
Book 22
Pagi tiba di kediaman kastil Fritz dan ketika ketiga buah hatinya tengah bangun dengan matahari pagi menyinari masuk ke dalam ruangan tempat mereka tidur.
Aurora dan Kate masuk dengan sudah rapih ke dalam ruangan itu sambil melihat wajah masam mereka bertiga yang lucu ketika baru bangun tidur.
Naidan melihat ke arah Aurora dan Kate yang masuk ke dalam ruangan mereka tanpa terlihat Vassnorla.
"Dimana Mamah Norla?" Tanya Naidan sambil mengucak kedua matanya.
Kate menggendong Naidan yang masih mengucak kedua matanya itu dan mencium pipinya kanannya, "Much... Mamah Norla sedang pergi untuk sebuah urusan penting, sayang. dua hari lagi kita akan melihatnya lagi dengan sebuah pesta besar yang juga kalian hadiri nantinya." Kata Kate kepada Naidan.
"Pesta??" Tanya Naidan.
Riami tersenyum senang mendengar kata pesta besar dari Kate yang dimana dirinya di gendong oleh Aurora bersama Cayana.
"Pesta apa?" Tanya Canaya kepada Aurora.
Aurora mencium pipi halus mereka berdua sebelum menjawabnya, "Muchh.. Muchh... Pesta pernikahan yang akan sangat besar sayang. Kalian pasti juga akan senang di sana nantinya." Kata Aurora yang tengah menggendong kedua anak dari Fritz tersebut di kedua tangannya.
Kate berjalan terlebih dahulu menuju ke luar kamar mereka untuk menggosok gigi dan mencuci muka mereka bertiga di kamar mandi sebelum makan pagi bersama tiba.
"Sekarang kita sikat gigi dan membersihkan wajah kalian yang penuh iler itu." Kata Kate dengan senyum di bibirnya karena gemas melihat wajah-wajah mereka yang lucu setelah bangun dari tidur.
Riami menyandarkan kepalanya di leher Aurora dan sedikit menguap karena masih merasakan kantuk sehabis bangun tidur.
Sementara itu Fritz tengah berada di atas atap kastilnya, berdiri dengan satu kakinya sambil melihat matahari terbit di musim gugur dengan langit cerah dan mulai semakin dingin suasanannya.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah tampan serta jubah hitamnya yang tengah terbang di tiup angin pagi dingin dengan langit biru cerah terhampar di atas langit Kyoto jepang dengan sedikit ada awan melayang di atasnya.
"Pagi kembali tiba."
Fritz mengingat pagi indah ketika dirinya masih bersama Canaria ketika dirinya masih di kota Kyoto dan dalam kondisi tengah mengandung.
Pagi yang sama walau dengan perbedaan bahwasanya dirinya tidak lagi ada di sampingnya.
Fritz sejenak mengenang masa lalunya dengan Canaria waktu pagi di musim gugur sebelum kembali berangkat ke wilayah Sweden.
Sebuah pagi yang indah.
__ADS_1
( Flash Back. )
Ketika itu di kediaman Fritz di desa yang begitu sepi dan hanya terdengar angin sepoi-sepoi menggoyangkan pepohonan di sekitar dekat rumahnya hingga menimbulkan suara gesekan dedaunan khasnya dan membuat berguguran daun-daun yang tengah berwarna merah, kuning hingga oranye.
Saat itu Fritz membuka matanya perlahan dan melihat sosok yang ia cintai tengah tidur terbaring menghadap ke arahnya dengan wajah yang penuh kedamaian.
Senyum hadir di bibir Fritz sambil mengelus kepala Canaria yang sejenak Fritz ingat malamnya tentu dirinya meminta kepada Canaria untuk bermain dengannya dan ketika itu suasana begitu dingin dan membuat Fritz lebih semangat.
Fritz perlahan bangun dari berbaringnya di atas tempat tidur yang hanya mengenakan celana pendek hitam serta tubuhnya tertutupi selimut tebal yang juga tengah menutupi tubuh kecil Canaria dengan perut buncitnya.
Fritz terduduk di atas tempat tidur dan memperhatikan Canaria yang masih terbaring tidur dengan nyenyaknya dengan mengenakan Dress hamil berwarna putih tanpa lengan seperti biasanya dan bagian bawah yang cukup pendek.
Tangan kanan Fritz mengelus perut Canaria yang besar itu secara lembut dan senyumanya sedikit ia lebarkan dari bibirnya.
"Tidur lah yang nyenyak kalian berdua bersama Mamah kalian." Kata Fritz ke arah perut buncit Canaria.
Fritz beranjak dari tempat tidur dan menutupi tubuh Canaria kembali dengan selimut hangat serta dirinya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri serta menggosok giginya.
Ketika itu Kate sudah bangun terlebih dahulu dan tengah memasak makan pagi untuk mereka.
Saat Fritz selesai di kamar mandi, dirinya ke ruang tamu dan membuka jendela besar yang ada di sana dimana Kate tengah merapikan beberapa makanan untuk di siapkan kepada Canaria yang tentunya menyehatkan dan bukan makanan yang asal, terutama sayur dan tomat tidak selalu tertinggal dalam makanan yang selalu di buat.
Dirinya kemudian duduk di sofa panjangnya yang ada di ruang tamu sambil meminum sebuah secangkir coklat hangat yang tersedia di atas meja dengan cangkir kecilnya.
Tentu Kate yang membuatnya.
Ketika itu Kate tengah berdiri di samping kiri Fritz dan melihat dirinya dengan tatapan serius, sampai Fritz melirik ke arahnya yang sedang berdiri di samping sofa tepat dirinya duduk di ruang tamu yang sejuk di pagi itu.
"Ada apa kau melihatku, Kak?" Tanya Fritz sambil menaruh kembali cangkir berisi coklat hangat yang tadi ia minum ke atas meja.
"Aku bukan maksudnya melarang dirimu melakukan hubungan karena kalian berdua sudah sah menjadi suami dan istri, tapi apakah kau harus selalu membuat Adikku meringis sebelum tidurnya tiba." Kata Kate yang sedikit memprotes apa yang di lakukan oleh Fritz kepada Canaria.
"Kalau kau seorang laki-laki sepertiku, kau akan tau rasanya bagamana dirinya sudah terhipnotis dengan apa yang membuatnya jatuh cinta kepadanya." Jawab Fritz dengan serius.
Kate lalu duduk di sofa tunggal dan menyandarkan tubuhnya, "Ya memang aku tidak tau karena aku seorang perempuan, Fritz. Tetapi jujur saja, kenapa Canaria itu tidak mau menolak ajakanmu yang selalu saja membuat ringisan sebelum tidur, padahal perutnya sudah besar seperti itu." Kata Kate yang juga bingung kenapa Canaria ingin melakukannya selalu.
Fritz tersenyum tipis dan sejenak kembali meminum coklat hangat yang ada di cangkir kecilnya untuk merilekskan tubuhnya.
"Tetapi aku juga tidak terlalu memaksanya, dimana dirinya juga sebelum hal itu terjadi pasti menitip pesan kepadaku, walau yah terkadang aku terlepas sangat menikmatinya jadi terkadang lupa, tetapi Canaria selalu mengingatkannya."
__ADS_1
Kate memasang wajah sinis, "Beruntung sekali kau mendapatkan sosok perempuan yang selalu bersedia melayani nafsumu, apalagi dirinya adalah manusia, kalau sesama vampir wajar saja itu terjadi, tapi tentunya tidak akan terlalu sering seperti apa yang kau lakukan itu, Fritz."
Fritz menatap Kate dengan senyum di bibirnya, "Jika seseorang telah saling mencintai, tidak ada salahnya melakukan itu berapa kali pun, setidaknya seperti yang selalu di bilang oleh Canaria, selalu keluarkan hanya pada dirinya, itu yang membuatku begitu sangat mencintainya dan selalu memberikan kasih sayang belaian dalam hubungan hangat itu jika terjadi, dimana terkadang Canaria sendiri selalu bermanja bersandar di tubuhku." Kata Fritz yang sejenak mengingat beberapa kenangan hangat di dalam pikirannya.
"Yah, selama tidak ada yang aneh-aneh dalam kandungannnya, aku rasa tidak masalah. Tapi aku berharap anak-anaknya tidak mengambil sisi ini dari Papahnya setelah mereka lahir." Kata Kate mengangkat kaki kirinya dan di taruh ke atas kaki kanannya.
"Setiap pemeriksaan selama sebulan sekali di pertengahan bulan, tidak ada yang aneh dan memang selaput yang melindungi bayi dalam perutnya itu sangat tebal dan kau sendiri pernah melihatnya dari foto-foto hasil USG yang harus melewati bagian bawahnya, karena masih tebalnya dinding rahim tersebut yang melindungi buah hatiku dan dirinya, semuanya tampak normal walau memang ukurannya begitu penuh dan akan menyusut seiring waktu kelahirannya tiba." Kata Fritz yang sejenak mengingatkan kepada Kate mengenai kondisi kandungan dari Canaria.
"Aku tau itu. Namun jujur saja, Fritz. Canaria itu benar-benar sabar dan membawa beban berat di dalam perutnya itu bukan lah hal mudah bagi seorang perempuan hamil yang tengah mengandung benih dari Vampir yang tidak biasa itu, walau memang perutnya tidak terlihat turun, tapi ukurannya yang besar dan ketika aku selalu membantunya di samping dirinya, terkadang aku melihat kalau Canaria itu memperlihatkan rasa lelahnya walau sesaat, namun senyumannya selalu hadir sambil mengelus perutnya yang besar itu, seakan dirinya memang sangat begitu mengharapkan apa yang ada di dalam perutnya dengan perasaan senang." Kate tertunduk dan tersenyum mengingat ketika membantu Canaria untuk menjemur pakaian atau sekedar untuk berjalan-jalan santai di lingkungan desa yang sunyi ketika rasa jenuh muncul.
Fritz juga merasakan itu dan dirinya yang paling melihat betapa sayanganya Canaria kepada buah hatinya.
"Ketika kehangatan itu terjadi, terkadang dirinya berbicara dengan buah hatinya sambil mengelus perutnya yang besar itu sampai aku juga ikut mengelus dan berbicara dengan dirinya sambil memberikan belaian sayang agar membuatnya nyaman, dirinya yang memang sebenarnya paling menginginkan di bandingkan dengan diriku sebenarnya. Walau tekadang senyumnya hilang, namun diri selalu berkata tidak apa kepadaku dan aku lakukan, dimana mungkin Canaria sendiri juga menikmatinya, dimana aku tidak memahami apa yang sedang ia rasakan ketika itu dengan perut besarnya." Fritz juga tertunduk dan mengingat beberapa kejadian dengan Canaria ketika kehangatan itu terjadi.
"Apakah karena hormon alaminya atau kah karena memang dirinya sangat mencintaimu sampai mau terus menerima ajakamu itu." Tatap sinis kembali Kate kadapa Fritz dengan senyum menyeringai menggoda dirinya.
Kemudian tiba-tiba terdengar suara yang mereka berdua kenal.
"Tentu karena aku sangat mencintai Fritz dan Benih yang sedang tumbuh di dalam perutku ini, Kate."
Fritz tersenyum lebar dengan perasaan senang melihat sosok cantik cintanya sudah bangun dan tengah berdiri di lorong dengan perut buncit serta senyum dari bibir manis mungilnya yang selalu menggoda mata Fritz dalam hubungan itu.
Kate tersenyum dan perlahan melirik ke arah Canaria yang mulai berjalan ke arah Fritz duduk.
"Sepertinya itu jawaban yang aku cari." Kata Kate dengan senyum di bibir serta matanya terpejam sejenak.
Canaria merentangkan kedua tangannya dan dirinya duduk di pangukan Fritz sambil memeluknya karena hormon manja dari kehamilannya hadir.
Fritz menerima pelukan itu dan mencium bibir mungil Canaria sambil ikut memeluk di pangkuannya.
"Muchh.."
Canaria bersandar di tubuh Fritz dengan wajah masih terlihat baru saja bangun dari tidurnya dan dirinya di pangku serta menyandar di dada kiri Fritz sambil merasakan detak jantungnya berdetak di dadanya yang masih terbuka dan hanya mengenakan celana pendek hitamnya.
"Pagi, Fritz." Kata Canaria dengan nada lemah dan menatap lembut wajah tampan suaminya itu.
"Pagi juga, Sayang." Jawab balik lembut Fritz dan merasakan kulit lembut Canaria yang halus dan wangi aroma tubuhnya membuatnya lebih bersemangat di pagi itu walau baru saja bangun dari tidurnya.
Fritz pun mengelus perut besar Canaria dan Canaria juga menapakan tangannya di atas tangan Fritz yang tengah mengelus perut besarnya itu ketika tengah di pangku dan bersandar di sofa tersebut oleh suaminya.
__ADS_1