
"Terimakasih sudah mengundang Nara Tante , om "ucap Nara mencium tangan nyonya Cintia .
"Sama sama ,, besok jangan lupa nya , jam 1 siang kita bertemu di sana "ucap pak Adrian
"Iya ,,
ya sudah Nara pulang dulu "
"Tunggu,, siapa yang mengantar nak " tanya pak Adrian .
"Nara sudah pesan taksi online "
"Wah kenapa naik taksi , biar saga yang mengantarkan kamu ya "pak Adrian menyuruh pelayan untuk memanggil saga .
"Tidak usah om pasti tuan saga memiliki kesibukan , Nara tidak ingin merepotkan "ucap Nara
"Tuan ?"
"Siapa yang kamu panggilan tuan nak ?"tanya ibu Cintia heran dengan ucapan Nara .
"Tuan saga "Nara kikuk untuk menjawabnya
" Nak Nara maafkan om , jika om seperti memaksakan kehendak om sendiri, tapi tidak ada sedikitpun niatan om untuk membuat kamu atau saga menderita setelah pernikahan ini . "pak Adrian menghela nafas panjang
"Tapi om tidak akan mengurungkan niatan untuk membatalkan pernikahan ini . kerena ini adalah salah satu janji om pada kak Mery untuk menjaga kamu "ucap pak Adrian kepada Nara .
"Pi "
"Pernikahan kalian akan di lakukan Dua bulan lagi , dan jangan sedih mungkin tuan arsen akan datang nanti "ucap pak Adrian menatap Nara, Nara terperanjat ketika pak Adrian menyebutkan nama ayah nya .
"Kamu merindukan nya bukan ?"
"Om sudah tahu semuanya " mata Nara terasa panas saat mengingat wajah ayah nya .
"Nak Nara "nyonya Cintia memeluk tubuh wanita itu . tubuhnya terasa gemetar menahan tangisnya .
"Saya pamit pulang dulu " ucap Nara dengan suara bergetar .
Nara tidak ingin orang lain melihat rapuhnya dirinya yang sudah iya sembunyikan selama ini .
"Nak Nara "
"Nara baik baik saja "ucap Nara menghapus air matanya dan tersenyum kearah ibu Cintia dan pak Adrian .
"Taksi Nara juga sudah datang , terimakasih om , Tante "ucap Nara .melangkah mendekati taksi yang sudah menunggunya . Nara melambaikan tangannya . ibu Cintia pun membalasnya dengan tatapan sedih .
Nara pun pergi meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit tempat nya bertugas .
"Pi ,, bisa jelaskan sesuatu kepada mami " ucap ibu Cintia menatap wajah suaminya itu . pak Adrian menggangukan kepalanya dan menggandeng tangan wanita itu untuk mengobrol di kamar mereka .
Saga yang baru saja keluar dari ruang Kerjanya melihat papi dan ibu Cintia yang baru saja membuka pintu .
"apa perempuan itu sudah pulang " ucap saga melepaskan kancing baju bangian atasnya yang sudah menyesakkan dadanya satu jam lamanya .
ya setelah makan malam saga melanjutkan pekerjaan yang di tunda saat menjemput papi tadi siang pun menghela nafas panjang .
Getaran ponsel membuat saga mengalihkan pandangan ke arah benda pipih itu .
"Kamu mencoba mengingkari janji mu pada ku ?.
baik lah aku akan mencari laki laki jalang saja untuk menemani ku " tulis pesan itu .
"Wanita ini selalu saja "ucap saga
melangkah keluar untuk menemani Sarah Sechan teman masa kecilnya untuk menghadiri acara ulang tahun teman mereka di sebuah klub.
Saga mengemudikan mobil nya lumayan kencang hingga tidak sengaja saga melihat wanita yang tidak asing untuk nya , berada di dalam sana sambil sesekali menghapus air matanya .
lampu merah pun telah menjadi hijau , membuat saga penasaran apa yang terjadi dengan wanita itu . akhirnya saga pun mengikuti mobil yang ada di depan nya itu .
"Pak harus nya kita tadi ambil jalan kiri bukan jalan kanan , kita salah jalan . bisa putar balik lagi ?"tanya Nara baru memperhatikan jalanan yang mereka lewati tidak bisa Nara lewati .
"Jalan yang biasa macet non , makanya bapak ambil jalan kiri . non tenang nya aja ya " ucap pria paruh baya itu , Nara sangat kenal suara ini .
"Paman adam "ucap Nara memperhatikan spion mobil itu .
laki laki itu pun membuka topi dan masker yang menutupi bagian wajahnya .
__ADS_1
"Non " jantung Nara berdetak kencang takut suatu berita buruk tentang ayahnya .
"Paman , ada apa ?.kenapa paman ada disini , kenapa paman menjadi sopir taksi ? "pertanyaan Nara membuat paman Adam menghela nafas berat .
"Paman katakan sesuatu "ucap Nara menangis
"Nara sudah berpesan kan , jika Nara tidak pulang , jangan pernah menemui Nara kecuali jika Ada sesuatu yang penting masalah ayah ? , ada apa dengan ayah paman ?"tanya Nara membuat mobil yang Nara tumpangi seketika berhenti .
"Non harus menjenguk tuan "ucap Paman adam sedih .
Nara tidak berbicara lagi hanya ada air mata yang membasahi pipi cantik itu .
Aaga yang masih memperhatikan kondisi dalam mobil itu pun , akhirnya turun dan mendekati taksi itu .
Tok -tok -tok
Nara mengalihkan pandangan ke arah luar dan menatap wajah pria tampan yang sedang memperhatikan dirinya .
Nara segera menghapus air matanya
"Tuan "ucap Nara
"Apa taksi mu ada masalah ?"tanya saga .
"Tidak ada ,"dering telepon membuat Nara dan saga menatap laki laki paruh baya itu .
.....
"Baik " telpon itu pun selesai .
"Paman ? "
"Tuan arsen ,,,, tuan sedang kritis non " Nara menutup mulutnya , mendengar penuturan paman Adam .
Saga yang melihat itu pun bisa melihat Betapa sedihnya gadis yang ada di depannya itu .
"Aku ingin bertemu ayah paman "ucap Nara bergetar menahan Isak tangisnya .
"Baik non " paman Adam membuka pintu mobil untuk Nara .
"Tunggu biar aku yang mengantarkan " tawar saga .
"Apa tidak merepotkan tuan " tanya Nara
"Tidak "ucap saga memandang mata teduh itu dengan lembut .
akhirnya Nara dan paman Adam pun mengikuti langkah saga menuju mobilnya
Dalam perjalanan Nara tidak memberhentikan air matanya yang terus menetes membasahi pipinya , semarah apapun Nara kepada pak arsen , sekecewa apapun Nara kepada ayah nya itu . tetap .pak arsen adalah ayah nya .
Saga dan paman Adam tidak bisa berkata apa-apa melihat kesedihan Nara saat ini .
Setelah memakan waktu 1jam lebih akhirnya mereka telah sampai di rumah yang sudah hampir 5 tahun Nara tinggalkan . perasaan campur aduk menyelimuti hati wanita itu.
"Hayo ,, ayah mu pasti menunggu " ucap saga menggenggam erat tangan wanita itu . Nara kembali rapuh menatap laki laki itu .
Paman Adam membuka pintu medison itu . dengan langkah ngemetar Nara memasuki medison yang mengembalikan semua banyangan Bangai mana ayah nya memukul nya setiap hari dan ibu tirinya yang tidak memberi nya makan selama beberapa hari . hanya karena Nara tidak memberikan mainnya dengan Valerie waktu itu kembali melintas di benak Nara .
"Non Nara "bi Tanisa memeluk tubuh wanita itu dengan erat .
"Bi "ucap Nara pelan membalas pelukan dari pelanyan yang sudah di anggap ibu itu .
"Tuan sudah menunggu "Nara menggangukan kepalanya . dan mengikuti langkah paman Adam membuka pintu kamar pak arsen .
Ternyata benar ayah nya sedang berbaring lemah di sana dengan beberapa selang menempel di tubuh pria paruh baya itu , ya satu jam yang lalu pak arsen kembali dawn karena mengingat kesalahan yang iya lakukan kepada putrinya itu .
Ada ibu Celia ,valeria dan Baron disana menyambut Nara dengan tatapan tajam . namun Nara tidak mempedulikan itu saat ini .
"Siapa yang datang 'apa Nara ku " tanya pak arsen membuka mata nya menatap arah pintu namun hanya banyangan putih yang iya lihat .
lalu menangis
"Aku telah berbuat buruk kepada putri ku , apa aku pantas mendapat maaf darinya "ucap pak arsen menangis dengan nafas ter enggah enggah . membuat Nara lemah melihat itu .
"Ayah " ucap Nara pelan mendekati pak arsen dan mencoba menggenggam tangan ayahnya itu .
"Aku ayah yang buruk "ucap pak arsen putus asa . Nara pun memeluk tubuh yang sangat iya rindukan itu dengan perasaan hancur .
__ADS_1
Pak arsen kanget mendapat pelukan itu . pak arsen pun menyentuh kepala Nara , hati Nara remuk melihat keadaan ayahnya seperti ini .hingga Nara tidak bisa menyembunyikan tangisan nya lagi . hingga pak arsen bisa mengenal suara putri nya itu .
"Nara ,," ucapan itu terhenti dengan tangisan yang bengitu memilukan hati .
"Nak maafkan ayah ,, ayah sudah melakukan hal yang buruk kepada kamu "itulah ucapan yang selalu pak arsen tuturkan sambil memeluk tubuh putri kecilnya itu .
"Ayah harus sembuh nya "ucap Nara menatap wajah ayahnya itu .
pak arsen menatap wajah Nara ,
"Ayah mau , karena ayah ingin melihat wajah cantik putri ayah "Nara menangis dan kembali memeluk tubuh.
"Maafkan ayah nak " Nara tidak bisa berkata apapun hanya menangis di dalam pelukan laki laki yang yang sangat iya rindukan tersebut .
Sedangkan ibu Celia masih memperhatikan saga , dan bertanya tanya siapa laki laki ini .
Sedangkan valerie merapikan rambut pirang nya , ingin mencuri perhatian laki laki tampan yang di bawa oleh kakak tirinya itu .
"Tuan Martadinata "ucap Baron .
"Anda mengenal saya " ucap saga menatap dingin laki laki itu .
ibu Celia terkejut , Martadinata bukan kah keluarga itu adalah seorang pemimpin perusahaan besar yang sangat terpengaruh di negeri ini .
"Tentu , saya pernah mengajukan permohonan kerja sama dengan perusahaan anda , namun perusahaan saya belum beruntung "ucap Baron .
"Perusahaan saya tidak menerima perubahan tikus seperti perusahaan anda " ucap saga merendahkan .
"Anda bengitu sombong tuan "ucap Baron menyurutkan senyuman nya .
" Tentu ,,.karena saya memiliki semua nya "ucap saga lagi . Nara melihat ke arah saga dan kakak tirinya itu .
"Kesombongan anda akan menghancurkan ada ,, ingat itu " ucap Baron emosi
bukannya menyesali perbuatannya saga malah tertawa kecil mendengar penuturan laki laki itu .
"Keserakahan akan lebih menghancurkan pemilik nya "ucap saga tersenyum simpul , membuat Baron ingin sekali memukul pria itu namun ibu Celia mencoba menengahi mereka .
"Tuan terimakasih sudah mengantar putri kami Nara , ini adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi kami mari mengobrol di ruang tamu "tawar ibu Celia dengan lembut . mendapat anggukan dari Valerie .
saga mengibaskan tangannya dan menatap ketiga orang itu dengan dingin .
"Aku disini menemani calon istri ku , aku tidak memiliki urusan dengan kalian , jadi apa ada yang harus kita obrolkan ? "tanya saga sambil mendekati Nara yang sedang menyaksikan pertengkaran itu .
dan semenit kemudian saga- mengecup bibir wanita itu dengan lembut , membuat ibu Celia Baron dan Valerie memblakan matanya .
sedangkan Nara seketika mematung mendapatkan perlakuan itu . ini ciuman pertama nya , kanapa laki laki ini berprilaku seenaknya saja , apa dia tidak tahu jika Iya sudah bersusah panyah menjaganya untuk diberikan kepada suaminya saja suatu hari nanti .
"Aku tidak ada urusan dengan kalian , jadi aku minta untuk meninggalkan kami ,karena kami ingin berbicara penting dengan tuan arsen "usir saga .
"Anda tidak bisa berprilaku seenaknya tuan . ini rumah saya , saya yang berhak mengusir siapapun yang ingin saya usir , termasuk kalian "ucap Baron menghadap ke arah saga dan Nara dengan senyum mengejek .
"Rumah mu ? "tanya saga tersenyum simpul . Nara kembali menatap wajah pria itu .
"Apa kamu nyakin ?"tanya saga lagi memastikan .
"Kenapa saya Ragu ? saya putra kandungan tuan arsen dan ibu Celia , lalu apa yang membuat saya tidak percaya diri mengatakan ini adalah rumah saya " ucap Baron masih dengan nada santai .
"Jawabannya ada pada ibu anda ' apakah pantas anda berkata seperti itu ?"ucap saga menatap wajah ibu Celia yang pias akan perkataan saga barusan .
"Nyonya Celia , anda bisa mengatakan sesuatu ?" ucap saga membuat ibu Celia menggertak giginya kesal dengan pertanyaan tuan muda itu .
"Baron lebih baik kita beri mereka waktu untuk mengobrol sebentar "ucap ibu Celia memengang lengan putra nya itu .
"Ibu menyembunyikan sesuatu ?"tanya Baron emosi karena ibunya seolah membenarkan perkataan saga .
"Ti,,. tidak nak , tidak ada yang ibu sembunyikan , ibu hanya ingin memahami perasaan Nara , bukan kah dia sudah lama tidak menemui ayah mu , jadi berikan dia waktu sebentar untuk itu " ucap ibu Celia menyakinkan Baron , sedangkan valerie menatap kesal Nara . karena dirinya kalah lagi . apa lagi melihat calon suami kakak tirinya itu yang bengitu sempurna .
"Hanya itu ?"tanya Baron , ibu Celia sengera menggangukan kepalanya .....
Mereka pun melangkah keluar dengan penuh heran dan bingung atas apa yang terjadi barusan .
...
Bersambung ..
Hi reader terimakasih sudah mampir mohon tinggalkan jejak nya jangan lupa like'komentar untuk membangkitkan semangat penulis 🙂
__ADS_1
semoga terhibur
slow uq ya 🙂