
Book 16
Fritz yang mengingat Canaria di masa itu masuk terlebih dahulu ke dalam Kastil tersebut.
Aurora, Kate dan Vassnorla melihat itu dan menyuruh Hanjiro, Prof Munakata dan Fragetuel untuk masuk ke dalam kastil tersebut.
Suasana di dalam kasti itu menjadi ramai dengan datangnya mereka bertiga yang berkunjung.
Fragetuel dan Prof Munakata berada di ruang main tempat biasa anak-anak Fritz bermain di dalam kastil dengan banyak mainan berserakan di lantai dan sofa panjang di ruangan itu.
Mereka berdua sedang mengajak main ketiga anak Fritz bersama Aurora dan Kate yang ikut menemani.
Sementara itu Hanjiro dan Vassnorla berada di halaman belakang Kastil milik Fritz yang indah di siang tersebut.
Hanjiro dan Vassnorla duduk di bangku taman dengan di atasnya tertutup pohon besar menaungi mereka berdua dari panas.
"Norla, apakah kedatanganku mengejutkanmu?" Tanya Hanjiro.
"Tidak juga, lagi pula aku sering kau telepon dengan perbincangan yang menurutku aneh." Jawab Vassnorla melirik ke arah Hanjiro yang duduk bersama di samping kirinya.
"Ehhh... Begitu yah..." Tertunduk lesu Hanjiro.
"Apa kau kesini untuk bermain dengan anak-anak Fritz atau sekedar hanya berkunjung untuk pekerjaan?" Tanya serius Vassnorla.
Hanjiro menegakan tubuhnya dan melihat Vassnorla dengan serius, "Semua itu benar, tetapi yang paling adalah, menemui dirimu.di sini." Kata Hanjiro.
"Untuk apa menemuiku? Aku baik-baik saja dan masih merasa senang mengasuh anak-anak dari Fritz, walau anak laki-lakinya itu memang menyusahkan ku dalam bermain kejar-kejaran." Tersenyum tipis Vassnorla mengingat ketika dirinya mengasuh dan bermain dengan anak laki-laki Fritz dari bayi hingga balita.
__ADS_1
"Aku tau itu, aku kesini ingin memberithumu kalau aku ingin menyelesaikan masalah yang mungkin masih kita bahas sebelumnya." Kata Hanjiro dengan perlahan menggenggam tangan Vassnorla yang ada di pangkuan kedua kakinya.
Seketika Vassnorla langsung tertunduk dan malu-malu, "Ehh.. Ma-Makasudmu masalah itu?" Kata Vassnorla yang memahami apa yang ingin di bahas oleh Hanjiro.
Hanjiro kemudian beranjak dari kursinya dan berlutut di hadapan Vassnorla yang duduk di bangku kayu taman itu sambil mengeluarkan kotak berwarna silver dan membuka kotak itu yang berisi cincin berlian dua pasang dengan berbeda ukuran di dalamnya, "Aku ingin menyelasikan masalah ini dan sekarang seperti yang kau lihat di hadapanmu, mau kah kau menikah denganku?" Tanya dengan senyum bahagia Hanjiro dan sangat begitu yakin dari dalam hatinya.
Wajah Vassnorla menjadi memerah dan semakin tertunduk karena malunya di lamar oleh Hanjiro yang pada akhirnya hal itu terjadi, "Ja-Jadi kau benar-benar memutuskan untuk menikah dengan diriku ini?" Tanya gergogi Vassnorla.
"Tentu saja, kau itu perempuan yang cantik dan type ku adalah dirimu, kau juga tegas dan gagah seperti laki-laki, tetapi dalam dirimu kau tetap perempuan dan aku tentu melihat dari sisimu yang manis itu dan bagaimana kalau kita menjadi keluarga kecil dimana saling mendukung dan mencintai dalam ikatan pernikahan ini, apa kau mau menerima lamaran cintaku ini? Kalau sampai kau tolak, pastinya aku akan sangat kecewa dan sedih, Norla." Kata Hanjiro dengan penuh rasa percaya diri dan yakin.
Sebenarnya di balik percaya dirinya itu, dalam dirinya juga bergejolak malu dan bahkan Hanjiro menahan ekpsresi itu agar terlihat keren di depan perempuan yang ia cintai selama ini ketika datang ke jepang.
Vassnorla semakin malu dan sisi perempuannya hadir dimana hatinya luluh.
Seperti yang di bilang Hanjiro kalau Vassnorla ini adalah sosok perempuan yang seperti laki-laki, bahkan dirinya memiliki otot walau tidak sebesar milik Fritz atau Hanjiro sendiri, karena tubuhnya tetap perempuan dan Vassnorla juga memahami itu.
Mendengar hal itu, Hanjiro serasa ingin membawa Vassnorla terbang dengan dirinya berubah menjadi Mode Centaur bersayap ke atas langit dan mengelilingi wilayah Kyoto, namun dirinya tahan.
Hanjiro kemudian memeluk tubuh Vassnorla yang tengah terduduk malu-malu dan Vassnorla memeluk balik tubuh Hanjiro dimana dirinya pada akhirnya bisa menermia pelukan itu.
Sebelumnya Vassnorla tidak ingin di dekati oleh Hanjiro, bahkan seperti enggan berada di sampingnya.
Setiap Hanjiro mencoba mendekat dirinya, dirinya akan balik menjauh, ketika dirinya mencoba ingin memeluknya, Hanjiro malah di tendang sekuat mungkin sampai terpental jauh, bahkan menghantam dinding.
Andai Hanjiro manusia biasa, pastinya tulangnya sudah patah-patah karena perlakuakn dari Vassnorla itu.
Namun seiring berjalannya waktu, Vassnorla sedikit agak luluh dan hingga ketika dirinya di lamar tersebut, dirinya menerima pelukan Hanjiro, dimana selama ini Hanjiro sendiri dalam pendekatan itu tidak pernah lebih dari bergandeng tangan ketika bersama Vassnorla, karena pastinya akan di pentalkan oleh kekuatannya itu.
__ADS_1
Vassnorla merasakan hangatnya pelukan itu dan dirinya memejamkan kedua matanya untuk menikmati pelukan yang mungkin baru dia rasakan setelah lama mengenal Hanjiro dan pada akhirnya dirinya melamarnya karena sifatnya yang terbilang terkadang tegas seperti laki-laki, namun hanjiro melihat sisi perempuan dari Vassnorla yang juga manis ketika dalam keadaan malu-malu itu, seperti yang ia lihat sekarang.
Hanjiro bisa bernafas lega di dalam pelukan itu, dimana pada akhirnya dirinya tidak di pentalkan olek kedua kaki dan tangannya.
Kemudian Hanjiro melihat dari kaca kastil tempat ruang bermain anak-anak Fritz tepat mengarah ke belakang area taman halaman belakang kastil itu berada.
Prof Munakata tengah memeluk boneka beruang, Fragetuel menggendong Naidan, Kate menggendong Riami dan Aurora menggendong Cayana melihat moment itu, dimana mereka bertiga tersenyum bahagia dengan melihat bahwa Hanjiro pada akhirnya bisa memeluk tubuh Vassnorla.
Fragetuel yang tengah menggendong Naidan itu tersenyum bahagia di balik kaca yang mengarah ke halaman belakang dimana melihat cucunya tengah di lamar oleh Hanjiro, "Pada akhirnya cucuku takluk di hadapan laki-laki itu dan akan segera menikah, ternyata memiliki umur panjang itu tidak buruk juga." Kata Fragetuel dan di lihat oleh Naidan yang masih polos dan tidak tau apa yang di bicarakan oleh sosok yang ia anggap sebagai kakek itu.
Cayana dan Riami pun bingung, tetapi mereka berdua melihat kalau Hanjiro dan Mamah Vassnorla, pengasuh mereka di peluk olehnya.
Hanya itu pikiran polos balita mereka yang belum memahami cinta antara laki-laki dan perempuan.
Lalu Hanjiro melepaskan pelukan hangat itu dan mengajak Vassnorla untuk berdiri dari bangkunya, "Aku sudah merencanakan pesta pernikahan kita di taman kota Kyoto dimana aku menyewanya satu hari untuk pernikahan tersebut, namun aku belum memilih gaun pengantin apa yang ingin kau kenakan, Norla. Maka itu kau yang putuskan ingin memakai gaun apa? Asalkan kau bisa tampil cantik sebagai seorang perempuan yang akan menjadi pendamping diriku kedepannya." Kata Hanjiro yang lagi-lagi mencoba menahan rasa malu dan geroginya di dalam dirinya mengungkapkan hal itu.
Seakan sirkuit kabel di dalam tubuh Hanjiro mulai tidak karuan karena detak jantungnya berdegup kencang akibat rasa mendebarkan melamar perempuan yang pastinya di alami banyak laki-laki pada umumnya.
Vassnorla menatap malu wajah Hanjiro yang begitu dekat dan sedikit lebih tinggi dari dirinya, dimana wajahnya memang ada sedikit luka di area tengah mata kirinya karena suatu hal, namun dirinya sama-sama tampan seperti Fritz, walau memang Fritz terlihat lebih tampan dari dirinya.
"Ba-Baiklah... A-Aku akan mencari gaun yang menurutmu cantik di tubuhku." Gerogi Vassnorla.
Hanjiro tersenyum tipis dan lagi-lagi memeluk tubuh Vassnorla dengan hangat di bawah pohon taman yang indah penuh bunga musim semi bermekaran itu.
Vassnorla terpejam matanya dan memeluk balik tubuh Hanjiro yang tidak akan lama lagi menjadi suaminya untuk hidup bersama.
__ADS_1