
Book 24
Kembali ke waktu Fritz tengah berdiri di atas atap kastilnya di pagi musim gugur yang cerah dengan sinar matahari mulai meninggi di ufuk timur.
Fritz tersenyum dan sektika dirinya langsung menghilang.
'Wushh...'
Tepat di dalam ruang makan.
Kate tengah menyiapkan makanan untuk anak-anak Fritz dimana mereka bertiga sedang bermain tangkap di ruangan tersebut bersama Aurora.
Tawa dari Cayana dan Riami begitu sangat mendominasi sampai Kate yang tengah menyiapkan makanan ikut juga tersenyum karena suara tawa lucu dari mereka berdua.
"Awas Kakak.... Hahahaha..."
"Peluk Kakak, Riami... Kyaaa..."
Kate melirik ke arah Cayana dan Riami yang sedang berada di seberang meja dimana di hadapannya sudah ada Aurora yang bersiap untuk menangkap mereka.
"Kalian mau kemana.... Akan mamah guseli kalian berdua saat tertangkap..." Kata Aurora dengan senyum menyeringai senangnya bermain dengan mereka bertiga.
Cayana dan Riami bergerak ke arah kiri dan kanan melawan gerakan dari Aurora yang mencoba memutari meja yang besar dan panjang itu agar bisa menangkap mereka berdua.
Namun dengan sayapnya, Aurora terbang melewati meja itu tanpa ke arah sisi kiri dan kanannya.
Cayana dan Riami tau kalau itu bisa membuatnya tertangkap.
"Awas kakak.... Mamah Aurora terbang... Kyaaaa Hahahahahaha..." Tertawa girang Riami melihat Aurora yang terbang dan mulai mendekati dirinya dan Kakaknya itu.
Cayana merangkak ke dalam kolong meja tersebut untuk menghindari kejaran dari Aurora sambil ikut tertawa.
Kate melihat itu membuat dirinya semakin tidak bisa menahan tawanya.
Sampai terdengar suara benturan dari dalam kolong meja tersebut.
'Blugg..'
"Aduh..." Terdengar suara Riami meringis.
Kate melihat itu dan Cayana keluar dari kolong tersebut sambil melihat Riami yang tengah mengelus dahi kanannya yang terlihat memerah.
"Kau tidak apa-apa, Riami-chan?" Tanya Cayana kepada adik kecilnya itu.
Namun Riami tersenyum dan dirinya tidak menangis karena dahinya terbentur dari kursi kayu yang ada di dekat bawah meja tersebut.
"Hehehehe Tidak apa-apa, Kakak..."
Kate dan Aurora bersyukur kalau Riami tidak menangis dengan mudah walau dirinya yang paling kecil dan genetiknya murni manusia.
Kemudian ketika di saat itu Fritz datang melihat mereka berempat di ruangan makan dan seketika suasana menjadi hening.
__ADS_1
Fritz melihat kedua buah hatinya itu tengah berada di lantai dan dirinya menghampiri mereka.
"Sekarang sudah waktunya makan untuk kedua putri papah yang cantik." Kata Fritz dan dirinya menggendong Cayana dan Riami sambil mencium dahi mereka berdua.
"Papah, apa dahiku benjol?" Tanya Riami dengan senyum senangnya di bibir mungilnya kepada Fritz.
"Apa kau terbentur lagi, Riami?" Tanya Fritz dengan nada lembut kepada buah hatinya yang mirip dengan Canaria kecil itu.
"Hehehe..." Riami tersenyum dengan sedikit memejamkan kedua matanya.
Cayana tertunduk dan dirinya takut di marahi oleh Fritz, namun Fritz tau kalau itu wajar bagi seorang anak dan dirinya tidak mencoba marah karena Riami juga senang selalu di gendong oleh Kakaknya.
"Lain kali hati-hati yah, Kakak Cayana." Kata Fritz dengan senyumnya dan tidak memarahi Cayana.
"I-Iyah... Papah... Maaf membuat Riami terbentur lagi." Kata Cayana polos dengan tangan kirinya menghelus dahi Riami yang sedikit memerah.
Fritz kemudian mendudukan mereka di masing-masing kursi tempat biasa mereka duduk.
Kate dan Aurora melihat Fritz yang begitu baik kepada dua buah hati perempuannya.
"DImana Naidan?" Tanya Fritz kepada dua buah hati perempuannya.
"Kakak Naidan pergi cepat sekali dan tidak tau kemana, Papah." Kata Riami yang perlahan dahinya mulai memunculkan benjolan kecil karena akibat terbenturnya itu.
"Dia pasi bersembunyi, Papah." Kata Cayana.
"Begitu kah, kalau begitu kalian duduk lah di sini dan Papah akan menangkapnya." Kata Fritz yang sudah mengetahui keberadaan Naidan.
Kemudian Fritz pun hilang dengan sekejap.
Aurora kemudian diam-diam memeluk mereka berdua dari belakang dan menggoda mereka kembali.
"Kalian berdua tertangkap...."
"kyaaa... Hahahaha..." Riami kembali tertawa hingga membuat Kate dan Cayana ikut tertawa.
Tepat di gudang yang begitu gelap di lantai paling atas kastil dengan satu jendela tertutup gordeng.
Naidan mengintip di tepi jendela untuk melihat apakah Aurora datang untuk mengejarnya.
Namun ketika sedang mengintip itu, Naidan merasakan Aura Fritz yang sudah ada di belakang tepat dirinya tengah mengintip dengan hanya ada mata memerah di dalam kegelapan itu layaknya sebuah hantu.
"Kau sedang mengintip apa, Naidan?" Kata Fritz melihat buah hati laki-lakinya yang langsung terdiam.
Naidan perlahan melihat ke arah belakang kirinya dengan perasaan takut.
"Hiiiiiiiii...."
"Sekarang waktunya makan, Raja kecil Papah..."
Fritz mulai menapakan wujudnya di kegelapan dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
Namun Naidan dengan cepat pergi keluar dari pintu gudang tersebut.
"Haaaaaaaaaa....."
"Mau lari dengan kaki mungilmu." Kata Fritz yang begitu tenang melihat Naidan pergi keluar dari gudang kastil tersebut yang ada di atas kastil yang gelap.
Naidan kemudian berlari dengan cepat menuruni tangga, meninggalkan Fritz.
Namun pada akhirnya...
Fritz menangkap Buah hati laki-lakinya itu dengan menggenggam satu kaki mungil kanannya dalam posisi terbalik dan Naidan dalam posisi terbalik serta kedua tangannya melipat di atas dadanya dengan wajah wajah kesal.
"Papah selalu menggunakan kekuatannya untuk menangkap cepat diriku, tidak asik... Padahal kalau ada Mamah Norla aku masih bisa kejar-kejaran." Kata Naidan yang tengah berwajah kesal lucunya.
Fritz sengaja membawa Naidan dengan posisi terbalik dengan menggenggam satu kaki kanannya karena dirinya berusaha meronta.
"Kau juga memakai kekuatanmu untuk menghindari Papah, Naidan. Sekarang mari kita makan dahulu dan hentikan bermainnya." Kata Fritz dengan senyum di wajahnya sambil melihat Naidan seperti dirinya waktu kecil yang begitu juga lincah namun tentunya sangat berbeda dari segi kekuatan, walau kecepatan Naidan memang cepat.
Ketika Fritz membawa Naidan dengan posisi seperti itu, kedua buah hatinya serta Kate dan Aurora tersenyum.
"Hahahaha... Kakak Naidan akhirnya tertangkap juga..." Kata Riami yang begitu senang melihat Kakaknya di genggam tergantung.
"Papah selalu saja bisa menemukanku dan menangkapku dengan cepat, Sebal... Humm..." Kesal Naidan dengan wajahnya jauh lebih lucu ketika dirinya tengah tidak senang.
Aurora mengambil Naidan dari tangan Fritz dan membalikan posisi tubuhnya ke semula sambil mengguseli tubuh kecil Naidan di dalam pelukannya.
"Karena dia adalah Papah mu yang tentunya bisa dengan mudah mencari dan menangkap mu, Hmmm... HMMM..."
"Hahahaha... Hentikan... Mamah Aurora... Hahahaha...." Naidan tersenyum dan wajah kesalnya sekejab langsung hilang.
Naidan di taruh di kursi antara kedua buah hati perempuan Fritz tepat di tengahnya dan Fritz pun duduk dengan sudah siapnya makanan di atas meja mereka.
"Sekarang mari kita makan pagi." Kata Fritz melihat senyum bahagia ketiga buah hatinya.
Kate dan Aurora pun duduk di seberang buah hati Fritz berada dengan juga senyum melihat wajah-wajah bahagia polos mereka di pagi yang cerah itu.
Lalu mereka pun makan bersama dengan rasa gembira di hati masing-masing dari mereka, termasuk Fritz.
******
Tepat di wilayah Teritorial Warewolf berada.
Lavia, sosok Elf cantik itu tengah berdiri di dalam jendela ruangan yang mengurung dirinya dan melihat ke arah luar kastil yang mulai senja dengan hanya mengenakan Gaun berwarna putih polos tanpa atasan menutupi atas pundaknya serta lengannya.
Wajahnya terlihat sedih dan tangan kanannya ia angkat menggenggam gordeng biru yang dekat dirinya berdiri.
"Kenapa jadinya seperti ini."
Kata Lavia dan sebuah air mata jatuh di kedua mata indahnya yang besar berbola mata biru langit tersebut.
__ADS_1