
Di dalam perjalanan tidak ada obrolan sama sekali diantara mereka berdua hanya ada deru mesin yang halu lalang yang mereka lintasi
Namun dering telepon membuat Nara menatap kerah laki laki itu .
dan saga pun mengangkat telepon itu
"Hallo "
.....
"Aku sangat sibuk hari ini "
.......
"Tidak ada yang lebih penting dari dirimu , akan aku usahakan untuk ikut nanti malam "
,.....
"Daa " Nara hanya terdiam mendengarkan percakapan kedua orang itu , walau otak keppo nya sangat meronta ingin tau apa yang mereka obrolkan .tapi tidak mungkin bukan bisa seperti itu !.
Dan akhirnya kebisuan itu telah berakhir saat mobil yang di tumpangi oleh Nara dan saga sampai di kompleks perumahan elit , dan tidak berselang lama mereka memasuki sebuah rumah yang di kelilingi gerbang tinggi berlapis Kuningan tersebut .
Saat pintu gerbang itu dibuka pandangan Nara tertuju kepada halaman yang bengitu luas yang di tanami beberapa macam bunga dan pepohonan di sana , dan ada sebuah kolam renang yang memanjakan mata nya .
Namun banyangan medison yang iya tinggali selama 20 tahun lamanya bersama ayah , ibu , adik dan kakak tirinya kembali terlintas di benak Nara membuat Nara menghembuskan nafas berat .
Saga masih setia mengemudikan mobilnya untuk menuju halaman medison itu .
Nara yang masih terhanyut dalam masa lalunya yang menakutkan itu , sampai Nara tidak menyadari jika mobil itu sudah terparkir didepan pintu medison .
"Tadi nona Nara menolak jika aku yang menjemput , lihatlah sekarang anda bengitu nyaman rupanya !"suara bariton itu menyadarkan Nara dari lamunannya.
"Tuan mengatakan sesuatu ?"tanya Nara polos karena memang dirinya tidak terlalu mendengar penuturan pria tampan itu .
"Lupakan , cepat turun pasti papi ku sudah menunggu di dalam sana "ucap saga dengan nada serius .
"Hemm " "Nara berusaha untuk membuka seat belt nya , namun Nara kesulitan akan hal itu .
Saga yang sudah melangkah keluar memperhatikan Nara dari luar sana sambil menggelengkan kepalanya .
"Hanya membuka itu saja. apa akan merepotkan orang lain juga ?"tanya saga membuka pintu mobil di samping Nara .
"Mobil tuan yang jelek , kenapa seat belt nya tidak bisa di buka " ucap Nara tidak terima jika disalah kan .
Tampa berkata lagi saga pun langsung mencoba untuk melepaskan sabuk pengaman itu dari tubuh Nara , hingga membuat Nara menahan nafas nya , karena wajah laki laki itu hanya beberapa centi saja dari wajah nya .
"Kenapa tidak bisa "ucap saga mengalihkan pandangan ke arah Nara, hingga hampir saja hidung mereka saling bersentuhan , beberapa detik pandangan mereka beradu seolah mengisyaratkan sesuatu hingga membuat jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya .
"Awas " pekik Nara mendorong saga untuk menjauh dari nya .
__ADS_1
saga pun menjauh dari Nara yang mendorongnya keluar.
"Tuan pintar juga mengambil kesempatan dalam kesempitan "ledek Nara menetralkan perasaanya .
"Benar kah "ucap saga memajukan wajah nya lebih dekat dengan wajah wanita itu , membuat Nara memundurkan kepalanya takut jika saga melakukan hal yang tidak tidak .
"Menjauh lah "ancam Nara ,namun saga hanya terdiam melihat sikap Nara padanya . hingga suara tuan Adrian menyadarkan mereka berdua .
"Benar juga aku mengambil kesempatan dalam kesempitan nya. "ucap saga sambil menarik kuat tali seat belt itu hingga terputus membuat Nara membelalakkan matanya .
"Apa anda gila ?"ucap Nara pelan
Saga hanya tersenyum dan membalas sapaan dari pak Adrian .
"Kenapa lama sekali , dimana dokter Nara ?"tanya pak Adrian kepada saga .Nara segera keluar dari mobil tersebut sambil tersenyum kepada pak Adrian dan menatap pria di sebelah nya .
"Akhirnya impian ku terhujut ! semoga ini adalah awal yang baik untuk kita semua "ucapan pak Adrian membuat Nara dan saga menatap wajah pria paruh baya itu .
"Pi ? "
"Dokter Nara besok kita akan berziarah ke makam kak Mery , sekalian kita akan meminta restu untuk pernikahan kalian berdua " Nara mematung mendengar penuturan pak Adrian ,
"Pi , apa akan secepat itu ? "tanya saga
"Lalu kapan lagi , apa menunggu papi meninggal dulu " ucap pak Adrian
"Lalu mau berapa kali lagi kalian bertemu , baru akan memutuskan untuk menikah ?"tanya pak Adrian
" Saga usia papi sudah tidak muda lagi nak , papi ingin melihat putra putri papi menikah , apakah itu terlalu sulit "ucap pak Adrian lagi dengan suara yang terdengar berat.
Saga tidak bicara lagi , saga terlebih dahulu melangkah masuk kedalam medison itu dengan perasaan serba salah .
ibu Cintia melihat kejadian itu hanya mampu menarik nafas panjang , kenapa suaminya itu bengitu kekeh ingin sekali saga menikah dengan dokter Nara . sampai terkesan memaksakan kehendak nya sendiri .
Nara memundukkan kepalanya , merasa bingung akan berkata apa ?.
"Ayo masuk dokter Nara " ajak pak Adrian ,Nara mengngukan kepalanya sembari melangkahkan kakinya menuju pintu masuk .
"Maaf atas sikap saga tadi nya "ucap pak Adrian ,Nara hanya terdiam sejenak dan menganggukan kepalanya lagi .
"Dokter Nara "sapa ibu Cintia dengan senyum ramah
"Nyonya Cintia,,
nyonya tolong panggil Nara saja , ini di luar pekerjaan saya nyonya "ucap Nara tersenyum membalas keramahan ibu Cintia .
"Baik lah , asal kan dokter Nara juga tidak memanggil saya dengan Panggilan nyonya , panggil Tante atau mami saja nya " ucap ibu Cintia
"Baik tan-te "ucap Nara gugup
__ADS_1
"Bangus ,,ayo masuk nak Nara "
Nara merasa bahangia bertemu dengan sosok ibu yang bengitu baik menerimanya . pak Adrian hanya tersenyum melihat kehangatan yang ibu Cintia tunjukan untuk calon menantunya itu .
"Terimakasih " ucap Nara menahan diri nya agar tidak menangis. mendapat perlakuan bengitu hangat dari keluarga Martadinata .
Untuk yang kedua kalinya Nara terpaku melihat keindahan rumah yang besar lagi luas itu, ada banyak Poto Poto keluarga itu yang terpajang di ruang tamu , dan banyak lukisan yang indah dan unik membuat Nara berdecak kagum . melihat itu pak Adrian pun menjelaskan satu persatu arti dan makna dari semua lukisan dan Poto Poto keluarga itu . membuat Nara bengitu cemburu. dirinya tidak seberuntung keluarga ini yang saling menyayangi satu sama lain .
Nara kembali mengingat Poto ayah , ibu dan dirinya yang masih bayi di bakar oleh ibu tiri nya membuat dada Nara terasa sesak.
"Hayo silahkan duduk nak , mau minum apa ? jus , apa teh atau yang lain , biar bibi buat kan ?"tanya ibu Cintia .
"Air putih saja Tante "ucap Nara
"Huss ..
bik tolong buatkan jus , dan teh hangat nya " Nara hanya terdiam
"Nak Nara tinggal di mana ?"
"Di apartemen Melati Tan " jawab Nara
"Sudah lama tinggal di sana ? , kenapa tidak tinggal bersama keluarga ?"tanya ibu Cintia ragu
"Hemm sudah 4 tahun Tan ,, Nara kebetulan mendapat tugas di kota ini Tante , jadi terpaksa harus berjauhan dari papa dan mama " ucap Nara tersenyum
"Ohh ,, berapa bulan sekali nak Nara pulang untuk menemui mereka (papa mama )" tanya ibu Cintia lagi
"Tergantung dari tugas pekerjaan Nara Tan "ucap Nara tidak nyaman dengan pertanyaan seputar keluarga nya .
"Bagus sekali , Bangai mana pun keluarga akan tetap keluarga nak , tidak kan ada mantan dalam keluarga , tetap jaga silaturahmi dengan keluarga ya " ucap ibu Cintia dengan lembut. Nara tersenyum
"Iya Tan , terimakasih sudah mengingatkan "ucap Nara , setelah itu minuman dan jus sudah tersedia di hadapan Nara dan ibu Cintia
"Silahkan di minum nak Nara "
"Terimakasih " mereka pun melanjutkan obrolan ringan dan hangat .
apa lagi sifat Nara yang ramah dan suka mengobrol membuat ibu Cintia sangat bahagia . jika saga cepat cepat menikah dengan nara agar dirinya akan selalu mengajak menantunya itu untuk mengobrol, berbelanja , atau berliburan bersama , huhhh itu pasti hal yang sangat menyenangkan bukan . pikir ibu Cintia .
"Lihat lah pasti papi lupa kalo ada kamu di rumah ini "ucap ibu Cintia sambil tertawa kecil karena tadi pak Adrian berpamitan untuk menemui asisten pribadi nya sebentar namun sampai sekarang masih belum kembali ...
Bersambung...
Terimakasih sudah mampir mohon tinggalkan jejak nya biar lebih semangat nulis nya like 'komentar
semoga terhibur βΊοΈππ»
Slow uq βΊοΈ
__ADS_1