
Book 25.
Lavia, sosok perempuan elf yang terbilang sangat cantik dengan kulit putih serta postur tubuh yang idela serta begitu juga tingginya yang tidak terlalu tinggi itu membuat siapa pun yang melihatnya akan berpikir seperti sosok dewi dalam bangsa Elf.
Rambutnya yang di kuncir melingkar di belakang dan ada beberapa ikatan rambut berwarna biru di sisi-sisi samping dekat telinganya serta bibir merah muda mungilnya juga menjadi daya tarik tersendiri, termasuk Dante.
Namun Lavia seperti seorang putri yang terkekang di dalam kastil besar milik pemimpin bangsa Warewolf itu.
Dirinya tidak bisa bebas kemana pun dan hanya bisa terdiam di dalam ruangan kamar yang di sediakan untuknya.
Bahkan dirinya harus selalu siap menjadi bagian kehangatan yang ingin di lakukan oleh Dante kepada tubuh indahnya tersebut.
Ketika Lavia sedang memandangi halaman luar kasti dari jendela ruangan kamar yang mengurung dirinya.
Dante, pemimpin Warewolf itu masuk bersama sosok misterius yang masih memakai jubah putih dengan ada sedikit motif emas di beberapa bagian dimana tingginya sampai 3 meter.
Dante melihat Lavia yang sedang memandang ke luar jendela dengan gaun dress putih pendek di atas lutut tanpa lengan.
Lavia membalikan badannya ke belakang kirinya dan melihat Dante yang perlahan berjalan menghampirinya bersama sosok tinggi misterius itu.
Pandangan tajam layaknya serigala dengan bola mata biru cerah berkelipnya juga membuat perempuan mana pun pasti tidak akan menyangka kalau Dante adalah sosok manusia serigala.
Dante menggenggam erat lengan tangan kiri Lavia dan menariknya dengan kuat ke arah ranjang besar yang ada di kamar tersebut dan mendorongnya dengan kasar sampai tubuh Lavia tertidur di atas ranjang tersebut dengan sedikit bagian bawahnya terbuka dan memperlihatkan bagian indah di antara kedua kakinya yang putih dan mulus itu, dimana semua kenikmatan itu berasal.
"Aku sudah menerima undangan dari wakil manusia yang bernama Hanjiro itu dalam pesta pernikahannya, kau akan aku ikut sertakan dan juga akan aku umumkan di sana juga untuk pernikahan resmi kita sesungguhnya, Lavia."
Lavia melirik ke arah belakang kanan dan merapatkan kedua kakinya sambil melihat sosok yang begitu selalu dingin kepadanya.
"Aku tidak pernah ingin mengikat pernikahan resmi dengan dirimu, kau itu bukan sosok yang aku cintai." Ucap Lavia dengan wajah mengerut sedih sambil menggenggam seprai ranjang yang tengah Lavia tiduri.
Dante duduk di tepi tempat tidur sambil mengelus betis kecil Lavia, sosok Elf cantik tersebut dengan jari-jemari tangan kirinya.
"Aku sudah memberimu kesempatan sampai hari ini, Lavia. Kau itu tidak sepantasnya di miliki oleh siapapun, kecuali diriku, dimana kita berdua saling mendapatkan kesepatakan bersama dan kau juga mendapatkan apa yang kau inginkan." Kata Dante merabah-rabah betis Lavia sambil menatap dengan senyum menyeringainya yang penuh dengan maksud tersembunyi di dalamnya.
Lavia membangunkan tubuhnya dan menampar pipi kiri Dante dengan keras sampai kepala Dante sedikit bergerak ke arah kanan saat di tamparnya itu.
'Plaaakk..'
"Kesempatan apa yang kau maksudkan itu? Aku malah menderita di sisimu, andai saja diriku bisa membunuh diriku sendiri, aku sudah pasti lakukan sejak lama. Ini semua karena sosok itu."
Lavia melirik ke arah sosok setinggi 3 meter itu dengan pandangan marah sampai mengeluarkan tetesan air mata kesedihan dari kedua dalam matanya.
Dante mengelus pipi kirinya yang di tampar oleh Lavia dengan tangan kirinya dan dirinya langsung memegang rahang bawah Lavia dengan kuat menggunakan tangan kanannya.
"Hyaaahhh..."
__ADS_1
Lavia teriak dan menggenggam lengan kanan Dante dengan kedua tangannya.
Dante kembali menatap tajam Lavia dengan perlahan wajah mereka semakin mendekat.
Dalam paksaan tersebut, Dante mencium bibir Lavia, memeluknya sampai mereka berdua terjatuh di atas ranjang besar tersebut.
Lavia menepuk-nepuk pundak Dante dengan kekuatannya yang tidak seberapa di bandingkan kekuatan Dante.
Dante kemudian menggunakan tangan kanan yang sebelumnya memegang rahang bawah Lavia untuk merangsak masuk ke dalam di antara kedua kaki Lavia yang meronta.
Lavia merasakan hal itu di bawahnya dan dirinya mengerang.
"Kyaaaaaahhh..."
Sebuah gerakan yang mengoyak bagian dalam bawah Lavia dari jari tangan Dante membuat Lavia meronta dan memohon.
"He-Hentikan... Hyaaaahh... Aaaahhh..."
Dante menatap tajam dengan wajah serius ke arah Lavia yang tengah terbuai dengan paksaan dirinya.
"Kau tidak bisa menolak apa yang aku lakukan kepada tubuh ini, Lavia. Semua teriakan dan gerakan yang kau keluarkan itu adalah sebuah kejujuran dimana kau juga menikmatinya."
Sejenak gerakan itu terhenti dan hal itu juga membuat Lavia berhenti mengerang dan dirinya menatap wajah tampan Dante di atas wajahnya dengan pandangan sedikit berkabut.
Dante kemudian beranjak dari atas tubuh Lavia, berdiri di tepi tempat tidur dan memperlihatkan jari-jari tangan kanannya yang memperlihatkan sebuah cairan bening sebuah kehangatan yang di keluarkan oleh Lavia di waktu yang singkat itu.
Lavia merasa tubuhnya menghangat karena hal itu dan dirinya perlahan merapatkan kedua kakinya sambil melihat Dante yang masih mengangkat jari-jari tangan kanannya untuk memperlihatkan bukti itu kepada Lavia.
"Tidak ada guanannya jika aku terkekang di sini walau hal itu terwujud. HIks.." Lavia pun menangis.
Dante duduk di tempat tidur dekat kedua kaki Lavia berada dan menjilat jari-jemari kanannya dimana masih ada cairan bening tersebut yang di keluarkan oleh Lavia melalui kehangatan dalam dirinya.
Dante menikmatinya sambil melihat ke arah Lavia.
"Rasa indah ini tidak akan pernah aku lupakan, Lavia."
Lavia melihat hal itu dan dirinya pun memasrahkan dirinya sambil tidur terlentang di atas ranjang besar tersebut sambil menutup kedua matanya dan menangis terseduh-seduh.
"Hiks...Hiks.."
Dante mengambil sapu tangan di setelan jas kantong kirinyanya dan menyeka cairan itu lalu melihat ke arah sosok misterius di samping kanannya itu.
"Ketika pernikahan Hanjiro terselenggara, kau bisa mengikuti calon istriku, jangan sampai dirinya kabur dan gunakan saja kekerasan jika dirinya mencoba untuk mendekati beberapa orang termasuk yang sudah kita sepakati." Kata Dante kepada mahluk besar itu.
"Tidak perlu kau ingatkan pun aku sudah paham." Kata sosok tersebut yang sama sekali tidak terlihat wujudnya dari dalam jubah besarnya itu.
__ADS_1
Ketika dalam perbincangan itu.
Tiba-tiba Lavia merasa mual-mual hebat sampai dirinya membangunkan dirinya dari posisis terelentang dan merangkak ke sisi tepi samping kiri ranjangnya dan kemudian dirinya memuntahkan sesuatu yang hanya berupa cairan bening dari dalam tubuhnya.
"Hueeekkk.... Hueeekkk... Hueeeekk..."
Dante melirik ke arah Lavia berada dan dirinya menyeringai perlahan di bibirnya yang berwarna biru indah tersebut.
"Apa kau sekarang mengandung anakku, Lavia. Aahhhhh... Pada akhirnya hal ini terjadi juga." Kata Dante sambil merentangkan kedua tangannya
Lavia mencengkram bagian tepi ranjang tersebut dalam posisi merangkak dan memuntahkan sesuatu yang tidak bisa ia tahan sampai keringat keluar dari dahinya.
"Hueeekkk... Hueeekkk..."
Sosok tinggi itu terlihat melirik ke arah Lavia berada walau bagian wajahnya tertutupi tudung besar jubahnya.
"Aku sudah merasakan kalau memang ada kehidupan di dalam perutnya." Kata sosok tersebut.
Dante tersenyum dan melirik ke arah sosok misterius itu dengan tatapan tajamnya,
"Berapa sosok kehidupan yang kau lihat di dalam perutnya?" Tanya Dante kepada sosok tinggi itu.
Sosok itu pun memberitahu kepada Dante dan Dante merasa senang, namun perlahan kesenangannya itu menghilang dan berubah menjadi tatapan tajam serius kepada Lavia berada dengan tanpa senyum hadir di bibirnya.
"Sejujurnya aku tidak menginginkan kehamilan ini, Lavia. mungkin aku akan segera mengugurkan kandunganmu itu dan aku juga tidak ada rencana untuk menjadi seorang Ayah dari anak yang kau kandung dan akan menjadi besar di dalam rahimmu."
Mendengar hal itu Lavia gemetar dan dirinya langsung melirik ke arah kiri samping tepat Dante berada dengan wajah marah dan bibirnya masih menyisakan cairan muntahannya dari dalam tubuhnya.
"KAU BENAR-BENAR LAKI-LAKI BRENGSEK!" Kata Lavia dengan wajah serius.
Dante tersenyum dengan maksud jahatnya sambil melihat Lavia yang tengah marah dengan wajah cantiknya itu dimana dahinya penuh keringat sampai membasahi selir-selir rambut berwarna putih di depan kepalanya.
"Aku tidak peduli kau hamil karena akibat hubungan itu, aku juga tidak peduli dengan keselamatan bayi dalam perutmu walau itu adalah hasil dari benihku saat nanti aku kembali meminta kehangatan kepada dirimu walau sampai pada akhirnya kau keguguran dan terus hamil kembali, aku tidak akan pernah peduli. Karena jika saja kau tidak melakukan kesalahan sebelumnya, aku pasti tidak akan memperlakukan hal ini kepadamu, Lavia." Kata Dante yang terlihat tidak peduli kepada Lavia.
Lavia terduduk di atas ranjang sambil menahan rasa mualnya dan mengelus perutnya dengan tangan kanannya yang masih gemeter.
"Kalau memang benar aku hamil anakmu, aku akan melindunginya, walau kau tidak peduli kepada mereka, tetapi mereka tidak bersalah sedikit pun atas semua rencana licikmu ini." Kata Lavia.
Senyuman jahat Dante menghilang perlahan dan dirinya melihat dengan tatapan tajam wajah serius Lavia sambil mengelus perutnya yang sudah terbuhai oleh benih dari dirinya tersebut.
"Kita lihat saja apakah kau bisa melindungi mereka, tetapi yang jelas aku akan tetap pada rencana dan aku juga tidak ingin kau sakit kedepannya karena aku bisa mengugurkan kandunganmu dengan cara yang bisa aku lakukan kepadamu, sekarang kau nikmati saja benih itu dalam rahimmu dan suatu saat kita akan lihat apakah mereka akan masih bertahan atau tidak. Karena aku juga tidak ingin memiliki anak untuk saat ini, Lavia."
Dante beranjak dari tepi tempat tidur dan dirinya keluar dari ruangan itu meninggalkan sosok misterius itu dengan Lavia yang terduduk di atas ranjang besar ruangannya itu.
Lavia menyeka air matanya dan merunduk ke arah perutnya yang kemungkinan benar kalau dirinya sekarang hamil anak dari Dante.
__ADS_1
Sososk misterius itu melihat Lavia di balik tudung kepala besarnya menutup seluruh wajahnya, dimana Lavia memang sosok yang berbeda.