
Sesampainya saga di rumah sakit saga melihat papi dan seorang perempuan yang masih terlihat cantik walau usianya tak lagi muda , CINTIA YANG ibu tirinya berada di sebelah pak Adrian sambil tersenyum kepada saga .
" Pi " sapa saga
"Kau telat nak , papi sudah memanggil sopir untuk menjemput kami.
bangai mana kamu sampai lupa menjemput papi ? apa pekerjaan mu lebih penting daripada papi ?" omel pak Adrian kepada saga , karena mereka sudah menunggu hampir 1 jam lamanya untuk menunggu kedatangan putra sulung nya itu ,ibu Cintia mengelus tangan suaminya itu untuk menenangkan pak Adrian .
"Maaf,,, tadi aku menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu, jalanan juga sangat macet " ucap saga
"Tidak apa apa saga , terimakasih karena sudah repot untuk menjemput papi " ucap ibu Cintia sambil tersenyum kepada saga , saga hanya mengangukkan kepalanya .
"Baik lah ,,,kebetulan sekarang kamu ada disini , jadi papi minta kamu menunggu dokter Nara .
dia sedang mengurus data pasien nya mungkin setengah jam lagi dia selesai setelah itu bawa dia ke medison , oke "ucap pak Adrian sambil masuk kedalam mobil .
"Dokter Nara siapa pi?" tanya saga
"Nanti kamu tau "ucap pak Adrian tersenyum santai dan menyuruh sopirnya itu pergi meninggalkan tempat tersebut .
Sedangkan saga masih mencerna ucapan pak Adrian
"Apa dia dokter yang di rekrut oleh papi 'huh
apa papi tidak mengenal anak nya sendiri , aku sangat tidak suka menunggu " keluh saga menatap kepergian mobil Alphard Vellfire putih itu .
Saat saga akan melangkah untuk menuju mobilnya terlihat seorang wanita sedang memeriksa sebuah dokumen penting rumah sakit , dengan bengitu fokus hingga tidak memperhatikan jalan yang ada di depan nya
hingga Tampa sengaja Nara menabrak tubuh tegap saga membuat tubuh Nara melayang hampir terjatuh .
"Auuu ,,,. " namun sebuah tangan kekar melingkar di pinggang wanita cantik itu membuat khayalannya akan terjatuh tidak terjadi .
Beberapa detik pandangan mereka berdua saling beradu , ketegasan pria itu terpancar bengitu memikat ,seakan menyihir pertahanan Nara yang tidak pernah memuji laki laki mana pun pandangan tersebut membuat jantung Nara berdetak lebih cepat dari biasanya .
sama halnya dengan Nara , saga memperhatikan wajah Nara , seperti nya aku pernah melihat dia ?" batin saga
" Dokter Nara ' " pekik gia yang kebetulan melintas di sana melihat kejadian tersebut .
Sedetik kemudian saga melepaskan tangannya dari tubuh wanita itu . hingga membuat tubuh wanita itu terjatuh membentur lantai.
"Aauuu "' ringis Nara sambil mengelus punggung nya yang terasa sakit .
Saga tidak berniat untuk menolong Nara yang sedang menahan sakit ,saga hanya memasang wajah datar sambil menatap Nara membuat Nara ingin menonjok wajah itu .
gia langsung membantu Nara untuk berdiri .
" Apa ada yang sakit ?"ucap gia sambil memeriksa keadaan Nara khawatir ,
"Tidak ,,, aku baik baik saja gi , terimakasih "ucap Nara kepada gia
Kerena muak melihat keadaan seperti itu , membuat saga melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan tempat itu Tampa mengatakan sepatah katapun
"Apa tuan tidak memiliki rasa bersalah ?" tanya Nara , membuat langkah laki laki itu berhenti dan membalikan tubuhnya menghadap Nara dan giia dengan wajah yang sama tidak ada keramahan dari sorot matanya .
__ADS_1
"bukankah ada yang menabrak saya , kenapa seolah anda yang menjadi korban ?"ucap saga tak kalah dinginnya .
saat Nara akan menimbali perkataan itu , gia menggenggam tangan Nara mengisyaratkan agar Nara tidak bicara lagi
saga yang melihat itu semakin menatap nara dengan tatapan dingin. tak berselang beberapa detik saga melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan tempat tersebut . Tampa mendengar penuturan wanita cantik itu lagi .
"Huuu ,,.dasar pria sombong " ucap Nara ingin sekali rasanya menendang kaki laki laki menyebalkan itu .
"Ra ,, beneran gak ada yang sakit ? hah "tanya gia lagi memastikan
"Aku baik baik aja gia , jangan khawatir " ucap Nara sambil mengambil dokumen yang berceceran di lantai .
Sedangkan banyak pasang mata menatap kearah saga dengan tatapan mendamba dan ada banyak lagi yang berbisik bisik tentang ketampanan pria tersebut , membuat Nara berdecak kesal melihat itu .
"Siapa dia ?" tanya Nara
"Dia ,, hemm , putra sulung tuan Adrian Martadinata " ucapan gia serius , membuat dokumen yang ada di genggaman Nara kembali terjatuh membuat gia bertanya tanya .
"Apa ? "ucap Nara hampir tidak terdengar
"Dia willard saga Martadinata , dia adalah putra sulung dari keluarga Martadinata ,Nara Ardita memang nya kenapa ?" bukannya menjawab Nara malah tersenyum simpul dan mengambil dokumen yang sedang di pegang oleh gia
"Gapapa ko , aku duluan nya " ucap Nara berjalan cepat menuju ruangannya .
"Kok aneh si kelamaan jomblo tu " ucap gia sambil tertawa cekikikan
gia pun tidak mengambil pusing meneruskan niat nya untuk mengecek pasien yang lain .
"Willard saga Martadinata "
"Tuhan apa dia "
"Tidak tidak ,, dia bukan ,. pokoknya bukan !! "pikiran Nara gelisah mengingat perkataan pak Adrian waktu itu .
"Menikah lah dengan putra saya ,agar saya bisa membalas jasa mereka dokter Nara Ardita " Nara memejamkan matanya lama memikirkan hal itu .
"Dia sangat sombong , bahkan wajah nya sangat jelek , lihat tadi jika ada kesempatan aku ingin sekali memukul kepala nya huhhh .. aku tidak mau" rancau Nara tidak mau jika di jodohkan kepada pria sombong itu .
"Sekalipun aku tidak menerima penolakan dokter Nara " perkataan pak Adrian kembali melintas di benak Nara , saat ini Nara hanya terdiam sejenak untuk memikirkan semua ini .
....
Di tempat lain pria itu masih mengingat jelas wajah wanita itu .
"aku pernah melihat dia , tapi dimana ? "
"Tante Merry " saga menepikan mobilnya saat mengingat kembali wajah wanita itu .
"Astaga " saga disadarkan dengan dering telepon dari saku nya .
"Hallo Pi ,,,"
"Dokter Nara sudah menunggu di halte depan rumah sakit " ucap pak Adrian
__ADS_1
"Apa harus aku yang menjemput nya Pi , aku bukan sopirnya !" ucap saga .
"Bukan kah itu permintaan yang sangat ringan , kenapa ,,, " belum selesai pak Adrian berbicara , saga sudah memotong pembicaraan itu
" Baik aku akan menjemput nya "saga langsung mematikan sambungan telepon dengan pak Adrian
"Merepotkan sekali " saga kembali menuju rumah sakit untuk menjemput Nara .
Nara sedang berada di kursi tunggu sebuah halte yang tak jauh dari rumah sakit itu .
sambil menunggu orang yang akan menjemputnya .
Nara memainkan ponselnya ,Nara tersenyum melihat potret dirinya dan ibunya .
"Benarkah aku mirip dengan ibu kenapa semua nya mengatakan seperti itu " ucap Nara masih memperhatikan wajah ibunya yang sangat iya rindukan itu
"Ibu ,,, kenapa merindukan mu membuat aku ingin sengera menyusul mu disana " ucap Nara menahan sesak di dadanya .
"Aku merindukan ibu " Nara tersenyum dan mencium ponselnya .
"Apa dia gila ? berbicara sendiri , bahkan mencium ponselnya '"ucap saga yang sedang memperhatikan gadis itu .
Saga memajukan mobilnya tepat di depan Nara yang sedang duduk .
pria tampan itu turun dari mobil nya untuk menjemput wanita itu .
Nara pun langsung mengalihkan pandangan menatap laki laki tampan bak titisan dewa tersebut menurut orang , tapi menurut Nara dia adalah laki laki yang sangat jelek .
"Jika terlalu lama memandang ku , maka aku akan memasang tarif untuk setiap orang yang menatap ku , bukan kah itu bisa membuat ku kaya " sindir nya melihat Nara tidak mengedipkan matanya saat menatap nya .
Nara langsung memalingkan wajahnya .
"Cepat masuk , atau kamu akan naik taksi?" ucap saga meninggalkan tempat itu menuju mobilnya .
"Apa? ,, dia memerintah atau mengancam , laki laki macam apa dia " batin Nara tidak memindahkan tubuhnya. membuat saga menoleh kearah Nara .
"Kau memilih naik taksi ? "tanya saga lagi
"Kenapa anda yang datang ,bukan kah tadi tuan Adrian bilang kalau sopir yang akan menjemput ?" tanya Nara membuat saga menatapnya dengan tatapan tajam .
"Apakah itu penting , kau beruntung karena aku yang menjemput mu " ucap saga meledek Nara
"Apa keuntungan nya , yang ada aku kena darah tinggi lama lama melihat laki laki menyebalkan seperti dirimu "ingin sekali kata kata itu Nara lontarkan kepada pria itu . tapi nara hanya menghembuskan nafas panjang dan tersenyum kearah saga .
"Baik lah tuan , kerena tuan memaksa saya bisa apa "ucap Nara melangkah masuk kedalam mobil yang saga tumpangi , kata kata itu membuat saga menahan senyum nya .
"Menarik " ucap saga ,,,
Bersambung.......
Slow uq ya
Terimakasih sudah mampir mohon tinggalkan jejak nya biar lebih semangat nulis nya like'komentar ,
__ADS_1
semoga terhibur .βΊοΈ