
Sore itu Nara sedang berada di dalam mobil , karena dirinya meminta untuk pulang karena merasa sudah cukup baik dengan keadaannya.
Saga belum bisa di hubungi , dan belum ada yang tahu dimana laki laki itu .
Tadi Nara sudah menceritakan apa yang terjadi , membuat semuanya cemas dan khawatir akan hubungan antara Nara dan Saga .
"Bangaimana jika mas saga benar benar tidak mau mendengarkan penjelasan Nara ayah "ucap Nara dalam pelukan laki laki paruh baya itu .
"Ayah akan menjelaskan nya nak "ucap pak arsen menenangkan Nara .
"Tapi ayah percaya kan dengan Nara , Nara tidak melakukan apapun ayah "ucap Nara lagi menatap wajah ayahnya itu .
"Ayah percaya , maafkan ayah ya "ucap pak arsen mengelus kepala putri nya itu .
Didalam mobil yang lain , terlihat ibu Cintia sedang membicarakan tentang apa yang terjadi dengan anak menantu mereka .
"Sayang apa yang akan kita lakukan untuk membuat saga percaya dengan Nara "tanya Bu Cintia
"Aku sudah menyuruh Petrik untuk menyelidiki semua ini tia . aku harap saga masih mau mendengarkan penjelasan kita nanti "ucap pak Adrian memijit pelipisnya .
Sore hari mereka sudah berkumpul di ruang tamu untuk menunggu saga pulang . Nara menyuruh ayah nya itu untuk pulang ke apartemen nya , dan Nara berjanji akan menyelesaikan masalah ini dengan suaminya .
Setelah menunggu satu jam lamanya akhirnya saga pun datang .
"Mas " ucap Nara lirih namun tatapan laki laki itu sangat tidak bersahabat dengan Nara .
"Saga duduk lah dahulu , kita selesaikan masalah ini dengan pikiran jernih , pasti akan ada solusi nak , jangan gegabah "ucap pak Adrian .
Tanpa berkata apapun saga bergegas pergi menuju ruangan kerjanya . meninggalkan nara dan ibu Cintia disana .
"Nak ,, " ibu Cintia memeluk tubuh wanita itu yang sudah menangis sedih karena suaminya sama sekali tidak mempedulikan nya .
Pak Adrian pun mengikuti langkah pria itu dan bergegas masuk kedalam ruangan itu .
Terdengar suara hembusan nafas lelah dari pria tampan itu .
pak Adrian pun duduk di samping saga .
"Papi sudah mendengar semua apa yang terjadi dari Nara .
"Papi tahu ini terlalu sulit nak , tapi papi percaya dengan Nara , Nara tidak mungkin melakukan hal sehina itu . "penuturan pak Adrian tidak membuat saga bereaksi sedikit pun .
"Kalian baru saja menikah , bahkan bisa di bilang belum genap satu hari kalian menghalalkan hubungan kalian , apa akan berakhir secepat ini ? "ucap pak Adrian .
"Tolong pikirkan lagi , bukan hanya tentang keluarga kita . tapi juga perasaan Nara "
"Aku yang melihatnya langsung Pi , apa yang terjadi , aku tidak bisa menerima Nara itu sudah menjadi keputusan ku ! "ucap saga dengan nada dingin , bahkan gertakan terdengar bahwa dirinya sangat marah .
"Tolong pikirkan lagi "ucap pak Adrian menatap wajah pria itu .
"Bangaimana jika itu terjadi kepada papi ? "tanya saga .
"Papi akan mencari kebenarannya , dan tidak langsung mengambil keputusan yang mungkin akan membuat papi menyesal !. "Jawab pak Adrian yakin .
"Semuanya sudah jelas ! bahkan nyata di depan mata ku , apa lagi yang harus aku cari tahu kebenarannya "ucap saga berdiri sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Apa yang kamu lihat Belum tentu itu yang terjadi nak . "
"Baik lah , aku akan mempertahankan pernikahan ini . sampai Nara atau papi membuktikan bahwa itu semua salah , tapi jika papi atau Nara tidak bisa membuktikan kebenaran nya maka aku akan mengambil keputusan ku sendiri ! "ucapnya sambil berjalan keluar namun saga menghentikan langkah nya .
"Demi kebaikan nama baik kita, minta om petrik untuk sebisa mungkin menutupi masalah ini " lalu saga meninggalkan papinya sendiri di sana .
Saat Nara melihat saga keluar dari ruangan itu . Nara segera menghampiri suaminya itu yang seperti nya akan kembali pergi .
"Mas ,, "saga berhenti dan menoleh kearah Nara .
"Bangaimana caranya agar aku bisa membuat mas percaya jika aku tidak melakukan apapun dengan laki laki itu ? . aku di jebak mas !"ucap Nara lirih .
"Buktikan ucapan mu , sebelum aku mengambil keputusan ku sendiri ! "ucap saga penuh penekanan lalu pergi meninggalkan nara yang masih menangis .
__ADS_1
Bu Cintia menghampiri Nara dan memeluk wanita itu . sedangkan pak Adrian hanya menatap mereka dengan tatapan sedih .
"Nara akan mencari kebenaran itu mi "ucap Nara tersenyum getir .
Bu Cintia hanya mengangguk menyemangati menantunya itu .
Malam yang harusnya di lewati dengan bahangia , malah menjadi malam yang memilukan untuk kedua hati yang saling berkaitan namun harus di bentengi oleh keegoisan .
Malam ini Nara sedang menatap pantulan dirinya di cermin pas dihadapan nya . perasaan sedih , sakit iya rasakan bersamaan di hari yang harusnya berbahagia , di rumah suaminya . ya Bu Cintia meminta kepada Nara untuk tidur di kamar saga , tapi karena takut membuat saga bertambah marah padanya nanti , maka dari itu Nara tidur di kamar tamu .
"Ya Allah , bengitu sulit nya kah untuk mendapatkan kebahagiaan itu , kanapa rasanya sakit sekali "ucap Nara kembali menangis .
"Kenapa nomer mas saga gak aktif , apa dia pulang malam ini "Nara melihat ke arah Jendela yang langsung melihat pemandangan teras rumah mertua nya itu .
"Beri hamba kekuatan ya Allah , besok aku akan mencari laki laki itu . dan meminta para penjaga hotel untuk menjelaskan semuanya , semoga bukti itu bisa membuat mas Saga kembali percaya padaku " ucap Nara tersenyum menghapus air matanya .
setelah beberapa lama memandangi langit malam itu sambil menanti seseorang , namun tak kunjung datang akhirnya Nara memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh nya . walau mungkin akan sangat sulit . karena hati dan pikirannya entah kemana ! .
Pagi pagi sekali Nara sudah rapi dengan pakaian yang dikenakannya . dengan memakai tas selempang nya. Nara bergegas pergi menuju hotel tempatnya di jebak kemarin .
"Selamat pagi "ucap Nara menatap wajah penjaga resepsionis itu .
"Pagi ada yang bisa saya bantu Bu ? "
"Apa kamu ingat dengan saya ? "tanya Nara .
"Saya baru bekerja hari ini Bu , jadi ini pertama kalinya saya bertemu dengan ibu "jelas nya membuat Nara was-was .
"Maksud kamu ? "
"Pemilik hotel ini memecat sebagian karyawan ya , dan saya salah satunya pengganti mereka "Nara menutup mulutnya kanget mendengar penuturan wanita yang ada di depan nya itu .
"Kenapa bisa begitu ? "ucap Nara pelan .
"Kamu berbohong kan "tukas Nara panik karena hanya mereka yang melihat Nara saat Nara di bawa oleh laki laki itu .
"Tidak Bu , saya tidak berbohong "ucapnya menyakinkan . Nara seketika mendudukkan tubuhnya ,
"Apa ibu ada masalah ? "tanya nya melihat Nara seperti putus asa .
"Iya , mereka adalah bukti satu satunya yang melihat saya di jebak oleh seseorang " ucap Nara kembali menangis .
"Ya Tuhan , apa ini alasan pemilik hotel ini memecat mereka ! "membuat Nara menatap wajah wanita yang ada di depan nya itu . rasa bersalah kembali menyelinap di hati nya . apa benar katanya mereka di keluar kan karena dirinya . "astaghfirullah "ucap Nara menutup wajahnya dengan kedua tangannya .
"Ibu saya akan membantu ibu jika ibu mau " ucapnya .Nara menatap nya
"Apa maksud kamu ? "menatap dengan wajah sedih .
"Ya , entah apapun nanti yang menurut ku janggal aku akan mengabarkan kepada ibu , tapi tolong jangan terlalu dekat dengan ku , aku takut mereka akan curiga "ucap perempuan itu . lalu memberikan nomor ponselnya yang sudah iya tulis tadi.
"Hubungi aku nanti "ucapnya lalu kembali ke meja resepsionis itu dan memberi anggukkan kepala kearah Nara .
Nara menatap sekelilingnya , dan menganggukkan kepalanya kepada wanita itu . Nara pun langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan berjuta harapan semoga wanita itu bisa membantu nya .
Suara dering telepon membuat Nara cepat mengambil ponselnya . mami Cintia -
"*Hallo mi , assalamu'alaikum "
"Wa'alaikum sallam sayang , kamu dimana kenapa di kamar tidak ada ? "tanya Bu Cintia* .
"Nara sedang mencari bukti itu mi , Nara tidak bisa membiarkan kesalah fahaman ini terlalu lama , rasanya sakit mi "ucap Nara kembali menangis . terdengar juga mami Cintia pun terisak mendengar penuturan menantu nya itu .
"*Baik lah , hati hati . apa kamu sudah sarapan ? "tanya Bu Cintia
"Nanti Nara sarapan "ucap Nara menghapus air matanya .
"Baiklah , kamu harus makan agar tidak sakit nanti "ucap Bu Cintia
"Makasih mi . sudah percaya dengan Nara "
__ADS_1
"mami sangat percaya nak , mami sangat mendukung dan mendoakan mu semoga kamu bisa mendapatkan bukti itu "
"Aamiin makasih mi, Nara matikan dulu ya ' assalamu'alaikum "ucap Nara mendapat balasan dari sebrang sana* .
Nara menghapus air matanya , namun ingatan nya tertuju kepada laki laki itu . "Seperti nya aku pernah bertemu dengan nya "ucap Nara .
Ya kencan , bukankah dia laki laki yang menjadi teman kencan nya Waktu itu saat giz mendaftarkan Nara di aplikasi pencarian jodoh .
Nara segera memasuki mobilnya , dan bergegas menuju ke rumah giz karena saat itu giz lah yang mendaftarkan ya
Sesampainya Nara di kediaman giz . Nara melihat ada mobil Lion disana . Nara ingin masuk kedalam tapi , apa nanti dia kan mengganggu .
"Aku akan menunggu sebentar "ucap Nara memarkirkan mobilnya di depan rumah giz .
Setelah itu terlihat seseorang keluar dari rumah itu sambil membawa tas kesehatan .
"Apa giz sakit ? "ucap Nara menatap leon yang di antar oleh perempuan paruh baya yang Nara ketahui pekerja paruh waktu di rumah giz .
Setelah melihat mobil Leon pergi . Nara segera keluar dan masuk ke dalam rumah sahabatnya itu .
"Assalamu'alaikum Bi "
"Wa'alaikum sallam neng Nara , selamat menempuh hidup baru ya neng "
"Makasih Bi , apa giz ada ? "
"Non giz ada, tapi lagi istirahat neng . kata dokter Leon asam lambung non giz kambuh , jadi harus istirahat total deh "jelas bi Leni . dan mempersilahkan Nara untuk masuk kedalam . Nara pun langsung masuk kedalam kamar giz . membuat giz kanget .
"Giz , lambung mu kambuh lagi "
"Kamu Ra , aku kira siapa .
Iya ni "ucapnya menyengir kuda .
"Pasti abis minum minum ya "ucap Nara .
"Sedikit Bu dokter "ucapnya sambil berkekeh kecil .
"Kepala kamu kenapa Ra , Kanyak di perban gitu ? "selidik giz .
"Hemm .. iya . semalem aku jatuh dari kamar mandi "ucap Nara perpaksa harus berbohong dan ucapan Nara itu membuat tawa giz pecah mendengar penuturan wanita itu .
"Pasti terlalu semangat nya malam pertama nya "goda giz , Nara terenug mengangguk dan menunjukkan senyum manis namun terlihat terpaksa .
"Ya ya percaya deh . gimana tu rasanya ? "tanya giz semakin menjadi .
"Giz . ada yang mau aku tanyain sama kamu "
"Apa Ra "giz melihat ekspresi Nara serius giz pun tidak ingin menggoda sahabat nya itu .
"Apa kamu ingat kencan ku dua tahun yang lalu ? "tanya Nara.
"Kenapa kamu menanyakan tentang itu ? "
"Tidak , aku hanya bertanya .
"Jelas aku ingat , waktu kamu mendiamkan ku satu Minggu lamanya kan ! "hardik giz membuat Nara tersenyum dan mengangguk .
"Apa kamu punya nomor ponsel nya , atau tahu alamat nya Dimana ? " tanya Nara dengan tatapan memohon .
"Ya pastinya tidak ! , aku kan udah ganti hp berapa kali nai selama dua tahun ini , jadi ya gak punya lagi lah "ucap giz membuat Nara menarik nafas dalam-dalam setelah itu ia pun menangis. membuat giz panik kenapa sahabat nya itu menangis .
"Ra kamu kenapa ? , hah "tanya giz memengang bahu Nara .lalu memeluk tubuh wanita itu .
"Ra kamu punya masalah , kamu cerita donk sama aku biar aku bisa bantu " bukan menjawab Nara semakin terisak membuat giz kasihan
....
Bersambung ....
__ADS_1
Assalamu'alaikum βΊοΈ
Hi reader terimakasih sudah mampir mohon tinggalkan jejak nya biar lebih semangat nulis nya like'komentar ππ»βΊοΈ