rumah sakit , karena tadi mengalami serangan jantung " telpon itu langsung mati .


Nara mendengus melihat ponsel itu .


"Taruh lagi saja " namun suara panggilan masuk itu terdengar lagi .


"Rumah sakit mana ?" tanya orang di sebrang sana


"Rumah sakit Medika price " tlpon pun langsung mati bengitu saja , membuat Nara mengutuk tindakan orang yang menelpon barusan .


Nara memasuki ruangan kepala rumah sakit ,


"Apa kalian tahu siapa yang baru saja kalian tangani ?


"Tuan Adrian Martadinata '"ucap pak Thomas kepala rumah sakit itu .


Mereka semua mencerna nama yang di ucapkan oleh kepala rumah sakit itu " Martadinata " Nara dan dokter Leon dan para perawat lain nya saling bertukar pandangan kanget mendengar penuturan kepala rumah sakit' itu .


Orang nomor satu di kota ini di rawat .


"Saya ingin bertanya kepada kalian , siapa yang menanganinya? "tanya pak Thomas


"Kami "ucap dokter Leon mengangkat tangan nya .


"Sekarang sudah di pindahkan di ruang VIP pak "ucap dokter Leon masih tidak percaya dengan siapa yang mereka selamat kan barusan .


Pak Thomas pun bergegas menuju ruangan yang dokter Leon maksud kan .

__ADS_1


"Apakah benar itu ? "ulang para Suster kegirangan ,


"Kita menyelamatkan tuan Martadinata . oh tuhan aku tidak percaya " timbal salah satu Suster lainnya .


"Nara kamu tau bukan siapa tuan tadi " tanya dokter Leon


"Hemm .aku pernah mendengar tentang perusahaan Martadinata grup , tapi aku tidak pernah melihat pemilik nya " jelas Naira berjalan beriringan menuju kamar VIP .


"Sama .mereka sangat privasi tentang keluarga mereka , ini suatu kebanggaan Ra " ucap dokter Leon bangga .


"Heemm " Nara tersenyum simpul .


Nara memperlambat langkahnya , mengigat untuk apa tadi dia keluar dari apartemen nya .


"Ya Allah " Nara menepuk jidatnya .


"Ada apa ? "


"Hari ini aku akan mengunjungi makam ibu ku , aku melupakan nya " wajah Nara berubah murung .


" Kamu ingin ke sana ?"Nara menggangukan kepalanya .


"Pergilah , itu adalah momen penting untuk kamu Ra " Nara menggangukan kepalanya lagi .


"Tolong minta izin kan aku kepada pak Thomas dokter Leon '"Leon tersenyum .


"Maafkan aku tidak bisa menemani mu "ucap Leon


"Tidak masalah , aku pamit " Nara membalikan tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu menuju ruangan nya , untuk mengambil tas selempang yang iya tinggalkan di sana tadi .


Nara sedang berada di pinggir jalan untuk mencari taksi , sebuah mobil sport mewah berjalan kencang melintasi jalan di depan nya .


"Apa dia sudah kehilangan akal , dia tidak lihat jika ada lampu merah apa dia tidak tau betapa bahanya nya jika melanggar aturan huh.,... orang kaya berprilaku semaunya " Nara menggelengkan kepalanya .


Setelah mendapatkan taksi Nara pun bergegas menuju pemakaman umum tempat di mana ibunya berada .


Sebelum memasuki area pemakaman Nara membeli bunga kesukaan ibunya di dekat pemakaman itu .


Sepanjang perjalanan Nara terus menarik nafas dalam-dalam menyiapkan dirinya untuk bertemu ibunya itu .


"Assalamu'alaikum ibu , Ibu Nara datang " Nara mendudukkan tubuhnya di samping gundukan tanah itu .


"Maaf Nara Jumat kemarin tidak bisa datang , karena Nara ada jadwal .


"Nara tau ibu baik baik saja "ucap Nara tersenyum .


"Huh ,,. rumput nya sampai tinggi seperti ini ""ucap Nara sambil menyabuti rumput rumput yang tumbuh di area makam ibu nya itu .


Nara menatap gundukan tanah itu , lumanyan lama Nara hanya terdiam .


"Ibu Nara kangen " Nara memeluk tempat peristirahatan terakhir ibunya itu . air matanya mengalir membasahi pipi wanita itu .


Nara menangis lama melampiaskan rasa rindu nya .


Alam seperti mengerti akan perasaan wanita itu . dan langit pun ikut meneteskan air dari atas sana , membasahi seluruh sekitaran kota ,


namun wanita itu tidak memindahkan tubuhnya yang sedang memeluk makam ibu nya itu . walau tubuh nya sudah basah kuyup terkena air hujan .


Nara menikmati setiap tetesan yang mengenai tubuh nya . dan masih menceritakan semua kegiatannya beberapa Minggu ini .


Tak terasa hari pun hampir berganti senja , namun Nara masih betah berlama-lama di depan makam itu .


tubuhnya mulai menggigil menahan dinginnya udara yang menerpa tubuhnya yang basah .


"Nak . sudah sore kami akan menutup pintu nya " tegur seorang pria paruh baya yang menjaga pemakaman itu .


"Baik pak , terimakasih sudah di ingat kan " Nara tersenyum ramah kepada pak tua itu .


Nara terlihat mengangkat tangan untuk memanjatkan doa , setelah itu Nara menaruh bunga lili putih dipadu dengan bunga lavender ungu menambah kecantikan bunga itu .


"Nara pulang Bu " Nara mencium nisan ibunya .dan beranjak dari tempat itu .


Badannya gemetar menahan dingin ,namun iya berjalan cepat agar cepat sampai di apartemen nya .


"


"


'Malam hari di rumah sakit


Seorang pria tampan berjalan menuju kamar rawat tuan Adrian Martadinata, dengan langkah panjang , wajah tampan yang terlihat dingin 'namun pesona pria itu sangat memikat ,bangai mana tidak hidung nya yang mancung sempurna ,alis mata yang hitam seperti pedang dipadu dengan mata yang terlihat tajam , memiliki rahang yang tegas dan di tumbuhi bulu bulu halus , membuat karisma pria itu terpancar menyihir para mata yang memandang nya .

__ADS_1


tubuh tegap nya masih memakai pakaian rapih dengan jas hitam yang melekat pada tubuh pria itu, membuat mata terpaku melihat ciptaan Tuhan itu .


" WILLRAD SAGA MARTADINATA


adalah pria Tampan dari keluarga Martadinata yang sekarang telah menjadi penerus perusahaan Martadinata grup , perusahaan keluarga yang iya lanjutkan ini telah membuktikan kemampuan seorang saga , bahkan mereka menjadi seorang yang paling berpengaruh di kota itu .


Namun walau seperti itu , mereka tidak pernah memunculkan wajah mereka di depan publik , hanya orang orang tertentu saja yang mengenal pemilik perusahaan besar itu .


Usianya yang sudah memasuki tiga puluh dua tahun itu membuat pria itu selalu di desak oleh keluarga nya agar cepat mencari pasangan hidup ,


Namun didalam kamus saga tidak ada nama wanita selain ibu nya dan adik perempuan nya . dan sahabat nya sedari kecil , Sarah Sechan


Bahkan dirinya merasa jijik saat melihat wanita yang sengaja memperlihatkan bentuk tubuh nya dengan baju baju seksi nya hanya untuk memikat pria yang melihat mereka .


"Sempurna sekali "hampir semua bisik bisik melihat pria tampan itu .


"Tidak apa jika aku hanya menjadi seorang pelayan di rumah nya ,asal bisa melihat wajahnya setiap hari" dan masih banyak lagi desas-desus para wanita di sana .


"


...----------------...


"Apa yang terjadi ?, kenapa bisa seperti ini? " saga mendudukkan tubuhnya di kursi Samping pria paruh baya yang di panggil papi itu .


Pak Adrian tersenyum melihat raut wajah khawatir putra sulungnya itu .


"Aku sedang bertanya , bukan meminta papi tersenyum !"tukas saga


"kau mengkhawatirkan ku ?"ucap Pak Adrian tertawa keci membuat pria tampan itu memalingkan wajahnya .


"Aku baik baik saja " pak Adrian menepuk dada nya membanggakan kesehatan nya .


"Kau tau , aku melihat Kak merry tadi "saga menatap wajah Pak Adrian serius .


"Pi, bukan kah papi tau jika Tante merry sudah meninggal , bangai mana papi bisa berbicara bertemu dengan nya " ucap saga dengan tatapan serius .


"Lalu siapa tadi , dia memiliki wajah yang bengitu mirip dengan kak merry " pak Adrian menatap wajah putra nya itu .


"Papi bertemu dengan nya dimana ?"


"Papi mengikuti nya sudah beberapa hari ini , ternyata di tinggal di apartemen melati ,dan papi Ingin menyakinkan bahwa benar wanita itu adalah kak merry , tapi ,,, tidak mungkin kan kak merry masih muda seperti itu "ucap pak Adrian tertawa kecil .


"Lalu ?


"Dia hanya mirip . tapi karena aku kaget dadaku sakit , setelah itu aku tidak sadarkan diri "


"Apa mungkin dia adik nya atau mungkin putri nya ?


"Itu yang harus kita cari tahu .


dan beruntung nya , dia adalah seorang dokter yang bertugas di rumah sakit ini "membuat saga termenung


"Papi juga sudah meminta identitas gadis itu " saga masih mematung mendengar penuturan pak Adrian .


"Jika memang benar dia adik atau putri kak Merry , papi ingin meminta suatu hal pada mu " ucap pak Adrian kepada saga .


saga tidak menjawab ,


"Dimana istri mu , apa dia belum datang ?"saga mengalihkan pembicaraan mereka .


"Mereka masih berlibur di pulau komodo , dan tidak bisa pulang secepat itu " ucap pak Adrian .


"Apa yang tidak bisa ?" ucap nya pelan melangkah menuju sofa ruangan itu .


assisten Lee terlihat berdiri tak jauh dari kedua atasannya itu .


"semoga cepat sembuh tuan "


"Lee ,kamu seperti baru kemarin ikut dengan kami "ledek pak Adrian melihat kekakuan wajah asisten putranya itu .


"ini adalah warisan dari tuan muda tuan " ucap asisten Lee sambil tertawa kecil .


"kau " tunjuk saga kepada asisten Lee .


mereka berdua pun tertawa lepas melihat saga sudah mulai marah .....


bersambung.....


assalamu'alaikum ☺️


hi reader tolong tinggalkan jejak nya , jangan lupa like dan komentar biar lebih semangat nulis nya ☺️

__ADS_1


terimakasih sudah mampir


semoga terhibur ☺️ 🙏🏻


__ADS_2