
Book 3.
Pertemuan itu membahas hal lainnya dengan yang paling utama adalah di mengenai pasukan dari bangsa lain yang di kirim dalam perlindungan tersebut dengan membaginya secara dua orang dengan bangsa yang sama.
Ketika selesai pembahasan dan diskusi tersebut yang cukup lama, para anggota itu pun di persilahkan untuk istirahat di sebuah tempat yang di sediakan di markas tersebut dengan melewati beberapa pintu lift yang berbeda.
Namun Fritz dan Hanjiro kembali bersama, begitu juga dengan Kate dan Prof Munakata.
Ketika menjelang malam itu tiba di wilayah tempat pertemuan itu.
Madam Rose yang ketika itu duduk di sofa merah mewah panjangnya mematikan seluruh siaran dan suaranya untuk selesai dan dirinya membaringkan tubuhnya ke tangan sofa panjang itu sambil mengelus perutnya.
Ketika itu Gojo datang dengan membuka ikat pinggang yang mengikat celana setelan jasnya.
Madam Rose menyikap bagian Dress bawahnya dan menatap suaminya itu dengan wajah menggoda, "Mari kita bermain sebelum bayi kita lahir, Sayang."
Madam Rose memang sangat bergairah dengan laki-laki seperti Gojo dan Gojo sendiri juga bergairah dengan tubuh Madam Rose yang sekarang dadanya jauh lebih besar hampir menyamai perutnya yang tengah hamil itu.
Gojo melepaskan celana panjangnya dan naik ke atas sofa dan membuka kedua kaki mulus Madam Rose yang hampir semua identik pakaiannya berwarna merah.
Tanpa berlama-lama, kehangatan itu pun masuk hingga menyentuh bagian terdalam milik Madam Rose yang bibir merona merah terangnya memuka sedikit dan mencengkram bagian tangan sandaran sofa tersebut, "AAhhhh... Seperti biasa kau masuk sampai dalam dan mengenai tempat bayi kita berada.'"
Gojo menatap wajah Madam Rose yang tserenyum-senyum centil kepadanya dan dirinya berpegangan di tangan sandaran sofa dekat kepala Madam Rose berada, "Aku akan mulai, Ahhh.. AHhh..."
Madam Rose memegang pinggang besar Gojo dan perut mereka saling menyentuh dalam permainan itu dan mersakan sentuhan-sentuhan kuat di tempat bayinya berada, "Terus sayang.... Ahhh... Ahhh... Tekan terus sampai bayi kita merasakan betapa kuatnya sosok yang telah membuat dirinya ada di dalam perutku ini, Ahhh.."
Gojo menyikap Gaun Rose sampai memperlihatkan perut buncitnya serta pusarnya menonjol ke depan dan mengelus-elus perut hamil besarnya itu dengan tangan kanannya, "Mamah Kalian benar-benar lebih bergairah dari pada Papah, Ahh,, Ahh,,, Papah tidak akan menekan lebih dari ini, karena ini sudah cukup mengelitik di dalam, Ahhkk..."
Rose menatap wajah Gojo sambil menjulurkan lidahnya dari dalam kedua bibir merah meronanya yang begitu terang.
Gojo menangkap lidah Rose dengan mulutnya dan mereka berciuman liar dengan posisi tengah berhubungan hangat itu yang terlihat tubuh rose dan Gojo tidak seimbang.
Madam Rose memegang wajah Gozo yang tengah mencium liar bibirnya sambil mengelus-elus perut besarnya yang sedikit tertekan dalam permainan di sofa panjang itu dalam posisi terlentang.
"Ahhh... Muchh... Ahh... Love You, Gojo... AHhh..."
Gojo terus dalam posisi itu dan ketika ingin sampai titik puncak, dirinya melepaskan ciumannya dan memegang bagian dalam lutut kaki Rose sampai terbuka lebar dan hal itu membuat ruang lebih luas di dalam milik Rose serta membuka jalan untuk ke dalam bagian tempat janin Rose berada.
"AKU KELUAR... ARHHKK.., ARHHKK..."
Rose mencengkram bagian belakang sandaran kepala di tangan sofa panjang itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menapak di bagian bawah perut besarnya dimana merasakan denyut dan pergerakan bayinya yang cukup terasa olehnya," Aaaaahhhh... Bayinya bergerak ketika aku juga keluar... Ahhhh... Ahhh.."
Tidak sampai disitu, Gojo membantu Rose untuk bangun dari tempat tidurnya dan mengajaknya untuk ke tempat tidur di ruangan yang misteriusnya tinggal, "KIta lanjut di kamar agar lebih leluasa." Kata Gojo menuntun Rose perlahan sambil Rose menurunkan gaunnya sampai menutupi perut besarnya dan terlihat di lantai sebuah ****** ***** mereka sebelumnya jatuh di lantai ruangan tersebut tepat ketika Rose berdiri dari tidurnya di sofa sebelumnya.
Pintu kamar mewah kayu besar layaknya yang di miliki kerajaan eropa tempo dulu yang menggunakan atap dan gordeng di sisi-sisinya terlihat dengan lagi-lagi identik dengan warna merah dan lampu terang berwarna putih menyela memperlihatkan interior yang sama seperti kerajaan eropa pada era jaman dahulu yang penuh setetik indahnya.
__ADS_1
Rose merangkak di atas tempat tidur besar itu dan Gojo mematikan lampu utama di dalam kamar itu hingga menyisakan lampu tidur di dekat kepala tempat tidur di kedua sisinya.
Rose terlentang dan bersandar di kepala tempat tidur yang menyatu dengan dinginding tersebut, kemudian Gojo menghampirinya dan di mulai lagi permainan liar mereka dengan Rose begitu semangat walau sedang hamil besar.
"Aaaahhh... Ahhh... Terus... Sayang... Aaaahhh... Buat diriku dan bayi kita senang..." Kata Rose.
Terdengar suara decitan tempat tidur besar yang bergoyang itu dan juga desahan keras dari Rose dan juga Gojo.
Dimana tidak ada satu pun yang mendengarnya, karena ruangan itu di buat kedap suara.
Rintihan dan desahan terus terjadi selama permainan liar itu belum berakhir, bahkan Rose ikut menggerakan tubuhnya walau perutnya naik turun dan merasakan seperti otot yang menjaga bayinya mulai sedikit terbuka dan hampir di masuki oleh milik Gojo.
Namun hal itu malah memberikan kenikmatan tambahan bagi Rose dan Gojo, dimana memang kelahiran bayi mereka tidak akan lama lagi terjadi.
Kembali ke markas di dalam air tersebut.
Fritz dan Hanjiro sudah di lapangan luas tertutup sekelilingnya besi-besi baja kuat, begitu juga di lantainya dengan lampu menerangi seluruh ruangan itu yang sunyi dan hanya ada mereka berempat di dalam lapangan luas itu.
Kate dan Prof Munakata berdiri bersama sambil melihat Fritz dan Hanjiro saling berhadapan di tengah lapangan itu dan ingin memulai sebuah uji coba kekuatan antara Fritz dan Hanjiro yang tubuhnya sudah di upgrade.
Namun kali itu, dirinya membawa dua koper berwarna silver di kedua tangannya.
Fritz melihat koper itu di tangan Hanjiro, "Apa itu adalah part tambahan untuk perubahanmu?" Tanya ramah Fritz.
Kemudian tubuh dan mantel milik Hanjiro yang abu-abu itu berubah dimana dirinya seperti sebelumnya yang memiliki perubahan robot seperti manusia setengah kuda dengan tombak di kanan dan persai di kirinya.
Fritz melihat tubuh Hanjiro mulai sepenuhnya berubah seperti robot Centaur dalam mitologi dengan kulit berwarna silver serta bagian tubuhnya bercaya biru, termasuk kedua bola matanya.
Koper yang di genggam oleh Hanjiro mulai menyatu dan membentuk sayap seperti pegasus di punggung kudanya serta ada kaki tambahan yang menjadi ada 6 dengan pendorong di tumit kaki kudanya.
Kate melihat tubuh Hanjiro jauh lebih cantik dengan sayap dan hampir mirip dengan Unicron dengan zirah armor tubuhnya berwarna silver serta helm di kepalanya yang mirip seperti kuda memiliki tanduk listrik.
Kedua sayap besi yang terbuat dari baja ringan dan tergabung karbon serta material lainnya yang menguatkan sayap itu seakan seperti sangat kuat dan kokoh.
Prof Munakata bangga dimana itu adalah hasil buatan miliknya yang di pakai oleh Hanjiro.
Hanjiro melihat ke arah Fritz dimana postur tubuhnya sudah jauh lebih besar dari seblumnya dengan sebagain tubuhnya seperti kuda bersayap.
"Bagaimana, Fritz." Kata Hanjiro dengan suaranya seperti tergabung karena tubuhnya telah berubah menjadi mesin.
Fritz kemudian mengeluarkan segel lurus ke atas dan kebawah yang hadir dari dalam kedua bola matanya yang dimana sisi putihnya berubah menjadi hitam dan bola matanya berubah warna menjadi merah menyala.
Rambut pendek belah tengahnya pun sebagian berubah menjadi merah bergradasi hitam dari warna dasarnya.
"Sepertinya memang kau sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya." Puji Fritz kepada Hanjiro.
__ADS_1
"Apa hanya itu yang ingin kau tunjukan kepadaku?" Hanjiro melihat Fritz hanya mengeluarkan segelnya itu dan melihat mata merahnya menyala seperti lampu.
"Coba sentuh aku dulu dan baru akan mencoba menaikan posisi kekuatanku ini." Kata Fritz.
Secara mengejutkan tiba-tiba dengan gerakan cepat sepersekian detik, Hanjiro sudah dekat dengan Fritz dan Spear di tangan kanannya yang seperti mata bor yang lanpit di ujungnya itu sudah begitu dengan dengan mata kiri Fritz.
Fritz sadar kecepatan Hanjiro tiba-tiba cukup cepat.
Akan tetapi Fritz seakan melihat di kedua matanya seperti gerak lambat dan kemudian.
'Wushhhh..."
Hanjiro menahan laju kecepatannya itu di lantai lapangan dengan lantai besi dan membuat percikpan api ketika besi bertemu besi dengan posisi saling bergesekan kuat hingga menimbulan percikan bunga api di enam kaki Hanjiro.
Fritz dengan santai menghindarinya dan jubah besar hitamnya berkibar membuat dirinya terlihat keren.
Kate melihat perubahan besar dari Hanjiro dimana gerakannya sangat cepat, bahkan dirinya belum bisa menandingi gerakan itu jika melawan Hanjiro dengan kekuatan bunganya.
Namun Kate tentu memiliki sesuatu yang lain dan tidak kalah hebatnya setelah kejadian mengerikan itu terjadi.
Kate seakan masih merasa bersalah hingga sekarang ketika tidak bisa menjaga adik angkatnya itu ketika dalam kondisi sangat memperihatinkan saat sedang melahirkan buah hatinya.
Hanjiro menengok ke arah belakang kanan dan dirinya juga kaget kalau kecepatan sebelumnya berhasil di hindari oleh Fritz.
Hanjiro kemudian memasang kuda-kuda dari keenam kakinya dan langsung melesat kembali dengan sayap yang memiliki pendorong di setiap bulunya itu.
'Wushhh....'
Fritz melihat gerakan itu lagi dengan kedua matanya, dimana Hanjiro menyerang dengan kedua sayapnya ia bentangkan lurus agar mengenai tubuh Fritz dengan cara memutar.
Akan tetapi lagi-lagi.
'Wushhh..'
Fritz mengilang ke atas langit-langit dan kembali ada percikan bunga api dari hasil gesekan antar besi di keenam kaki Hanjir di lapangan besi besar itu.
Hanjiro terus mencoba melukai Fritz dengan kecepatannya dan sekarang tidak berhenti, dimana yang terlihat hanya percikap bunga api di beberapa arah lapangan serta bayangan hitam dari Fritz yang berpindah lebih cepat dari kecepatan Hanjiro.
Kate dan Prof Munakata melihat kejadian itu dan mengalaisanya kalau kekuatan Fritz ini memang sudah terbilang Over Power walau belum sepenuhnya mengeluarkan kekuatannya.
Hal itu terus berlangsung dimana Fritz dan Hanjiro tersenyum dan seakan beraltih dengan serius di lapangan tersebut sebelum mereka istirahat malam itu.
Tentu Hanjiro memiliki batasan energi dari tubuh robot dan sisi manusianya, dan hal itu pada akhirnya di menangkan oleh Fritz yang di setelan jas atau jubah hitam besarnya tidak ada luka gores atau lainnya setelah adu kecepatan itu berakhir.
__ADS_1